Namaku Ila, Laila tepatnya. Aku bersekolah di salah satu SMA negeri ternama di kotaku, Banda Aceh.
Saat ini aku sudah menduduki bangku kelas 3 yang berarti tak lama lagi aku akan segera tamat. Namun, sebelum itu aku harus melewati serangkaian ujian dan praktek yang bisa membuat rambut kriting, begitu banyak dan sulit.
Seperti remaja SMA lainnya, aku juga merasakan hal yang sama pada umumnya. Yaps, jatuh cinta! Aku mencintai Akbar. Siswa yang berada di angkatan yang sama denganku, namun berbeda kelas.
Aku mulai mengenal Akbar sejak awal kelas sebelas, lebih tepat saat aku masuk ekskul rohis. Aku memiliki teman yang bernama Syibran. Kami satu ekskul saat kelas sepuluh, yaitu Pramuka.
Syibran adalah salah satu teman baik Akbar. Oleh karena itu kami semua terkadang sering nongkrong di kantin. Mungkin sejak saat itulah aku dan Akbar mulai dekat. Aku tak tau sejak kapan perasaan ini mulai tumbuh, yang pasti aku yakin memiliki perasaan padanya saat awal masuk semester genap kelas sebelas.
Aku juga bingung dengan diriku sendiri, mengapa aku bisa mencintainya? Apakah karena sikapnya yang begitu baik hingga hatiku salah menerjemahkan maksudnya? Entahlah, yang pasti aku benar-benar sudah jatuh hati padanya.
Bel pulang baru saja berbunyi. Murid-murid langsung berhamburan keluar kelas seperti anak ayam yang baru dilepas, ingin segera pulang.
Parkiran masih sangat penuh sesak dengan motor para siswa. Motorku yang terparkir di tengah-tengah mau tak mau tak bisa dikeluarkan. Daripada lelah menunggu, aku memutuskan pergi ke kantin saja.
Saat ingin masuk ke dalam kantin, aku melihat Akbar yang baru saja selesai membeli cemilan. Aku memberikan senyuman terbaikku dan menyapanya.
“Hai, Ak...bar,” suaraku langsung melemah ketika melihat Akbar yang membuang muka ketika melihatku ada di hadapannya dan berniat menyapa.
Tanpa berniat basa-basi, ia langsung pergi tanpa mengatakan sepatah kata pun. Hatiku langsung perih melihat itu, raut wajahku berubah sendu. Apakah kesalahanku terlalu fatal hingga Dia harus menghindariku sampai segitunya?
Ini semua dimulai sejak sebulan yang lalu.
*Flashback
“Yo, Bar! Gimana? Udah dapat pacarnya?” tanya Niken, salah satu teman dekatku di SMA.
Akbar yang baru saja menghidupkan motor untuk pulang, kembali mematikannya. Ia membuka helm yang sudah ia pakai.
“Udah, Ken,” sahutnya.
Jeder!!!
Bagaikan tersambar petir di siang bolong, hatiku langsung perih mendengar hal itu.
“Wah, cepet juga saran dari kami kamu lakuin, Bar.” Akbar hanya mengendikkan bahu. Sedangkan aku hanya bisa tersenyum getir.
Akbar adalah tipe orang yang suka menyembunyikan perasaannya, bahkan tahapnya sudah mulai meresahkan karena sering membuat emosinya tidak stabil. Ketika ia menceritakan hal itu pada temannya, mereka semua menyarankan agar Dia mencoba mencari seorang pacar yang bisa mendengarkan keluh kesahnya.
“Kapan jadiannya, Bar?” tanyaku tetap berusaha tersenyum. Akbar menatap mataku lurus, baru ia menjawab.
“Semalam,” jawabnya singkat.
Aku berusaha untuk tetap bertahan dengan senyuman getirku. “Oh, gitu ya... Kalo gitu selamat,” ucapku pelan.
Akbar mengangguk. Sedangkan Niken dan beberapa temanku yang lain hanya menatapku, melihat ekspresi yang aku buat. Aku yakin pasti mereka sudah mengetahui bagaimana kacaunya parasaanku saat ini.
Aku memang tak pandai untuk memendam perasaanku. Semua perasaanku tercermin jelas dari setiap perilaku dan sikap yang kuberikan padanya. Dan aku yakin, Akbar pasti juga sudah menyadarinya. Karena, walau Dia tipe orang yang sedikit polos, tak akan mungkin Dia tidak menyadari perasanku padanya yang bahkan hampir satu sekolah mengetahuinya.
Aku menghela nafasku pelan. “Apakah ini sikap kamu untuk perasaanku, Bar?” batinku bertanya.
“Apakah ini peringatanmu agar aku menghilangkan perasaan ini? Apakah kamu benar-benar tidak menghargai sedikit pun usahaku untuk mengejarmu hingga kamu begitu tega mengatakan hal itu dengan santainya di depanku? Apakah aku benar-benar tidak memiliki kesempatan sedikit pun?” Aku menggigit bibir dalamku, menahan rasa sesak yang semakin menjadi.
Aku kembali menghela napas panjang, kemudian menatap Akbar yang melihat ke arahku. Ia seakan menunggu reaksiku atas perkataannya.
“Yaudah, kamu nggak mau pulang, Bar?” tanyaku mengalihkan topik.
“Rencananya tadi mau pulang, tapi nggak jadi. Aku pulang bentar lagi aja,” sahutnya. Aku mengangguk paham. Sedangkan Niken dan teman-temanku yang lain pamit untuk pergi duluan. Sepertinya mereka merasakan suasana yang mulai tak nyaman.
“Kalo kamu kenapa belum pulang, La?” tanyanya balik.
“Oh, kayak biasa sih, Bar. Belum dijemput,” sahutku tertawa pelan, namun malah terdengar semakin miris. Ya, aku memang sering telat di jemput karena motorku hanya satu dan itu pun dibawa Papa kerja.
“Kalo gitu mau aku antar aja, La?” tanyanya ragu.
“Sial! Mengapa ia masih bisa menawarkanku tumpangan di saat begini,” rutukku dalam hati. Aku memang sudah beberapa kali pulang dengannya, namun sekarang sepertinya bukan saat yang tepat. Aku memang senang mendapatkan tawaran itu, namun perasaan itu langsung terganti dengan tamparan kenyataan bahwa Dia sudah memiliki seseorang yang spesial dalam hidupnya.
“Emang boleh, Bar?” tanyaku balik.
“Emangnya ada alasan aku nggak boleh?” Aku langsung menggeleng dengan cepat.
“Yaudah, cepat ambil tasnya di kelas sana! Kalo nggak aku antar nanti takutnya kamu pulang menjelang isya lagi kayak kejadian yang sudah-sudah!” pintanya.
See? Mungkin inilah salah satu alasan mengapa aku bisa mencintainya. Sikapnya yang begitu perhatian seakan-akan aku adalah sesuatu yang berharga. Aku selalu meyakinkan diriku bahwa sikapnya memang begitu baik dan perhatian untuk semua temannya, tanpa terkecuali. Namun, hatiku menolak gagasan itu dan memilih untuk melanjutkan kesalahan pahaman ini. Apalagi teman-teman terdekatnya mengatakan jika aku lah satu-satunya teman wanita yang ia perlakukan seperti itu. Jadi, bagaimana hatiku tidak terbawa dalam permasalahan ini?
“Duduk yang bener, La,” ucap Akbar mengingatkan ketika aku sudah menaiki motor beat miliknya.
“Iya, ini udah benar kok,” sahutku pelan sambil memakai helm yang Akbar berikan.
Akbar tidak lagi menyahut dan memilih untuk menjalankan motornya. Di sepanjang perjalanan kami berdua hanya diam, tak ada satu pun yang memulai percakapan seperti biasanya.
“Nih helmnya, Bar! Makasih,” ucapku menyerahkan helm milik Akbar saat turun dari motor. Kini kami sudah berada di halaman rumahku.
“Iya, sama-sama. Hemm, kalo gitu aku balik dulu ya,” pamitnya kemudian memutar arah motornya.
“Bar, tunggu!” cegahku saat ia ingin menyalakan motornya.
“Ada apa, La?” tanyanya bingung.
Aku menarik napas dalam-dalam, berusaha memantapkan tekadku. Kali ini aku akan mengatakan perasaanku. Aku tidak ingin menyesal jika tidak mengatakannya sekarang karena aku tak yakin jika aku masih memiliki kesempatan ini untuk ke depannya.
Aku menundukkan kepala. “Akbar, jawab yang jujur. Sebenarnya Akbar udah tau tentang aku kan?” tanyaku pelan, to the point.
Akbar hanya diam, tak merespon. Aku yang penasaran pun akhirnya mendongak untuk melihat reaksi Akbar.
“Bar, kenapa diam? Akbar pasti udah tau kan kalo aku punya perasaan khusus untuk kamu? Tapi bukannya menolak, kamu malah menerima semua perilaku aku yang menunjukkan semua perasaanku dengan bersikap berpura-pura bodoh. Kamu tau, Bar? Aku sebenarnya udah tau kalau kamu pura-pura bodoh selama ini, tapi tak bisa aku pungkiri jika aku menikmatinya.” Aku menarik napas dalam-dalam ketika merasa air mataku akan jatuh.
“Kamu tau kenapa, Bar? Karena dengan sikap kamu yang seperti itu, aku merasa bisa bebas mengekspresikan perasaan aku tanpa harus takut kamu bakalan marah karena pada kenyataannya kamu bersikap seolah-olah itu bukan apa-apa. Maaf kalo aku harus ungkapin ini semuanya sekarang. Padahal aku berniat untuk terus memendamnya dan menunggu waktu yang tepat. Namun, aku takut jika aku tidak punya kesempatan ke depannya. Aku nggak berharap apapun sama kamu. Aku cuma mau ungkapin ini semua supaya hati aku lega dan akhirnya aku bisa menghilangkan semua rasa ini. Aku tau aku egois karena ungkapin ini sekarang di saat kamu udah punya seseorang. Tapi, jika tidak aku ungkapkan secara langsung maka rasa ini akan selamanya ada di hati aku dan tidak akan pernah bisa melupakannya. Jadi, aku mohon kamu maklum dan tetaplah berteman baik."
Air mataku akhirnya mengalir juga ketika sudah mengeluarkan semua perasaan yang kupendam selama ini. Sedangkan Akbar hanya bisa menghela napasnya.
“Jujur, apa yang kamu bilang tadi benar adanya, La. Aku memang udah tau sejak lama, tapi aku memilih berpura-pura bodoh. Alasannya? Karena aku berpikir kalo kamu bakalan terbiasa dan menghapus perasaan kamu untukku dan kita bisa menjadi teman dekat seperti semula. Tapi, sepertinya aku salah. Sikap aku justru semakin membuat hati kamu goyah dan perasaan itu semakin tumbuh.”
“Nggak! Itu bukan salah kamu, Bar!” sahutku cepat.
“Berhenti bohongi diri sendiri, La. Aku benar-benar minta maaf untuk semua sikapku yang membuat kamu semakin salah paham. Aku mengerti niat kamu itu baik. Aku juga berharap kita masih bisa berteman baik seperti awal kita dekat. Tapi, hal itu mungkin akan sulit untuk saat ini. Jadi lebih baik jika kita mendapatkan waktu sendiri untuk menyikapi permasalahan ini dengan bijak.”
Setelah itu Akbar langsung menghidupkan mesin motornya dan pergi meninggalkanku. Air mataku airnya jatuh dengan derasnya.
*Flashback end
Aku hanya bisa tersenyum getir ketika mengingat itu. Sejak saat itu, beginilah hubungan kami. Seolah-olah tidak pernah mengenal satu sama lain. Aku hanya bisa menelan penyesalan atas keputusanku saat ini. Mungkin, jika aku tidak mengaku, hubungan kami tidak akan separah ini. Mungkin.