Dalam menentukan hidup, kamu harus memilih yang paling baik di antara yang terbaik. Dan aku menyuruhmu memilih, pilih aku yang adalah pacarmu atau dia, gadis yang selalu kau sebut sahabatmu?
.....................................................................
"Ingat yah yang, kita pulangnya bareng. Jangan pulang sama Nindi kamunya!" peringat Nando sekali lagi pada gadis yang berstatus sebagai pacarnya itu.
Gina terkekeh geli "Iya Nan! Kamu udah lima belas kali bilang kalimat itu sejak dari parkiran sana. Aku bosan tau dengernya"
"Hehehe! Nggak apa-apa kamu bosan dengar kalimat aku tadi. Asal kamu jangan bosan dengar aku bilang I Love You"
Wajah Gina seketika memerah. Meski ia dan Nando sudah pacaran setahun lebih, tapi mendengar pria itu mengeluarkan pujian ataupun gombalan untuknya, wajah Gina tetap saja memerah.
"Masih pagi keles, udah gombal-gombalan aja di tengah jalan! Minggir, Inces mau lewat!" suara cempreng seseorang membuat dua manusia itu menoleh.
"Eh, Nindi! Kita barengan aja ke kelas!" ujar Gina sambil mencegah Nindi yang akan melewatinya.
"Apaan sih, ganggu aja!" kesal Nando karena acara mesranya bersama sang pacar terganggu karena kehadiran sepupu laknatnya itu.
"Udah, kamu langsung ke kelas kamu aja. Aku sama Nindi mau ke kelas kita. Oh yah, jangan bolos yah!"
Peringat Gina sambil mendorong punggung Nando untuk berbelok ke sebelah kiri. Sementara dirinya dan Nindi berjalan lurus menuju kelas mereka. "hmm" jawab Nando.
Gina membereskan tasnya saat bel pulang berbunyi. "Pulang bareng Gin?" tanya Nindi.
"Enggak! Aku udah janjian sama Nando tadi" tolak Gina mengingat peringatan Nando tadi. Nindi mengangguk mengerti, ia kemudian berpamitan pada Gina yang masih menunggu Nando ke kelasnya.
Ponsel Gina berbunyi. Ada pesan masuk dari Nando.
Nand💜
Kamu pulang nebeng Gina aja, kalau enggak naik taksi yah! Kita nggak jadi bareng, Vina tadi nyuruh jemput
Raut wajah Gina seketika murung. Ini bukan kali pertama Nando membatalkan janjian mereka hanya karena Vina. Sedikit penjelasan, Vina itu adalah sahabat Nando sejak kecil. Mereka terbiasa bersama. Karena itulah, Nando tetap memprioritaskan Vina dibanding pacarnya sendiri. Vina berbeda sekolah dengan mereka.
Gina melangkah lesuh keluar dari kelasnya. Ia tak berniat mengejar Nindi barangkali gadis itu masih ada di parkiran. Gina lebih memutuskan untuk pulang menaiki Taksi online.
Gina menghempaskan tasnya dengan kasar di atas ranjang. Ia kemudian mendudukkan dirinya di sana. Karena tak ingin terlalu kepikiran Nando, Gina mulai berselancar di dunia maya untuk menghilangkan sedikit kekesalannya. Namun bukannya hilang, ia malah bertambah kesal saat melihat postingan Vina di akun Instagramnya. di foto tersebut terlihat Vina dan Nando sedang menikmati makan siang di sebuah cafe yang akhir-akhir ini namanya lagi naik daun. Padahal Gina sudah beberapa kali mengajak Nando ke sana dan pria itu selalu mengatakan tak ada kesempatan. Namun bersama Vina ternyata ia punya banyak kesempatan.
Perlahan, air mata Gina turun membentuk anak sungai. Sudah tak terhitung berapa kali ia menangis karena tingkah Nando yang selalu lebih memilih Vina dibandingkan dia. Gina memilih bertahan selama ini karena ia merasa Nando benar-benar mencintainya. Pria itu hanya tidak bisa mengabaikan sahabatnya. Tapi kenapa rasa sakitnya tetap sama. Dan kenapa juga harus selalu dia yang menjadi pihak tersakiti? Kenapa Nando sama sekali tak peka dengan keadaannya?
Esok paginya, Gina berangkat ke sekolah dengan mengendarai motornya sendiri. Nando juga tidak menghubunginya sejak kemarin. Entah karena lupa atau memang tak ingin.
Gina yang akan memasuki sekolahnya terhenti karena mendengar seseorang meneriakkan namanya. "Aku panggil-panggil kok kamu nggak dengar?" tanya Nando saat sudah berada di samping Gina. Pria itu terlihat biasa saja, tanpa merasa kalau kemarin ia benar-benar menyakiti Gina untuk yang ke sekian kalinya.
"Sorry! Mungkin karena rame, makanya aku nggak dengar suara kamu" alasan Gina. Nando mengangguk "Ya udah yuk, kita masuk!" ajaknya. Gina menurut.
"Nan, jadikan entar malam?" tanya Gina membuat Nando menghentikan langkahnya. Ia menoleh pada Gina dengan ekspresi bingung "Jadi apa?"
"Kamukan udah janji waktu itu kalau malam ini kita bakal diner perayaan universary kita yang waktu itu tertunda. Jangan bilang kamu lupa?" tebak Gina tepat sasaran. Sebenarnya Minggu lalu tepatnya perayaan hari jadian mereka yang ke satu tahun. Layaknya anak remaja, mereka ingin merayakannya dengan momen romantis. Sayangnya gagal, dan apalagi alasannya kalau bukan Vina.
"So...sorry Yang! Tapi malam nanti acara ulang tahunnya Vina. Mana mungkin aku nggak ada di...."
"Okey! Aku ngerti. Ya udah, kita batalin aja!" potong Gina sudah tak tahan.
"Yang, jangan marah yah?" bujuk Nando.
Gina menggeleng "Enggak! Aku enggak marah. Aku cuma sadar diri aja sekarang" jawabnya menahan tangis.
"Bukannya gitu yang, tapi..."
"Kita bicarakan nanti saat kita istirahat! Bentar lagi bel masuk, lebih baik kamu langsung ke kelas kamu aja!" potong Gina lagi. Nando akhirnya pasrah. biarlah nanti mereka membicarakan masalah ini saat istirahat.
Gina menunggu kedatangan Nando di taman belakang sekolah. Setidaknya di sana mereka akan terhindar dari telinga-telinga kepo.
"Udah lama nunggu?" tanya Nando. Ia menyerahkan satu botol air mineral pada Gina dan dua bungkus roti. Ia yakin pacarnya itu belum sarapan, dan kini mereka tak mengunjungi kantin saat istirahat.
Gina mengambilnya yang diberikan Nando dan meletakkannya di bangku yang ia duduki. Nando ikut mendudukkan diri di samping Gina.
"Yang, masalah tadi.......aku benar-benar nggak bisa. Maaf!" ungkap Nando setelah beberapa menit mereka diam.
"Kenapa?" tanya Gina datar.
"Acara ulang tahunnya Vina itu sangatlah penting. Apalagi ini sweet seventen, mana mungkin sebagai sahabat aku nggak ada di sana"
Gina mengangguk. "Segitu pentingnya yah, acara Vina bagi kamu? Dan kamu nggak nganggap acara kita juga nggak penting?"
Nando menggeleng "Bukan gitu yang, kamu tolong dong ngertiin posisi aku!"
Emosi yang tadi berusaha Gina redam akhirnya naik juga. Ia menatap Nando tajam "Ngertiin? Mau sampai kapan aku harus terus-terusan ngertiin kamu? Terus kapan kamunya ngertiin aku Nan?"
"Selama ini kamu selalu batalin janji saat kita mau malam mingguan, nyatanya kamu pergi nonton bareng Vina aku mengalah! Kamu batalin pergi ataupun pulang bareng aku demi ngantar jemput Vina aku juga ngalah! Saat aku sakit kamu malah ikut liburan bareng keluarga Vina karena alasan diajak aku juga tetap ngalah dan berusaha ngertiin posisi kamu. Tapi kamu ngertiin aku enggak, saat berkali-kali kamu kecewain dan ketika kamu datang kamu hanya bilang maaf dan bertingkah seolah kita nggak ada masalah apa-apa? Kamu ngertiin sebesar apa rasa sakit aku yang kamu timbulkan selama ini nggak?" Suara Gina meninggi. Kata-kata Gina membuat Nando seolah tertampar.
"Aku capek Nan, terus-terusan ngerasain sakit. Aku capek harus sedih sendirian sedangkan orang yang nyebabin air mata aku malah lagi asik-asikan sama gadis yang katanya 'sahabat'nya itu"
"Gin, aku......"
"Kita akhiri saja semuanya saat ini juga Nan!" Berakhir! Sekarang hubungan mereka yang sudah dibangun selama satu tahun lalu akhirnya berakhir juga! Gina tersenyum miris.
Gina akhirnya memilih meninggalkan Nando yang masih terdiam di tempatnya.
"GINA!! BERHENTI! AKU NGGAK MAU PUTUS DARI KAMU!" Teriak Nando dengan lantang. Langkah Gina terhenti, gadis itu berbalik menatap Nando. "Aku kasih kamu dua pilihan. Aku, atau dia! Jam tuju malam, aku ngasih kamu batas waktu berpikir sampai jam itu! Pikirkan dan renungkan baik-baik apa pilihan hati kamu" ujarnya kemudian kembali berbalik dan melanjutkan langkahnya.
Gina kini tengah asik berbaring di atas ranjangnya. Sepertinya mulai sekarang Gina harus menyusun rencana apa saja yang akan ia lakukan saat dirinya berstatus jomblo seperti ini agar ia tak terus kepikiran mantan. Kenapa ia mengatakan mantan? Karena Gina yakin Nando akan memilih Vina. Setidaknya, perasaannya sedikir legah setelah mengeluarkan uneg-unegnya yang ia tahan selama ini. Cinta? Jelas saja ia masih sangat mencintai pria itu. Namun yah kadarnya sudah berkurang sedikit karena terkikis rasa kecewanya. Mulai sekarang, Gina akan belajar move on.
Pintu ruangan Gina dibuka dari luar, Gina memelototi Tian-adiknya-yanga masuk ke kamarnya tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu.
"Nggak usah melotot gitu Kak! Ada tamu kamu di luar, temui gih!"
Gina mengerutkan alisnya "Siapa?"
"Nggak tahu. Bule kesasar kali, soalnya tampangnya agak bule-bule gitu" jawab Tian ngaco. Mana ada bule nyasar yang tahu nama dan rumah Gina? Sinting kali adiknya ini.
"Kak?!" panggil Tian saat Gina akan keluar dari kamarnya. "Orangnya ganteng kak! Bilangin salam Tian yah!"
Gina mendelikkan matanya ke arah Tian "Nyuruh-nyuruh orang bilang salamin, belajar dulu yang benar sana! Masih SMP juga!"
Gina menuruni anak tangga karena ingin menemui tamu yang dimaksud Tian. Ia terkejut ternyata Nandolah tamu yang dimaksud Tian. Meski sudah setahun berpacaran, keluarga Gina sama sekali tak mengenal Nando. Pria itu hanya akan mengantar dan menjemputnya di depan rumah saja. Apalagi itu sangat jarang. Jadi wajar saja jika Tian tak mengenal pacar sang Kakak.
"Kok belum ganti pakaian yang?" tanya Nando. "Dan kembali kecewa karena yang ditunggu ternyata nggak datang?" tanya Gina sarkatis.
"Buktinya aku datang!" balas Nando menatap Gina dengan tatapannya yang teduh. Ia sadar, ia sudah menyakiti gadis itu terlalu dalam.
"Asal kamu tau Nan, sejak saat aku memberimu pilihan tadi, saat itu juga aku sudah memutuskan untuk berhenti berharap ke kamu. Karena aku sadar, kesakitan yang aku rasakan timbul karena harapan yang aku tanam"
Nando merasakan hatinya ikut teriris mendengarnya. "Dengar Gina. Mulai sekarang, kamu nggak perlu berharap lagi. Karena aku akan selalu datang dan akan selalu ada untuk kamu. Yang kamu lakukan, hanya izinkan aku untuk memperbaiki semuanya" ucap Nando dengan tegas.
Gina tersenyum sinis "Kamu sudah menentukan pilihan kamu? Kalau belum, nggak usah ngucapin hal manis untuk sekedar menghibur aku"
Nando menggeleng. "Seharusnya dengan melihat kehadiran aku di sini kamu paham siapa yang aku pilih!"
Gina menatap Nando ragu. "Cepat ganti pakaian kamu, dan aku akan buktiin ke kamu!" Walau masih merasa sangsi, Gina tetap mengikuti ucapan Nando.
Gina menatap bingung ke arah Nando saat pria itu menghentikan mobilnya di sebuah rumah mewah yang terlihat sangat ramai. Nando tak menghiraukan tatapan Gina, pria itu malah turun dan membukakan pintu untuk Gina. Ia menggandeng Gina memasuki rumah tersebut.
Gina terpaku saat Nando membawanya mendekat ke arah seorang gadis yang ternyata si empunya acara. Gadis itu menatap Nando dengan tatapan yang sulit diartikan.
Setelah Nando semakin dekat, gadis itu tersenyum sumringah. "Aku pikir kamu nggak bakalan datang tadi! Tapi sekarang aku semakin yakin kalau kamu akan tetap jadi Nandoku yang selalu mengutamakan semua tentang aku!" ujarnya sambil mendekati Nando. Ia menatap Gina dengan seringaian, membuat gadis itu tak nyaman. Gina ingin menjauh sejenak dari Nando, tapi Nando malah mengeratkan tangannya di pinggang Gina.
"Sorry Vin, mungkin ini akan menyakiti kamu atau bahkan membuat perubahan besar di antara hubungan kita. Aku selama ini memang selalu memprioritaskan kamu, dan bahkan mengabaikan seseorang yang lebih berhak untuk mendapatkan semua perhatian dan waktu aku. Dan hari ini, aku akan memperbaiki semuanya"
"Maksud kamu?" tanya Vina dengan wajah kesal.
"Tak selamanya kamu selalu mengikat aku berada di sisi kami dengan alasan persahabatan. Kamu mungkin takut kehilangan aku, tapi aku lebih takut lagi kehilangan orang yang aku cintai" Nando melirik ke arah Gina yang ada di sampingnya.
"Kamu sudah tujuh belas tahun, aku yakin kamu sudah semakin dewasa memahami keadaan" sambungnya.
Mata Vina memerah menahan tangis. "Jadi kamu mau mengakhiri persahabatan kita?"
Nando menggeleng "Itu tergantung kamu. Kita bisa tetap menjadi sahabat, asal kamu bisa menghilangkan rasa suka kamu ke aku. Dan juga rasa ingin memonopoli aku untuk kamu sendiri. Karena saat ini, sudah ada hati yang harus aku jaga!"
"Btw, selamat ulang tahun. Aku harap kamu semakin dewasa dalam menjalani kehidupan, dan tidak terlalu bergantung pada orang lain. Kadang manusia juga harus belajar bersikap mandiri!"
Vina tak sanggup mengatakan apapun lagi. "Aku pamit! Ini kado dari kami" Setelah mengatakan itu Nando membawa Gina meninggalkan rumah tersebut, tanpa peduli kalau mereka sedari tadi menjadi pusat perhatian.
Gina menperhatikan wajah Nando saat mereka sampai di mobil. "Kamu kok biasa aja mutusin persahabatan kamu sama Vina? Lagipula, kenapa harus saat di acara dia. Kamu nggak sadar sudah mempermalukan dia?"
Nando mengangkat bahunya acuh. Dia sebenarnya tak akan setega itu jika ia tak mendengar rencana Vina saat gadis itu berbincang dengan orang tuanya tadi siang. Gadis itu meminta orang tuanya untuk mengusulkan perjodohan antara dia dan Nando saat acara ulang tahunnya nanti agar keluarga Nando tak dapat menolak. Nando benar-benar kecewa dengan Vina. Ia pikir, Vina tulus bersahabat dengannya. Nyatanya gadis itu ingin memiliki dirinya, bahkan dengan cara licik sekalipun.
"Kamu.......nggak punya perasaan sama sekali ke Vina? Atau pernah suka sama dia gitu?" tanya Gina. Pasalnya Vina itu sangat cantik.
"Kalau aku punya perasaan sama dia, yang aku tembak setahun lalu itu dia bukan kamu!" balas Nando. Pria itu menggenggam tangan Gina dan mengecupnya dengan lembut. "Maafkan semua kesalahan aku selama ini. Aku nggak tahu mau ngucapin kata apalagi selain maaf! Maafkan aku, sayang!" bahkan air mata pria itu sampai menetes.
Gina ikut menggenggam tangan Nando "Hmm! Jangan minta maaf lagi. Aku udah maafin kamu"
"Makasih sayang, makasih banyak!" ujar Nando dan menarik tubuh gadis itu ke pelukannya.
"Sayang, kamu maukan kita tunangan?"
Gina seketika menjauhkan tubuhnya dari Nando. Menatap pria itu tak mengerti "Yah... aku akan bilangin ke Papa Mama aku agar kita ditunangkan dulu. Aku juga akan ngajak orang tua aku untuk menemui orang tua kamu" jelasnya.
"Apa ini nggak terlalu cepat?"
Nando menggeleng. "Enggak! Bahkan seharusnya aku sudah melakukannya sejak dulu. Aku benar-benar takut kehilangan kamu sayang!" Nando inya merasakan hatinya sakit saat mengingat Ucapan Gina yang ingin putus dan tak lagi ingin berharap padanya. Menyerahnya Gina membuatnya sakit.
"Baiklah! Tapi bagaimana dengan orang tua kamu? Apa mereka akan setuju? Mereka pasti akan lebih suka kamu bersama denga gadis yang sudah mereka kenal" ujar Gina ragu, mengingat bagaimana dekatnya keluarga Nando dan Vina.
"Dan mereka sudah kenal kamu. Kamu tahu, aku sering menceritakan tentang kamu ke mereka. Mereka bahkan tak sabar untuk bertemu kamu. Asal kamu tahu, aku membawa kamu keluar dari sana dengan cepat bukan karena takut membuat kekacauan, tapi karena aku nggak mau orang tua aku melihat kamu dan mereka akan menahan kamu bersama mereka. Jika itu terjadi bisa dipastikan acara lamaran untuk kamu menjadi tunangan aku malam ini bakalan batal"
Gina menganga lebar. Ia tak menyangka kalau Nando sering menceritakan tentangnya pada orang tua pria itu.
"Jadi gimana? kamu mau tunangan sama aku?" tanya Nando.
Gina mengangguk. Meski Nando melamarnya ketika berada di parkiran dan masih di dalam mobil tak apa. Asal pria itu tulus, maka tak ada kata tidak untuk menolaknya.
Ayok mampir juga ke novelku. Di sana banyak yang manis-manis loh😊