Entah mengapa akhir-akhir ini sang dewi langit selalu menangis membasahi bumi. Jalan-jalan penuh lubang selalu terisi dengan air yang tergenang. Aliran air selalu mengikuti arahku dalam berjalan kesana kemari. Dengan mantel pemberian ibuku ini aku bermain dengan senangnya menikmati hujan yang deras tanpa adanya petir yang mengganggu.
"Bosan juga kalau hanya berlari-lari kecil saja, lebih baik aku membuat perahu kertas ah," Ucapku pada diriku sendiri.
Aku pun pulang ke rumah sejenak untuk mengambil sebungkus kertas origami dan sebuah pulpen ditangku. Aku mulai melipat satu demi satu kertas tersebut dan menamai kapal-kapal yang sudah kubuat. Dengan sangat teliti aku mencari sebuah aliran air yang lumayan deras untuk memainkan kapal ini. Mulailah aku berlari dan mengejar kapal-kapal yang telah kulepaskan ke aliran air ini. Sangat menyenangkan bermain seperti ini, aku merasa seluruh beban dalam pikiranku hilang sepenuhnya. Walaupun aku tahu bahwa aku akan dimarahi Ibuku saat ia pulang nanti.
Diujung aliran air ini ternyata ada sebuah kapal. Sebuah kapal yang persis seperti kapalku. Saat ku melihat orang yang mengejar kapal tersebut, aku hanya bisa diam terpaku. Mata merahnya tidak tahu mengapa sangat menghipnotis diriku. Dia berlari dengan riangnya tanpa memperdulikan sekitarnya bahkan keselamatannya. Aku pun menghampirinya dengan penuh rasa semangat.
"Hai sepertinya aku tidak pernah melihatmu disini. Kamu baru pindah kesini ya," Tanyaku dengan rasa penasaran yang memuncak.
"Iya aku baru pindah kesini kemarin malam, ngomong-ngomong siapa namamu? Barangkali kita akan menjadi teman akrab di hari nanti."
"Namaku Reva Iris panggil saja aku Reva."
"Namaku Damian Harendra kau bisa memanggilku Damian maupun Indra. Senang berkenalan denganmu," Damian tersenyum tetapi bukan senyum kebahagiaan. Sebuah senyuman yang menggambarkan kesedihan yang mendalam.
Pertemuan pertama kami dimulai dengan sebuah kisah pendek yang tak bermakna. Bermain bersama dengan sebuah kapal kertas yang tak berdaya tenggelam ditelan air yang perkasa. Penuh dengan kebahagiaan walaupun diisi dengan kegiatan yang tak berguna. Hujan pun reda dan akhirnya kami berdua kembali ke rumah masing masing.
Di depan pintu rumahku, ibuku dengan kekhawatiran dan amarahnya yang memuncak sedang menunggu kedatanganku. Walaupun di dalam hati aku sudah siap menanggung kemarahan dari ibu. Nyatanya tidak, Ibu malah menangis dan memelukku sembari memeriksa sekujur tubuhku.
"Darimana saja kamu Reva Ibu sangat khawatir karena tidak melihatmu daritadi. Ibu juga sudah bertanya kepada Fio dan teman-temanmu yang lainnya tetapi tidak ada yang menemukanmu. Untung saja kamu masih bisa kembali ke rumah nak," Tangis Ibuku pecah karena kekhawatiran dia terhadap diriku.
Selama ini aku tidak menyadari kasih sayang Ibuku satu-satunya. Aku hanya berpikir bahwa ibuku tidak mempedulikan kehidupanku karena terus menerus membandingkan aku dengan anak lainnya, juga ibu selalu menuntut aku untuk mendapat nilai yang sempurna di tiap pelajaran. Walaupun ujung-ujungnya saat suasana sudah tenang ibu kembali memarahiku dan menasehatiku selama berjam-jam. Tetapi sekarang aku yakin itu merupakan cara Ibuku untuk menunjukkan kasih sayangnya kepadaku.
"Mengerti kamu Reva? Bila ingin pergi kemana-mana setidaknya kabari dulu ibumu ini. Lalu mengapa kamu tersenyum seperti itu?"
"Tidak apa apa bu, Reva ingin kembali ke kamar dulu ya," Balas Reva sembari berlari ke kamarnya dengan penuh senyuman.
"Kira-kira besok akan hujan tidak ya. Lebih baik aku tidur agak maleman saja lagian besok hari libur," Rasa penasaran akan datangnya hujan selalu menghantuiku bahkan sampai kedalam mimpiku.
Ayam sudah berkokok sedari tadi tetapi mentari masih tetap saja belum menunjukkan sosoknya. Hanya ada tetesan-tetesan air hujan yang mulai secara perlahan mulai membasahi bumi Ibu Pertiwi. Perlahan kubuka pandanganku dan udara dingin menyambut kedatanganku di dunia pada hari ini.
"Wah dingin sekali siang ini, padahal sudah pukul 11.00 WIB tetapi udara tetap seperti saat masih subuh-subuh. Sepertinya Ibu juga membuka jendela dan pintu rumah," Walaupun awalnya aku ingin kembali ke kasur dan tidur diselimuti kain tebal. Tetapi aku ingin tetap produktif pada hari ini dan segera melawan masa malasku.
Aku berlari ke kamar mandi dan langsung membersihkan diri. Hari ini hujan tidak pernah berhenti menjatuhkan dirinya dari langit. Membuat kota ini menjadi kota bersuhu paling rendah di negara seribu pulau ini. Niat awalnya aku ingin bermain hujan-hujanan sekali lagi tetapi petir menemani hujan pada kali ini.
"Ibu kira-kira kapan hujan kali ini akan berhenti ya. Aku sudah bosan menunggu dirumah dan ingin bermain keluar," Tanyaku kepada Ibuku yang sedang bersantai di ruang tamu.
"Tidak tahu nak, sudah 4 jam semenjak hujan deras ini dimulai. Petirnya juga sudah dari tadi menyambar tak henti-hentinya. Ibu khawatir akan terjadi banyak longsor di kota ini,"
"Lama juga ya bu sudah 4 jam tetapi hujan tidak kunjung reda."
Aku berharap bahwa hujan ini akan segera berhenti. Aku sudah sangat bosan, bahkan aku merasa kebosanan ini bisa membunuhku. Tunggu sebentar sepertinya aku mengingat satu mainan favoritku dulu. Aku pun berlari menuju gudang keluargaku dan mulai mengelilingi ruangan tersebut.
"Wah ternyata disini banyak sekali barang masa kecilku. Bahkan foto foto lama pun ada di dalam sini," Ucapku pada diriku sendiri
Foto fotoku bersama nenekku yang telah lama wafat pun berserakan di gudang ini. Saat aku melihat sebuah foto, aku terdiam. Muka dalam foto tersebut sangat mirip dengan seseorang yang baru saja kutemui. Damian Harendra, muka dalam foto tersebut sangat mirip dengannya. Dalam foto tersebut entah mengapa aku terlihat sangat kesal saat melihat Damian yang mendapat prestasi ranking di kelas.
"Kepalaku sakit sekali apa ini dikarenakan aku lupa meminum obat ku tadi pagi karena kebablasan tidur sampai siang," Walaupun begitu aku masih tak bisa melupakan foto tersebut. Setiap saat aku mengingatnya, aku merasa kepalaku akan pecah. Kubawa foto tersebut dan kutunjukkan kepada ibuku.
"Ibu laki-laki di sebelahku dalam foto ini siapa? Aku tak dapat mengingatnya sama sekali. Setiap saat mengingatnya aku merasa kepalaku seperti ditusuk puluhan jarum," Tanyaku kepada Ibuku.
Dengan cepat ibu mengambil foto tersebut dan menyembunyikannya. Dia hanya tersenyum pilu dan berkata
"Nak belum saatnya kamu mengetahui siapa orang itu dan kapan foto ini diambil. Yang jelas waktu akan menjawab semuanya. Otakmu saat ini belum mampu menanggung beban sebesar ini," Dengan tangannya yang hangat ibu mulai mengelus kepalaku.
"Baiklah bu aku mengerti," Dengan menelan perasaan kecewa aku kembali ke kamarku.
Dewi langit seperti merasakan perasaan yang sama denganku. Sedih tanpa alasan yang jelas, dan air mataku mulai mengalir dengan derasnya. Untuk saat ini aku tak berharap mengetahui segalanya. Aku hanya berharap langit segera meredakan kesedihannya agar tanah tercintaku ini tak kehilangan penghuninya.