Ipang jatuh cinta !
Begitulah pengakuan yang diberikan oleh makhluk antik nan nyentrik itu, setelah anak-anak Geng Bento ( Mungkin terinspirasi dari judul lagu Iwan Fals ) yang lain mengintrogasinya habis-habisan. Soalnya, selama ini Bobi, Tarik, Egi dan Bintang dibikin heran oleh kelakuan Ipang yang rada-rada aneh. Tu anak berubah seratus delapan puluh derajat! Dari ujung rambut sampe ujung kaki mengalami perombakan yang masif,terstruktur dan terpadu.
Cara ngomongnya udah beda menjadi saya. Rambutnya yang biasanya awut awutan, sekarang rapi ada belah tengahnya mirip penyanyi Jungkook BTS. Bulu hidungnya yang dulu-dulunya nggak pernah terkontrol (sehingga sering menjulur), sekarang udah nggak keliatan lagi. Kalo dulu dia suka pake seragam dengan dua kancing atas terbuka (sehingga panunya menampakkan diri), sekarang malah terbalik. Tu anak mengancingkan seragamnya sampe kancing teratas, hingga lehernya yang kayak batang pisang itu seperti kecekek, mirip dokter bedah mau melakukan operasi!
Sepatu juga mengalami perubahan. Tadinya kets, sekarang Ipang gandrung banget make sepatu item, mengkilap, kayak orang mau pergi ke kantor.
"Saya betul-betul sedang jatuh cinta," Ipang mengulangi lagi pengakuannya, sementara rekan-rekannya berdecak-decak antara kagum dan nggak percaya.
"Kamu sungguh-sungguh, Pang?" tanya Egi agak serius.
"Sungguh!" balas Ipang. "Masak sih kalian nggak melihat perubahan yang selama ini terjadi pada diri saya? Semuanya ini disebabkan oleh kekuatan cinta yang hadir menerjang hatiku bagaikan gelombang-gelombang ombak menghantam karang... Plok! Plok! Plok!
Anak-anak Geng Bento yang lain tepuk tangan.
"Demikianlah pembacaan puisi dari Saudara Ipang, peserta nomor bontot dari RT sembilan...!" cetus Tarik. Ipang cemberut. Masalahnya tadi dia ngomong serius, eh, malah dianggap lagi stand up.
"Memang, Pang," kali ini Bobi angkat bicara, "belakangan ini tingkahmu rada aneh. Berubah secara total-football ke tiki taka yang rapi. Saya dan rekan-rekan tim yang lain memantau terus perubahanmu. Kami mengambil kesimpulan, setelah mempelajari laporan-laporan yang masuk, bahwa Anda mengidap tanda-tanda kelainan jiwa.."
Hahahaha. Egi, Tarik, Bintang, ketawa bareng-bareng. Sementara Ipang cuma bisa geram mendengar olok-olok si Bobi barusan.
"Gue serius, nih! Kalo dicuekin, gue akan memutuskan hubungan diplomatik sama kamu-kamu semua!" ancam Ipang sambil menunjuk mereka satu persatu. Anak-anak sableng itu pun tenang kembali.
"Tolonglah saya, Rekan-rekan yang Manis," Ipang memulai lagi penuturan nya. "Saya sungguh tak kuasa melawan kekuatan cinta yang terbit membawa secercah sinar harapan dan suara pembaruan. Cewek itu hadir dalam mimpi-mimpi saya, bagaikan pelita dan kompas yang menuntun saya menemukan intisari hidup ini. Dia adalah idola saya, cantik seperti Jennie Black Pink. Karena dia, saya tak ingin menoleh lagi pada gadis dan nona yang lain. Meskipun dia sudah tidak punya ayahbunda, dia tetap tegar seperti Kartini dan Kartono. Penampilannya sangat feminim. O, Paduka Yang Mulia...kapankah Ananda dapat bobo dengan...."
"Husss! Husss! Stop!" potong Bobi, melihat Ipang mulai ngaco. "Biarin aja, Bob. Gilanya lagi kumat" bisik Bintang.
Dan memang, aksinya si Ipang nggak berhenti sampe di situ saja. Tu anak semakin terlena dengan perasaannya yang lagi menggebu-gebu. Dia bangkit dan berdiri dengan tangan berkacak pinggang di sebuah batu. "Ooo langit biru!" teriaknya seperti mahasiswa yang lagi demo menuntut turunnya harga BBM bersubsidi. "Ooo rumput hijau, ooo darah merah.... Dapatkah kalian melihat dadaku terbakar asmara?! Ooo...."
"Ooo gigi kuning!" potong Egi.
"Ooo ketiak item!" sambung Lantang. "Ooo... rang sarap...!" Tarik nggak ketinggalan ikut sebel.
Bobi cuma nyengir indah ngeliat temen-temennya pada kesurupan. Akhirnya mereka pada capek sendiri. Masing masing duduk, bengong, dan si Ipang amat sibuk dengan lamunannya.
"Ati-ati, Pang!" celetuk Egi. "Jatuh cinta memang enak. Tapi kalo nggak gol, sakitnya nggak ketulungan." "Siapa sih yang kamu taksir, Pang?" Kali ini Tarik mulai nanya dengan nada sungguh-sungguh.
"Yang penting bukan siapanya," potong Bobi. "Sebab cinta itu buta. Love is blind."
"Tapi beneran mahluk setengah astral kayak kamu tuh jatuh cinta," tanya Bintang
Kuping Ipang makin panas aja. Tuhan, beginikah nasib orang yang amburadul seperti saya? Saya jatuh cinta pun tak ada orang yang percaya! Bahkan, saya dianggap berolok-olok! O, nasib....
Hanya Bobi yang lebih peka, lebih memahami kalo Ipang memang serius lagi naksir seorang cewek. Bobi lebih dulu tau dari anak-anak Geng Bento yang lain. Mereka berdua memang lebih erat. Kayak Livy sama Nopek. Kalo nggak ada Livy misalnya, Nopek pun kesulitan untuk terkenal dan dapet duit. Begitu juga Ipang and Bobi. Kalo nggak ada Bobi, Ipang pun kesulitan... jajan di kantin! Hehehe.
Bukan cuma penampilan Ipang yang mula-mula menarik perhatian Bobi. Belakangan ini tu anak juga sering dateng ke rumah Bobi, minjem motor. Udah gitu, selalu minjem uang buat jajan. Nah, apa lagi, kalo bukan mau ngajak jalan seseorang pujaan? Begitulah. Sepulang sekolah siang ini, Ipang buka kartu. "Saya naksir cewek. Dia kerja di salon. Tapi sampe saat ini, detik ini, saya belum mampu memboncengnya di sepeda motor yang saya pinjem itu, Bob," ujar Ipang malu-maluin, eh malu-malu.
Bobi manggut-manggut. "Udah berapa kali kamu ke sana?"
"Sering juga, sih. Pertama kali waktu saya nganterin adik saya keriting rambut."
"Lho, adik kamu, si Lela, kan udah keriting? Kok dikeriting lagi?" "Tau tuh. Mungkin keritingnya kurang kompak."
Bobi garuk-garuk kepala."Terus?".
"Terus saya berkunjung lagi, nyukur rambut saya sendiri. Berikutnya, saya nyari temen-temen yang mau nyukur. Kalo ada, saya bawa ke situ. Jadi, kan saya bisa melihatnya? Kalo saja saya punya uang banyak kayak kamu, pasti saya suruh anak-anak sekelas supaya nyukur di sana....
"Gila!"
Ipang cuma nyengir gelisah. "Lantas, apa yang kamu harapkan dari saya yang lemah ini?" tanya Bobi.
"Tolonglah saya, Bob," kata Ipang memelas. "Caranya terserah kamu. Pokoknya, tu cewek mesti tau apa yang saya rasakan. Dan kalo nggak keberatan, ya membalas cinta saya gitu, ganti..
"Cinta?" Kening Bobi berkerut. "Jangan sembarangan ngomong cinta. Kalo kamu naksir sama seseorang, belum tentu berarti cinta. Bisa aja cuma sekedar suka, seneng, tertarik, kasihan, iba, simpati, atau....
"Lho, apa bedanya?" sergah Ipang. "Saya aja nggak tau. Itu kata Bunda saya.
Ipang termangu. "Terserah deh apa namanya. Yang jelas, saya ada hati sama itu makhluk mempesona. Namanya Delila. Dipanggilnya Lila. Tapi....'
Ipang nggak melanjutkan kata-katanya. "Tapi kenapa?" desak Bobi. Ipang menatap karibnya itu dengan sorot mata ragu. Akhirnya....
"Dia bisu, Bob," kata Ipang lemah. Sesaat Bobi tertegun.
Dan obrolan kedua makhluk itu pun sejenak terhenti.
"Terus-terang, saya bingung, Pang," ujar Bobi. "Gimana ya caranya ngasih tau kalo kamu seneng sama dia?"
"WA aja lah,"
"Belum dapet nomer WA nya trus bacanya nanti dia gimana?"
“What..! belum dapet ?”
Ipang cengengesan sambil garuk-garuk kepalanya yang tak gatal.
“Oke, sekarang kita pikirin gimana caranya dapet nomer WA nya dulu deh,” usul Bobi.
“Gimana kalo kamu kesana,Bob. Pura-pura mo cukur rambut ato kumis ato bulu idung kek,” Ipang memberikan ide.
“Kampret, gak sekalian bulu ketek,” Bobi menimpali.
“Heheheh…,” Ipang terkekeh.
"Tapi boleh juga idemu. Gimana kalo kesana sambil bawa sekeranjang bunga tanda cinta? Say it with flowers."Ipang langsung histeris dan menggeplak kepala Bobi.
"Betul, Bob! Cara yang amat tepat!" teriaknya. "Kamu kesana pura-pura cukur rambut sambil bawa bunga dan ada kartu yang tulisannya dengan tanda hati ya bukan tanda tengkorak,dan jangan lupa minta nomer WA nya”.
Bobi trenyuh juga melihat wajah Ipang yang amat bersungguh-sungguh. Dan rasa persahabatan yang tulus, membuatnya mengangguk memenuhi permintaan Ipang.
"Udah, jangan ngomong terus. Kayak orang stress. Sekarang kita pulang. Tun- jukkan tempatnya. Kita lewat aja, nggak usah mampir," kata Bobi sambil menyeret Ipang meninggalkan gerbang sekolah. Dia menunjukkan salon tempat Delila bekerja, salon itu milik Ibu Meinar.
Seminggu kemudian, suatu sore, Bobi menepati janjinya, melakukan pertolongan pertama pada penderita asmara. Sebenarnya Bobi merasa nggak sreg juga. Mau dia, si Ipang sendirilah yang mestinya datang ke salon itu dan minta nomer WA sekaligus mengutarakan apa yang dirasakannya. Tapi, yah... dunia ini memang penuh dengan orang-orang yang memiliki kekurangan dalam hal keberanian. Salah satu di antaranya ya si Ipang itu.
"Pokoknya, apa pun hasilnya, katakan kepadaku. Aku nunggu di sini sampe kamu pulang!" ujar Ipang, di teras rumah Bobi.
"Beres. Berdoalah, agar Ananda tiba dengan selamat di tujuan," Ujar Bobi.
"Pergilah, doa Ibunda selalu menyertaimu, Nak," balas Ipang. Maka, dengan penuh gemetar, si cupid itu melesat bersama sekeranjang kecil bunga. Tikungan-tikungan jalan dilewatinya dengan gesit. Ya, mahluk bernama Bobi itu kumat lagi hobi ngebutnya. Meskipun cuma motor bebek lawas, tapi larinya cepet banget. Saking cepetnya, bis patas yang lagi berhenti pun dapat ditikungnya.
Mendekati salon tempat si pujaan hati Ipang berada, Bobi mengurangi kecepatan. Sesaat Bobi menyeka peluhnya, dan memeriksa apakah keranjang bunga masih utuh. Baru kemudian tu anak membunyikan bel.
Krinnng...! Krinnng...! Setengah menit kemudian, muncul seorang wanita separuh baya dengan penampilan yang masih fresh. Sesuai dengan yang diceritakan Ipang, Bobi berani memastikan bahwa wanita itu ada lah Bu Meinar.
"Selamat sore, Bu," salam Bobi. "Saya mo potong rambut," sambungnya sambil menyerahkan ikatan ikatan bunga tanda ehem-ehem itu. Kartunya udah dari rumah Bobi selipkan di sela-sela bunga.
Bu Meinar memperhatikan bingkisan itu.
"Ooo, dari Ipang, ya?" serunya berseri. "Adik ini siapa? Temannya Ipang Ipangnya mana?"
"Ya, Bu. Saya temannya Ipang." jawab Bobi. "Ipangnya... ..kit. Mmm... anu... Mba Lil.. a.. nya ada, Bu?"
"Baru pagi tadi pulang kampung. Nanti malam Ibu menyusul. Dia anak asuh Ibu, tentu Ibu mesti hadir di hari perkawinannya lusa....
Gubrak! Kepala Bobi serasa pecah mendengar kalimat terakhir Bu Meinar Jadi... Lila akan dikawinkan? Bobi menunduk lesu. Wajah Ipang yang memelas terbayang di kelopak matanya.
"Biasanya Ipang suka ke mari. Tapi udah lama nggak muncul-muncul," kata Bu Meinar sambil masuk ke dalam, dan keluar lagi membawa sehelai kartu un dangan.
"Kalo Adik nggak keberatan, tolong sampaikan undangan ini."
Bobi menjumput kartu undangan itu dengan lesu, dan mengangguk lemah. "Permisi, Bu," pamit Bobi.
"Ya... terima kasih atas bingkisan ini," balas Bu Meinar. Tanpa menunggu Bu Meinar hilang di balik pintu rumah nya, Bobi segera menunggangi motornya.
"Pokoknya, apa pun hasilnya, katakan kepadaku. Aku nunggu di sini sampe kamu pulang!" kata-kata Ipang terngiang lagi di telinga Bobi. Terngiang berkali-kali, membuat Bobi menelan ludah berkali-kali pula. Alangkah pahitnya.
Bobi mengendarai motornya semakin pelan. Melewati sebuah tempat karaoke, ter dengar suara penyanyi cewek menjerit, "Am-am-am... amburadauuul! Am-am am...amburaduuul! Amburaduuul semua!".