Cleeek!
Perlahan pintu terbuka di mana Clara Cintya tengah memakai baju seragam sekolah tidak lupa dengan kaca mata bola besarnya. Clara Cintya berusia 18 Tahun ia di juluki sebagai Siswi teladan di sekolahnya. Namun, ia tidak punya teman satu pun di kelasnya karena banyak yang menganggap Clara wanita aneh dia selalu diam sendiri di kelas sambil membaca buku kesayangannya.
Semenjak sang papah pergi meninggal dunia akibat penyakit yang di deritanya kini kehidupan Clara dan sang mamah dingin seperti es walaupun sang mamah selalu menghibur Clara.
“Sayang, kau sudah bangun mamah sudah menyiapkan sarapan pagi untukmu,” ucap Stela sang mamah yang sangat menyayangi putrinya.
Clara hanya tersenyum kecil lalu berjalan ke arah meja makan untuk sarapan, di usianya yang terbilang cukup muda. Clara sangat senang karena walaupun sang papah meninggal harta kekayaannya masih berjalan lancar karena sang mamah yang melanjutkan perusahaannya.
“Roti bakar untukmu sayang kau pasti menyukainya,” tutur Stela.
Lagi-lagi Clara hanya tersenyum sambil fokus sarapan tanpa menoleh atau pun berterima kasih kepada orang tuanya.
Kekecewaan itu mulai terjadi kepada Clara saat ia mengetahui bahwa Stela sang mamah punya seorang kekasih. Ia masih kesal dan sedih karena baru empat bulan papahnya meninggal dunia sang mamah sudah menggandeng pria lain.
“Clara! Jaga dirimu sayang,” ucap Stela.
Clara hanya mengangguk ia langsung pergi meninggalkan rumah mengingat hari ini ujian akhir karena sebentar lagi Clara lulus sekolah.
Clara di kenal sebagai siswi cerdas dia juga selaly sopan santun kepada yang lebih tua darinya. Akan tetapi Clara tidak punya teman dia juga duduk seorang diri menurut temannya Clara orang yang sangat aneh dia tidak bisa asyik di ajak becanda.
Tetesan air mata mulai mengalir dari kedua pelupuk mata indahnya, Clara menghapus kembali air mata yang sudah mengalir deras. Ia juga langsung membuka kaca mata andalannya bukan karena mint akan tetapi Clara merasa dirinya harus menghindar dari orang sekitar dengan memakai kaca mata dirinya tidak ada yang mengenalnya. Karena di luar sekolah Clara membuka kaca mata andalannya sebagai penyamar.
“Mamah kau sangat jahat padahal kau sudah berjanji kepada papah bahwa kamu tidak akan meninggalkan cintanya. Apa daya kau memang wanita dusta kau akan menikah dengan pria lain,” gumam Clara mengeratkan kepalan tangannya.
Beberapa hari kemudian Clara berada di sebuah taman ia duduk diam sambil memeluk buku kesayangannya di mana Clara selalu mencatat curahan hatinya.
“Sayang, kau pasti bisa meluluhkan hati dan perasaan anakmu,” ucap Erwin di mana pria itu tengah berada di sebuah restaurant bersala Stela.
Stela hanya bisa mengangguk sambil menghela napas panjang ia belum siap mengatakan apa yang terjadi kepada putrinya di mana Stela telah melakukan kesalahan besar.
“Kau bantu aku untuk meyakinkan dia, setelah Sony pergi dari dunia ini kehidupan anak itu berubah karena saya tahu dia sangat mencintai papahnya. Tidak mudah untuk Clara menerima orang baru sepertimu tapi aku sangat mencintaimu,” ucapnya sambil menangis menggengam tangan sang kekasih.
Hal tidak terduga ternyata Stela ada di sana sambil tersenyum getir menatap ke arah orang tuanya. Awalnya Stela hanya ingin nongkrong sambil mengerjakan tugas akan tetapi ia melihat pemandangan tidak biasa yaitu Stela dengan Erwin.
Clara segera pergi meninggalkan tempat tersebut membawa amarah yang membawa pada dirinya hingga ia memutuskan untuk mengirim pesan kecil kepada sang mamah.
“Dia mengkhianatiku, mamah sudah berjanji kepada papah bahwa dia tidak akan menikah lagi tapi apa kau mengkhianati kita berdua,” batin Clara sambil duduk diam menatap ke arah lain.
Akhirnya Clara tiba di depan rumahnya ia tidak mau bertemu lagi dengan sang mamah dan Clara pun memutuskan untuk pergi dari rumah.
Satu koper dan satu telah siap Clara bawa ia bergegas pergi tanpa memberitahu yang lain. Sampai kapan pun Clara tidak akan menyetujui pernikahan mereka berdua karena Clara tahu hubungan mereka sebelum papahnya meninggal dunia.
Akhirnya Clara pergi ke rumah sang nenek untuk menenangkan pikirannya ia sangat senang keluarga papahnya menerima dengan baik kehadirannya dan Clara pun akan tinggal di sana.
Pagi telah tiba Stela sibuk mencari putrinya di mana ia mendapat kabar bahwa Clara berada di rumah orang tua suaminya ia bergegas untuk menemui putrinya dan menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi.
Hari minggu di mana Clara tengah duduk dengan santai menatap langit-langit yang cerah berada di halamannya.
“Clara!” ucap salah seorang pria yang dari arah belakang sambil tersenyum.
Clara memincingkan kedua mata sambil menoleh lalu tersenyum ke arahnya. Rupanya Rubby datang menjenguk Clar di mana pria itu pernah Clara sukai akan tetapi Rubby sudah menikah dan mempunyai seorang anak. Cinta bertepuk sebelah tangan, Clara tahu mencintai pria yang lebih dewasa darinya tidaklah mudah ia harus menerima kenyataan pahit di mana sang pria menikah dengan wanita lain.
“Apa kabarmu?” tanya Rubby.
“Aku baik, kak! Bagaimana kabar kakak dan kak Arra?” tanya Clara.
Rubby duduk sambil menatap ke arahnya kemudian ia menghela napas lalu menundukan kepalanya ke bawah.
“Kenapa kau ada di sini?” tanya balik Rubby.
“Kau belum menjawab pertanyaanku, kak?” tanya Clara menatap.
“Arra, dia sudah meninggal dunia saat melahirkan putri pertama kami,” jawab Rubby.
Belum sempat menjawab kembali Clara menerima telephone dari sang nenek di mana mereka tengah menangis histeris membuat Clara kaget.
“Clara, kamu segera ke rumah sakit mamah mu mengalami kecelakaan saat akan menemui kamu,” lirih sang nenek dalam sambungan telephone.
Duaar!
Clara terdiam bulir air mata mulai mengalir dari pelupuk mata indahnya. Tangannya bergetar membuat Rubby yang ada di sampingnya terdiam lalu merangkul Clara yang menangis atas penyesalannya.
“Mamah.”
Clara sampai di rumah sakit bersama dengan Rubby, Clara datang membawa hati yang resah gelisah ia tidak tahu apakah mamahnya selamat atau tidak.
Sebuah kabar buruk menghantui pikiran Clara ia harus menerima kenyataan pahit bahwa sang mamah Stela meninggal dunia bersama dengan anak bayi yang ada dalam kandungannya membuat semua keluarga besar mereka kaget.
Clara menangis saat orang tuanya di kuburkan, Rubby berusaha untuk menguatkan Clara di mana ia juga merasakan perihnya di tinggal oleh orang yang ia sayangi.
Satu minggu kemudian.
Clara tengah tersenyum getir walaupun sedih karena di tinggal kedua orang tuanya ia juga sedih karena sang mamah telah hamil oleh pria lain akan tetapi Clara berusaha untuk memaafkannya.
“Kakak,” ucap seorang anak kecil di mana Clara langsung menoleh ke arah belakang.
Kebetulan rumah Rubby dan neneknya bersebelahan hingga mereka kerap bertemu.
“Hai, anak cantik siapa nama kamu?” tanya Clara berjongkok lalu mengusap wajah cantil Aulia.
“Clara, dia anakku perkenalkan dia adalah Aulia,” ucap Rubby sambil tersenyum menatap Clara dan Aulia.
Deg!
Pria itu tampak gagah sekali dia sangat tampan dengan memakai pakaian formal menatap tersenyum ke arahnya.
“Kak, Rubby.”
Naura Shafa Mahbubah 19 November 2022