SMA NUSA DUA, jam 3 sore. Suasana sepi, kelas-kelas telah kosong, jam pulang sekolah sudah berlalu sedari tadi. Tetapi, khusus untuk kelas 2 IPS 2 semua penduduk di dalam kelas ini masih lengkap. Semua masih terdiam di bangku masing-masing, karena sedang membahas masalah penting. Masalah perayaan halloween tahun ini.
Ada rasa antusias mendalam, siapa yang tidak suka dengan semangat perayaan berbau horor ini. Apa lagi, di SMA Nusa Dua ada ajang perlombaan halloween terseru dan penuh kesan horor sejati. Jadi, jangan heran kalau terlihat keseruan dalam diskusi menjelang sore hari.
"Fix, tahun ini kita akan buat acara halloween yang beda dari tahun-tahun sebelumnya ". Yuka Raditia, ketua kelas 2 IPS 2 yang sedang berdiri di depan kelas telah membuat keputusan.
"Ketua kelas, kami sih pada dasarnya enggak nolak. Hanya saja apa iya kali ini bakal beda ?" Rano, si anak cupu dengan kaca mata tebalnya mencoba mengintruksi.
"Aku pada dasarnya juga setuju sih kalau tahun ini acara halloween kita di buat beda. Ya, hitung-hitung buat kenang-kenangan kita saat tamat nanti. Tapi, yang jadi masalah konsep bedanya itu apa ?" Kali ini Syintia mengangkat tangannya tinggi, memberi pendapat versi dirinya.
"Buat konsep dan temanya kan masih ada 2 hari lagi nih. Jadi, kita sama mikirkannya semalam ini ! Besok, setelah jam pelajaran Bu Valen. kita semua bahas ini kembali. Gimana ?" Yuka menatap semua mata di dalam kelas itu.
"Okeh....setuju ". Jawaban kompak dari semua siswa 2 IPS 2.
Akhirnya, perundingan tentang acara halloween pun selesai. Dengan langkah bervariasi, semua penghuni kelas 2 IPS 2 memilih pulang.
Pulang dengan harapan akan menemukan solusi terbaik, jawaban terkeren yang bisa mereka jadikan alternatif acara yang selalu di tunggu di akhir bulan Oktober setiap tahun.
***************
Dua hari menjelang halloween, dan kembali lagi jam pelajaran terakhir di kelas 2 IPS 2 sudah selesai. Bu Valen sudah hampir 5 menit keluar dari kelas. Meninggalkan 36 orang siswa yang terlihat sudah mengambil posisi duduk terbaik untuk melanjutkan diskusi konsep dan tema halloween mereka.
"So, udah pada punya ide belum ?" Yuka sudah berdiri di depan kelas.
"Aku punya ide nih, sapa tahu kalian juga setuju ". Tania, si gadis cantik dengan rambut panjang membuka awal diskusi.
"Jadi ya teman-teman ". Tania berdiri di depan bangkunya. "Rumah neneknya aku di Kota Y lagi kosong tuh. Nenek sedang ke rumah Om di Kota S. Nah, kebetulan banget tuh ya, kira-kira 200 meter di ujung gang rumah nenek ada pemakaman umum ". Semua menyimak apa yang di ucapkan Tania.
"Usul aku, gimana kalau kita adakan acara di rumah nenek aku. Trus kita buat konsep uji nyali pas jam 12 malam sampe jam 2 dini hari di ujung gang tempat pemakaman umum. Kita bakalan ngusilin siapa yang lewat sana dengan kata-kata ala halloween gituh. Gimana, ayoooo ?" Tania mengerakkan kedua alisnya.
"Ide bagus tuh Nia. Dan kalau boleh aku tambahin lagi, gimana kalau kita pake tema 'Mirip Hantu'. Nanti, kita semua pada dandan ala tokoh-tokoh horor, bebas deh. Tapi, ya harus semirip mungkin. Harus sesempurna mungkin. Kan seruh tuh, ngusilin para pejalan kaki dengan tampang serem kita ". Dion, cowok kece badai yang menjadi incaran cewek-cewek satu sekolah memberi tambahan ide cemerlang.
"Nah, ini...ini, suka kalinya aku kalau macam ini konsep halloween kita tahun ini. Tahunya pun kelian, aku paling sukanya jadi pocong. Bisa bebasnya aku lompat sana lompat sini usilin orang ". Togar yang asli kota M bersuara keras, membuat semua terlonjak kaget.
"Usul Tania dan Dion di tampung, yang lain gimana ? Ayo, jangan ragu. Ini forum bebas buat kita, karena acara ini adalah acara dari kita dan buat kita !" Yuka mencoba mengendalikan suasana kelas, suara keras Togar tadi sukses membuat keriuhan mendadak.
"Kalau menurut aku, idenya Tania dan di kombinasikan sama dion, itu udah yang paling keren deh. Jujur, aku setuju. Kita bisa uji nyali sambil ngusilin pejalan kaki dengan dandanan semirip mungkin sama karakter horor. Bagi aku itu ide bagus ". Yanti mengangguk-anggukan kepalanya.
"Iya, iya..kita-kita juga setuju kok ". Yang lain mulai bersuara nyaris bersamaan.
"Baiklah, kalau memang semua sudah setuju. Jadi kita putuskan ya. Tahun ini konsep kita uji nyalin dan ngusilin para pejalan kaki. Dan masing-masing kita harus pake kostum horor semirip mungkin. Tanpa terkecuali ya !" Keputusan sudah di buat. Yuka memberi pengumuman resmi. Sorak sorai terdengar, antusia terpampang jelas di wajah semua orang.
"Selamat mempersiapkan semuanya teman-teman. See you di hari perayaan ya ". Tepuk tangan mengema seisi ruang kelas. Semua setuju dan semua mulai berbisik satu sama lain tentang kostum apa yang akan mereka pakai. Semua mulai buat persiapan masing-masing.
***************
Hari perayaan halloween tiba, sesuai rencana semua sudah berkumpul di rumah nenek Tania. Aneka kostum horor terpakai sempurna. Ada yang tampil menjadi nenek sihir lengkap dengan sapu terbang, ada yang jadi zombi dengan balutan kain di sekujur tubuh, ada yang menjadi zombi dengan make up karakter yang totalitas. Bahkan ada yang jadi Chocky juga loh, itu si boneka horor yang mukanya penuh goresan dan doyan ngebunuh anak kecil. Semua lengkap, ada hantu versi dalam dan luar negeri. Satu lagi, Togar juga serius dengan rencananya dengan memakai kostum Pocong. Wajah seram dan kain putih yang masih baru, bersih dengan aroma toko. Semua tampil maksimal, totalitas dengan tampilan terbaik.
"Teman-teman, dengar ya. Ini udah jam 12 malam, ayo kita semua jalan ke ujung gang. Kita siap-siap sama acara halloween kita ". Yuka memberi perintah. "Jangan ada yang melenceng ya !"
Para hantu dadakan ini pun mulai berjalan ke arah yang di perintahkan Yuka, semua patuh, berjalan santai sambil memperdalam karakter mereka. Saling ledek dengan keputusan kostum masing-masing dan saling memberi pendapat dengan hasil make up masing-masing.
Termasuk Novi, si gadis manis yang malam ini memilih berkostum penyihir. Dengan wajah yang sudah di make up seseram mungkin. Novi pun berjalan santai di barisan paling belakang, sendiri. Sibuk dengan keranjang permen miliknya sambil sesekali memperbaiki jubah panjang yang tersemat di bahunya, jubah ini terkadang mengganggu gerak langkah Novi.
"Eh, Togar ". Novi menyapa sosok pocong dengan make up total seram dan kain putih kumal. "Tolong pegang bentar dong. Ini jubah aku nyangkut ". Tanpa mendapat jawaban apa pun, Novi memberikan keranjang permennya pada si pocong.
Togar diam, mengerakkan badannya sebagai bentuk protes dirinya tidak bisa memegang keranjang permen.
"Ihhh, pelit amat sih. Cuma tolongin bentar ". Novi kesal, meletakkan keranjang permen begitu saja di atas aspal.
"Sorry, kan tangan aku ke ikat ". Togar minta maaf.
"Togar, tumben suara kamu bisa pelan. Dan itu, itu...kenapa logat kota kelahiran kamu bisa hilang ?" Novi heran.
"Namanya juga totalitas ". Jawaban Togar sambil tersenyum lucu.
"Eh, Gar. Kamu kok niat banget sih pake kostum pocong seperti ini. Make up sampe segituh seramnya, kain kafannya sekumal ini. Ini, ini apa lagi ? Kamu pake parfum apa coba, kok bau menyan gituh ". Novi sibuk mengendus bau tubuh lelaki yang hanya memasang tampang lugu, saat Novi mengajukan begitu banyak pertanyaan padanya.
"Totalitas jeng, totalitas ". Jawab si pocong santai.
"Udah, jalan yuk. Udahan membahas aku, kita udah jauh tertinggal sama yang lain ".
"Tapi, tapi ". Novi masih penasaran. Masih berharap semua pertanyaannya akan di jawab.
Togar sudah loncat duluan, berjalan versi dirinya meninggalkan Novi yang melonggo heran.
"Garrrrr.... Togar ". Novi setengah berteriak. Sosok Togar berhenti.
"Woii..coy...totalitas enggak segitu juga kali. Sampe sibuk lompat segala. Jalan yang baik aja deh, pake tuh kaki melangkah !" Novi menunjuk kaki Togar yang terbungkus kain kafan kotor.
"Aku lagi pendalaman karakter ". Jawab Togar semangat.
"Ah, suka-suka kamu deh ". Novi menggeleng tidak habis pikir. "Entar juga kalau kamu yang capek sendiri ".
Permainan di mulai, acara halloween tahun ini versi 2 IPS 2 di laksanakan. Semua mengambil posisi masing-masing, menyebar bersembunyi di tempat bebas. Semua boleh jahil, tetapi hanya sebatas mengagetkan para penjalan kaki. Bukan membuat rusuh apa lagi menyakiti pejalan kaki.
Novi dan Togar yang terlambat gabung sepertinya gagal mendapatkan tempat strategis untuk melakukan kejahilan. Novi memasang wajah sebel.
"Udah.... gak usah khawatir gituh ". Togar tersenyum. Memamerkan gigi kuning yang membuat mata merinding. "Aku tahu kok tempat bagus buat kita ngusilih orang ". Togar tahu kalau Novi kelihatan agak sedih dengan keterlambatan mereka sampai.
"Serius Gar, kamu tahu ?" Novi yang tadinya nampak memble mulai bersemangat lagi.
"Ikut aku !" Togar mulai loncat-loncat menuntun jalan.
"Nah, di sini ". Togar berhenti di balik pohon kapas super besar. Posisi tersembunyi yang sangat dekat ke jalan.
"Widih, posisi cakep nih ". Novi kegirangan. "Kamu kok bisa tahu si Gar ? Udah yang seperti kenal daerah sini aja ". Cerocos Novi sambil mengamati sekelilingnya. Sepi dan sedikit gelap, ada beberapa kuburan yang nyaris dekat posisi mereka berdiri.
"Aku survey lokasi tadi ". Togar menjawab acuh.
"Eh, ada orang tuh. Ayo cepat !"
Pengendara motor sepertinya akan melewati sisi pohon kapas besar tempat mereka bersembunyi.
Novi melangkah keluar diikuti Togar, mereka berteriak kompak. "Trick or treating ".
Si pemotor kaget luar biasa, memekik heboh dengan jantung yang nyaris keluar. "Aaaaaaaaaaaaa......!!!" Memencet rem sekuat tenaga.
"Heh, bocah sialan. Kalian ini benar-benar ya ". Marah dan memaki. "Untung saya gak punya penyakit jantung. Kalau misalnya saya kenapa-napa tadi gimana ?"
"Hahahahahaha ". Novi dan Togar tertawa bahagia.
"Pada ketawa lagi ". Pemotor semakin kesal.
"Ya maaf Pak, namanya juga merayakan halloween ". Novi bicara di sela tawanya.
"Trus kalian mau apa sekarang ?" Membesarkan bola mata marah.
"Mau permen Pak ". Suara kompak Novi dan Togar.
"Saya enggak punya, tapi saya ganti sama uang saja gimana ? Beli sendiri sana !" Si Bapak mengeluarkan uang Rp. 10.000,- dan memberikannya kepada Novi.
"Asyikkkkkk....", Novi begitu senang. "Makasih Pak ".
Si pemotor berlalu, Novi dan Togar berlonjak senang. Mereka tertawa bahagia berdua, senang dan sangat senang.
"Mayan Gar ". Novi melambaikan uang yang mereka terima tadi berkali-kali di udara.
"Apa aku bilang, di sini tuh tempat bagus ". Togar berbangga diri.
"Iya, iya aku percaya sama kamu ". Novi menepuk bahu Togar.
Dan kegiatan pengusilan berlanjut, semua masih bertahan di posisi masing-masing. Tetapi, posisi Novi dan Togar adalah yang paling baik. Mereka sudah untung banyak, sudah sukses mengumpulkan pundi-pundi rupiah sebagai ganti permen yang tidak di miliki dari siapa saja yang mereka usilin.
"Gar, udah hampir jam satu. Aku udah mulai capek ". Keluh Novi.
"Ya udah, kamu duduk aja sana, biar aku yang lanjut ". Togar mengerakkan kepalanya.
"Gar, aku heran deh. Kenapa make up kamu masih bagus, gak luntur barang sedikitpun ". Novi mengelap keringatnya dengan tisue sambil memperhatikan wajah Togar. Warna putih pucat di wajah Togar, bulatan hitam yang mengelilingi mata Togar, dan bibir hitam dengan gigi kuning milik Togar. Semua masih sama, sama persis seperti awal mereka jalan tadi.
"Aku pake make up tahan air ". Togar menjawab sambil melihat ke kanan sisi jalan. Memperhatikan jalan untuk mencari korban usilan baru.
"Gila kamu Gar, segituh niatnya buat malam ini ". Novi kagum.
"Jarang-jarang aku bisa seperti ini. Bisa bebas nguslin orang tanpa perlu repot, dan di temani kami lagi". Jawab Togar santai.
"Maksud kamu ?" Novi gagal paham.
"Udah gak usah di bahas ". Togar tersenyum pada Novi. Seyum dengan menampakkan gigi kuning yang membuat kesan horor di wajah Togar makin mengerikan.
Jam dua tepat, sesuai perjanjian awal, acara selesai. Semua berjalan kembali ke rumah nenek Tania, para hantu gadungan ini tampak bahagia, misi sukses mereka puas dengan acara halloween malam ini, tahun ini.
***************
"Acara halloween kita sukses besar teman-teman. Beri tepuk tangan buat kita semua ". Yuka bersorak di dalam kelas yang diikuti derap tepuk tangan tanda senang semua orang.
"Iya loh, aku salut sama Togar. Aksi dia malam itu maksimal banget. Make up horor, kain kafan kucel sampe pake parfum kemenyan segala ". Novi berdiri dan menatap Togar. "Maksimal banget usaha kamu, Gar. salut dengan segala niat kamu ". Novi mengangkat jempolnya senang.
"Apa, kamu cakapnya Nov ?" Togar mengerutkan dahinya bingung.
"Ya kamu itu hebat Tagor. Aku muji kamu ". Novi melihat sorot mata seisi kelas kapadanya, sorot mata yang sama bingung seperti Togar.
"Aku ?" Togar bertanya heran pada Novi.
"Ya, iyalah kamu. Masa pocong asli ". Novi kesal. "Banyak gaya kamu, Gar. Di puji dikit aja langsung sombong ".
"Nov, kayaknya ada yang harus diluruskan deh ". Yuka mendekati ke arah bangku Novi.
"Kalian kenapa sih ?" Novi sekarang yang bingung dengan sikap teman-temannya yang memberi tatapan takut ke arahnya.
"Nov, aku di malan halloween tak jadinya pun pake kostum pocong. Aku jadi vampirnya ". Togar duduk persisi di depan bangku Novi.
"Tadinya Togar memang mau jadi pocong. Kostum pocong juga sudah dia pakai. Dan Kita semua lihat itu ". Yuka berbicara perlahan. "Terus, Anton ngetawain Togar karena pendalaman karakternya kurang. Seragam pocongnya masih terlalu bersih, jelas banget kalau itu kain putih baru beli ". Sampai di sini, Novi mendadak merasa ada udara dingin berhembus menerpa kulitnya.
"Jadi Nov, Togar ngambek dan pergi tukar kostum. Dia jadi vampir akhirnya ". Yuka menghentikan penjelasaannya. Wajah Novi pias, pucat cemas.
Badannya menjadi dingin, pikirannya melayang jauh.
Wajah menyeramkan saat itu, kain kafan kotor, bau kemenyan yang menusuk hidung, hingga gaya jalan yang sibuk melompat-lompat. "Ti, tidak.. Itu tidak mungkin. Itu, waktu itu adalah Togar kan ? Ka, kalian semua iseng mau nakutin aku kan ?" Nafas Novi mulai tersengal-sengal. Novi terserang panik.
"Nov, Novi ". Semua penghuni kelas 2 IPS 2 berteriak keras, tepat di saat Novi menutup mata.
Novi pun pingsan dalam ketakutannya.