"Kalau senior, bagaimana? Senior pernah jatuh cinta?"
Aku tidak tahu kenapa bisa bertanya soal ini pada senior yang satu kampus denganmu sebelum bertemu lagi di sekolah menengah atas tempat kami bekerja. Tapi bukankah begini kelanjutan dari pembicaraan soal keluhanku sebelumnya?
Ya keluhanku tentang orang tuaku yang terus bertanya kapan aku akan memperkenalkan seorang laki-laki sebagai kekasihku pada mereka. Hanya Senior bernama Aksa ini saja yang dapat kuajak bicara. Senior ramah yang sudah kukenal selama 4 tahun kuliahku.
"Tentu saja," jujur Senior.
Aku tidak menyangka jawaban seperti itu dari seseorang yang kukenal sebagai kulkas berjalan. Bukan hanya karena sikapnya yang cenderung dingin dan cuek, tapi juga karena seniorku ini lebih suka menyendiri dan membaca buku alih-alih pergi ke konser atau karaoke dengan teman-teman seangkatan dahulu.
Tidak kusangka Senior Aksa pernah jatuh cinta. Ya meskipun semua orang pasti pernah merasakannya.
"Bagaimana Senior bisa bertemu dengan wanita ini? Apakah teman Senior?" Aku menaruh perhatian pada cerita seniorku sekarang.
Kami baru saja selesai makan siang dan tengah menikmati makanan penutup. Jadi Senior masih memberikan jeda pada dirinya mengunyah sebelum menjawab pertanyaanku.
"Dia rekanku."
"Rekan?" Beoku. Senior yang menjawab dengan jeda membuatku tidak sabar. "Senior bekerja paruh waktu ketika masih kuliah? Kukira senior hanya belajar untuk beasiswa itu."
"Aku mengikuti acara sukarelawan di sebuah panti jompo. Aku bertemu dengannya ketika melakukan tugas relawan." Bisa kulihat sudut bibir senior yang terangkat sedikit. Meksipun tidak menatapku, aku yakin mata senior tengah berbinar-binar.
"Wah orang itu pasti wanita yang ramah. Sama seperti senior. Lalu bagaimana hubungan kalian selanjutnya? Senior mengungkapkan perasaan pada wanita itu 'kan?"
Senior sudah menyelesaikan makannya. Menata sendok agar sopan dan kemudian menepikan piring kecil makanan penutup ke tengah meja. Dilipatnya kedua tangan di atas meja. Senior mulai menatapku dengan tatapan yang sangat hangat.
"Aku tidak bisa mengungkapkan perasaanku padanya."
"Kenapa tidak? Lalu apa yang senior lakukan?"
Senior Aksa memulai kisahnya. Untuk pertama kalinya bercerita soal kisah cinta yang pernah dialaminya. Ini artinya senior sudah menjaga rahasia ini selama bertahun-tahun dari orang-orang. Wah aku kagum.
Seperti yang dikatakan tadi, senior menjadi salah satu relawan di sebuah pasti jompo dekat kosnya. Aku tidak tahu pasti dimana, tapi kedengarannya tidak begitu jatuh. Senior biasanya datang setiap akhir pekan dan datang 5 hari setiap Minggu ketika libur kuliah. Sungguh relawan yang rajin.
Senior biasanya mengurus para lansia yang ada di gedung kedua bersama rekan-rekan laki-laki yang berasal dari universitas lain. Meskipun begitu senior tidak terlalu dekat dengan mereka. Dan di suatu hari, teman laki-laki senior harus mengundurkan diri karena alasan pribadi dan digantikan oleh seorang perempuan yang satu universitas dengannya.
Senior tidak tertarik untuk berkenalan waktu itu. Hingga pada akhirnya keduanya terpaksa bekerja sama untuk menjaga seorang lansia yang memiliki Alzheimer. Tidak ada keluarga dekat yang bisa datang, jadinya senior dan wanita ini harus menjadi pengganti sementara.
Dari yang kudengar dari Senior, wanita ini memiliki karakter yang dapat dimimpikan semua orang. Tubuhnya lebih pendek dari senior, rambutnya pendek berwarna hitam, aroma tubuhnya sangat wangi, berkulit putih, dan memiliki suara yang lembut juga memikat.
Pasti sangat serasi dengan Senior yang memiliki wajah teduh, tatapan hangat, suara berat yang mempesona, juga tinggi badan yang lebih. Juga senior adalah mahasiswa yang memiliki beasiswa karena kecerdasan yang dimiliki. Tidakkah mereka sempurna?
Senior juga bilang jika wanita ini juga suka belajar.
"Aku banyak bicara dengannya karena nenek yang kami jaga. Dia orang yang terbuka pada orang lain. Dia tidak pernah ragu untuk bercerita tentang hari-harinya di kampus, soal teman-teman yang mengajak pergi berlibur, atau bahkan tugas-tugas rumit dari dosen."
"Kedengarannya senior pasti mendengarkan semua cerita wanita ini," godaku.
Senior terkekeh pelan, "aku terganggu dengan sikap cerianya itu dahulu. Dia seperti matahari yang terus memberikan energi yang positif, sementara aku... lebih seperti bukan yang kesepian. Aku merasa sangat lelah dengan energi yang dia berikan."
Perumpamaan senior kedengarannya benar.
Senior mulai meruntuhkan dinding pembatas antara dirinya dan wanita ini setelah dua tahun. Senior akhirnya juga sedikit terbuka. Cukup berani untuk bercerita soal dirinya dan beberapa kegiatan kampus.
"Mungkin karena aku belum pernah bertemu dengan ibuku sejak masih kecil... jadinya aku nyaman saat ada seseorang yang bisa kubagi cerita dan biss menempatkan diri sebagai seorang ibu. Dia orang yang cerewet jika aku terlalu keras pada diriku sendiri."
"Haha kelihatannya Senior benar-benar jatuh cinta."
"Begitukah?" Senior tersenyum manis.
"Lalu bagaimana kemudian hubungkan kalian?"
Senior menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Antara merasa gugup atau tidak nyaman. "Kita bicara di tempat lain saja. Kita tidak bisa terus memakai meja ini." Benar juga. Kami bukan berada di ruang guru. Pasti ada yang menunggu meja.
Senior Aksa mengajakku pergi ke suatu tempat. Ada yang ingin Senior tunjukkan padaku sebelum hari berakhir. Yang awalnya hanya mengajak mencari buku referensi mengajar, jatuhnya malah seperti berjalan-jalan. Bahkan senior akan membawaku ke sesuatu tempat.
"Apa senior pernah mencoba untuk mengungkapkan perasaan pada wanita itu?"
"Tidak. Aku merasa kurang untuknya."
"Kenapa begitu?"
"Entahlah. Aku hanya merasa seperti itu."
Kami naik taksi untuk pergi ke sebuah- panti jompo? Mungkin ini panti yang dikatakan senior. Aku menoleh pada senior yang berada di sampingku. Tidak mengatakan apapun dan hanya memberikan kode agar aku mengikutinya.
"Ini tempat aku menjadi sukarelawan dahulu," ucap senior memberitahu.
"Oh apakah wanita yang senior sukai itu ada disini? Masih menjadi relawan disini?" Aku penasaran.
"Ayo ikut aku ke lantai tiga."
Aku mengekor di belakang senior. Kami tidak menggunakan lift karena biasanya para penghuni akan membutuhkannya untuk berjalan-jalan. Jadi Senior mengajakku untuk lewat tangga untuk para keluarga yang datang menjenguk.
Lantai tiga tidak seramai dua lantai dibawah. Rasanya sepi namun masih ada beberapa orang di beberapa kamar yang tersedia.
"Dahulu ada kebakaran di lantai ini. Kebetulan saat itu para relawan juga ada disini. Jadi bisa membantu para perawat untuk menyelamatkan para lansia hingga pemadam kebakaran datang."
"Wanita yang kusukai adalah orang yang gigih. Dia membantu sebisa mungkin dan memastikan semua orang sudah diselamatkan. Dia masuk kembali ke dalam gedung yang terbakar untuk menyelamatkan seorang lansia yang katanya masih ada di toilet."
Oh rasanya akan ada sesuatu.
"Dia tidak selamat sementara lansia yang dia selamatkan masih bisa bernafas hingga saat ini."
"Ini alasan kenapa aku tidak pernah dan tidak ingin mengungkapkan perasaanku padanya. Karena dia bahkan tidak bisa kembali melihat dunia setelah berhasil menyelamatkan seseorang."
Wajah Senior tampak dingin. Rasanya seperti sedang melihat film dokumenter tentang kebakaran yang pastinya berambut hingga ke lantai lain.
"Dia wanita pertama yang membuatku jatuh cinta. Wanita terakhir pula yang membuatku sangat kehilangan karena kepergiannya."