Napasku tersengal. Keringat telah membanjiri dahi, leher, serta tubuhku yang lain. Teriknya matahari semakin membuatku ingin segera sampai. Aku butuh seorang penyemangat!
Kurang dua putaran lagi untukku bisa selesai dari latihan ini. Untungnya tak hanya aku sendirian yang tersisa. Kenapa aku bisa begini itu karena aku mengajukan diri untuk mengikuti lomba lari 400 meter.
Sebelumnya padahal aku sama sekali tak pernah mengikuti lomba semacam ini. Bahkan tak pernah tebersit pun di pikiran untuk ikut. Sekarang aku bisa begini juga karena seseorang.
Namanya adalah Petir. Dia kelas 12 yang artinya kakak kelasku. Dia, sih bukan laki-laki terganteng di sekolah, tetapi Kak Petir punya ciri khasnya tersendiri yang membuat diriku tertarik dan jatuh cinta padanya.
Menjomlo sejak lahir membuat diriku tak berani menyatakan cinta padanya. Apalagi harus mengungkapkan cinta untuknya di depan publik. Akan sangat malu bagiku bila melakukan demikian. Cukup menjadi penggemar rahasianya saja.
Iya, pengagum rahasia. Aku selalu berangkat pagi-pagi sekali agar mudah memberikan sekotak bekal dan susu pisang di dalam kolong mejanya. Hal itu aku lakukan setiap hari selasa, karena hari itu bertepatan dia ada jadwal olahraga. Aku pikir dia butuh tenaga ekstra, jadi kulakukan hal tersebut.
Selain setiap hari selasa, hari kamis aku juga memberinya sekotak susu pisang dan sebungkus snack di kolong mejanya. Tentu aku memberikannya secara diam-diam. Untung saja acara rahasiaku ini tidak ada yang mengetahuinya dari teman sekelas Kak Petir. Walaupun, dua sahabatku selalu tahu aku melakukan hal demikian.
Lalu, bagaimana awal aku bisa suka pada Kak Petir? Itu karena aku mendapat teman sebangku bersama Kak Petir saat ujian kenaikan kelas. Ya, waktu itu aku masih kelas 10 dan dia kelas 11. Saat pertama kali masuk ke dalam kelas aku sangatlah gugup. Tak menyangka bakal ada sistem sebangku dengan kakak kelas atau adik kelas.
Tidak apa-apa. Kalau bukan karena kejadian itu, aku mana bisa bertemu dengan Kak Petir. Nah, ujian kenaikan kelas pun akan dimulai. Namun, Kak Petir datang sedikit terlambat pada hari pertama.
Ketika ia berhenti di depan bangkuku, otomatis aku paham bahwa dialah teman sebangkuku selama ujian kenaikan kelas berlangsung. Awalnya kupikir Kak Petir ini adalah orang yang dingin dan cuek. Eh, ternyata dia itu murah senyum dan lumayan nakal.
Hari pertama aku hanya saling sapa dan lempar senyum dengannya. Hari kedua dia sudah mulai menjahiliku dengan meregangkan tangannya ke samping. Aku yang saat itu masih mengerjakan soal terkejut karena telapak tangannya mengenai wajahku. Tentu saja aku kesal dan menjauhkan tangan Kak Petir.
"Maaf, Dek, sengaja," ucapnya dengan cengengesan.
Waktu itu aku masih biasa-biasa saja padanya. Pada hari keenam rasa itu sepertinya mulai muncul. Karena Kak Petir selalu saja menjahiliku dan kami berdua bagaikan Tom & Jerry kalau dia sudah kumat jahil dan aku tak bisa mengendalikan rasa kesalku sebab konsentrasiku mengerjakan soal terganggu.
"Nggak usah dibuat pusing ujian ini, mah. Santai aja kayak di pantai," katanya seraya menatapku sambil tersenyum.
"Nggak bisa. Entar kalau nilainya jelek dan nggak bisa naik kelas gimana?" ucapku tak habis pikir dengannya.
"Ya, itu, sih salah sendiri. Siapa suruh nggak belajar," balasnya enteng.
"Dih, nggak berguna banget tips dari, Kak Petir," ungkapku jujur tanpa memandang Kak Petir lagi.
"Emangnya Hujan mau tips yang kayak gimana, hm?" tanya Kak Petir sambil menopang kepalanya dengan satu tangan dan menatapku.
Aku menghentikan membaca soal yang dari tadi tak bisa kujawab. Beralih menatap Kak Petir yang menatapku begitu intens. Saat itulah jantungku berdebar lebih kencang. Tak kusangka bahwa ia yang akan menjadi cinta pertamaku.
Aku menampilkan senyum lebarku padanya dan berkata, "Nggak ada. Nanti tips dari Kakak bukannya manjur malah menyesatkan." Setelah berkata demikian aku lanjut mengerjakan soal.
"Astaga, Hujan. Gemes banget gue sama lo!" pekik Kak Petir sambil mengepalkan kedua tangannya di depanku dengan ekspresi seperti menahan gemas pada anak kecil.
"Petir, jangan ramai!" tegur Bu guru dari depan kelas.
"Maaf, Bu," ucap Kak Petir sambil tersenyum kikuk.
Nah, kan kena teguran. Salah sendiri, sih siapa suruh ngajak orang lain mengobrol saat ujian masih berlangsung. Walaupun dia sendiri sudah selesai mengerjakan soal-soalnya. Entah itu karena dia pintar atau asal mengerjakan saja.
🍬🍬🍬
Hari ini hari selasa. Aku telat bangun karena semalam begadang membaca novel. Aku tergesa-gesa menyiapkan bekal untuk Kak Petir dan untukku tentu saja. Sebab jam sudah menunjukkan pukul setengah tujuh.
Tidak boleh aku sampai terlambat. Aku tidak mau bila harus membersihkan kamar mandi. Maka, dengan berdoa pada Tuhan agar diberi keselamatan aku melajukan motorku dengan kecepatan tinggi. Ya, sekitar 50 atau 60.
Syukurlah, aku sampai di sekolah dengan selamat dan nyaris saja terlambat. Aku bakalan tidak sempat bila memberikan bekal Kak Petir secara diam-diam. Maka, kuputuskan untuk menunda sebentar sampai kelasnya Kak Petir tidak ada orang karena mereka ada olahraga di lapangan.
Jam pertama di kelasnya Kak Petir adalah jadwalnya olahraga. Kesempatan untukku meletakkan bekal Kak Petir diam-diam. Aku datang ke kelasnya Kak Petir sendirian. Dua sahabatku itu masih sibuk mengerjakan tugas.
Aku mengendap-endap masuk ke dalam kelasnya Kak Petir. Fiyuh, keberuntungan ada di pihakku sekarang, karena kelasnya kosong alias tidak ada orang. Sambil merilekskan diri aku menghampiri bangku Kak Petir yang berada di pojok kiri belakang sendiri.
Tak lupa juga aku menempelkan sticky note yang bertuliskan permintaan maaf karena terlambat memberikannya bekal. Perasaanku lega seketika. Sembari melangkah ringan aku ke luar kelas Kak Petir dengan hati bahagia.
Namun, langkah kakiku harus berhenti tepat di depan pintu kelas. Jantungku berdentum-dentum amat keras. Kedua mataku melotot, terkejut dengan kehadiran seseorang yang tak pernah kuduga.
"Habis ngapain di kelas gue?" Pertanyaan yang terlontar dari mulut laki-laki di depanku ini membuat jantungku semakin bergemuruh cemas.
Aku ketahuan oleh Kak Petir! Orang yang kusukai diam-diam. Apa yang harus aku lakukan sekarang? Menjawab dengan jujur atau ... berbohong?