Rere mematut wajahnya di cermin.
"Hemmm... Siapa sih yang tidak beruntung mendapatkan istri seperti aku? Huhuhu..." Dia mendesis pelan di depan cermin.
Rere begitu bangga melihat penampilannya yang masih cantik jelita bak seorang gadis belia.
Padahal sudah sebulan Rere menjadi istri Dio, kekasihnya sejak delapan tahun yang lalu.
Delapan tahun Rere dan Dio menjalin hubungan yang dikenal dengan istilah "pacaran". Putus nyambung sudah biasa mereka jalani, dan selalu berakhir dengan romantis. Mereka balikan dan mesra kembali seperti awal mereka jadian.
Kini sudah sebulan hubungan mereka berganti status menjadi hubungan pernikahan dengan status suami-istri.
Bulan madu mereka habiskan di kota Paris dengan suasana yang sangat romantis.
Meskipun sebenarnya Rere dan Dio merasa bulan madu mereka biasa-biasa saja, karena sebenarnya mereka sudah sejak lama melakukan bulan madu. Jauh sebelum mereka menikah.
Ya, mereka sudah sering melakukan hubungan suami-istri semasa mereka masih berpacaran.
Hanya bedanya, kini mereka bisa bebas melakukan hubungan suami-istri tanpa menggunakan pengaman khusus.
Beda dengan dulu, di masa mereka masih berpacaran. Mereka harus sangat berhati-hati karena takut kebablasan.
Mengingat hal itu membuat Rere tersenyum-senyum sendiri. Akhirnya impian Rere untuk menjadi istri Dio tercapai juga.
Rere kini tidak perlu khawatir lagi untuk melayani Dio kapan saja Dio menginginkannya. Dia benar-benar menikmati setiap momen indah bersama Dio, suaminya yang tercinta.
"Sayang... Sudah bangun?" Rere menyapa Dio dengan lembut ketika melihat suaminya itu sudah terjaga dari tidurnya yang pulas.
"Huaaahhh... Iya. Ada makanan apa?" Tanya Dio sambil menguap lebar-lebar.
"Aku sudah membuatkan salad kesukaanmu, sayang..." Sahut Rere.
"Hemmm... Cuma salad, sayang?" Tanya Dio lagi.
"Iya... Kamu mau dimasakin apa?" Rere terlihat gundah.
"Oh... Ya sudah, salad juga cukup. Nanti kita bisa makan di luar." Ujar Dio santai.
Rere tersenyum. Wajahnya terlihat semakin cantik.
"Aku ngerti... Kamu kan juga capek melayani aku terus tadi malam..." Bisik Dio di telinga Rere.
Rere tersenyum lagi. Dia memeluk mesra suaminya.
"Hehehe... Kamu memang suami paling pengertian, sayang..." Rere mengedipkan matanya.
Rere baru saja hendak mengajak Dio ke ruang makan ketika ponsel Dio tiba-tiba berdering.
Rio mengambil ponselnya dan menerima panggilan. Wajahnya terlihat serius.
Rere kemudian meninggalkan Dio di kamar. Dia bergegas menghidangkan salad di atas meja makan. Sekilas dia masih mendengar ucapan Dio di telepon.
"Bukan! Bukan begitu! Percayalah, ini tidak seperti yang kamu bayangkan..." Suara Dio terdengar sayup-sayup di telinga Rere.
Tidak lama kemudian Dio menyusul Rere ke ruang makan. Dia mulai duduk dan menyantap salad buah yang telah disajikan oleh Rere.
"Siapa tadi yang nelpon?" Tanya Rere santai.
"Itu... Rekan kerjaku... Biasalah, ada aja masalah di kantor." Jawab Dio.
"Ohh... Ya, yang sabar ya sayang..." Rere berusaha menyemangati suaminya.
Dio mengangguk pelan. Sebentar saja dia sudah menghabiskan sarapannya.
"Kerjaan kamu gimana? Aman kan?" Rio balik bertanya.
"Yup. Aman dong!" Jawab Rere ceria.
"Syukurlah... Kalau kamu nyaman di kantor, aku juga jadi tenang." Ucap Dio lembut.
Rere tersenyum bahagia. Mereka berdua melanjutkan obrolan santai pagi itu dalam suasana yang hangat.
***
"Bohong! Dasar penipu!" Sonia membentak Dio sekuat tenaganya.
Dio mendengus pelan. Dia sudah bosan juga menjelaskan pada Sonia tentang kesalah pahaman yang terjadi di antara mereka berdua.
"Percayalah, Sonia! Aku tidak mencintainya!" Seru Dio.
Sonia melirik tajam ke arah Dio. Dia terkekeh sinis.
"Heh... Tidak cinta?! Tapi setiap hari kau tidur sama perempuan itu!" Tukas Sonia.
"Oh Tuhan! Bagaimana lagi aku harus menjelaskan! Dia masih istriku untuk saat ini." Ujar Dio.
"Huhhhh..." Sonia mendengus. Dia tidak percaya pada kata-kata Dio.
"Aku akan menceraikan dia, tenang saja! Aku sudah muak bersama perempuan egois itu!" Ujar Dio ketus.
"Kapan kamu akan ceraikan dia?" Tanya Sonia.
"Secepatnya, sayangku. Kamu lebih layak jadi istriku daripada dia! Percayalah! Aku tentu tidak ingin mengecewakan anak kita." Janji Dio sambil mengelus lembut perut Sonia.
Dio memeluk Sonia sepenuh jiwanya. Dia sungguh-sungguh mencintai Sonia. Seperti ketika dia dulu masih berpacaran dengan Rere.
Bagi Dio, hubungan yang haram selalu terasa lebih indah daripada hubungan yang sah.
Berhubungan bebas dengan berbagai wanita sudah menjadi kebiasaan Dio sejak lama. Meskipun delapan tahun berpacaran dengan Rere, sesungguhnya sudah banyak wanita yang bergantian menjadi teman tidurnya.
Namun Rere terlalu polos untuk mengetahui hal itu semua. Dio selalu berhasil mengelabuinya.
Kini perasaan Dio untuk Rere telah benar-benar mati. Cintanya telah usang. Dio sudah lama bosan dengan Rere.
Akan tetapi, Rere dan keluarganya selalu saja mendesak agar mereka segera menikah. Sehingga dengan terpaksa Dio akhirnya menikahi Rere.
Apalagi sejak mereka resmi tinggal serumah, Dio semakin menyadari banyak kekurangan Rere yang tidak bisa dia toleransi. Rere ternyata hanyalah seorang wanita manja yang tidak bisa diandalkan. Betul-betul membosankan!
***
"Son? Siapa sih si Son ini? Bolak-balik nelpon dari tadi!" Rere bertanya-tanya dalam hatinya.
Dio tiba-tiba masuk ke kamar dan meraih ponselnya dari genggaman Rere.
"Halo! OK, nanti kita bahas ya! Sebentar lagi aku ke kantor." Ujar Dio.
"Siapa sih itu? Bolak-balik nelpon kamu!" Tanya Rere kesal.
"Ya, teman kantor. Maklum, sayang. Kami lagi padat banget kerjaan di kantor." Jawab Dio.
"Hemmm..." Gumam Rere.
"Aku pergi ya!" Dio berpamitan dan mengecup pipi Rere lembut.
"Ga sarapan dulu?" Rere bertanya sambil tersenyum.
"Nanti aku sarapan di kantor. Aku harus buru-buru nih, sudah ditunggu." Sahut Dio.
"OK. Hati-hati di jalan, sayang!" Ucap Rere.
"Kamu juga ya!" Balas Dio sebelum masuk ke mobilnya.
Setelah Dio pergi, Rere juga bergegas bersiap-siap menuju ke kantornya. Kantor Rere dan Dio terletak di arah yang berlawanan sehingga mereka tidak bisa pergi barengan ke kantor.
Rere bersyukur sekali mendapatkan suami seperti Dio. Seorang laki-laki yang cukup tampan, karir sukses, dan begitu mencintainya.
"Akhirnya aku bisa menebus semua dosa-dosa kami di masa lalu..." Rere membatin bahagia.
Rere sudah berjanji dalam hatinya untuk menjadi seorang istri yang berbakti pada suami.
Rere bertekad bahwa itu semua akan dilakukannya untuk menebus semua dosa yang telah mereka lakukan berdua pada masa lalu ketika mereka masih berpacaran.
Sayangnya, Rere belum menyadari sama sekali bahwa suami yang sangat dicintainya itu ternyata telah memiliki wanita simpanan lain dan wanita itu sedang mengandung anak hasil hubungan haram mereka.
***BERSAMBUNG***