Malam Halloween tahun ini, akan menjadi hari terakhir para manusia berhati iblis itu hidup di dunia. Zarch —iblis yang sebenarnya, hanya tertawa melihat tiga korbannya berteriak tidak berdaya saat aku menggorok leher mereka satu persatu. Bagai binatang di ikat, mereka tidak bisa bergerak.
"Apa kau sudah puas, Annabelle?" Zarch bertanya riang. Tidak sabar menghisap darah mereka. Taring mengerikannya mulai terlihat meneteskan air liur.
"Aku belum selesai." Aku tertawa, "by the way Zarch, aku lebih suka melihat wajah tampan mu."
Penampilan Zarch berubah, wajah manusianya kembali. Sangat tampan, taringnya menghilang. Lima hari terakhir, aku hidup bersama Zarch. Si iblis tampan yang membantuku membalaskan dendam.
***
Lima hari yang lalu.
Namaku Anna Belle, jika digabung lebih mirip nama boneka terkutuk di film The Conjuring. Mungkin juga karena nama itu, hidup ku tidak berjalan dengan baik. Mereka semua menganggap ku seperti orang aneh.
Kejadian lima tahun silam masih membekas di hati ku. Malam itu aku menangis, marah karena orang tua ku tidak jadi membelikan ku sepatu baru. Mereka terlalu sibuk bekerja sampai lupa dengan apa yang mereka janjikan padaku.
Namun, ayah dengan penuh kasih membelai rambut ku. Kami sama-sama pergi ke toko sepatu, aku tersenyum senang permintaan ku terkabulkan. Naas, belum sampai di toko itu kami mengalami kecelakaan yang cukup parah. Kedua orang tua ku di jemput oleh Yang Maha Kuasa.
Trauma yang cukup mendalam aku rasakan setelahnya. Beberapa kali mencoba bunuh diri, protes kepada Tuhan kenapa aku tidak dijemput juga? Rasa bersalah dan penyesalan yang ku rasakan bahkan lebih buruk daripada kematian yang Tuhan berikan.
Di panti asuhan, aku selalu sendirian. Tidak ada yang berani berteman dengan ku. Rambut hitam lebat yang terurai, dipotong tidak rapi. Aku juga memiliki kantung mata yang hitam karena sering begadang. Wajahku benar-benar suram.
Di sekolah lebih parah. Mereka menganggap ku pembawa sial. Bilang bahwa aku yang menyebabkan kematian orang tua ku. Tidak jarang mereka membully dan menyisihkan ku. Bahkan beberapa guru juga seperti tidak nyaman berlama-lama berada di dekat ku.
Saat itu waktu pulang sekolah, aku bingung mencari tas ku. Ini sudah biasa, aku akan terus mencarinya tanpa banyak bicara. Menghela napas ketika mendapati tas ku berada di tong sampah.
"Udah bau, makin bau. Dasar orang stres!" Ucap Raden, seorang remaja laki-laki itu mengejek ku.
"Lihat muka kau suram banget kayak monster, gak pernah mandi ya?!" Irman menimpali.
"Harusnya kita cemplungin aja tasnya ke dalam toilet cowok." Dika tertawa lepas.
Mereka bertiga adalah anak paling keren di sekolah. Tiga serangkai, jagoan di kelas, paling kompak membully ku. Pelaku yang telah membuang tas ku kedalam tong sampah. Aku memilih diam, menunduk sambil membersihkan tas.
Katakan saja aku adalah orang yang penakut dan lemah. Memang itulah diriku, tidak berdaya menghadapi mereka semua yang suka membully ku.
"Padahal aku bukan monster, mereka yang monster!" Aku berteriak di koridor sekolah yang sudah sepi.
Perlahan aku mengeluarkan cutter dari dalam tas ku. Disana tidak ada siapapun, tidak ada yang akan melarang ku. Aku ingin pergi menyusul orang tua ku, aku lelah berada di dunia ini. Lima tahun sudah aku diperlakukan tidak adil. Hidup dalam kesendirian, kesedihan, tidak dihargai, dicemooh.
Air menetes dari pelupuk mataku, menangis. Bersamaan dengan air hujan yang tiba-tiba turun sangat deras. Aku masih berdiri di koridor sekolah, merasakan dinginnya angin menusuk kulit ku. Tangan ku bergetar, dengan perlahan mengarahkan cutter ke area pergelangan tangan.
Sepersekian detik, darah langsung menetes. Mengalir bersama derasnya hujan, petir menyambar. Cutter itu telah merobek nadi ku. Membuatku sempat terhuyung, merasakan sakit yang luar biasa.
Ternyata, aku belum mati.
Nafas ku tersengal seperti orang tenggelam. Aku tergeletak dilantai keramik yang basah dan dingin. Ku lihat tetesan darah ku bergerak menjadi satu, bergumul. Sangat mengerikan.
Sebuah bayangan muncul, semakin jelas menjadi makhluk hitam yang menghisap bekas darah ku hingga bersih tak bersisa bahkan yang telah menyatu dengan air hujan. Termasuk darah yang ada di seragam juga pergelangan tangan ku. Untuk sesaat aku merasa nyawa ku ikut terhisap olehnya. Tenggorokan ku tercekat, tidak bisa berteriak, bahkan bernafas.
"Annabelle.."
Suara serak yang begitu keras dan mengerikan menggema di koridor. Hujan mulai mereda, begitu juga rasa sakit dipergelangan tangan ku. Aku terbatuk, mulai bisa bernafas. Apa yang terjadi?!
"Annabelle.."
Aku terkesiap, melihat seorang pria tampan berdiri di samping ku. Suasana sore itu menjadi cerah, bekas hujan, lantai basah, udara dingin, juga darah semuanya tidak ada. Aku menganggap itu tadi hanyalah mimpi. Lantas segera berdiri, menunduk. Penampilan ku juga berubah menjadi rapi.
"Lihat aku Annabelle."
Aku menatap pria itu, yang memakai seragam sama seperti ku. Suaranya serak dan mengerikan. Tatapannya tajam dan begitu jahat. Seringainya memperlihatkan gigi taring yang berderet rapi, ada bekas darah disana. Aku mulai sadar, ini bukanlah mimpi. Pria itu adalah makhluk tadi.
Aku berteriak sangat kencang.
"Diam lah Annabelle. Aku disini karena melihat aura balas dendam yang ada dalam diri mu. Namaku, Zarch. Dengan darah mu aku bisa hidup dan dilihat oleh manusia. Mulai sekarang aku akan selalu ada di samping mu."
Kini Zarch tersenyum sangat tampan. Wajahnya khas remaja asia, gigi taringnya menghilang. Kulitnya putih bersih, dan matanya coklat. Siapa sangka dia ternyata seorang iblis?
Tubuh ku bergetar, Zarch tetaplah seorang monster. "A-aku hanya ingin mati!"
"Benarkah? Jangan mati sia-sia Anna.." Zarch mendekat, aku berusaha menghindar namun sepertinya dia membuat tubuh ku tidak dapat bergerak. Ia tertawa, dengan suara remaja laki-laki pada umumnya.
"Balas kan dendam mu dulu.." Zarch berbisik, "Orang tua mu mati karena tiga serangkai itu."
Mataku membulat, terkejut.
"Mereka bertiga belum mahir menyetir saat itu, ayahmu berusaha menghindari mobil mereka. Namun..." Zarch menggantung kalimatnya, menyeringai dengan tatapan tajam. "Aku tahu semuanya, Annabelle."
Aku menangis, tidak percaya. Zarch cukup menjentikkan jarinya dan hujan deras turun begitu saja. Mulai saat itu, aku tidak akan mati sebelum membalaskan dendam ku.
***
Sesuai rencana, kami membunuh mereka bertiga malam ini. Saat mereka tertawa di alun-alun kota. Menikmati perayaan Halloween. Zarch tinggal menjentikkan jarinya, alun-alun kota yang ramai tiba-tiba menghilang. Mereka bertiga kebingungan, tempat itu berubah menjadi jalanan sepi. Cocok dijadikan tempat eksekusi.
Malam Halloween yang menyenangkan. Melihat Raden, Irman, dan Dika terbaring mengenaskan di jalanan sepi. Bersimbah darah, aku selesai membalaskan dendam. Zarch sibuk menikmati darah mereka.
"Darah ini tidak senikmat darah dari nadi mu, Annabelle." Zarch menyeringai, taringnya yang berlumur darah sangatlah mengerikan. Tapi bagiku, dia tetap tampan.
Aku tersenyum, merasa puas dan bahagia meski telah melakukan perbuatan keji. Setelah ini aku mungkin akan mati. Ikut bersama Zarch, ke neraka.
"Belum selesai, Anna. Masih banyak lidah yang harus dipotong karena mencemooh mu." Aku lupa, Zarch bisa membaca pikiranku.
END