"Hei, apa kau mengenal gadis itu?" Barry mencondongkan tubuh tambunnya ke arah Kyle.
Pemuda yang mengenakan kostum Phantom of the Opera itu berseru agar suaranya mengalahkan hentakan musik tekno yang memenuhi ruangan. Saat ini keduanya tengah berada di pesta halloween yang diadakan oleh grup persaudaraan Kappa Alpha Phi, yang merupakan grup mahasiswa elit di Vorhees University, kampus tempat mereka belajar.
"Yang mana?" Sahabat Barry yang mengenakan kostum vampire itu menyeruput diet coke miliknya. "Si pirang berbaju pink itu?"
"Bukan," Barry mendecakkan lidahnya tak sabar. "Itu lho yang rambut hitam."
"Oh itu? Gadis yang mengenakan kostum gothic-lolita itu?" Kyle mengerutkan dahinya. "Aku tidak mengenalnya."
"Kau tidak kenal?" Sambar Barry tidak percaya.
Kyle Allen adalah playboy. Hampir semua gadis cantik di kampus pernah di ajak kencan olehnya. Sehingga aneh kalau pemuda tampan berambut pirang itu mengaku tidak mengenal gadis di pesta lingkungan asrama kampus.
"Apa kau menyukainya?" Sambung Kyle sambil melihat pantulan dirinya di kaca jendela. Sejenak senyumnya merekah. Puas pada penampilannya sendiri.
"Begitulah." Sahut Barry tanpa mengalihkan pandangannya dari gadis itu.
"Hm ...." Komentar Kyle sekedarnya.
"Kenapa?"
"Tidak hanya saja ...," Kyle melirik ke kiri dan kekanan, sebelum memiting sahabatnya dan menyeretnya ke sudut ruangan. "Sebaiknya kau pastikan dulu memang ada anak sini yang mengenalnya."
"Apa maksudmu?"
"Sekarang malam halloween, bodoh!"
"Lalu kenapa?!" Tukas Barry tidak sabar.
"Kau tidak pernah mendengar cerita itu?"
"Cerita apa?"
Kyle diam sejenak sebelum menjawab, "The Pickety Witch. Kisah itu cukup populer di kota ini."
Kota yang di maksud adalah Tinseltown, Ilinois. Kota ini adalah kota tua yang dibangun tahun 1665 oleh sekelompok imigran Belanda yang bermigrasi dari New Amsterdam, setelah kota itu diambil alih oleh pemerintah Inggris.
"Pickety Witch?" Ulang Barry. "Belum pernah dengar."
"Tidak tahu?" Kyle mendesah. "Baiklah, akan aku ceritakan."
Konon pada zaman dulu. Zaman di mana orang Amerika masih percaya mistik dan takhayul, hiduplah seorang gadis yang tinggal di kedalaman. Wajahnya cantik dengan rambut sekelam malam. Nama gadis itu adalah Maryanne Hackler Tidak ada orang yang mendekatinya. Setiap penduduk kota selalu mengalihkan pandang dan meludah saat melihatnya. Mereka percaya gadis itu adalah penyihir.
Pada suatu hari, kota itu mengalami bencana. Semua lelaki yang berusia antara empat belas hingga dua puluh lima tahun mati terbunuh. Jantung mereka hilang dan di jenazah mereka terukir simbol aneh. Mereka mengenal simbol itu sebagai simbol setan.
Amarah penduduk tidak bisa dibendung. Mereka masuk ke dalam hutan dan mendapati jantung para pemuda diawetkan gadis itu di dalam lemari makanan. Penuh amarh, penduduk kota menyeret Maryanne ke alun-alun kota.
Tanpa sidang pengadilan, mereka membakar Maryanne Hackler hidup-hidup. Penduduk kota mengira bencana sudah lewat. Namun mereka salah.
Sebelum ajal menjemput. Maryanne Hackler bersumpah untuk meneruskan pekerjaannya. Dia akan terus membunuh dan mempersembahkan jantungan manusia untuk junjungannya.
Setiap malam Halloween, sebelum jarum jam menunjuk pukul 00.00, tanggal 1 November, selalu muncul seorang gadis cantik. Dia selalu ada di keramaian. Memancing seorang pemuda umtuk menyapanya. Setelah itu sang gadis pasti mengajak sang pemuda pergi ke sebuah tempat sepi. Di sana sang pemuda ....
"Tunggu dulu!" Potong Barry. "Kau habis minum, ya?"
"Minum apa?" Tukas Kyle. "Aku tidak mabuk."
"Ceritamu itu aneh."
"Aneh apa?"
"Kalau Maryanne Hackler memang membunuh untuk memberikan persembahan untuk setan, untuk apa jantungnya diawetkan dalam lemari makanan?"
Mendengar itu Kyle mengangkat tangan. Mulutnya terbuka siap untuk menjawab pertanyaan. Namun pada akhirnya, Kyle terdiam.
"Benar juga." Desahnya pelan.
"Aku akan menyapanya." Barry membulatkan tekad. "Malam ini aku akan menjadi seorang pria."
"Motivasimu sudah jelek, tuh." Kyle mengingatkan.
Namun Barry sudah tidak mendengarnya. Pemuda itu sudah berjalan maju. Matanya bahkan tidak berkedip saat melihat gadis berambut hitam itu. Gadis itu tengah berdiri bersandar di tembok. kepalanya sesekali bergoyang mengikuti irama lagu.
Pemuda berkostum Phantom of the Opera itu menelan ludah dan menarik napas panjang sebelum berkata, "hai."
"Hai juga." Sapa gadis itu singkat tanpa mengalihkan pandangannya ke lawan bicara.
"Pestanya meriah, ya."
"Biasa saja." sahut gadis itu hambar.
"Hm, hambar ya." Barry menggaruk kepala. Ia sudah kehabisan bahan pembicaraan. "Uhm, aku ...."
"Merasa bosan dan ingin mengajakku pergi dari sini?" Gadis itu menengokkan wajahnya ke arah Barry. "Itukan yang mau katakan?"
"Kira-kira." Barry tertawa malu.
Melihat tingkah pria di hadapannya, gadis itu tersenyum. "Perkenalkan, namaku Mary."
"Hai Mary, namaku adalah ...."
"Barry Rayner." Potong Mary cepat. "Iyakan."
"D-dari mana kau tahu."
"Kau cukup terkenal, Barry."
"Apa iya."
"Ya, kau dan sahabatmu Kyle Allen sering berkencan dengan gadis-gadis di sekitar sini." Mary menusuk perut Barry dengan telunjuknya yang lentik. "Setelah berkencan beberapa kali kau pun mencampakkan mereka. Kau senang membuat perempuan patah hati."
"Aku tidak seperti itu. Tolong jangan samakan aku dengan Kyle. Dia tampan, sementara aku gendut dan jelek. Mana mungkin aku bersikap seperti itu."
"Jangan merendahkan dirimu sendiri." Mary berkata lembut. "Aku tidak pernah peduli pada penampilan fisik seseorang."
"Jarang ada gadis seperti kau, Mary." Barry memicingkan matanya. "Omong-omong kau belajar di fakultas apa. Aku tidak pernah ...."
"Aku tidak pernah bilang kalau aku kuliah di sini."
"Apa kau punya teman atau ...."
"Tidak juga."
"Lalu bagaimana kau bisa datang ke pesta ini?" Tanya Barry bingung.
"Kenapa?" Mary berkata dengan mata terbuka lebar-lebar. Mulutnya menyeringai. "Apa kau penasaran."
"Tidak juga." Barry bersikap acuh tak acuh.
"Oh, gitu." Mary berjalan menuju pintu. Sebelum keluar, gadis berkostum gothic-lolita itu berbalik dan menatao Barry dalam-dalam. "Aku ingin keluar cari hawa sebentar. Mungkin berjalan-jalan di sekitar taman. Sampai nanti."
Mendengar itu, Barry terdiam.
"Mary mengundangku, 'kan?" Gumamnya pada diri sendiri. "Kalau aku keluar dan menemuinya tidak salah, 'kan. Tapi ...."
Barry mendesah. Cerita Kyle soal Pickety Witch benar-benar mengganggu pikirannya. Membuatnya takut.
"Cerita sialan itu telah membuatku gila." Omel Barry. "Cerita itu hanya isapan jempol. sama sekali tidak benar. Kalau aku pria, aku harus berani keluar dan menyusulnya."
Barry pun langsung bergegas keluar menyusul Mary.
*****
Malam halloween ini sangat cerah. Bulan purnama yang bersinar pucat bergantung rendah dilangit berbintang.
Sesekali angin musim gugur berhembus. Dingin dan lembab. Di kiri kanan terlihat Jack o' Lantern dinyalakan. Konon hal itu dipercaya untuk menghalau setan dan monster jahat menjauh dari rumah mereka. Namun sekarang ....
"Mary ...!" Panggil Barry seraya berlari kecil mendekati gadis itu. "Tunggu dulu, kau mau kemana, sih."
"Apa kau benar-benar ingin tahu?" Mary menyahut sambil menahan senyum. Kedua tangannya melingkar di tubuhnya yang ramping.
"Apa kau kedinginan?" Barry membuka jaketnya. "Kenakan ini."
"Oh, kau yakin tidak akan kedinginan?"
"Aku pria. Aku bisa menahannya." Barry menggerakkan tangannya yang memegang jaket. Menawarkan agar Mary mau menerimanya. "Ayo, ambil saja dan pakai."
"Terima kasih." Mary langsung mengenakan jaket itu. "Kau baik sekali."
"Terima kasih kembali." Batas Barry sambil menatap Mary yang tengah merapatkan kancing jaket yang kebesaran itu. "Omong-omong kita mau kemana?"
"Sekedar jalan-jalan. Malam ini aku bebas, sehingga aku ingin menikmatinya selama mungkin."
"Apa boleh aku menemanimu?"
"Berapa lama?" Tiba-tiba Mary bertanya serius.
"Malam ini." Jawab Barry gugup. "Bisa juga kita berpacaran dan menikah sehingga aku bisa menemanimu untuk selama-lamanya."
"Apa kau bersungguh-sungguh dengan ucapanmu?" Mary berhenti berjalan dan menatap Barry tajam. "Jawab yang jujur. Jangan bohong."
"Aku sungguh-sungguh."
"Apa alasannya?"
"Aku mencintaimu, Mary."
"Mana mungkin. Kita baru bertemu."
"Mungkin aku cinta pada pandangan pertama." Barry berkata kikuk. "Wajar saja, 'kan. Kau cantik sekali. Selain itu kau baik. Tidak pernah aku diperlakukan sebaik ini sebelumnya."
"Maksudmu?"
"Saat aku mengajak berkenalan, mereka hanya memaki gendut dan menjauh."
"Mereka jahat sekali." Komentar Mary prihatin. "Tidak sepantasnya mereka jahat pada pria sebaik dirimu."
"Kau sungguh-sungguh."
Sebagai jawaban Mary mengangguk.
"Jadi kau mau berpacaran denganku?" Ragu-ragu Barry berkata.
"Tergantung." Jawab Mary singkat. "Itu semua tergantung pada kelutusanmu sendiri."
"Aku tidak mengerti."
Mary menatap Barry sejenak sebelum meraih tangannya dan mengajaknya kembali berjalan. "Lihat saja nanti."
Kedua berjalan ke tepi danau. Sambil menatap ke arah air tenang yang memantulkan cahaya rembulan seperri kristal mereka mengobrol.
Keduanya semakin dekat dan mengenal satu sama lain. Tidak terasa keduanya saling merapat. Saling menghangatkan diri di tengah udara dingin musim gugur di Amerika Utara.
"Kau baik sekali, Barry." Mary berkata lembut. wajahnya begitu dekat dengan Barry hingga napas mereka saling menampar satu sama lain. "Kau begitu sopan, baik dan lembut. Kau berbeda dengan para pria lain. Saat diajak ke tempat sepi, sikap mereka langsung berubah kurang ajar. Tapi tidak dengan dirimu. Sepwrtinya saat ini aku jatuh cinta denganmu."
"Jadi kau mau menjadi pacarku?" Barry kembali bertanya penuh harap.
"Itu tergantung pada dirimu, apa kau mau menerima diriku apa adanya."
"Memang apa masalahnya." Bary memasukkan kedua tangannya yang dingin ke saku celana. "Katakan padaku."
"Menceritakannya sangat sulit." Mary mendesah. "Tapi akan kucoba. Malam ini di malam halloween adalah satu-satunya hari aku bebas. Maka aku pun mengembara untuk mencari cinta. Apa kau tahu, Barry. Selama ini aku sendirian. Aku hanya ingin teman hidup, maka aku ...."
sekilas, Barry melihat mata Mary yang sendu bersinar keunguan.
"K-kau adalah Pickety Witch!" Seru Bary merinding. "Kau akan membunuhku dan mengorbankan aku pada setan!"
"Aku memang Pickety Witch, tapi cerita yang kau dengar itu salah. Aku tidak pernah membunuh. Aku bsrjuluk Pickety Witch, karena aku mencari cinta sejati." Ratap Mary. "Percayalah padaku, Barry."
Melihat ketulusan di mata Mary, Barry melunak. Ia yakin enilaiannya tidak salah. Mary memang gadis yang baik.
Kemudian keduanya kembali mengobrol. Saling mendekatkan tubuh dan membisikkan kata-kata yang saling menenangkan. Mengucap janji yang mengikat untuk menemani satu sama lain.
Saat matahari terbit, tidak ada seseorang pun duduk di tepi danau. Barry dan Mary menghilang seiring pagi menjelang.
Kisah tentang Pickety Wich masih dibicarakan di Tinseltown. Saat malam halloween kisah itu selalu kembali diceritakan pada setiap generasi.
Namun sekarang itu hanya cerita. The Pickety Witch tidak pernah muncul kembali. Alasannya adalah The Pickety Wich telah menemukan pujaan hatinya.
TAMAT.