Pesta? Aku tak pernah menghadiri pesta apapun. Bukan karena tak ada undangan, karena aku tak pernah bisa bergaul dengan orang-orang seperti anak muda pada umumnya. Aku cenderung menyukai kesendirian, bukan keramaian seperti dipesta. Introvert, mungkin bisa disebut begitu. Tapi kali ini, sesuatu mengharuskan aku untuk hadir.
"Setiap orang wajib datang ke pesta Halloween kali ini. Jika kalian tidak datang, maka sekolah akan menganggap kalian bolos 10 kali."
Tidak... Aku bisa dihukum habis-habisan jika ibuku melihat ada catatan bolos pada raporku. Jangankan 10 kali, satu kali saja aku yakin aku akan kehilangan uang jajan ku selama seminggu.
Sesuai arahan, aku menyiapkan baju sesuai tema Halloween. Aku memilih kostum vampir. Sederhana dan ringan. Hanya perlu memakai jubah hitam dan sedikit olesan lipstik di ujung bibir.
Sudah ku fikirkan, aku datang hanya untuk menulis namaku dan kemudian menepi di pojok ruang pesta.
Setelah beres merapikan diri aku berangkat ke tempat tujuan. Aku dengar kali ini sekolah menyewa gedung kosong untuk pesta Halloween. Sedikit gila! memang bagus untuk menambah kesan seram. Tapi apa ini masuk akal? Mereka menyewa tempat yang sudah lama tak dipakai.
Sesampainya di sana, suara hiruk pikuk kesenangan sudah terdengar. Nampaknya aku telat. Biar sajalah, yang penting datang. Setelah menulis namaku, aku duduk di kursi pojok ruangan sembari menikmati minumanku. Gedung dua lantai ini terlihat terawat, padahal kata orang gedung ini sudah lama dikosongkan. Anak-anak berteriak dan bersorak sorai mengikuti dentuman musik. Kostum Halloween mereka bermacam-macam dan terlihat seru. Telingaku sedikit sakit dengan musik dan teriakan mereka. Aku benar-benar tidak tahan dengan kebisingan ini.
Ku tengok lantai atas. Sepertinya lebih sepi. Bahkan mungkin tidak ada orang. Sepertinya cocok untukku. Sebaiknya aku kesana... Aku mulai mencari tangga. Tapi aku tak melihat tangga menuju lantai 2 di ruangan ini. Aku keluar dan bertemu seorang penjaga. Seorang pria paruh baya yang acuh. Dia bilang tangga lantai 2 ada di belakang gedung. Tanpa menunggu lagi aku segera kesana. Perawat gedung ini sepertinya bekerja dengan baik.
"Ah, sudahlah!" lebih baik aku segera naik. Aku mulai menaiki anak tangga hingga mencapai balkon belakang. Aku berjalan menuju balkon depan dengan sedikitnya mengitari gedung itu. Saat aku sampai, ada seorang pemuda dengan jas putih rapi berdiri menatap lantai bawah dengan wajah datar. Kulitnya putih pucat tapi terlihat sangat tampan. Ia tinggi dan ukuran badanya ideal. Apa mungkin dia salah satu murid disekolahku? Tapi aku tak pernah melihatnya. Dengan ketampanan nya dia seharusnya populer dan mudah di kenali. Apa mungkin aku yang kurang mengenal anak-anak disekolahku?
"Kau... " Dia seperti terperanjat saat melihatku. Aku pun jadi ikut terhenyak.
"Maaf, apa aku mengganggumu?" Dia terlihat bingung, kemudian menggeleng.
"Kau... kenapa bisa kesini?" Tanyanya.
"Aku tak biasa dengan keramaian di lantai bawah. Jadi aku keatas untuk mencari suasana yang cocok denganku. Apa kau siswa di SMA kami juga?" Diam-diam aku mengamatinya. Cara berpakaiannya tidak seperti tema Halloween.
"Kau salah kostum ya? Karena itu kau tidak ikut pesta dibawah?" Tanyaku kikuk. Dia masih diam tanpa menjawab sambil terus melihatku.
"Apa yang kau bicarakan? Kau tidak tahu aku... "
"Ah, kau terlalu tampan. Jadi kau takut gadis-gadis disana menggodamu?" Tebakku menyela kalimat nya. Dia mengerutkan kening.
"Aku Alin." Sapaku melambaikan tangan. Awalnya dia nampak waspada, namun beberapa menit setelah dia melihat ke arahku, perlahan dia terlihat biasa lalu mulai memberi senyum.
"Aku Revanda." Ucapnya. Aku menawarkan diri untuk bergabung dengannya menikmati ketenangan dan dia menerimaku. Syukurlah, walaupun aku tak mengenalnya tapi sepertinya dia orang baik. Dan lagi, sekalipun aku seorang introvert, aku tetap gadis yang nyaman dengan pemuda tampan. Hihihi.
"Aku tak pernah melihatmu. Kau kelas berapa?" Aku memulai perbincangan. Namun entah mengapa ia tampak berfikir keras dengan pertanyaan yang kuberi.
"Kau sepertinya bukan anak sekolahku ya? Apa kau tinggal disekitar sini?"
"Gunung desa di belakang sana adalah rumahku." Jawabnya ringan. Gunung desa? Dia orang desa? Kenapa penampilan nya seperti orang kota yang kaya?
"Kau bercanda... " Gumamku. Kami mengobrol pembahasan ringan pada awalnya. Dia tidak banyak cerita, dia hanya banyak bertanya tentang diriku. Sangat ramah. Aku berbagi cerita tentang hobbyku mendaki gunung dan tak disangka dia juga memiliki hobby yang sama. Kami saling bercerita banyak hal mengenai macam-macam hobby dan tempat bermain. Kami bahkan saling bercerita mengenai hantu berhubung ini adalah malam Halloween. Seru sekali.
"Kau tak punya teman? Kenapa mengasingkan diri kesini sendirian?" Tanyanya sembari menatap langit yang terang dengan sinar bulan.
"Tentu saja punya. Tapi tidak dekat. Bagaimana denganmu?"
"Teman-temanku tidak seramah dirimu." Apa dia sedang memujiku? Dia pintar menggoda.
"Malam semakin dingin, kau akan pulang?" Tanya nya. Aku mengangguk. Rasanya terlalu asyik mengobrol sampai aku lupa waktu. Sudah jam 11 malam. Pesta dibawah sepertinya malah semakin meriah.
"Pakai ini." Dia melepas jas nya kemudian memakaikan ke badanku. Aku jadi tersipu. Tidak ada gadis yang tidak bahagia jika diperlakukan seperti ini oleh pemuda tampan.
"Oh ya, aku ingin bertanya sesuatu padamu. Apa kau tau penjaga gedung ini?" Aku mengangguk pelan.
"Apakah dia masih seorang pria tua?"
"Iya." Dia tersenyum kecil.
"Aku ingin minta tolong padamu." Aku mengangkat alisku. Siap mendengarkanya.
"Besok tolong datanglah ke gedung ini dan katakan pada nya ada sesuatu yang kuletakan di pojok gudang lantai 2." Sesuatu? Sepertinya itu hal penting.
"Kau ada hubungan dengan paman penjaga gedung?" Tanyaku penasaran.
"Kau akan mengetahuinya besok." Dia senyum lagi. Anak ini benar-benar murah senyum. Jika terus seperti ini, bisa-bisa aku jatuh cinta padanya. Sebaiknya aku segera pulang.
"Aku harus pulang." Kataku.
"Kau boleh simpan jas ku. Kembalikan saat kau bertemu denganku lagi. Malam Halloween tahun depan." Aku mengerutkan keningku. Yang benar saja?
"Selama itu?" Apa harus menunggu satu tahun baru bisa menemuinya?
"Aku bukan seseorang yang mudah ditemui." Candaan yang terdengar serius. Ya, dia orang sesibuk apa sampai harus menunggu begitu lama?
"Baiklah. Aku akan mengembalikan jasmu besok." Aku melambaikan tangan dan mulai melangkah.
"Alin?" Panggil nya. Aku berhenti dan menengok padanya.
"Aku menunggumu di malam Halloween tahun depan. Berjanjilah untuk datang." Aku hanya meringis. Dia memanggilku hanya untuk bercanda. Sungguh tidak lucu!
"Aku akan datang besok." Tegas ku lagi. Ku lanjutkan langkahku meninggalkan lantai 2. Jas nya terasa hangat ditubuhku. Aku suka aromanya, aroma mawar yang menyengat. Malam Halloween ku tidak buruk. Bisa berkenalan dengan Revanda yang tampan dan ramah. Jika hubungan kami baik, mungkin dia akan jadi cinta pertamaku.
Keesokan harinya, aku bangun kesiangan karena tidur larut malam. Rasanya nyaman sekali tidur bersama jas Revanda. Ini pertama kalinya bagiku menerima kehangatan dari seorang pria. Setelah mandi dan sarapan, aku membantu ibuku menjaga adikku yang masih balita. Sampai tak terasa sore telah tiba. Ya, aku harus pergi ke gedung itu lagi. Memenuhi permintaan Revanda.
Sebelum malam menjelang, aku bergegas kesana dan tak lupa kubawa jas yang ia pinjamkan. Saat sampai disana, kulihat penjaga yang ku tanyai semalam sedang menyapu halaman gedung. Aku menghampiri beliau dan menyapa. Respon beliau sangat dingin.
"Permisi, Paman." Sapaku tersenyum. Beliau tidak langsung menjawab. Mengabaikan aku selama beberapa detik.
"Ada yang bisa ku bantu?" Beliau bahkan tidak melihat ke arahku dan terus menyapu.
"Ada seseorang yang menitipkan pesan untuk anda."
"Seseorang? Aku tak mengenal siapapun." Aku menghela nafas dengan lirih. Revanda tidak sedang mengerjaiku kan?
"Paman tidak mengenal Revanda?"
"Bruks!" Seketika sapu yang paman pegang terjatuh. Kedua bola mata paman menatapku dengan nanar. Aku sendiri jadi keheranan dengan ekspresi paman yang tiba-tiba berubah.
"Kau bertemu dengan Revanda?" Tanya Paman begitu serius.
"Iya, semalam saya yanh bertanya pada anda letak tangga lantai 2. Dan saya bertemu denganya di balkon depan."
"Lantai 2 katamu?" Aku mengangguk dengan kaku.
"Apa yang dia katakan?" Tanyanya bagai tak sabar.
"Dia meninggalkan sesuatu di pojok gudang lantai 2, dia meminta agar Paman memeriksa. Itu yang dikatakan Revanda."
Mendengar jawaban ku, Paman langsung berlari menuju gudang lantai 2. Aku dengan heran juga jadi mengikuti paman. Dengan buru-buru paman membuka gembok gudang. Paman sempat kesulitan karena kunci gudang bercampur dengan kunci lainnya dan dikaitkan ke satu ikatan.
"Klak!" Berhasil! Dengan cepat paman masuk. Gudang itu penuh dengan kursi kayu tua dan peralatan lainya. Sangat berdebu dan penuh sarang laba-laba. Paman dengan sigap memeriksa setiap pojok gudang. Pojok kiri depan kosong, pojok kiri belakang demikian, hingga Paman menemukan sebuah surat terlipat di pojok kanan belakang. Di atas meja bundar yang sudah hampir habis dimakan rayap.
"Revanda... " Paman itu membuka lipatannya. Membaca dengan serius dan tangan yang bergetar. Ada apa sebenarnya? Kenapa paman sampai seperti itu? Aku hanya bisa melihat saja. Tidak berani bertanya. Perlahan wajah dingin itu tersenyum lebar, diikuti dengan air mata haru. Aku semakin bertanya-tanya.
"Maaf... Aku menangis didepanmu. Ini memalukan." Ucap paman. Cukup lama, sepertinya surat itu cukup panjang. Aku tersenyum dan mengangguk. Usai membaca Paman mengajaku untuk singgah ke tempat tinggalnya yang berada di satu halaman dengan gedung. Rumah yang kecil dan sangat sederhana. Sangat bersih dan rapi. Bahkan kamarku kalah bersih dengan teras rumah Paman.
"Kau bertemu dengan Revanda langsung. Bagaimana penampilannya?" Tanya Paman sembari menyuguhkan teh padaku.
"Dia sangat tampan dan tinggi. Aku tak pernah melihatnya, dia pasti disukai banyak gadis di lingkungannya."
"Kau sangat beruntung. " Paman mengambil sesuatu dari dompet nya lalu menyodorkan sebuah foto padaku. Foto Paman saat muda dan seorang anak kecil berumur 5 tahunan.
"Itu Revanda. Kami berpisah sudah sekitar 15 tahun."
"Ha?" Aku langsung menganga. "Jadi Paman adalah ayah Revanda?"
"Bukan, aku merawatnya saat ia masih bayi. Tapi aku kehilangan dia saat ia berumur 10 tahun." Hilang diumur 10 tahun, dan terpisah selama 15 tahun, jadi Revanda sudah 25 tahun? Bagaimana dia bisa terlihat sangat muda semalam?
"Jika aku memberitahumu, bisakah kau merahasiakan nya?" Tanya Paman dengan serius. Dengan yakin, aku mengangguk.
"Baca surat ini." Paman menyerahkan surat dari Revanda tadi padaku. Dengan cermat kubaca isi surat itu.
Yang terkasih, ayahku.
Ayah, apakah kau baik-baik saja? Aku melihatmu terus bersedih dikala sendiri. Maaf karena aku menghilang tanpa kata. Aku menemukan jalanku dan kembali ke kehidupanku yang semestinya. Ayah sangat khawatir padaku, tapi aku tak bisa langsung menemui ayah dan menceritakan semuanya. Aku hidup dengan baik selama 15 tahun ini. Menjadi penjaga gunung sebagai rubah yang di hormati. Aku hanya bisa berkunjung sekali didunia manusia dan aku memilih malam halloween. Aku ingat ayah sering membuatkan aku baju lucu di malam Halloween. Jadi aku berfikir malam Halloween sangat spesial untuk kenangan kita. Setiap malam Halloween aku terus menunggu ayah dilantai 2 tempat ayah bekerja. Aku tak bisa turun dan mencium banyak aroma manusia karena insting rubahku akan membuatku menjadi liar. Tapi selama ini ayah tak pernah lagi naik ke lantai 2 ini. Kuharap tahun depan kita bisa bertemu dimalam menyenangkan itu. Aku yang tak berperasaan ini sudah lama sangat merindukanmu.
Revanda
Apa ini? Aku tak mengerti maksud Revanda dalam surat ini? Bahasanya tak masuk akal! Rubah yang dihormati? Insting rubah? Dia ini bicara apa?
"Revanda adalah titisan dewa rubah gunung." Aku terbelalak seketika. Siluman rubah gunung? Apa dijaman semodern ini masih ada hal tidak masuk akal seperti itu?
"Buka album foto ini." Paman menyodorkan satu album foto yang kemudian aku buka. Lembar per lembar ku cermati. Lembar pertama hingga kelima adalah foto Paman dengan seekor bayi rubah putih, dan lembar selanjutnya...
"Astaga!" Paman dengan bayi manusia berekor rubah? Apa foto ini palsu? Apa ini editan? Tapi aplikasi edit foto baru sempurna di era 5 tahun belakangan? Apa mungkin bisa sesempurna ini? Dan lagi kertas foto yang digunakan adalah kertas kamera tahun lama. Aku tahu perusahaan kertas foto ini sudah lama tak beroperasi!
"Ini... " Paman tersenyum. Kemudian bercerita bagaimana ia bisa bertemu Revanda. Saat Paman sedang berburu ke gunung, Paman menemukan bayi rubah putih bersama induk nya yang sudah mati karena terluka parah. Karena kasihan, Paman membawa bayi rubah itu dan merawatnya. Pada tahun pertama dan kedua, rubah itu tumbuh seperti rubah pada umumnya, namun ketika masuk tahun ketiga, rubah itu berubah menjadi bayi manusia tapi berekor. Paman juga terkejut namun tak tega jika harus membuang atau menelantarkannya ke hutan. Paman yang awalnya takut, memaksa diri terus merawat bayi itu hingga akhirnya ditahun ke lima bayi itu berubah menjadi seperti anak manusia biasa. Ekornya menghilang. Dan ia terus memanggil Paman dengan sebutan Ayah. Paman bahagia karena mempunyai putra yang selalu menemani nya. Mereka menyayangi satu sama lain layaknya keluarga. Tapi di tahun ke sembilan, seekor rubah jantan besar menghampiri Paman dan Revanda. Rubah itu berubah menjadi seorang pria yang tampan dengan baju kuno dan rambut terikat. Dia memperkenalkan dirinya sebagai dewa rubah dan ayah Revanda yang sebenarnya. Dewa rubah meminta Paman melepas Revanda agar Revanda kembali ke kehidupan yang sebenarnya. Paman tidak memberi jawaban karena sudah sangat menyayangi Revanda. Dipertengahan tahun ke sembilan, terjadi insiden buruk. Revanda kehilangan kendali. Insting rubahnya muncul tiba-tiba dan dengan tidak sengaja Revanda menyerang Paman. Membuat Paman terluka cukup parah. Setelah itu Revanda jadi murung dan kemudian di tahun ke sepuluh Revanda tiba-tiba menghilang. Paman tak menemukannya dimanapun ia mencari. Dan surat yang baru ku tunjukkan tadi, telah menjadi jembatan penghubung antara Revanda dan Paman setelah 15 tahun perpisahan mereka.
Percaya tak percaya, tapi ternyata semua itu nyata. Kupikir kata-katanya semalam adalah candaan semata. Memang benar, dia terlalu sempurna untuk dipandang. Daya tariknya sebagai manusia rubah sangat mengesankan. Benar dia seseorang yang tak mudah untuk di temui, aku benar-benar hanya bisa menemui nya di tahun depan. Dunia yang berbeda ternyata benar adanya... Aku sempat merasa takut saat baru tahu, tapi setelah kufikir lagi, Revanda terlihat seperti manusia biasa yang memiliki akal dan nurani. Aku tak akan melewatkan malam Halloweenku lagi ditahun berikutnya. Jas yang ia pinjamkan... Akan aku simpan hingga waktunya aku bertemu dengan Revanda... Revanda, mari bertemu di tahun depan. Aku menunggu pertemuan kita. Mari mengenal lebih jauh satu sama lain. Aku... Sama sekali tak keberatan kau seorang dewa rubah atau manusia.
End.