"Pokoknya aku nggak mau kamu punya teman cowok di sana," ucap seorang laki-laki di sampingku, "Cukup aku aja, yang lainnya jangan!"
Kata-Kata itu selalu menghantui dalam perjalanan hidupnya.
Di Kota Kembang, desa yang makmur ada dua anak manusia laki-laki dan perempuan menjalin persahabatan sejak masih duduk di bangku sekolah dasar sampai ke jenjang SMA.
Namanya Alan dan Danisha.
Alan pria paling beruntung di masa sekolahnya yang mana selalu diikuti oleh bunga-bunga, tapi tidak ada yang berhasil membuat dia tunduk.
Alan yang selalu lengket dengan Danisha seperti perangko.
Dari muncul Matahari hingga tenggelam masih bersama.
Danisha, wanita yang berbeda dari umumnya. Sebenarnya dia laki-laki yang menjelma sebagai wanita. Bukan, hanya saja dia tidak menyukai hal-hal yang berbau kewanitaan seperti memakai pakaian feminim, dan bersolek.
Seiring berjalannya waktu, hari-hari Alan dan Danisha berubah semenjak kehadiran seorang wanita yang ada di antara persahabatan mereka.
Reva, wanita ayu, anggun, dan manis. Daya tariknya begitu luar biasa sampai bisa membuat Alan jatuh cinta untuk yang pertama kalinya.
Sepulang sekolah, Alan dan Danisha selalu pulang bersama. Tidak untuk hari ini, jalan pulangnya berubah arah. Alan lebih memilih pulang bersama Reva, wanita yang dia temui di hari pertama sekolah menengah atas.
Danisha hanya berdiam diri saja di luar gerbang sekolah, melihat tanpa bicara memang menyakitkan.
Hari demi hari, Danisha merasa dirinya telah menyukai Alan.
Ingin sekali dia memberitahu perasaannya saat itu, namun Reva berhasil membuat Alan menjauhinya.
Entah dari mana dia mendapatkan ilham itu.
Ketika PENSI SEKOLAH diadakan, Danisha berubah menjadi wanita sesungguhnya. Mulai dari rambut yang terurai, senyum menghiasi wajahnya, berjalan seperti ilalang yang tertiup angin.
Semua orang menatapnya dengan kagum.
Termasuk Alan dan Reva.
"Hai Alan, Reva!"sapa Icha.
"Kamu terlihat cantik sekali!" ucap Reva tersenyum lebar.
Alan masih menatap Reva. Walau Danisha telah merubah penampilannya.
Dia pun memutuskan pergi dari sana.
Reva merasa tidak enak hati dengan keadaan ini dan meminta Alan untuk menyusulnya.
"Icha tunggu!" ucap Alan menghentikan langkahnya.
Alan berjalan menghampirinya, Danisha memalingkannya wajahnya.
"Ngapain kamu ngejar aku? Bagaimana dengan Reva?" tanya Danisha dengan wajah ditekuk.
"Apa nggak mau kasih aku kesempatan untuk bilang kamu cantik?" ucap Alan membuat Danisha menoleh ke.
Alan menyentuh wajahnya lembut, dia tulus mengatakan kalau wanita yang ada di hadapannya sekarang ini begitu cantik. Namun dia ingin, wanita itu cantik dengan versinya sendiri. Dia juga lebih suka sahabatnya menjadi wanita apa adanya. Mendengar ucapan Alan, air matanya jatuh di pipinya yang memerah.
Reva turut bahagia melihat mereka tertawa bersama.
Perpisahan sekolah juga menjadi momen perpisahannya dengan Alan. Danisha harus melanjutkan pendidikannya ke Al-Imam Muhammad Ibn Saud Islamic University.
Sebelum Danisha pergi, Alan menghampirinya.
"Pokoknya aku nggak mau kamu punya teman cowok di sana," ucap seorang laki-laki di sampingku, "Cukup aku aja, yang lainnya jangan!"
Alan dan Danisha tertawa, dalam hati yang teriris.
"Kamu jangan bandel ya!" pinta Danisha.
"Kalau aku bandel kenapa?"
"Aku nggak mau pulang!" goda Danisha.
"Kalau gitu aku harus bandel!" ucap Alan membuat Danisha menjewer telinganya.
Danisha benar-benar melangkah pergi. Dia menatap lekat wajah Alan dan Reva lalu memejamkan matanya.
7 tahun berlalu, Danisha kembali ke Indonesia untuk merencanakan pernikahannya.
Dia tidak sabar mennantikan detik-detik sakral.
Danisha yang sekarang menutup kepalanya dengan kerudung, tubuhnya dengan pakaian syar'i yang anggun.
Sampainya di rumah, Danisha disambut hangat keluarganya.
Mereka membuat acara syukuran kecil-kecilan.
Setelah itu membicarakan soal pernikahan putrinya, Danisha.
"Oh iya, untuk EO nya kita sudah dapatkan yang paling terbaik di kota ini!" ucap Ibunya pada Danisha.
Danisha jalan-jalan ke luar rumah, untuk melihat pemandangan hijau kebun teh di sekitar desanya.
Guk...Guk..Guk..
Gonggongan Anjing terdengar begitu jelas, dia berlari untuk menghindarinya. Sampai akhirnya bertemu dengan seorang pria yang tengah duduk di pondok depan sana.
"Punten Pak, apa Bapak tahu jalan pintas untuk ke kampung sebelah?" tanya Danisha membuat pria itu beranjak dari tempat duduk dan menengok ke arahnya.
"Icha!" seketika membuat mautnya menganga lebar.
Danisha tidak menyangka bisa bertemu Alan di sini.
Alan yang saat itu sedang mencari lokasi yang cocok untuk projeknya juga tidak tahu bahwa akan bertemu lagi dengan sahabatnya.
Alan mendekat, dan nyaris saja memeluk Danisha.
"Kamu sedang apa di sini?" tanya Danisha.
"Aku menunggu kamu!" ucap Alan membuat Danisha melotot.
"Maksudku, aku sedang mencari tempat yang cocok untuk foto prewedding."
Mendengar ucapan Alan, Danisha menyimpulkan kalau dia akan segera menikah.
Alan juga menanyakan soal Danisha. Mulai dari kehidupan di sana, berteman dengan siapa saja, tapi Danisha lupa mengatakan kalau dirinya sudah bertunangan.
Di esok harinya, Danisha menemui EO untuk acara pernikahannya. Namun dia malah bertemu Alan.
Alan mengatakan kalau dirinya mau meeting bersama kliennya, beberapa menit kemudian. Danisha mulai menyadari bahwa yang dia temui itu adalah Alan.
Dunia memang sempit.
"Jujur aku nggak tahu kalau klien itu kamu," ucap Alan tertawa, "Ngomong-ngomong, teman mana yang mau menikah?"
Danisha menghela napas berat. "Bukan teman, tapi aku!" jelas Danisha membuat senyum di wajah Alan memudar.
Tidak tahu mengapa perasaan itu muncul kembali, walau Danisha sudah berkali-kali melupakan.
Alan juga merasakan hal yang sama. Semenjak Reva memutuskan untuk pergi meninggalkannya, dia selalu memikirkan Danisha.
Sekarang keduanya tidak bisa berbuat apa-apa.
Karena cinta telah menemukan jalannya sendiri.
Sebelum akad nikah berkumandang. Alan menemui Danisha di kamarnya.
Dengan lantang, mengatakan. "Cukup aku aja, yang lainnya jangan!"
Sontak membuat jiwa Danisha terguncang. Dia membalikkan badan, lalu menatap nanar laki-laki yang berdiri di belakangnya.
Langkah kakinya berat untuk duduk bersanding bersama orang yang sebenarnya tidak dia cintai.
Alan mengangkat kepala dan berjalan menghampiri Danisha.
Dia menggandeng tangannya, agar segera melaksanakan ijab kabul.
Sebagai seorang sahabat, Alan mendapat kesempatan untuk menutupi kepala kedua pengantin dengan sehelai kain tipis diringi isak tangis.
"Maaf Pak, saya nggak bisa menikahi Danisha!" ucap Pengantin Pria pada Penghulu membuat semua tamu undangan terkejut.
"Ada apa?" tanya Danisha.
"Aku nggak bisa menikahi seorang wanita yang mencintai orang lain!" ucapnya lagi, "Pergilah bersamanya, jangan menundanya lagi atau kamu akan menyesal!"
Danisha berlari menghampiri Alan, tidak bisa menahan air matanya yang mengalir deras.
Dia tidak percaya, cintanya berlabuh pada sahabatnya.
"Tolong jangan menangis! Kamu sudah mendapatkan aku!" ucap Alan membuat Danisha tesenyum simpul.