Cerpen
|7|
"Kenapa menyerah?"
Aku diam saja.
"Kau sudah berusaha begitu keras. Tapi, orang lain tak menghargai usahamu sampai kau mimilih untuk berhenti."
Masa bodoh. Persetan dengan ocehan pria aneh ini. Aku memilih menenggelamkan kepala di lipatan lenganku di atas lutut yang kutekuk.
"Jika begini, bukankah kau yang lebih tak menghargai dirimu sendiri?"
Ah, sial. Sepertinya aku tak bisa terus mengabaikannya.
"Memangnya kau tau apa tentangku?"
Aku dengar ia terkekeh pelan setelah aku bicara. Mungkin ia menertawakan gumaman lirih bernada putus asaku, bisa jadi ia menganggap aku ini sebuah lelucon. Ya, sepertinya begitu.
"Memangnya kau tau apa tentangku?"
Dia meniru kalimatku. Memuakkan. Kapan ini akan berakhir?
"Hm? Zura, memangnya kau tau apa tentangku?"
Aku lelah. Aku mengantuk. Pria ini berisik sekali.
"Zura...."
Tidak bisakah dia diam? Ini sangat menjengkelkan.
"Sejauh mana kau tau tentangku, Zura?"
"Berisik. Tidak bisakah kau diam?" Aku bergumam di tengah kesadaran yang hampir mencapai batasnya. Mataku terasa berat, sungguh aku ingin tidur segera. Bolehkah aku terpejam untuk sementara waktu? Ah, tidak. Selamanya saja kalau bisa.
"Kemarin aku beli permen karet, padahal minggu lalu aku berencana membeli permen kapas."
"Hm? Sekarang kau membicarakan apa? Kenapa juga jadi bicara tentang permen?"
Aku sangat mengantuk. Kalimat yang kurampungkan entah ia dengar atau tidak karena aku hanya bergumam tidak jelas.
"Zura...."
Kenapa lagi dengan anak ini? Aku menolehkan kepala menatap dia yang duduk di sampingku dengan posisi yang sama. Entah mengapa dalam kegelapan ini aku merasa ia adalah satu-satunya penerangan yang bisa membantuku untuk melihat. Lengkungan di bibirnya seakan melukiskan sosoknya yang tanpa beban. Ia tampak begitu bebas, tanpa sedikitpun masalah yang mengikat. Aku... jadi iri dengan senyum yang penuh ketenangan di wajahnya itu.
"Boleh tidak aku memukulmu?"
Aku memperhatikannya. Senyum di bibirnya, binar di matanya, keteduhan dalam pandangannya, suara jernih tawanya. Aku jadi makin ingin memukul pria ini. Setelah itu mungkin aku akan diberi penghargaan karena berhasil melukai manusia yang tidak pernah merasai rasa sakit seumur hidupnya, lalu kemudian aku dipenjara dan tamat. Akhir yang indah....
"Boleh."
Oh. Dia bilang boleh. Aku boleh memukulnya. Tidak ada perlawanan, ya? Membosankan. Aku menyembunyikan wajahku kembali di lipatan lengan.
"Jika kau tidak memukulku aku yang akan memukulmu."
Oh. Lalu? Aku harus patuh pada ucapanmu? Apa ini? Kenapa kau belum juga bosan dan beranjak dari sini.
"Jika kau terus diam akan ku pukul loh...."
Persetan. Kenapa aku harus peduli. Kau pukul, aku pukul balik. Apa susah---
Plak
"Sialan apa yang kau lakukan?!"
Seketika kantukku hilang. Aku spontan menegakkan tubuhku dengan satu tangan memegang belakang kepala yang baru saja menjadi korban kekerasan dari tangan laknat pria itu. Wah! Terimakasih! Aku bersemangat lagi. Haruskah ku patahkan leher Si Br*ngs*k ini?
"Kau membentakku?"
Nada bicaranya seolah aku orang paling kejam di dunia. Hei! Siapa yang korban di sini? Kenapa kau memandangku seolah aku telah menganiayamu saja?!
"Kau marah?"
Haruskah kurealisasikan keinginanku untuk memutilasinya menjadi 7 bagian. Aku suka angka 7.
"Pfft.... Padahal tidak perlu marah. Aku tidak terpaksa memukulmu, aku ikhlas sungguh!"
Oh, aku kira dia manusia yang paling sempurna di alam semesta. Tapi, ternyata benar adanya kalau setiap kelebihan selalu ada kekurangan. Dia kurang waras rupanya.
"Jadi, kau akan menyerah?"
Topiknya kembali ke awal lagi. Pria ini random sekali.
"Zura...."
Ini sudah yang keberapa kali ia memanggil namaku? Berisik.
"Iya, aku menyerah."
Aku menyandarkan punggung di dinding seraya meluruskan kaki. Hm... aku jadi mengantuk lagi.
"Secepat ini?"
Apa ia tidak lelah bicara terus dari tadi? Aku sudah menjawab pertanyaannya, lalu dia bertanya lagi. Aku jawab lagi, dan dia akan terus bertanya lagi. Lalu kapan dia akan diam? Kapan pria ini akan berhenti menggangguku?
"Ya, secepat ini."
Ah, jawab saja. Nanti juga dia bosan sendiri dengan jawabanku.
"Dua hari lalu aku ke pasar malam, aku beli jepit rambut cantik. Cocok untukmu."
Sekarang apalagi? Kenapa dia selalu melantur kemana-mana?
"Hm.... Zura?"
Oh, dia memanggil namaku lagi. Padahal aku tidak pernah sekalipun menyebut namanya. Dia suka sekali, ya dengan namaku?
"Apa kau lelah?"
Ya, sangat. Aku ingin menjawab begitu. Tapi entah mengapa lidahku kelu. Kalau ku jawab pun, memangnya ia akan bantu meringankan bebanku? Aku memilih memejamkan mata, merasakan dingin mencekam dari lantai marmer yang ku duduki serta dinding beton yang menjadi tempatku bersandar.
"Zura.... Apa aku pernah bilang aku suka namamu?"
Dia benar-benar suka namaku rupanya. Lalu memangnya kenapa kalau kau suka? Oh, ya, kau baru bilang kau suka namaku barusan. Aku menjawab dalam hati, semoga telinganya cukup tajam untuk mendengar itu. Kalau tidak, ya sudah. Anggap aku mengabaikanmu.
"Zura.... Zura~Zura~Zura~" 🎶🎶🎶
Sekarang dia bersenandung dengan namaku. Sesuka itu, ya kau? Aneh. Apa bagusnya sebuah nama? Hanya sebuah kata untuk membedakan manusia satu dengan lainnya.
"Zura, aku suka alpukat."
Lantas? Aku harus apa? Haruskah aku mengeksploitasi seluruh alpukat di dunia agar kau menderita? Begitu? Lagi pula, kenapa dia merubah topiknya lagi?
"Tapi, aku benci warna hijau."
Aku benci kau. Harusnya aku meneriakkan itu dengan keras. Tapi rahangku terasa membeku karena dingin. Aku malas menanggapi omongannya lagi, tapi kenapa dia masih saja tidak mau diam?
"Zura...."
Dia menyebut namaku lagi. Sudah berapa kali? Entahlah, aku tidak ingat dan tidak mau mengingat sama sekali.
"Kenapa menyerah secepat ini?"
"Mau cepat atau lambat, bukankah sama saja?"
Wah, aku bicara. Suaraku keluar dari tenggorokan yang kering. Lalu apa ini? Mataku terasa perih dan memanas.
"Hm? Jadi kau sudah memberikan kuasa pada 'keputusasaan' untuk menentukan akhir kisahmu, ya?"
"Bukankah kau sama saja?"
Dia diam. Apakah akhirnya ia lelah untuk terus mengeluarkan kata? Harusnya keterdiamannya adalah hal bagus bagiku, tapi itu menjadi buruk ketika mulutku terus memaksa untuk bicara.
"Bukankah kau menyerah lebih cepat dariku?"
Hening. Aku mengejarnya dengan pertanyaan lain lagi. Ayolah, kau harus menjawabku br*ngs*k! Aku membuka mata, memutar tubuhku menghadapnya.
"Jadi, kenapa? Kenapa secepat itu, Rey?"
Akhirnya aku menyebut namanya. Tapi, dia terlihat betah dengan kebungkamannya. Kulitnya yang pucat, tampak jauh lebih pucat dari yang kulihat beberapa jam lalu sebelum aku berakhir di sini.
"Kau tidak menjawabku?"
Dia tersenyum lalu memutar tubuhnya hingga kami saling berhadapan.
"Aku kira kau tidak tau namaku."
Wah! Omong kosong apa yang sedang kau lontarkan ini? Aku tidak sebodoh itu untuk melupakan nama orang yang terus mengusik hidupku selama 7 tahun.
"Kau suka angka tujuh, kan?"
Sekarang apa lagi?
"Aku rasa aku juga suka...."
Di memiringkan sedikit kepalanya dengan senyuman yang membuat mataku perih. Aku merasa ada garam yang di tabur dalam luka-luka di setiap sudut jiwaku.
"Angka tujuh sepertinya banyak mewakilkan kejadian yang istimewa."
Istimewa? Memangnya apa yang istimewa?
"Kita bertemu saat berumur tujuh tahun, lalu kita sudah bersama selama tujuh tahun, kita lahir di tanggal tujuh, kau menyebut namaku tujuh kali---satu kali setahun, lucunya..."
Kenapa? Apa yang membuatmu bisa tersenyum dan tertawa selepas itu? Kau sama sekali tidak menderita, ya?
"... kita pernah bertengkar di bulan ke tujuh berbaikan lagi tujuh hari setelahnya, kita juga sering membuat janji main gim pukul tujuh malam, kita pernah terkurung di gudang tua menyeramkan selama tujuh jam, kita juga biasanya menghabiskan waktu hanya tujuh menit untuk makan, kita pernah melakukan petualangan gila-gilaan selama tujuh minggu..."
Terus dan terus. Dia bicara tanpa henti. Melontarkan kata-kata dengan angka tujuh yang selalu terselip di dalamnya. Setiap kejadian yang ia sebutkan seolah terbayang di matanya, ia seakan ingat setiap detail kenangan itu tanpa sedikitpun yang terlupa.
Kepalaku sakit, rasanya seperti dihantam palu. Denging panjang mendominasi pendengaranku. Mataku semakin memanas, rasa panas yang menjalar ke wajah dan seluruh tubuh. Aku menunduk dengan kedua tangan bertumpu di lantai menopang badan. Lalu, cairan hangat yang memberati kelopak mataku sedari tadi merangsek keluar dan kehangatannya menyentuh pipiku hingga kemudian tetes beningnya jatuh ke lantai.
Di atas lantai marmer itu sebuah koran lusuh menampung air mata yang jatuh tetes demi tetes tanpa henti dari mataku. Aku menatap nanar gambar yang terpajang di koran dan menjadi berita utama disana. Headline yang dicetak besar membuat aku merasa ada benda tajam yang menikam jantungku. Namun, saat kulihat ke arah dada tak ada apapun disana, tak ada darah, tak ada bekas luka. Tapi sangat sakit.
"Apa kau sakit?"
Diantara kecamuk yang memenuhi kepalaku, aku mendengar suaranya, lagi.
"Ya."
Aku menjawab lirih, suara ku bergetar. Bahkan aku sendiri merasa asing dengan percikan sendu yang tersirat di sana.
"Seberapa sakit?"
Dia bertanya lagi. Kali ini kuharap ia akan terus bertanya dan bertanya. Aku ingin dia terus bicara, tanpa henti, sedetik pun aku tak ingin ada jeda.
"Sangat sakit."
"Jika kau di suruh memilih angka satu sampai sembilan, angka mana yang menggambarkan rasa sakit itu?"
"Tujuh."
"Kenapa?"
"Aku suka angka tujuh."
"Oh, ya?"
"Kau juga suka angka tujuh."
"Hm, lalu?"
"Kita menyukainya. Dan semua tentang kita adalah hal paling menyakitkan di dunia."
"...."
"Dibanding luasnya bentangan daratan, banyaknya genangan lautan, besarnya bumi, atau bahkan luasnya galaxi, sampai seluruh semesta pun masih belum cukup... untuk menggambarkan sakitnya...."
"Sakit sekali Rey...."
Aku tidak mendengar suaranya lagi. Mataku juga tak bisa melihat sosoknya dengan jelas lagi.
"Kita bertemu di umur tujuh tahun, bersama selama tujuh tahun, dan..."
Genangan cairan hangat di mataku masih terus berjatuhan. Aku kembali menatap nanar headline koran kumuh di lantai....
"... dan kau menghilang hanya dalam tujuh detik saat aku berpaling darimu."
Di sana tertulis....
'Siswa dengan Inisial RM dari SMP Utama Ditemukan Tewas Bunuh Diri'
"Ah, sepertinya kau benar..."
Aku mendongak ketika suaranya mengusik pendengaranku lagi. Bibirnya tersenyum tapi matanya menangis. Tak ada bahagia yang dapat aku baca. Dia kini mempertontonkan luka yang selama ini ditutupinya.
"... aku memang menyerah begitu cepat, Zura."
Dan aku tak dapat menahan apapun lagi. Meraungkan tangis yang ku harap akan mengangkat semua rasa sakit ini. Namun, semakin banyak air mata bertumpahan, semakin keras tangisku pecahkan, rasanya semakin sesak saat ku coba menghirup nafas dari udara. Sama sekali tak ada solusi untuk rasa sakit ini diakhiri. Kalau sudah begini...
... bolehkah aku menyerah hari ini...
... Rey, bolehkah...?
=TAMAT=