2 Oktober, 2022
Langit gelap menghiasi ruang nyaman ku. Diam ku termenung menduduki kursi belajar diselimuti udara dingin. Bau embun tak tercium, hanya wangi mu yang tercium walau kau tak disini. Awan mendung mewakilkan hatiku yang teringat angan mu. Kurasa Aku trauma Oktober, bulan dimana mereka pergi tanpa pamit.
28 September, 2022
Terbit matahari kulihat dalam perjalanan ku menuju rumah Zilaira. Di depan rumahnya ku serukan panggilan favorite-ku, Ara. Setelah beberapa menit pintu terbuka disambut Ara yang berdiri terlihat sepantar dari sini. Ku hampiri sampai ia harus mendongak untuk melihat parasku Tercium wangi parfum khas nya dengan aroma buah buahan segar diiringi wangi manis lolipop, parfum yang menggambarkan dirinya.
"Mau roti" Ucap ku cengengesan. Aku lebih pilih sarapan bersama Ara dan keluarganya daripada harus sarapan di dinginnya suasana rumahku
"Makan, makan.. Ini Aku buatin nasi goreng" Ucap Neo, kakak Ara dengan mulut yang penuh nasi sambil mengayunkan tangannya menyuruhku untuk duduk. Aku menunduk sopan menerima sambutan tersebut. Pertanyaan ku, entah mengapa Ara selalu tersenyum masam jika Neo bersikap ramah seperti itu. Terlaluinya sarapan dengan candaan ringan, Aku dan Ara pamitan pergi menempuh perjalanan menuju sekolah. Kami berbagi earphone, Ara memilih lagu 'Listen before I go-Billie Eilish' untuk mengiringi perjalanan kami hari ini.. Sambil menunggu jam pelajaran dimulai, ku dengar ocehan Ara tentang fakta-fakta menarik seperti biasanya,
"Kamu tahu jembatan biru yang dekat taman, kan? Itu ternyata tinggi banget, lebih dari 2 meter, loh.. " Topik nya kali ini. Keakraban kami menimbulkan pikiran 'lebih dari teman' pada orang lain, jujur, kuharap itu benar. Tak hanya Aku, kurasa Ara juga menyimpan rahasia. Aku lihat Ara mempunyai buku bercorak abstrak biru langit la selalu menutupnya rapat bila Aku datang walau ia sedang asik menuliskan sesuatu di dalamnya. Dari setiap ocehannya, tak pernah sekalipun terselip info tentang buku ini. Delapan jam kami langkahi, tak terasa bel pulang sudah berdering.
"Gerald, pulangnya ke taman, yuu" Ucap Ara, -imut.
"Ayo, Kebetulan lagi kangen eskrim matcha" Aku menggendong tas setengah bahu. Taman adalah tempat bersantai kami, hampir setiap hari kami menghabiskan waktu disana. Untuk apa? Entahlah. Hanya menikmati pemandangan lalu lalang orang, menikmati eskrim, mendengar musik dan ocehan Ara pastinya. Di tengah nikmat dunia saat itu, Aku teringat buku Ara. Lantas ku tanya,
"Ra, kamu punya buku abstrak biru langit?" Sebenarnya Aku sudah sering menanyakan ini, tapi Ara selalu mengalihkan topik, sama seperti sekarang. Rasa penasaran ku didukung rasa khawatir yang lumayan besar.
"Zilaira, jawab!" Tegas ku.
"Eh.. l-iya, Aku punya" Ara salah tingkah. Ia menggaruk kepalanya yang tidak gatal
"Boleh Aku lihat?" Aku menatap matanya dalam. Ara menatap balik, kulihat ada ketakutan disana. Wajar jika Aku semakin khawatir, bukan?
"Eum... Eh, udah sore. Aku pulang duluan, yaa" la berjalan terbirit birit. Jarang sekali la meninggalkanku seperti itu. Aku yakin Ara telah mematahkan janji ‘Tiada rahasia' nya dengan buku bercorak tak beraturan itu.
Esok Pagi, matahari menyambutku duluan sebelum ku panggil Ara seperti biasa. Yang berbeda, kali ini Ara tak menyambutku,
"Ara tadi duluan, kok" Ucap Neo. Jarang sekali ia begini, Ara marah? Ku perlambat waktu dengan lari ku, berharap bisa mengejar Ara yang mungkin masih di jalan. Dengan napas yang tersenggal senggal, tatapanku langsung tertuju pada bangku Ara dari ambang pintu kelas. Apa ini? Mengapa bangku nya kosong? Apa Aku melewatkan nya di jalan? Tidak mungkin. Ku coba tunggu hingga goresan spidol terakhir pada papan tulis. Namun, ajaibnya Ara tak kunjung datang menunduk minta maaf atas keterlambatan nya. Langsung ku berlari ke taman setelah berkumandang nya bel pulang dengan harapan dapat melihat Ara duduk dengan eskrim stroberi di genggamannya.
"Ara! Ra!" Ku seru kan namanya lantang. Aku tak peduli orang orang menatapku sinis. Ara tak kunjung muncul, Aku memutuskan untuk pulang dan mencarinya lagi esok karena hari mulai gelap. Hari kedua, rumahnya kosong tak ada yang menyambutku pagi itu selain sang surya. Hari ketiga, hanya ada Neo yang menyalakan motor lalu berangkat tak menghiraukan ku. Tuhan, dimana Zilaira? Kembalilah Ara, Aku khawatir berat, nilai ku menurun, hatiku gelisah, tubuhku kesepian. Hari keempat ini Oktober menyambut dunia, bulan dimana ibu dipeluk Tuhan. Kakiku lesu melangkah memasuki kelas, Bangku kosong itu membuat Ara dapat 4 Alfa. Rute perjalanan pulang lewat rumah Ara merubah mimik lesu ku menjadi terkejut,
"Loh? Buku ini.... " Ku terpatung membeku disana memenungi Buku Abstrak biru langit milik Ara tergeletak sendu di jalan depan rumahnya. Terlihat kusam, harum parfum Ara menempel dibuku itu. Segera ku ambil sebelum berbagai kendaraan menggilas buku malang ini. Ku buka halaman pertama, ada perkenalan tentang dirinya, keluarganya, lalu Aku. Kubaca kata per kata, kalimat per kalimat. Diakhir tentang perkenalan ku, terpampang kalimat,
"Aku menyukai lelaki ini. Aku takut ia pergi jika ku nyatakan perasaan ini" Loh, Kita memiliki perasaan yang sama? Tunggu, Aku baca dulu halaman berikutnya. Keluh kesah kecil mulai mengiringi seperti beratnya tugas, kerja kelompok, guru yang banyak bicara, Ayah... Mengapa ada keluh kesah berjudul Ayah disini? Kakak? Kakak nya yang ramah itu ikut tercantum disini sebagai keluh kesah? Tak banyak diam, Aku coba cerna bahasa - bahasa ini.
"Pening kepala ini disebabkan bau alkohol yang dibawa kakak, menyengat. la jalan terhuyung sembari menghampiri ku. Mengapa ia menyentak ku tanpa sebab? Tamparannya terasa perih membekas" Tulisnya.
"Ini... Tidak mungkin.. Neo seseorang pecandu...?" Kejutan, ini benar benar kejutan. Bagian Ayah menjadi semakin menarik untuk ku baca.
"Aku lelah, luka ini tak hanya sakit di fisik namun batinku juga ikut berdarah. Apa harus Ayah menamparku hanya karena gelas tumpah? Air mendidih ini panas, Ayah.. Kenapa harus Aku yang kau siram?" Tulisnya.
“Gak, ini gak masuk akal.. Kenapa Ayah menyiksa Ara? Mengapa Ara tak memberi tahu ku sejak awal?" Rasa khawatir ku membeludak. lalu Aku tiba di halaman terakhir, ada panjangnya tulisan tanpa judul.
"Gerald, maaf.. Aku menyerah dengan cepat, Terima kasih telah menjadi pendengar terbaik, pemberi saran terbaik, tempat pulang terbaik. Terima kasih sudah melindungiku.. sayang sekali kini kamu harus sarapan sendiri dirumah mu yang dingin, mendengarkan musik sendiri di jalan, menikmati eskrim matcha dan indah nya taman sendiri, ocehan ku tak akan kau dengar lagi. Aku lelah, Aku tak sanggup lagi bertahan. Tolong jangan lupakan Aku, kenangan terindah ku adalah ketika bersamamu. Dingin sikapmu terasa hangat untukku. Gerald, Aku menyayangimu.. Sampai jumpa di lain semesta"
Tidak.. Jangan. Ternyata lagu terakhir yang kita dengar di jalan bukan sembarang lagu. Ocehan terakhir nya dikelas juga bukan sekedar ocehan. Sekarang Aku paham kenapa Ara tersenyum masam pada Neo. Ku balik badan berlari pada jembatan biru setinggi 2 meter lebih. Aku tahu Aku belum terlambat, ku mohon. Tuhan, Ara pantas diselamatkan. Di ujung jembatan, mataku melolong menyaksikan Ara yang sudah berdiri di samping jembatan merentangkan tangannya. Rambutnya yang terurai terbawa angin, isak tangisnya terdengar sampai sini.
"ARA!" la sempat menatapku, Aku berlari secepat kilat berusaha menghentikannya. Senyum terakhir dengan mata sembap terpajang diwajahnya sebelum melayang terjatuh di udara. Air sungai menelan tubuhnya, mengapa lari ku lamban? Setidaknya Aku ingin memberikan kata- kata terakhir untuknya juga.
"ZILAIRA!!" Ku jatuh berlutut lemas tak menyangka. Air mataku mulai mengalir sederas air sungai yang menelan Ara, Ku teriakkan beberapa kali nama Ara. Ku genggam buku abstrak biru langitnya dengan erat. Terakhir ku merasa sesakit ini ketika ibu pergi, Ara sama berharga nya seperti ibu. Tuhan telah mengambil 2 orang paling berharga dalam hidupku di bulan Oktober.
3 Oktober, 2022
Ku perlihatkan buku abstrak biru langit kepada Ayah Ara dan Neo. Sesal terlihat dari muka mereka, air matanya membasahi buku itu. Neo mulai rehab sejak saat itu, Ayah Ara selalu melayat dan minta maaf didepan makam Ara. Aku Izin menyimpan buku dan parfum Ara bersamaku.
Kini, Aku menikmati eskrim di trotoar jembatan biru dekat taman. Mendengar lagu favorite Ara disana, Ku sebarkan parfum Ara disebelahku. Doa terbaik untuk Ara dan Ibu ku panjatkan disini. Langkahku ternaungi angan tentang dirimu, Diam ku mengingat kenangan kita. Jatuh-bangun kita bersama, namun sekarang kita terjatuh dan Aku bangun sendiri. Ara, Aku izin meneruskan buku abstrak biru langitmu dengan keluh kesah ku. Dengan ini, kurasakan hadirmu disisiku walau kau takan pernah hadir lagi.