Sering bersama dan tumbuh dalam lingkungan yang sama, membuat Syafana gadis cantik 20 tahun itu jatuh cinta pada seorang pemuda tampan, dan pekerja keras. Leandre, 24 tahun, pemuda tampan, berkulit sawo matang itu, seorang pekerja keras yang tidak pernah bermalas-malasan dalam bekerja. Ditunjang dengan pribadi yang baik dan ramah, membuat Leandre banyak digilai para gadis. Namun lelaki muda itu belum pernah terlihat menggandeng seorang perempuan di keramaian ataupun membawa ke rumah untuk diperkenalkan pada kedua orang tuanya.
Keadaan ini membuka peluang di hati Syafana, menyimpan ruang untuk nama Leandre di dalam hatinya. Terlebih mereka sering jalan bersama disetiap kesempatan.
"Hari ini Syafa ada kuliah pagi, Kak! Kak Lean kerja pagi juga, kan?" Syafa bertanya sambil menatap lekat pemuda tampan di hadapannya, yang sudah rapi dengan seragam kerjanya.
"Iya, Sya. Kamu mau pergi bersama Kakak atau jalan sendiri naik motormu?" sahut Lean penuh perhatian.
"Syafa berangkat pakai motor sendiri saja, Kak. Lagipula hari ini Syafa pulangnya sekitar jam 1. Jadi, tidak mungkin kan, Kak Lean mengantar Syafa pulang di jam masuk kerja?"
"Ok, deh. Nanti pulang kerja Kakak ke rumah kamu, Kakak mau traktir kamu di Ciwalk. Kebetulan Kakak hari ini gajian."
"Asiikkk ... benaran, Kak?" lonjak Syafa kegirangan. Lean mengangguk sembari tersenyum.
"Ayo ....!" Ajak Lean sembari menghidupkan mesin motor dan perlahan melaju, diikuti Syafa dengan motor maticnya. Keduanya berjalan beriringan menyusuri jalan di kota itu.
Motor Lean berhenti, tepat di depan sebuah perusahaan besar pembuatan senjata di kota itu. Di belakangnya, Syafa ikut berhenti sekedar memberi salam perpisahan untuk Lean, sebelum Syafa melanjutkan perjalanan menuju kampusnya, 5 menit kemudian.
"Kakak masuk dulu ya. Hati-hati, Sya!" peringat Lean sembari memasuki pintu gerbang PT. Sya memberi lambaian tanda perpisahan.
"Dah, Kak Lean!" serunya sembari kembali melajukan motor ke kampusnya.
Sore harinya seperti yang Lean janjikan, dia datang ke rumah Syafa untuk mengajaknya jalan-jalan sore. "Motornya satu saja, Sya. Lagipula motor Kakak nyaman untuk berdua," ucap Lean seraya memasangkan helm di kepala Syafa. Syafa tersenyum bahagia melihat Lean begitu perhatian dan memasangkan helmnya di kepala.
"Terimakasih, ya, Kak!" ucap Syafa masih tersenyum seperti tadi. Lean membalas dengan senyuman. Setelah berpamitan kepada kedua orang tua Syafa, motor Lean melaju menembus jalanan di kota itu. 10 menit kemudian, mereka sampai di kawasan Ciwalk, kawasan yang selalu ramai dipenuhi anak-anak muda untuk sekedar kongkow serta menikmati jajanan ala kota itu.
"Kamu mau pesan apa, Sya?" tanya Lean sambil melihat buku menu.
"Baso tahu sama Jus Markisa saja, Kak," jawab Syafa menyebutkan pesanannya. Setelah mereka memesan makanannya. Lean dan Syafa terlibat obrolan yang seru, kadang mereka tertawa lepas dan saling pukul kecil di lengan masing-masing.
"Kamu cantik, Sya ... beruntung sekali laki-laki yang bisa memiliki kamu!" puji Lean seraya menatap gadis di depannya yang kini tersipu malu dengan pipi berubah merah merona.
"Kak Lean bisa saja, namanya perempuan pasti cantik, Kak!" kelit Syafa menyembunyikan perasaan malunya. Lean tersenyum penuh makna.
"Kak Lean, hanya laki-laki seperti Kak Leanlah yang Syafa suka. Apakah Kakak tidak merasakan ada cinta di hati Syafa?" batin Syafa bergemuruh dengan sebuah tanya dan rasa.
"Nanti kapan-kapan kita ke daerah Lembang, yuk?" ajak Lean mengakhiri kongkow dan jalan-jalan sore hari ini.
"Boleh ....!" sahut Syafa setuju dengan rasa bahagia yang tiada terkira. Kapan lagi dia akan diajak jalan-jalan seperti ini oleh laki-laki yang selalu ada di hatinya.
Saat berdiri, tiba-tiba Syafa merasakan pusing kepala sehingga dia harus berpegangan pada kursi yang sejak tadi didudukinya.
"Ahhh .... !" rintihan kecil keluar dari mulutnya sambil berpegangan tangan dengan mata yang terpejam.
"Sya, kenapa?" Lean heran seraya memegangi tangan Syafa.
Syafa mengibas tangannya memberi tahu bahwa dia tidak kenapa-kenapa. "Hanya sakit kepala biasa, kalau habis duduk lalu berdiri, Syafa kadang begini, tapi ini tidak lama kok," ujarnya menenangkan Lean yang terlihat panik dan khawatir.
"Sya ... hidung kamu keluar darah lho, kamu mimisan," pekik Lean panik seraya meraih beberapa tisu yang berada di meja pengunjung. Syafa meraih tisu yang diberikan Lean, lalu menyeka darah yang keluar dari hidungnya.
"Sebenarnya kamu sakit apa, Sya? Kakak khawatir lho. Jangan-jangan sakit kamu alergi angin sore, nanti ayah dan ibu bisa-bisa nyalahin Kakak. Karena Kakak tidak tahu kalau kamu alergi angin sore," cetus Lean gelisah.
"Tidak Kak, Kakak tidak perlu takut seperti itu. Ini biasa, Syafa sering kok ngalamin mimisan seperti ini, tidak lama lagi berhenti kok darahnya," ucap Syafa menghilangkan rasa bersalah dan khawatir Lean.
"Ayo kita pulang, sebentar lagi Maghrib. Kita harus pulang sebelum azan Maghrib!" ajak Lean seraya memakaikan helm di kepala Syafa persis saat berangkat tadi. Sebelum Syafa meninggalkan meja pengunjung, dia mengambil beberapa lembar tisu di meja itu, lalu disumpalkan di hidung Syafa.
Hembus angin menjelang malam mengiringi kepergian mereka dari kawasan Ciwalk itu.
Seminggu kemudian setelah pertemuan di Ciwalk itu, kini Syafa termenung sendiri. Obat-obatan sudah berbagai macam berada di atas meja kamarnya.
"Percuma obat-obatan ini, jika Allah lebih sayang hamba, maka ambillah!" lirihnya pasrah.
"Assalamualaikum, Sya! Apakabar, sudah seminggu ini kamu menghindari Kakak, apa salah Kakak? Jika Kakak ada salah, plisss ... cerita sama Kakak, katakan salah Kakak apa?" Sebuah pesan WA dikirimkan Lean ke WA Syafa. Syafa membacanya dengan cucuran air mata. Bukan Lean tidak mendatangi rumah orang tua Syafa, atau juga tidak menelpon langsung Syafa, namun Syafa yang tidak mau menemui atau mengangkat telpon Lean. Akhirnya Lean menyerah, hanya pesan WA yang mampu dia kirimkan untuk Syafa.
Kediaman rumah orang tua Syafa mendadak riuh. Lean yang saat itu baru pulang dari bekerja, merasa penasaran dan heran ada apa di rumah Syafa, gadis cantik yang selama ini dekat dengannya. Lean berjalan menuju rumah Syafa.
"Assalamualaikum ....!" Salam Lean dijawab serentak oleh orang-orang yang berada di situ.
"Ada apa, kenapa dengan Syafa. Kenapa dia terbaring lemah begini?" tanya Lean heran sekaligus sedih. Salah satu anggota keluarga Syafa ada yang berinisiatif menjelaskan bahwa Syafa mengalami pingsan karena sebuah penyakit yang sudah akut yang tidak sempat diketahui sebelumnya.
"Syafa ... ja-jadi keluhan kamu sering pusing dan mimisan itu adalah sakit Leukimia ....???"
"Syafaaaa .... !" Lean berteriak dengan cucuran air mata.
"Tidakkk ... jangan tinggalin Kakak Sya ... Kakak mencintai kamu. Kamu adalah orang yang Kakak cinta. Tolong jangan pergi ....!" Lean meraung memanggil nama Syafa dan memeluk Syafa.
Saat Syafa mendengar ucapan salam dari Lean, Syafa sangat bahagia. Walaupun dia mengalami pingsan, namun dia masih merasakan orang-orang yang mengelilinginya dan berbicara padanya.
"Kak Lean ... terimakasih atas kebersamaannya selama ini, Syafa bahagia bisa menghabiskan hari bersama Kak Lean. Syafa minta maaf tidak bisa membersamai lagi hari-hari Kak Lean. Kak Lean lelaki baik, pasti suatu saat akan mendapatkan perempuan baik yang menjadi jodoh Kakak. Terimakasih ucapan cintanya, cinta Kak Lean akan Syafa bawa sampai Syafa pergi." Beberapa menit kemudian Syafa menghembuskan nafasnya yang terakhir.
Semua orang yang di sana termasuk Lean sibuk ingin membawa Syafa ke RS, namun sayang nyawa Syafa sudah tidak tergolong.
"Tidakkkkkkkkk ....!" Lean berteriak histeris diantara orang-orang. Sementara Syafa tersenyum bahagia di atas tangis orang-orang yang mencintainya, menangisi kepergiannya.