"Allah memberikan cara lain untuk membahagiakan hambanya, selama hambanya bersabar dan berikhtiar."
Aksaranya mengingatkan kepada sebuah kisah seorang gadis berumur 22 tahun yang memutuskan untuk berhijrah sepenuhnya dan meninggalkan cerita lama seputar masa lalu yang kelam. Gadis itu selalu saja ingin melupakan kenangannya 4 tahun yang lalu dan berusaha agar menjadi wanita yang baik akhlaknya namun usaha mengubah kebiasaan yang selalu dijalani pun bukan sebuah hal yang mudah, apalagi untuk seorang gadis yang berusia 18 tahun saat itu. Meskipun begitu, banyak alasan yang membuatnya memutuskan untuk berhijrah dan rela meninggalkan yusuf kekasihnya. Hanya saja ia benar benar meyakini satu hal saat ini adalah jodoh pasti bertemu.
Arimbi, nama gadis berjilbab besar yang sedang duduk di pelataran pondok dengan anggunnya. Sebuah pondok sederhana beratap jerami dan berlantai kayu yang di poles sehingga halus dan mengkilat. Sangat nyaman untuk berlama lama menikmati angin sepoi yang menyejukkan. Gadis itu membiarkan tubuhnya menghadap pesisir pantai sambil memegangi mushaf alqur’an. Suaranya sangat merdu saat menghafalkan potongan-potongan ayat suci qur’an yang tidak lain adalah firman Allah yang benar nyata adanya. Siapapun yang mendengar lantunan indah ini pastilah menjadi penenang hati, pengobat kerinduan kepada sang Khalik.
Arimbi dahulunya adalah seorang gadis berwajah cantik bersuara merdu, berpenampilan menarik namun jauh dari kata agama. Orangtuanya lebih sering menghabiskan waktu di luar karena sibuk mengurus perusahaan mereka, namun ayah dan ibunya tetap menanamkan nilai nilai kebaikan kepadanya meskipun tidak sesempurna orangtua lain pada umumnya. Arimbi dulu seorang gadis yang berprofesi sebagai modeling di salah satu majalah besar dikotanya, ia menekuni karier nya diusia yang terbilang muda. Namun, perilaku dan pakaian nya sangat berbeda dibandingkan saat ini. Orang orang yang dulu berada disekitar Arimbi tidak lagi bisa mengenali dirinya yang telah berhijrah.
Usai menghafalkan ayat alqur’an, ia menutup mushaf alqur’an berwarna merah muda kesukaannya dengan lembut. Kedua mata yang indah menutup menghayati setiap potongan do’a kafaratul majlis yang dilantunkan bibir mungilnya dengan pelan. Ia mengusap wajahnya dengan penuh kesyukuran didalam hati kemudian melirik jam yang ada ditangan kirinya. Tepat pukul 06.00 sore, ia berdiri dan melangkah menuju pesisir pantai meninggalkan jejak kaki seorang diri. Langkahnya berhenti dan berdiri diam saat air laut menyapa jemari kaki nya tanpa alas. Gamis panjang berwarna cream dan jilbab panjang yang menutupi sekujur tubuhnya melambai lambai ditiup hembusan angin senja.
Arimbi memegangi bahu dengan kedua tangannya, menatap laut dan langit berhiaskan mega merah diufuk barat. Sepeti biasa, Arimbi selalu menanti dan merindukan senja dahulu. Menantikan seseorang yang pernah menjanjikan kepulangan kepadanya. Gadis itu membuka lipatan surat yang selalu ia selipkan di saku baju nya. Dibacanya kembali surat yang berulang kali juga ia baca pada setiap sore menjelang senja sebelumnya.
“ aku akan kembali dan menunggu”
Isi pesan dari surat yusuf yang dikirim 4 tahun yang lalu. Janji yang disiratkan didalam surat tersebut membuat Arimbi selalu menaruh harapan berdo’a kepada sang Khalik dan bertahan menunggu lelaki yang di cintainya. Meskipun ia tidak tahu janji itu benar atau hanya penghibur nya di waktu itu. Arimbi terus saja memandangi tulisan tersebut kemudian melipat dan menyimpan kembali surat itu ke dalam sakunya.
4 tahun yang lalu, Yusuf dan Arimbi berada di pantai ini menikmati senja yang indah sebelum akhirnya yusuf melanjutkan pendidikan nya ke negri kincir, Belanda. Awal dari perpisahan, semua terlihat baik baik saja tidak ada yang terluka. Namun, 6 bulan kemudian ayah Arimbi meninggal dunia karena kecelakaan mobil. Saham diperusahaan menurun karena tidak ada yang mengurus perusahaan dengan bijak sehingga dikendalikan kembali oleh paman Arimbi, Arya. Ibu Arimbi, yang akrab dipanggil nadine menjadi pribadi penyendiri tak seperti sebelumnya yang ceria dan heboh. Nadine tidak bisa menerima kepergiaan suami nya secara tiba-tiba hingga depresi dan berakhir di rumah sakit jiwa. Hingga Arimbi merasa benar benar sendiri tiada siapapun yang mengurusnya karena ia juga tidak ingin tinggal bersama paman nya Arya. Ia tetap saja berusaha tegar karena ia tidak pernah mau meninggalkan kenangannya bersama orangtuanya di rumah itu. Tetap profesional menjalani karir yang saat itu benar benar berada di puncak. Namun keadaan nya pun menjadi tidak terkendali lagi, Arimbi hampir saja mengalami pelecehan yang dilakukan oleh maneger nya sendiri.
Artikel yang memuja dirinya berubah menjadi hujatan dan fitnah yang bahkan tidak pernah dilakukan dan dikehendaki dirinya. Ia mundur hilang menyembunyikan diri di dalam rumahnya dibalik selimut ketakutan, tirai kamar nya ditutup hingga ruangan tersebut menjadi gelap, telpon genggamnya terus saja berdering membuatnya selalu berhalusinasi pada setiap tidur. Ia terlalu takut untuk bangun tapi tak berani menutup mata. Arya dan istrinya mengunjungi rumah nya karena sangat khawatir dengan keadaan Arimbi, namun usaha tersebut gagal, Arimbi tidak mau membukakan pintu terlalu banyak wartawan dan reporter diluar.
***
Yusuf mengotak atik telpon genggam nya usai kuliah hari itu. Seperti biasanya, ia membuka website tentang kekasihnya karena sudah beberapa minggu ia tidak memiliki waktu luang untuk menyempatkan diri mencari tau keadaan Arimbi atau sekedar mengiriminya email. Diketiknya sunshinerimbi di mesin pencarian google mencari informasi tentang berita Arimbi dan fans nya. Seketika matanya tertuju pada semua judul artikel buruk tentang Arimbi, dibacanya satu persatu hingga selesai. Yusuf menutup halaman web tersebut dan langsung membuka email nya . ternyata Arimbi berkali kali mencoba menghubunginya namun gagal hingga meninggalkan banyak pesan.
Yusuf langsung menghubungi arimbi menggunakan telephon genggamnya.
Telpon genggam berdering memenuhi ruang kamar. Tangan Arimbi yang lemah menelusuri letak telpon genggamnya yang berada di kasur. Diangkatnya panggilan tersebut tanpa membaca sedikit pun tulisan layar, bukan tanpa membaca hanya saja pandangan nya telah kabur entah kenapa. Ia diam menunggu orang yang berada diseberang telpon.
“ Halo ! assalamu’alaikum Arim!” ujar yusuf diseberang telepon. Mata Arimbi membulat.
“wa’alaikum salam, Yusuf?” gumamnya tak percaya dan ingin sekali memastikan kalau itu benar benar seorang lelaki yang dicintainya.
“ Ya, Arim kamu baik-baik aja kan? Yusuf memastikan keadaan bahwa Arimbi baik baik saja dengan artikel nya yang beredar.
“ Yusuf ... aku sendiri, i’m scary, aku mau berhenti”air matanya kembali banjir membasahi kedua mata , wajah hingga bantalnya. Ingin rasanya ia bercerita tentang keadaannya selama ini. Yusuf terdiam tak bersuara mendengar Arimbi bukan hanya terputuk tapi sangat menderita ia berusaha menahan sendu suaranya agar bisa tegar dan menenangkan Arimbi.
“ Yusuf, kapan kamu kembali? Ayah pergi, ibu sakit.ahhhhh..!” teriakan Arimbi tiba-tiba terjadi diseberang setelah sesuatu seperti kaca pecah berbunyi, telpon nya jatuh. Arimbi kembali kedalam selimut nya membiarkan telpon yang masih aktif tergeletak di lantai. Suara berat yusuf terdengar memanggil manggil tapi tidak ada jawaban.
2 hari Yusuf mencoba menghubungi Arimbi namun tidak lagi bisa. Akhirnya ia mencoba menghubungi ayahnya dan paman Arimbi. Setelah menanyakan kepada Arya, ia mengetahui ternyata seseorang meneror Arimbi, melempar batu berlapis kertas bertuliskan i will kill you ke kaca jendela Arimbi. Hingga saat ini Arimbi mengalami trauma berat dan menjalani pengobatan dengan psikiater dan tinggal bersama arya dan istrinya sedangkan pelakunya di tangkap polisi, dan kasus lainnya termasuk situs pencemaran nama baik Arimbi di tanggulangi pihak kepolisian.
Seminggu kemudian Yusuf mengirimi surat melalui pos kepada Arimbi yang dititipkan kepada Arya pamannya Arimbi.
“ Arimbi, ada surat dari yusuf untuk kamu nak!” panggil Arya menyerahkan surat tersebut. Arimbi membuka surat tersebut perlahan dibaca nya dengan tenang.
“Arimbi, saat ini aku masi belum bisa kembali ke indonesia. Pergilah ke pondok, coba belajar disana. Aku rasa kamu akan mendapatkan ketenangan yang lebih dari sebelumnya .tunggu aku, aku pasti kembali . secepatnya setelah menyelesaikan pendidikan disini, insyaallah.” Arimbi mengambil browsur pondok pesantren penghafal alqur’an yang diselipkan dibelakang kertas. Ditatapnya lama browsur tersebut.
“ Om, aku ingin belajar di pondok. Ingin belajar agama, menghafal alqur’an” ujarnya menatap Arya sendu dan sedikit tersenyum.
“ Kamu yakin?” tanya Arya.
“ Insyaallah” ujar Arimbi memantap kan hatinya.
Surat itu yang saat ini sampai di tangannya dan masih ia genggam.
4 tahun berlalu membuat Arimbi menjadi penghafal alqur’an yang telah hafiz 30 juz . Kharakter nya benar benar akhlakul karimah yang membuatnya jadi pibadi sholehah.
“ Dia pasti kembali” gumamnya menatap air laut didepannya. Tak jauh jaraknya seseorang telah menunggu nya beberapa menit yang lalu sejak Arimbi mulai berdiri di pesisir pantai.
“ Assalamu’alaikum, ukhti!” ujar Yusuf. Arimbi tersentak kaget kemudian membalikkan badannya ke belakang.
“ wa’alaikum salam, Yusuf?”tatapnya tak percaya.
“ aku kembali” ujar Yusuf.
“ kenapa begitu terlambat” tanya Arimbi.
“ setidaknya aku memiliki waktu untuk membuatmu kembali jatuh kepada cinta yang hakiki” ujar yusuf tersenyum. Seketika Arimbi tersenyum bahagia, ikhtiar dan do’anya selama ini terbayar sudah. Allah menepati janji nya kepada hambanya yang bersabar dan memperbaiki diri.
Tidak beberapa lama nadine memanggil Arimbi.
“ Arim!” panggil nadine.
“ Mama” arimbi dan ibunya berpelukan dengan eratnya melepas kerinduan yang mendalam. Mereka bercerita hingga magrib. Ternyata nadine telah sehat setahun yang lalu.suasana haru menyelimuti keluarga yang kembali berkumpul di pesisir pantai.
Acara lamaran pun dilakukan ba’da magrib dipadepokan abinya Yusuf. Di sebelah kanan meja makan, ada Sofyan, ayahnya Yusuf dan umi Fatin ibunya Yusuf kemudian disebelahnya Yusuf.
Di depannya duduk Arya bersama istri, Nadine, dan Arimbi. Semua terlihat bahagia dengan kebersamaan iu. Perusahaan ayah Arimbi kemudian dikelola oleh Arimbi dan yusuf usai menikah.
Nadine membuka toko roti dan abi Sofyan mengurus padepokan. Semua keluarga dapat bersatu bila waktunya tiba.
The End