Bulan tampak bulat sempurna, hinggap di antara lapisan awan yang kelabu, cahayanya menerangi perjalanan keluarga Lany juga warga lainnya yang akan berkunjung ke sebuah gereja tua, untuk melakukan doa bersama. Hanya ada keheningan di temani cahaya lilin yang di selimuti malam.
Angin begitu kencang berhembus, membuat beberapa pohon bergeming bagai nyanyian malam, hingga Lany harus menutupi lilin yang ia gunakan dengan tangannya sendiri, sebagai satu-satunya penerangan, meski kebanyakan anak memilih membawa lentera labu (Jack o'lantern), sebuah lentera yang yang terbuat dari labu kuning, yang telah di potong di bagian atas, di korek isi dan di ukir hingga berbentuk kepala makhluk yang sedang menyeringai, labu itu tampak menyeramkan bagi Lany si penakut.
Tradisi berjalan menuju gereja, sudah sejak lama mereka lakukan. Di sepanjang perjalanan menyusuri hutan, para orang tua terus membacakan doa, agar jiwa-jiwa yang telah lama meninggal dunia dapat merasa terhibur. untuk kelima kalinya Lany mengikuti perayaan Vigili (Hari Para Kudus), biasanya ia jarang ikut berdoa seperti ini, karena banyak cerita seram yang biasanya akan di ceritakan oleh teman-temannya. Namun kali ini ia memilih ikut, karena ibunya yang memaksa, agar Lany ikut berdoa bersama.
Perjalanan menuju gereja masih terlalu jauh, tidak ada pilihan lain bagi Lany juga warga desa, karena Gereja tua itu adalah satu-satunya Gereja yang ada, di kota terpencil ini. Selain letaknya yang cukup jauh, Gereja tersebut juga dikenal sebagai Gereja yang cukup angker, karena beberapa kali kerap terdengar, suara tangisan anak-anak kecil saat malam hari, terutama di malam Halloween. Namun hal itu tidak pernah membuat warga desa takut, karena mereka menganggap, bahwa setiap doa akan menenangkan setiap arwah dan juga jiwa-jiwa yang penasaran.
Langkah kaki Lany terhenti, kala melihat bangunan kokoh nan besar itu berdiri di tepi danau, beberapa orang tua mulai menyalakan lilin, yang kemudian mereka simpan di setiap sudut, membuat seluruh ruangan penuh dengan cahaya, mereka biasa menyebutnya dengan Malam Cahaya (Night of Light).
Kursi-kursinya masih penuh debu, dan sebagian bahkan di hinggapi sarang laba-laba nakal, gereja ini sangat jarang sekali di kunjungi, karena jaraknya yang cukup jauh membuat warga enggan berkunjung, kecuali, pada hari minggu dan juga perayaan seperti ibadah gereja, yang di kenal sebagai Vigili para kudus. Namun bagi anak-anak, mereka selalu menunggu perayaan menyeramkan di tanggal 31 Oktober, dengan istilah Kenakalan atau Permen (trick-or-treating) saat malam Halloween, anak-anak dalam kostum akan berjalan dari rumah ke rumah, meminta suguhan dalam bentuk permen, dengan kalimat “Kenakalan atau Permen”, meskipun mereka terkadang mendapat uang sebagai gantinya.
Para orang tua mulai melakukan peribadatan dan bernyanyi bersama, namun sebagian anak-anak, mereka biarkan bermain di luar Gereja, kecuali Lany, yang berada di tengah-tengah lantunan doa, karena ia termasuk anak yang penakut, dan tidak berani bermain saat malam.
“Lany... Lanyy “. Sebuah suara membisikinya, Lany sempat berhenti berdoa, namun dengan cepat ia kembali pokus dengan doa-doa yang di bacanya.
“Lanyyy....”. Bisikan itu kembali. Membuat bulu kuduknya naik seketika.
“LANY”. Tepukan di pundaknya membuat ia menoleh, ternyata suara itu berasal dari temannya, Matt.
“Aku hampir saja memukulmu, Matt!”. Lany memelototinya.
“haha.. maafkan aku!”. Matt menggaruk kepalanya.
“Ada apa, kenapa kamu tidak ikut berdo’a?”.
“Tidak seru!”. Kata Matt menekukan bibirnya kebawah.
“Aku dan teman-teman lainnya, akan bermain ke hutan, kamu mau ikut?”. Lanjutnya, sambil berbicara sepelan mungkin, agar para orang tua tidak mengetahui rencana mereka.
“aku takut”.
“kamu ini, dasar penakut, kita hanya bermain di dekat sini, kalau ada apa-apa bisa langsung teriak”. Kata Matt meyakinkan, Sementara Lany terdiam sejenak, membuat pilihannya.
“ya sudah, aku ikut”.
“yes!”. Matt mengepalkan tangannya, lalu meraih tangan Lany menuju keluar Gereja, secara diam-diam.
Angin begitu dingin berhembus, hanya ada pepohonan yang begitu gelap di sekeliling mereka, kecuali air danau yang bersinar karena cahaya rembulan.
Semua anak berlarian kesana-kemari, namun segera berhenti dan berkumpul saat Matt dan Lany tiba.
“kita mau main apa Matt?”. Kata salah satu temannya di tengah kerumunan.
“Sembunyi atau Mati!”. Matt mengangkat tangannya.
“Itu permainan apa Matt, kamu jangan sembarangan!”. Lany memegang lengan baju Matt erat.
“Tidak apa, ini aman!”. Pelan melepaskan tangan Lany.
“Jadi bagaimana rencanamu?”. Kata John di sampingnya, sementara yang lain menunggu keputusannya.
“Aku dengar, ada rumah kosong di tengah hutan ini, aku ingin kita bermain di sana!”. Kata Matt meyakinkan teman-temannya.
“Apa tidak berbahaya?”.
“bagaimana kalau kita tersesat?”.
“aku takut!”.
Meskipun kebanyakan anak menyetujui rencana Matt, namun tidak sedikit juga, anak-anak yang menolak rencananya termasuk Lany.
“bagaimana kalau kita vote!”. Kata Matt mengangkat tangannya.
“suara terbanyak, jadi pemenangnya”. Lanjutnya.
Semuanya terdiam, saling menatap pada masing-masing temannya, tak lama satu-persatu anak mengangkat lengannya setuju, dan tentu saja Lany dan teman-temannya yang tidak setuju, terpaksa ikut, karena suara mereka terlalu sedikit, untuk melakukan penolakan.
“Aku sudah membawa peralatan untuk kita”. Kata Matt sambil menunjukan tas ransel di punggungnya, lalu mengeluarkan senter, sebagai penerangan mereka.
“Aku lihat dulu, John, Robert, Ema, Lany, Ivan, Kevin, terakhir aku!, kita satu tim, dan yang lain, kalian bisa jalan ke arah sebaliknya”. dia mengabsen keenam temannya, juga termasuk dirinya.
“Kita jangan berpencar, harus tetap bersama!”. Lanjutnya.
Malam semakin larut, sementara awan kelabu telah menutupi rembulan menyisakan kegelapan, suara petir terdengar bergemuruh di kejauhan, di temani suara binatang malam yang saling bersautan.
Lany memegang erat lengan baju Matt, ia terlalu takut untuk terus berjalan, menyusuri hutan, langkahnya kesulitan, menyeret dedaunan yang berserakan, selain itu, pohon-pohon di samping mereka begitu besar dan menjulang, membuat angin bahkan tidak sanggup menembus dedaunan, terasa begitu lembab.
“Kita tidak tersesat Matt?”. Kata John memecah keheningan.
“Tidak”. Katanya singkat, sambil menyoroti setiap sudut hutan.
“Aku rasa, kita hanya berjalan memutari tempat ini Matt!”. Suara John mulai khawatir.
“Benarkah?”. Matt mengalihkan sorot senternya pada jalan setapak yang mereka lalui, bekas jejak sepatu, tepat berada di depan mereka.
“Tidak, ini bukan jejak kaki kita, ini jejak kaki orang lain”. Matt mencoba mengukur ukuran kakinya dengan jejak kaki itu.
“Orang dewasa”. Lanjutnya, teman-temanya saling melihat satu-sama lain, ketakutan.
“Sebaiknya, kita kembali Matt!”. Kata Lany mencoba meyakinkannya.
“Jangan dulu Lan, kita sudah setengah perjalanan”. Membuat Lany terdiam kecewa.
“Sudahlah, kita aman!”. Kata Ema memeluknya meyakinkan, Ema adalah satu-satunya anak perempuan di tim mereka selain Lany.
“Teman-teman, ada rumah, disana!”. Kata Matt berteriak, sambil menunjuk ke arah yang dilihatnya, ia sudah lebih jauh berjalan, dari Lany dan teman-temannya.
Tiba-tiba rintik hujan, mulai turun perlahan, gemuruh dari kejauhan membawa hujan yang begitu lebat menyapu hutan.
Matt dan teman-temannya berlari menuju rumah kosong itu, untuk berteduh.
“Bagaimana kita pulang”. kata Lany sambil mengusap bajunya yang basah.
“Hujan begitu besar”. Lanjutnya.
“Setelah reda, kita akan kembali”. Matt percaya diri, menaruh tangannya dipinggang.
Klontang!!
Sebuah suara terdengar nyaring dari dalam rumah, membuat Matt juga teman-temannya terkejut. Meski Matt merasa takut, namun tak lama dia menarik tuas pada pintu, dan membukanya pelan.
Krieeet!!
Pintu yang sudah lama sekali, tidak terbuka itu mengeluarkan bunyi yang mengilukan, di temani riuh air hujan yang begitu deras, sebuah bola basket yang penuh sarang laba-laba, terhenti di ujung kaki Matt, juga tikus-tikus kecil yang berlarian kalang kabut mencari kegelapan untuk bersembunyi, karena cahaya senter yang Matt bawa.
“Hanya tikus!”. Menghembuskan napas lega.
Gledarrr!!
Suara petir begitu keras, membiaskan cahaya menyilaukan, membuat semua anak berteriak, dan dengan cepat memasuki rumah, ruangannya begitu berantakan penuh debu, beberapa barang juga terlihat usang.
Diluar, hujan turun semakin deras dari pada sebelumnya, sementara Lany menggosok-gosokan tangan, pada bahunya sendiri, karena suhu ruangan yang semakin dingin.
“Pegang ini!”. Matt memberikan sebuah lilin pada Kevin, sementara tangan kirinya mencari korek yang dia bawa.
Matt menyalakan lilin, lalu teman-temannya berkumpul mengelilingi cahaya kecil itu, menghangatkan tangan mereka yang terasa dingin.
“Apa yang akan kita lakukan Matt?”. Lany menatapnya.
“Maafkan aku, karena membawa kalian kesini, untuk sementara, kita akan menunggu sampai hujan reda, dan langsung kembali pulang”. Mata Matt sayu, menunjukan penyesalannya.
“Harusnya aku tidak ikut”. Kata Robert menatapnya kesal.
“Pasti orang tua kita akan khawatir, dan sedang mencari kita!”. Ivan menambahkan.
“Sudahlah!”. Kata John menenangkan.
“Lagian, kita hanya perlu menunggu sebentar!”. Lanjutnya.
Bukannya hujan semakin reda, tapi gemuruh semakin keras terdengar dari langit yang di penuhi semburat cahaya mengeringkan.
“Aku takut!”. Ema menangis tersedu-sedu.
“Tenanglah, bukankah kamu bilang kita aman, kita akan baik-baik saja”. Lany memeluknya hangat.
Tok.. tok..tok!!
Suara ketukan mengalihkan pandangan mereka semua pada arah suara itu berasal, tiba-tiba gagang pada pintu bergerak lebih cepat, dan tak lama berhenti dengan sendirinya.
Jantung Lany berdetak tak beraturan, napasnya tersengal, semua teman-temannya termasuk dirinya berkerumun di sudut ruangan, penuh ketakutan. Meskipun Matt juga begitu panik, dia berusaha memberanikan diri, untuk memeriksa siapa seseorang yang ada di balik pintu.
Dengan ragu Matt melangkahkan kaki, dengan sebilah kayu di tangannya, pelan dia memegang gagang pintu dan dengan cepat membukanya, bersiap memukul apapun yang ada di luar sana.
Seseorang berdiri di depan pintu, pakaiannya lusuh juga basah terkena air hujan, dia begitu tinggi menjulang, wajahnya tidak begitu jelas, tertelan gelapnya malam. Sesekali cahaya petir membuat pria jangkung itu, sedikit menampakan wajahnya yang menyeramkan.
Tubuh Matt tidak bisa bergerak, menatap wajah mengeringkan itu, lalu terjatuh ke belakang bersama sebilah kayu di tangannya.
Teman-temannya menjerit termasuk Lany, namun gadis penakut itu, segera berlari mendekati Matt dan dengan cepat menutup pintu.
“Cepat, gunakan apapun untuk menahan pintu ini”. Kata Lany berteriak, pada teman-temannya yang masih terdiam kaku.
Tak lama John dan yang lain berdiri, lalu segera mendorong meja di dekat mereka ke arah pintu, berharap dapat menahannya sekuat mungkin, sementara pria di luar pintu itu mengerang, dan mengetuk pintu dengan begitu keras.
Keadaan menjadi semakin mencekam, kala Matt sang pemimpin, hanya terdiam dengan tatapan kosong.
“Matt, sadarlah!”. John mengerakan bahunya, namun pria kecil itu tetap diam.
Lany dan anak lainnya hanya bisa menunggu para orang tua datang untuk menolong mereka.
“Sepertinya dia sudah pergi!”. Kata John pada teman-temannya, karena suara ketukan itu sudah tidak lagi terdengar.
“Aku akan coba memastikan”. Lanjutnya, sambil berjalan mendekati pintu.
“Hati-hati”. Lany mencemaskannya.
Tok..tok..tok!
Bruk!!
Bruk!!
Ketukan itu membuat John terhenyak, lalu berlari ke arah teman-temannya, pria besar itu menghantam pintu menggunakan kapak, membuat mereka semua berteriak dan menjerit ketakutan, tak lama mendorong pintu dengan kuat, hingga terbuka lebar.
Pria itu berdiri di depan pintu, hingga lantai dipenuhi air yang menetes dari pakaiannya yang basah, dia perlahan mendekat, namun kakinya terpincang- pincang, dengan kapak di tangannya, Lany dan teman-temannya hanya terdiam menatapnya lekat, wajah pria itu begitu mengeringkan.
“Kita harus lari!”. Kata John di samping Lany.
“Iya”. Lany mengangguk.
“Dalan hitungan tiga, semuanya lari!”. John menatap teman- temannya. Sementara yang lain mengangguk mengiyakan.
Dalam hitungan tiga, mereka semua berlari ke luar, kecuali Matt yang tertinggal, karena Lany sadar bahwa dirinya hanya berlari sendirian tanpa pria kecil itu, dia memutuskan kembali kedalam dan mendapati Matt yang masih terduduk dengan tatapan kosong, pria menyeramkan itu mengangkat kapaknya tinggi, hendak menghantam Matt yang tidak sadarkan diri, sementara Lany mencari sesuatu untuk memukul pria itu.
Brakk!!
Sebilah kayu besar menghantam kepalanya, hingga pria itu terguling dan pingsan, Lany segera menarik lengan Matt dan membawanya berlari menjauhi rumah itu, sementara teman-temanya menunggu di sebrang hutan.
Hujan sudah semakin mereda, namun rintik kecilnya mampu membuat baju mereka basah, Lany dan teman-temannya terus berlari menyusuri hutan, tidak memperdulikan semak belukar yang berusaha menghalangi pelarian mereka.
“Kita istirahat dulu!”. Ema mengatur napasnya, memegangi lengan Lany.
“Baiklah, kita istirahat sebentar”. Kata John terduduk karena kakinya yang sakit.
“Matt!”. Lany memegang pipi Matt, namun terasa begitu panas.
“Matt demam!”. Kata Lany menatap teman-temanya, sementara mereka hanya balik menatap satu sama lain.
“Kita tinggalkan Matt disini, sementara kita mencari pertolongan!”. Kata Robert tidak memperdulikan temannya.
“Kita tidak mungkin meninggalkan Matt sendirian di tengah hutan!”. John membentaknya.
“Aku hanya memberi saran!”. Robert membalasnya ketus.
Plak!
Tamparan Lany mendarat di pipi Robert, membuat semuanya terdiam, sementara Robert memasang wajah kesalnya.
Krosak.. krosakk!!
Suara langkah kaki, mengejutkan mereka semua, pria itu kembali mengejar mereka, Ema dan yang lain segera berlari, namun Lany berusaha membangunkan tubuh Matt yang bahkan tidak bergerak sedikitpun, pria itu semakin mendekat, dia mengerang.
“Ayo lan, lari!”. John meraih tangannya, sementara gadis kecil itu terus berusaha, agar Matt berdiri dan lari bersamanya, namun usahanya berakhir sia-sia, tubuh Matt begitu berat, ia dan John menyerah, dan berlari meninggalkan Matt sendirian.
Lany berlari dengan air mata yang membasahi pipinya, sekilas ia melihat pria itu mengangkat kapaknya dan menghantam pria kecil yang malang itu. Dengan cepat, Lany memalingkan wajahnya, memilih terus berlari tanpa melihat kebelakang lagi,kini temannya telah tumbang.
Lany mengerang di kursinya, dia menangis, tapi matanya tertutup, ia tidak sengaja tertidur, saat para orang tua membacakan doa.
“Bangun sayang!”. Marta berusaha membangunkan Lany yang masih tertidur di kursinya.
“Kita sedang berdoa, jangan tidur!”. Lanjutnya.
“Maafkan aku mah”. Lany membuka netranya pelan, lalu mengusap matanya yang terasa basah, ternyata dia hanya bermimpi, namun kejadian di mimpinya jelas seperti nyata.
“Bangun!”. Marta memelototinya, dengan gontai Lany berdiri dan membacakan doa.
“Lany!”. Sebuah suara membisikinya, persis dalam mimpinya.
“Matt!”. Dia menoleh ke belakang, namun tidak ada siapapun, kecuali para orang tua yang sedang khusu berdoa.
“tolong aku!”. Bisikan itu kembali, membuat Lany menoleh untuk kedua kalinya, namun tetap tidak ada siapapun.
Ia memutuskan mengabaikan suara bisikan itu, dan melanjutkan doanya, namun tiba-tiba seorang wanita menangis histeris di luar Gereja, itu ibunya Matt. Semua orang termasuk Lany, dengan cepat menuju keluar, menghentikan sejenak kegiatan mereka, ternyata Matt menghilang, Margaret sudah mencarinya sepanjang doa di lantunkan, namun tidak menemukannya, seluruh warga malam itu memutuskan untuk mencari Matt ke seluruh sudut hutan, juga tepi danau, namun tidak ada tanda sedikitpun tentang keberadaannya.
Malam berlalu dengan penuh kekhawatiran dan kesedihan, Matt tak kunjung di temukan. Namun saat pagi tiba seorang penebang kayu menemukan Matt dalam keadaan tidak bernyawa dengan tubuh yang penuh luka, Polisi setempat menduga, bahwa Matt di bunuh oleh binatang buas, namun sebagian orang berpendapat, bahwa Matt di bunuh oleh seseorang.
Lilin memenuhi persemayaman terakhir pria kecil pemberani itu, selagi tangis mengiringinya, doa mengantarkan kepergiannya.
“kenakalan atau permen”. Kata Lany sambil memegang pigura Matt, saat bersamanya merayakan Halloween tahun lalu.
“Aku akan merindukanmu”. Lanjutnya lirih.
“trick or treat!!”. Teman-temannya mendatangi rumah Lany, sambil memakai kostum-kostum hantu seram mereka.
Tak lama Lany keluar menggunakan kostum kesukaannya, yaitu kostum penyihir. Ia berlari sambil membawa sapu dan tas berbentuk labu yang berisi berbagai macam permen, berjalan dari rumah ke rumah bersama teman-temannya, namun salah satu anak tidak di kenal mengikuti rombongan mereka, ia berkostum tidak biasa, menggunakan piyama lusuh dengan karung goni di kepalanya, Lany dan teman-temannya hanya mengira bahwa anak itu adalah tetangga mereka yang baru saja pindah, namun sebenarnya dalam beberapa bulan terakhir, tidak pernah ada keluarga yang pindah ke desa mereka.
🎃 Happy Halloween
🎃 #MalamMenakutkanHalloween