Semua orang memiliki caranya sendiri dalam mengadukan pengakuan hatinya. begitu juga dengan diriku, ini wakilku dari mulut yang tak dapat berucap dan hati yang tak dapat terdengar. entahlah orang akan berpikir seperti apa? aku tak terlalu peduli bahkan lebih ke masa bodoh, mungkin akan ada siratan bahwa aku adalah orang yang hanya memikirkan dirinya sendiri.
Inilah caraku menyampaikan wakilku. menorehkan tinta hitam dalam patahan ranting membelah kesatuan kesucian buku. dengannya aku bergelut dialog dalam pena kendali mulut yang bisu dan hati yang bernyanyi menumpahkan setiap bait pengakuan nya.
Seperti seorang wanita tanggung dewasa telah tau hatinya menginginkan kasih dari sosok lain seperti ayahnya. siapa sangka, rahasia yang hanya untuk hatinya telah diumumkan rakyat bucin. yang telah tau dewasa ini tak mungkin, tak ada yang bertahta mengukir nama di hatinya.
Dia buatkan surat pengakuan atas hati dan dunianya. kata yang menyanjung memuja sosok itu, kalimat berhiaskan kasih, dengan puisi bermahkota kan Cinta.
Sayang,,, kertas yang membawa wakilnya itu tak pernah tersampaikan pada tangan pemilik tubuh yang dipujanya, pada pemilik nama di hatinya. nyatanya ia memilih diam membutakan mata, membisukan mulut, menulikan telinga, menanamkan ikhlas dalam hati, dengan hitamnya pena merenggut sucinya sang buku.