Halo! kenalin nama gue Rachel, saat ini gue baru kelas XII IPA, gue punya sahabat kecil cowo namanya Farrel. Waktu kecil gue sama dia apapun selalu berdua, bahkan tanpa gue sadari kalo Farrel suka sama gue, dia selalu perhatian sama gue, bahkan dia pernah meluk gue di depan teman-teman sekolah kita. Dan dia juga pernah cium pipi gue, jujur gue malu banget.
Tapi, sekarang gue udah terbiasa sama itu, karna dia sering jahil sama gue, kaya tiba-tiba cium pipi gue gitu, atau gak bikin gue kesel dan marah sama dia. Meski begitu dia tetap selalu merhatiin gue. Jujur gue ngerasa aneh sama sikapnya tapi, gue perlahan-lahan mulai terbiasa dengan itu, karna gue nganggep nya kita ini sahabat kecil wajar aja sih deket kaya gitu.
Hingga suatu hari, Farrel tiba-tiba bawa seorang anak perempuan yang terlihat lebih muda dari gue, dia mengatakan kalau gadis itu adalah temannya, dan gue harus bersikap baik dan berteman dengan nya . Gadis itu memperkenalkan dirinya kira-kira kaya gini.
" Halo, kak kenalin namaku Laras " .
Lalu perlahan-lahan gue merasa sikap Farrel mulai berubah, dia kaya udah gak peduli lagi sama gue. Dia kaya lebih mentingin Laras dan gak peduliin gue lagi. Bahkan pas gue ajak main basket bareng dia gak mau, katanya mau nemenin Laras main. Karna kalau dia main basket, Laras main sama siapa? soalnya dia gak bisa main basket.
Perlahan tapi pasti hubungan persahabatan kami mulai merenggang sekarang, bahkan kami hampir sering bertengkar, hanya karna masalah Laras yang gak bisa ikut main. Gue bener-bener kesal banget memangnya kenapa jika dia gak ikut main bukankah dia bisa menonton dan menyemangati. Benar-benar menyebalkan.
Beberapa hari kemudian, sikap Farrel yang sepertinya lebih mengistimewakan Laras daripada gue, bener-bener bikin gue cemburu, pasalnya Farrel yang selalu perhatian sama gue, dan lebih mentingin gue, tiba-tiba berubah dan malah yang lebih parahnya dia gak pernah ngajak main gue lagi. Karna rasa cemburu itu, gue mulai mencoba menarik perhatian Farrel, gue berharap dia bakal perhatian lagi sama gue.
Tapi ternyata enggak, semuanya selalu berakhir sia-sia. Hingga gue masuk SMP masih tetap sama di gak terlalu peduli sama gue. Dan dengan bodohnya gue selalu berusaha untuk mendapatkan perhatian nya. Sampai SMA baru dia mulai merhatiin gue lagi, karna Laras saat SMA dia gak satu sekolah sama kita. jarak perbedaan umur gue sama Laras sebenarnya cuma beda 1 tahun doang.
Hingga hari valentine tiba, gue mau ngasih coklat yang gue bikin dengan susah payah pada Farrel, tapi Farrel sepertinya sudah mendapatkan yang lebih baik dan lebik enak lagi dari pada buatan gue. Gue pergi sambil membuang coklat itu ke dalam tong sampah. Oh hati, betapa menyakitkannya pemandangan itu, apalagi melihat orang yang kita cintai dan selalu perhatian sama kita, sikapnya tiba-tiba berubah hanya karna ada orang baru.
Meskipun begitu gue tetep berusaha untuk mendapatkan perhatian Farrel, lebih tepatnya gue mau mendapatkan hati Farrel. Gue sadar kalau selama ini semua kecemburuan gue itu, karna gue suka sama Farrel. Bahkan mungkin saja gue udah cinta mati sama dia selama ini. Tapi ternyata semua tetep sama aja, Farrel gak pernah liat semua perjuangan yang gue lakuin buat dia. Dia selalu saja terfokus pada Laras.
" Laras, kenapa lo harus hadir di antara kami! Kenapa? " Batin gue sambil teriak, jujur gue udah gak sanggup harus melihat kemesraan Farrel dengan perempuan lain selain gue, "gue benci sama lo, gue benci! Gue juga benci sama diri gue sendiri, kenapa gue gak bisa mendapatkan hati Farrel, kenapa? " Batin gue, gue nangis saat itu juga.
Tiga tahun berlalu, kami telah lulus SMA, begitu juga dengan Laras, Farrel saat ini bekerja sebagai seorang boyband terkenal. Dan Laras dia ikut ayahnya pergi ke luar kota, untuk mengobati penyakit kanker hati nya. Saat Laras gak ada gue selalu ada di sisi Farrel, bahkan gue jadi asisten boyband nya Farrel. Berharap dengan ini gue bisa lebih deket lagi sama Farrel, dan mungkin gue bisa dapetin Farrel lagi.
Tapi, katanya Laras akan kembali, dia akan ke sini bersama ayah nya. Gue yang denger itu gak bisa diam aja, entah kenapa hati gue seakan-akan gak mau kalo Laras kembali, tapi emangnya gue bisa apa? .
Beberapa hari kemudian, Laras kembali, dia pergi nemuin Farrel yang lagi main basket sama gue. Gue ngeliat mereka pelukan dan mesra-mesraan di kejauhan, hati gue bener-bener sakit. Mungkin sejak awal bahkan hingga akhir, gue udah gak punya kesempatan untuk dapetin Farrel kembali.
Gue nyerah gue udah gak bisa ganggu hubungan mereka lagi, walau sakit tapi gue harus relain Farrel sama Laras. Suatu hari tiba-tiba penyakit Laras drop, katanya saat pergi keluar kota dia belum mendapatkan pendonor hati yang cocok, sehingga penyakitnya masih belum bisa di sembuhkan. Dokter menyarankan agar segera menemukan pendonor hati yang cocok, supaya bisa lebih cepat melakukan operasi, karna jika tidak Laras gak akan bisa di selamatkan lagi.
Gue kaget dengar itu begitu juga dengan yang lain termasuk Farrel, dia nangis di sisi tempat tidur Laras, sambil menggenggam tangan kiri Laras. " Segitu cintanya lo sama Laras Rel " batin gue yang gak bisa menahan rasa sakit hati ini, apalagi saat liat pemandangan itu. Lalu gue pergi diam-diam cek ke dokter, apakah hati gue cocok sama Laras. Dan ternyata cocok, apakah ini adalah jalan yang di berikan tuhan sama gue? supaya gue bisa bikin Farrel bahagia sama Laras.
Tapi, gue gak mau bikin ibu sedih, dan ninggalin ibu sendirian. Karna sejak kematian ayah, gue sama ibu tinggal berdua, ibu bekerja keras untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari kita, dan supaya gue bisa sekolah. Tapi, gue juga gak mau ngeliat orang yang gue cintai merasa sedih, intinya gue gak mau liat salah satu dari dua orang yang paling berharga bagi gue sedih.
" Tuhan apa yang harus gue lakuin? Gue bingung, gue gak tau harus milih yang mana? Gue gak mau liat Farrel sedih, gue juga gak mau ninggalin ibu. Apa yang harus gue lakuin tuhan? " Batin gue bertanya-tanya.
Lalu tiba-tiba ada mobil yang gak terkendali menuju arah gue, mobil itu nabrak gue hingga gue terpental dan jatuh dengan keras ke bawah. Sakit, itulah yang gue rasain saat ini, tapi selain itu, gue juga ngerasa kalo seluruh badan gue mati rasa. " Apakah ini akhir gue " itulah yang gue pikirin saat ini.
Tiba-tiba datang seseorang yang nolongin gue dia bawa gue ke rumah sakit, di sana gue ngeliat ibu yang sedang nangis gue berusaha ngomong ke ibu kalo gue baik-baik saja. " I...ibu A..aku ba..ik- baik sa..ja, ja..di i..bu ja..ngan nangis ka..kalo enggak, Rachel bakal sedih ". Lalu gue dengan susah payah nanya ke ibu di mana Farrel, ibu bilang Laras udah sadar, dan Farrel ada di sana buat nemenin Laras. Gue yang denger itu bener-bener sedih, nyatanya saat gue lagi sekarat dia bahkan gak nemenin gue apalagi peduliin gue. Setelah itu gue di bawa masuk ke dalam ruang operasi, di dalam ruang operasi gue nitipin sesuatu ke dokter.
Beberapa menit kemudian, dokter keluar dari ruang operasi, dia mengatakan kalau Rachel tak bisa di selamatkan dia sudah meninggal.
Sang ibu yang mendengar kabar itu langsung terjatuh pingsan, dia tak sadarkan diri karna tak bisa menerima kenyataan, bahwa putri satu-satunya telah pergi meninggalkannya, putrinya telah menyusul al marhum sang suami.
Setelah sang ibu sadar dia ingin pergi melihat jenazah putrinya, untuk terakhir kalinya. Tapi, ada seseorang yang melarangnya, dia harus beristirahat terlebih dahulu, karna baru bangun dari pingsannya. Dia adalah ayahnya Farrel, ayahnya Farrel sangat dekat dengan keluarga Rachel, dia sudah menganggap Rachel seperti putrinya sendiri. Dia tau dulu saat masih kecil putranya Farrel menyukai Rachel, dan dia mendukung itu.
Tapi, dia tidak pernah menyangka bahwa Farrel ternyata sudah tak menyukai Rachel lagi. Yang lebih tidak dia sangka adalah, Farrel bahkan tidak melihat Rachel untuk terakhir kalinya. Dia malah lebih memilih menemani Laras yang baru sadar dari koma nya, di bandingkan Rachel yang merupakan sahabat masa kecilnya. Setelah itu dokter datang ke ruangan ibu nya Rachel, dan memeriksa kondisinya.
Setelah memeriksa, dokter memberikan sepucuk surat, dan mengatakan bahwa surat itu dari putrinya, dan meminta tolong kepada dokter untuk memberikan surat itu pada ibunya. Kemudian sang ibu membuka surat itu dan membaca isi nya dia menangis tersedu-sedu, saat membaca isi surat itu. Di dalam surat itu bahkan di katakan bahwa Rachel ingin mendonorkan hatinya untuk Laras, dia tak ingin Farrel terus menerus sedih karna Laras yang tak kunjung menemukan pendonor hati yang cocok.
Ayah nya Farrel yang ikut membaca surat itu merasa sangat sedih, bahkan setelah Rachel meninggal pun dia tetap tak ingin melihat Farrel bersedih dengan keadaan Laras. Setelah itu dokter melakukan operasi pada Laras, sebelumnya dokter mengatakan bahwa ada pendonor yang cocok, yang ingin mendonorkan hatinya untuk Laras. Ayahnya Laras yang mendengar itu sangat senang, begitu juga dengan Farrel dan Laras.
Setelah operasi selesai Laras di nyatakan selamat, dan dia sudah tak sakit lagi. Tapi, dia masih dalam tahap pemulihan. Di sisi lain pemakaman Rachel di laksanakan, di sana sang ibu menangis tersedu-sedu di atas kuburan putri yang sangat di sayanginya itu, orang-orang telah pergi dari sana.
Tiba-tiba seseorang datang ke pemakaman, dia adalah Farrel, dia datang ke sana setelah mengetahui kabar kematian sahabatnya Rachel. Kemudian dia menaruh bunga camelia di atas makam Rachel, dan mulai berbicara pada makam Rachel. " Hel gue gak nyangka lo bakal ninggalin gue secepet itu, bukannya lo bilang lo akan nemenin gue, dan terus jadi sahabat gue sampai kapanpun. Bahkan lo bilang kita akan tetap bersama menjadi sahabat sampai tua " . Ucap Farrel dengan mengungkapkan semua yang ingin dia katakan pada makam Rachel.
Lalu datang ibu nya Rachel, dia memberikan sepucuk surat pada Farrel. " Itu adalah surat dari Rachel " ucap sang ibu. Kemudian dia berbicara di depan makam Rachel " Sayang apakah kau bahagia di sana, ibu sangat merindukanmu walaupun kau baru saja pergi tapi, itu tak bisa menghilangkan rasa rindu ibu pada mu. Ibu harap kau cepat-cepat bertemu dengan ayahmu, dan kalian bisa bahagia di sana walau tanpaku ". Kemudian ibunya Rachel berdoa untuk kebahagiaan putrinya di sana. Setelah berdoa sang ibu pergi dari sana.
Kembali ke Farrel, setelah ibunya Rachel pergi, dia mulai membuka surat itu dan membaca isi nya. Dia sangat terkejut melihat apa yang di tulis di sana, dia tak menyangka bahwa Rachel ternyata selama ini mencintainya, bahkan Rachel telah banyak sekali berkorban untuk dirinya, dan demi kebahagiaannya dia mengorbankan nyawanya sendiri. Farrel di situ menangis, dia benar-benar menyesal, karena selama ini dia tak pernah memperhatikan Rachel lagi. Dan dia terlalu terpokus pada Laras, hanya karna Laras memiliki penyakit mematikan.
THE END
Amanat :
Jangan terlalu terpokus pada satu orang, karna tanpa kita ketahui ada seseorang yang jauh lebih peduli pada diri kita sendiri.
Hargailah seseorang yang selalu ada untuk kita, karna tak selamanya orang itu akan selalu ada di samping kita.
Dimana ada pertemuan, pasti ada perpisahan. Hanya saja kita yang harus lebih peduli terhadap orang Yang ada di sekitar kita, selama mereka masih bersama kita.
Penyesalan memang selalu datang di akhir. Jadi kita harus berusaha semaksimal mungkin, agar tidak menyebabkan penyesalan untuk diri kita sendiri di akhir nantinya.