Hanya sebatas kisah hidup dengan impian berlebihan.
Memang seharusnya begitu, bukan?
11 tahun yang lalu
Aku tidak tahu harus memulainya dari mana. Mungkin dapat dimulai dengan perkenalan. Namaku Viona Anastasya. Aku memiliki satu orang saudara dan orang tua yang lengkap. Sepertinya tidak perlu aku memberitahu pekerjaan orang tuaku, yang pasti mereka berdua bekerja dengan halal.
Ujian kelulusan smp sudah ku dapatkan. Sehingga sudah waktunya aku untuk mencari sekolah sma yang ku minati. Saat wisuda, aku bersama temanku duduk saling berdekatan. Aku dan juga Adinda temanku memang sudah sangat akrab, namun sayangnya kami harus terpisah jalan untuk menentukan masa depan masing-masing.
Beberapa bulan setelah wisuda kelulusan aku benar-benar mendaftar ke bandung, tepatnya disebuah Yayasan pondok pesantren Al-Hidayah.
Di Bandung aku tinggal bersama dengan tanteku, bersama dengan sepupu. Dengan sepupuku itulah aku bersekolah. Sebenarnya aku bisa saja tinggal bersama nenekku tapi jujur lebih enak jika tidur bersama sepupu bukan, karena bisa puas bercerita.
Pagi hari…
“Mbak, ayo mana bajumu. Kamu nyetrika nggak?” tanya sepupuku Nursa yang lagi nyetrika.
“Punyaku nggak usah disetrika nur, nggak keliatan lecek kok”
“Dih… nggak disetrika? Jangan-jangan dulu pas masih smp baju kamu nggak pernah setrikaan ya?” tuduh Nursa.
Aku hanya terkekeh kecil, karena memang benar adanya. Bukan apa-apa, tapi dulu aku tidak punya setrika, jadi harus minjem tetangga buat nyetrika baju doang. Dari pada merepotkan, mending nggak usah.
“Sini aku setrikain” Nursa langsung menarik baju osis ku.
Beberapa menit memakai pakaian…
“Mbak, ini ada parfum, pelembab wajah sama handbody. Mbak nggak usah beli, tinggal pake aja. Lagian ini juga yang beli Mbak Rosi” kekeh Nursa.
“Aduh nggak enak aku”
“Hallah, kayak sama siapa aja sih”
Dengan terpaksa dan juga hati yang senang aku memakai scincere milik saudaraku. Dia baik, dan keluarganya juga baik. Kebetulan dulu waktu smp aku nggak pernah pake jilbab, dan sekolah ini harus mewajibkan diriku memakai jilbab.
“Sini tak bantuin make jilbabnya” tawar Nursa membantuku pakai jilbab.
Nb : Dari sekian banyak murid yang pake jilbab saudia, cuma aku yang pake jilbab bahannya saringan tahu.
Yayasan itu dikhususkan untuk anak desa dan anak pondok, jadi keduanya campur jadi satu. Dari itu, aku lihat cuma aku yang terlihat aneh. Make jilbab bukannya keliatan alim tapi malah aneh, hitem, dll.
Awal masuk itu kegiatannya Mos. Banyak siswa baru dikumpulkan di lapangan. Biasa waktu mos ngapain sih? Paham kan.
Semua siswa dibagi menjadi 5 kelompok, kebetulan aku kelompok 5 dan sepupuku itu dikelompok 2.
Aku memperhatikan cowo make baju osis dan berpeci, emang cowo disana dianjurin buat make peci sih. Dia merupakan perwakilan dari panitia mos untuk menjadi moderator. Dia berbicara menggunakan mic dengan segala cerita lucunya. Tidak dipungkiri aku juga ikut tertawa. Wajahnya yang pas-pasan namun senyumnya indah dipandang.
“Masyaallah” ucapku saat ini.
2 hari setelah mos. Waktu acara itu panitia meminta untuk segera menuliskan no induk siswa nasional. Panitia memberikan sebuaah tawaran jika lupa dengaan NISN maka datangilah panitia, mereka akan coba mencarikan.
Waktu itu aku lupa, aku datang menuruti ucappannya lewat luar, supaya tidak mengganggu siswa yang lain. Bertemulah aku dengan pria yang menjadi moderator itu.
“Kak kami lupa NISN nya” ucap kami memberitahu.
“Oh iya tunggu dulu ya” jawabnya. Dia masih ada, dan dengan basa-basinya dia bertanya kepadaku. “Rumahmu mana?”
“Medan” jawabku singkat, tidak mau lebih.
Dengan bangganya dia membalas lagi, “Aku dong… Bangka”
Karena aku tidak tahu menjawab apa, jadi hanya tawa yang aku perlihatkan. Eits dari komunikasi itu aku tahu namanya. Dia bernama Alfar Usmain. Tertulis jelas di bat dada sebelah kanan.
Waktu terus berlalu hingga setiap kalinya aku melihat Alfar. Setiap kali juga hatiku selalu senang. Dia mengikuti berbagai organisasi, aku juga ikut. Tapi sayangnya saat dia mengikuti osis, aku tidak ikut.
Alfar Usmain merupakan penghuni pondok putra, dia juga pengurus pondok. Dia selalu mendapat peringkat 3 besar. Mengetahui itu aku semakin suka dengan dirinya walaupun ada rasa merendah dalam diriku, merasa tidak pantas dll. Namun tetap kucoba menghubungi lewat temanku untuk menginbok facebook nya. karena itu satu-satunya aplikasi yang tenar dikalangan santri.
Ku beri salam dan berbagai ucapan lainnya, lewat temanku salam ku dijawab. Lewat temanku juga ucapanku direspon baik. Hingga aku semakin suka, karena dia pria satu-satunya yang ku sukai tanpa ada penyesalan. Masyaallah bukan!.
Suatu hari aku mencoba mengutarakan rasa sukaku lewat inbok milik temanku, namun tidak ada respon darinya sampai akhirnya aku mendengar, jika ia sudah lama menyukai teman satu kelasnya. Ia merupakan seorang gadis terpandang serta anak pengajar di sekolah tersebut, ilmu agamanya juga sepadan dengan Alfar, bahkan saat ini gadis tersebut tengah berusaha menjadi hafidzoh.
Ku buang niatku untuk mendekatinya, namun rasa itu kembali lagi saat kudengar dia memenangkan lomba da’i. Dari itu rasaku kembali lagi, namun tidak pernah sekalipun aku mau menghubungi dirinya.
Aku hanya merasa menjadi gadis yang kurang masa depan. Tidak ada minat untuk melanjutkan ke perguruan tinggi, bukan orang pintar dikelas, memiliki keluarga yang biasa, agama juga masih kurang, intinya tidak memiliki sesuatu yang patut dibanggakan.
Sementara Alfar dari keluarga terpandang, ibunya sudah pernah haji, ayahnya merupakan ustadz di desanya, ke 10 saudaranya ada yang menjadi bidan, polisi, guru dll. Sementara diriku? Begitu beraninya menyukai dia yang jelas-jelas tidak dapat ku gapai.
Setiap hari ku perhatikan serta mengagumi dia dari jauh. Tidak ada keberanian untuk membahas rasa sukaku kepada orang lain, itu semua berlangsung sampai dia lulus. Selama menjadi siswa di sekolah tersebut, aku juga kadang melihat kunjungan Alfar kepada pendiri Yayasan, tentu aku senang.
Waktu berjalan cepat hingga rasaku tidak pernah luntur. 3 tahun aku bersekolah dan sudah waktunya aku untuk menentukan mau meneruskan kuliah atau kerja. Jika aku pikir-pikir, kuliah jauh lebih baik. Setidaknya ada status yang masih bisa ku banggakan saat bersanding dengan Alfar nanti. Pedenya diriku!.
Masa menjadi mahasiswa.
Dikampus tempatku diajar, selain ilmu seharusnya aku juga bisa mendapat pria yang lebih baik darinya, yang agamanya jauh lebih baik dari Alfar. Namun sayang rasa itu tidak bisa kulupakan. Aku juga sudah mencoba untuk menerima pria lain tapi rasa itu kembali keasalnya dimana aku masih memikirkan dirinya!.
Setelah 1 tahun lamanya, aku mendengar jika Alfar diangkat menjadi polisi tentu itu membuatku bahagia, walaupun pangkat yang dia miliki membuatku semakin susah untuk menggapaimu.
Kuurungkan lagi niatku untuk menggapainya sampai beberapa pria kubiarkan menghubungiku, namun sebelum terjalin ikatan mereka lebih dulu menjauh, selalu seperti itu. Ada satu pria yang ku anggap cocok denganku, dari segi agama, pekerjaan, usia dll. Dalam masa perkenalan kami, aku mencoba berdoa kepada allah.
“Jika dia hanya ingin bermain dengan perkenalan ini, sebaiknya jauhkanlah… Tapi jika dia serius tolong dekatlah. Aku tidak mau basa-basi dengan perkenalan ini, karena aku sudah lelah harus mengulanginya setiap bulan”
Doa itu selalu ku ucapkan di sela-sela sholatku, dan allah menjawabnya. Pria itu tidak lagi menghubungiku. Aku selalu muhasabah diri, “Dimana letak kuranganya diriku? Segi ucapan, wajah?” memang aku bukanlah wanita cantik serta tidak sholehah.
Setelah itu aku berserah diri kepada allah. Kubiarkan segalanya mengalir bagai air, yakinlah jika air itu akan sampai di pegunungan yang sejuk.
4 tahun kemudian
Allah maha baik dan mengabulkan setiap doa hambanya. Allah mempertemukan diriku lagi dengan Alfar disebuah panti rehabilitasi anak. Disana aku menjadi seorang perawat dan Alfar yang seorang polisi baru saja mengantarkan anak yang terlantar dijalanan.
Alfar juga menjadi orang utama yang akan dihubungi mengenai tumbuh kembang anak tersebut, sehingga lewat itu kami berdua saling bertukar komunikasi. Mengenai gadis yang ingin didekati Alfar, gadis itu sudah dilamar orang dalam di pondoknya.
Masyaallah, maha suci allah mempersatukan kami dalam ikatan pernikahan yang suci hingga saat ini kami tengah menunggu kelahiran buah hati kami yang pertama. Semoga allah juga mengabulkan doa kalian!.
Semua nama tokoh, kota, nama pesantren disamarkan.
Nb : Ini yang nulis temanku...