Gelanggang perang tanding kembali sepi setelah sebelumnya-- Randu si Pendekar Kapak Babi yang berasal dari klan Babi Putih sepertinya belum juga mendapatkan lawan yang sepadan. Ini kali kelima ia berhasil mengandaskan lawannya. Padahal ia belum juga mengeluarkan jurus pamungkas kepunyaannya, yang katanya telah diwariskan selama berabad-abad dari Atuk moyang ke Atuk moyang lainnya sampai tuh si Atuk- Atuk terbatuk-batuk lalu koit ditelan patuk-patuk nisan.
"Anda yang masih berminat, " tutur Randu dengan mata yang jereng, bergerak memperhatikan ke seluruh penjuru arah, sekeliling gelanggang yang berbentuk lingkaran tersebut ia amati dengan cawat eh salah deng cermat.
Sepertinya tak satupun dari orang-orang itu yang berminat. "Apakah kita sudahi saja sampai disini?!" Tanya Randu si Kapak Babi, senyum kemenangan perlahan mengembang di wajahnya.
Sampai tak berapa lama kemudian, dari arah barat, seseorang orang terbang dan mendarat ke tengah gelanggang, yang dengan tepat menginjak sebelah kaki Randu Si Pendekar Kapak Babi lebih dulu.
"Anjrit, sakit tempe!" Jerit Randu kesaktian eh salah deng kesakitan sambil mengangkat sebelah kakinya yang ternyata cantengan.
"Eh, maaf, maaf," mohon si Pendekar sambil mengangkat sebelah tangan. "Kamu bosan hidup namanya," tuding Randu si Pendekar Kapak Babi sambil sesekali meniup kakinya yang cantengan.
"Gak! Saya punya nama Hans bukan Bosan!" Tuh si Pendekar meralat omongan Randu. "Kamu dari klan mana!?" Randu bertanya galak.
"Klan!?" Si pendekar yang bilangnya namanya Hans bukan Bosan itu, sepertinya Bosan itu adalah marga atau bisa jadi itu namanya klannya, benar gak sih!?
"Keluarga. Kelompok!" Randu Pendekar Kapak Babi menerangkan, sepertinya kaki yang cantengan itu sudah gak berdenyut lagi, sekarang ia sudah berdiri sempurna, sesempurna Andra and the backbone membawakan lagu sempurna.
"Klan!? Oh iya klan!" Hans bukan Bosan mengangguk. "Iya, Hans Klan, nama saya Hans Klan." Hans bukan Bosan menjulurkan sebelah tangan, sepertinya ia mengajak untuk berjabat tangan. "Iya kamu dari klan mana!?" Tunjuk Randu si Pendekar Kapak Babi. "Bukan, bukan, mana, tapi nama. Saya punya nama Hans Klan. You know what's..." Hans bukan Bosan menjelaskan kemudian menuding ke dada si Randu Pendekar Kapak Babi.
"Kuat!? Oh tentu saya Kuat! Semua orang tahu kalau saya itu Kuat." Randu Pendekar Kapak Babi girang bukan kepalang. Randu Pendekar Kapak Babi membusungkan dada, dada yang dipenuhi dengan bulu-bulu babi tentunya.
"Kuat!? No kuat. But... What!" Hans bukan Bosan berucap seperti orang kesurupan eh salah deng kebingungan. "Bu Tat!? Kamu mau cari Bu Tat!? Kamu tahu gak Bu Tat itu siapa!? Randu si Pendekar Kapak Babi mendengus galak. "Dia itu selir sang Baginda raja tahu gak!"
"Seli? Oh iya Selly! Where is Selly!?"
"Welleh, Welleh, Welleh..." telisik Randu Pendekar Kapak Babi. Hans bukan Bosan mengangguk. Randu si Pendekar Kapak Babi menghardik kemudian. "Kamu benar-benar sudah bosan hidup rupanya berani kamu menghina selir baginda raja, jangan macam-macam kamu!"
"Iya betul, betul, betul sekali." Hans bukan Bosan mengangguk girang. "Apa!? Kamu bilang betul!? Betul-betul kamu menghina Baginda raja, kalau begini ceritanya kamu bakal aku... Dasar Cecurut Busuk! Pasang jurus mu!" Randu Pendekar Kapak Babi bersiap dengan kuda jaipongnya eh salah deng kuda-kudanya.
"Jusrus! What kind is it!? Jusrus is like Banana or what..." Hans bukan Bosan berkomat-kamit sepertinya ia mengucapkan sepatah dua kata mantra pikir Randu Pendekar Kapak Babi."Kamu pasti dari klannya Kucing Buduk ya!"
Saudara-saudara adapun Klan Kucing Buduk itu adalah sekelompok pendekar yang punya kemampuan untuk merubah tampilan, disitu letak kekuatan terbesar mereka. Tetapi begitupun setiap orang pasti punya sisi lemahnya juga. Nah, kalau sudah begitu kira-kira dimana letak kelemahan klan Kucing Buduk ini!?
"Guk... Guk... Guk...!" Randu si Pendekar Kapak Babi pun berlagak seperti anjing, ia benar-benar sudah tidak bedanya dengan seekor anjing.
Randu si Pendekar Kapak Babi berjongkok sambil mengangkat sebelah kaki, sambil mulutnya terus saja mengeluarkan gonggongan.
Iya, disitulah letak kelemahan dari klan Kucing Buduk, tak ada lain adalah seekor guguk.
Randu si Pendekar Kapak Babi yakin kalau kurang dari semenit itu orang yang ngaku-ngaku sebagai pendekar dari Klan Kucing Buduk bakal segera turun gelanggang.
Tapi menit berselang menit si Pendekar tak jua turun gelanggang tak ayal hal itu menyulut semangat dari penonton. Hans bukan Bosan bingung sekaligus girang melihat orang-orang di sekeliling pada bertepuk tangan.
Hans bukan Bosan pikir Randu si Pendekar Kapak Babi sedang melakukan atraksi, kayak yang di pinggir-pinggir jalan, tinggal ditabuhan gendang, persis sudah! Karuan Hans bukan Bosan mengacungkan kedua jempol tangan.
"Sepertinya dia bakal mengeluarkan jurus kan uragannya, tapi jurus apa itu!?" Pikir Randu Pendekar Kapak Babi.
"Kamu hebat! Persis kayak Sarimin." Ucap Hans bukan Bosan mengangguk salut. Randu Pendekar Kapak Babi bangkit berdiri ia merasa kalau jurusnya tak mempan, jurus jempol teracung sepertinya mampu menghadang jurusnya, dan ia baru pertama kali melihat jurus seperti itu, penasaran ia pun bertanya. "Itu jurus apa!?
Hans bukan Bosan mengernyitkan sebelah matanya. "Jusrus... what is Jusrus..." Hans bukan Bosan berpikir keras. "Oh yeah I know! Sepertinya Hans bukan Bosan mendapatkan Ilham. "I know what you thinking. Jurus!"
"Ya, Jurus." Gelegar Randu si Pendekar Kapak Babi. Hans bukan Bosan mengangguk girang. "Ya, ya, ya, Jurus..." Hans bukan bergerak mengeluarkan sesuatu dari kantung menyannya eh salah deng kantong cawatnya. Oh iya sedari tadi Hans bukan Bosan cuma mengenakan sebuah cawat yang menutupi alu saktinya dan bertelanjang dada pula.
"Kamu tahu saya ada di Jusrusan mana!? Oh, no, no, not Jusrus but Jurus, Jurusan mana sepertinya saya punya langkah tersesat."
"Tersesat!?" Randu Pendekar Kapak Babi terkesiap kaget. "Iya, saya tersesat. Tadi saya kemari bisa kemari karena saya dilempar oleh seekor gorila berbadan big karena saya tadi punya tanya jurusan. Kalibarang dia marah saya sama." Hans bukan Bosan bicara dengan lagak awut-awutan. "Punya saya baju dibawa pergi sama Selly si macan. Selly itu teman Tarzan. Tarzan itu saya teman. Jadi saya dan Tarzan itu teman punya Selly." Ujar Hans bukan Bosan menunjuk-nunjuk ke secarik kertas yang isinya sepertinya adalah gambar sebuah peta.
"Lah ini sih namanya Pendekar Salah Jurusan!?" Rutuk Randu Pendekar Kapak Babi. Hans bukan Bosan mengangguk girang. "Iya, iya salah jurusan. Betul saya salah jurusan. Dan saking girangnya tanpa ia sadari ia mencerabut bulu Babi di dada Randu si Pendekar Kapak Babi. Kontan si Pendekar Kapak Babi kayak kena ayan, menggelepar, jatuh ke tengah gelanggang, dari mulutnya keluar buih-buih, dan gak sampai hitungan detik matanya membelalak, tubuhnya pun tak bergerak. Tamat riwayat Randu si Pendekar Kapak Babi. Para penonton girang bertepuk tangan. Bangkit berdiri dan bersorak Sorai serta.
"Kita punya Pendekar baru! Kita punya Pendekar baru. Julukannya Pendekar Salah Jurusan!"
Demikianlah riwayat si Pendekar Salah Jurusan.
Adapun kisah ini saya perbuat dengan sebenar-benarnya tanpa ada unsur paksaan dari pihak manapun juga.
Sekian dan Terimagaji!
Wassalam...!