Aku tidak akan pernah pulang sampai kapan pun ketika mereka menyuruhku untuk pulang. Aku sudah terlanjur sakit hati.
Kembali ke kolaborasi konten bodoh itu. Kami sudah memiliki beberapa video dan foto untuk konten nanti. Seharusnya semua sudah selesai bukan?
Akan tetapi di balik layar Jay menemukan sebuah peta harta karun. Terdengar seperti cerita klasik kan? Tapi itulah nyatanya. Aku sendiri tidak percaya kisahku berakhir seperti petualang konyol yang membahayakan dirinya demi petunjuk tipuan seperti itu.
Aku tidak ingin terlalu serakah, jadi aku menolak. Aku rasa pendapatanku sebagai kreator video sudah cukup untuk kehidupan pribadiku. Bahkan aku bisa keliling dunia atau pun mengadopsi anak jika aku mau. Tetapi Jay terus memaksaku. Dia memintaku menemaninya menemukan harta itu.
"Bukankah terlalu berbahaya? Sejujurnya aku tidak pernah dengar orang kaya setelah menemukan harta karun. Hanya ada dua ending. Bisa pulang dengan selamat atau mati di tempat."
Meski aku mencegahnya dengan kalimat yang mengintimidasi pun dia tetap tidak akan peduli.
"Kalau begitu kau mau keluar sendiri tanpa laki-laki? Desa ini ada di tengah hutan loh. Menakutkan banget. Dan kau seorang gadis."
"Baiklah aku akan menemanimu sampai pintu gerbang saja. Aku tak ingin mengambilnya sedikit pun. Ambil saja semuanya yang penting aku bisa pulang."
Aku kesal kepada Ed dan Mia. Kenapa juga mereka tidak menunggu aku dan membiarkanku tinggal di sini bersama dengan Jay yang gila?
"Baik Aline. Aku cinta kau. Setidaknya aku tidak perlu repot memikirkan berapa persen bagian yang harus kuberikan kepadamu sebagai benefit karena telah menemaniku. Kau memang setia kawan."
"Aku benci laki-laki."
"Terserahmu saja, nona Aline."
Kami berdua akhirnya berangkat. Jay berjalan di depan lebih dulu dan aku berjalan sambil memakan mi instan dalam kemasan cup. Kami menyusuri jalanan di hutan yang sangat gelap ini meski hari masih pagi.
Entah apa yang terjadi dengan vibes hutan ini. Kata Jay ada beberapa orang yang masih tinggal di desa yang terletak di tengah hutan. Benar saja, aku melihat beberapa orang beraktivitas. Ada sekitar tujuh rumah yang terletak di sana.
"Orang-orang bodoh. Mereka masih mengisolasi diri disana seperti orang gila padahal zaman sudah maju." cemoohnya dengan mengunyah permen karet di mulut sambil tertawa menghina orang yang ada di sana. Mereka melirik Jay dan memelototinya. Sepertinya mereka mendengar omongan Jay.
"Bercanda. Hahaha," suara tawa Jay memang sangat berisik dan mengganggu.
Aku memalingkan wajahku ketika mereka menatap wajahku juga. Ekspresi mereka sangat menakutkan. Seperti ingin menghabisiku.
"Jay, kau jangan gila. Mereka bisa melakukan apa saja jika mereka sudah marah."
"Apa? Seperti apa itu? Mencoba menembak kita dengan pistol? Hahaha. Bahkan mereka tidak tahu seperti apa itu pistol."
Aku meminta maaf kepada mereka lewat tatapan tetapi sepertinya mereka terlihat dendam.
Aku menampar Jay agar laki-laki itu sadar dengan perbuatannya sekarang. Jay seketika terdiam. Ia melihat mataku berkaca-kaca, seolah tahu bahwa aku takut penduduk asli di sini akan menyerang kami.
"Baiklah. Sepertinya aku sedikit keterlaluan. Jangan menangis."
Jay kemudian kembali banyak bicara meski tidak seheboh tadi. Butuh waktu dua jam untuk sampai di tempat yang dimaksud peta petunjuk itu. Aku bergidik ngeri ketika kami tiba di depan sebuah gua. Sangat gelap dan rasanya harus menggunakan senter HP agar mendapatkan penerangan yang maksimal.
"Kau ingin ikut masuk ke dalam?" ajak Jay.
"Tidak. Dasar gila. Pergi saja sana sendiri. Lebih baik aku menunggu di luar sini. Jika kau berlama-lama aku akan langsung meninggalkanmu dan menelepon Ed agar dia yang menjemputku."
"Iya, iya. Kalau kau pergi dari sini. Lihat saja aku akan menghamilimu. Aku sudah memasukkan chip ke dalam tubuhmu untuk memantaumu sayang." bisik Jay sensual. Dia memegang lenganku dan mencium pergelangan tanganku. Aku menghempaskan tangannya dengan kasar. Kali ini aku benar-benar menangis.
"Kau benar-benar gila. Kau melukai tanganku yang berharga." Aku baru sadar ketika melihat ada bekas luka yang dalam di pergelangan tanganku. Dan kenapa aku tidak merasakan sakit sama sekali? Mungkinkah karena dia juga membuatku mati rasa dengan obat-obatan atau semacamnya?
"Sshh, berisik sayang. Satu catatan lagi jika kau mencoba untuk lari setelah tujuh meter chip itu akan membuatmu terpental. Jadi jangan coba-coba untuk kabur. Setelah aku mendapatkan apa yang kumau dari gua ini, aku juga akan memiliki keperawananmu. Lalu kita memiliki keluarga kecil yang bahagia setelah menikah dan punya anak."
Aku menangis ketika dia mencium bibirku dan kemudian pergi meninggalkanku di depan gua ini sendirian. Dia mulai memasuki gua itu.
Aku benar-benar tak menyangka ini adalah akhir dari kehidupan normalku. Aku terjatuh tergeletak. Aku menangis semakin kencang.
"Gila, dia benar-benar gila."
"Kau menyebut kami gila? Kau kekasih dari pria yang bernama Jay itu kan? Lihatlah Jay, ini benar-benar akan menjadi hari terakhirmu ketika menertawai kami."
Aline POV.
Aku benar-benar sudah pasrah dan tidak bisa berpikir jernih ketika melihat seorang pria tua menghampiriku dengan membawa berbagai senjata tajam ketika aku masih menangis.
***
Jay POV.
Setelah dua jam, aku keluar dari gua. Petunjuk itu benar-benar penipu yang handal. Aku tahu penduduk asli itu menyembunyikan peta yang asli. Lihat saja aku akan membuat mereka bertekuk lutut kepadaku.
"Aline sayang," panggilku ketika tiba di luar gua.
Aneh, hening sekali. Aline tidak menjawabku. Saat itu juga sesuatu menggelinding di depanku. Aku berteriak ketika melihat itu adalah kepala Aline yang telah terpisah dari bagian tubuhnya.
"Sialan!!!" Jay berteriak-teriak ketika melihat satu persatu anggota tubuh Aline yang sudah terpisah-pisah berada tepat di depan kakinya. Dia mengambil kepala Aline yang sudah terpisah dan membelai rambut panjang gadis yang dicintainya itu. Wajah gadis itu berlumuran darah. Sebelah bola matanya hilang.
"Maafkan aku sayang."
"Keputusanku benar untuk menghabisi wanitamu. HAHAHA!"
"Beraninya kau membunuhnya!" Jay akhirnya menangis. Ia tak bergairah hidup tanpa Aline. Ia mengingat semua kenangan ketika Aline hidup. Aline lah yang paling peduli dengannya. Aline memasakkannya makanan kesukaannya ketika ia demam tinggi tengah malam, Aline melipat pakaiannya dengan rapi, juga ketika Aline memasangkan perban di dahinya yang terbentur ke aspal. Dan masih banyak lagi kenangan bersama Aline ketika gadis itu masih hidup.
"Jay yang malang. Apa kau tidak ingat ketika kau dulu membunuh kakakku? Aku rasa kita akan impas ketika aku membunuh wanita yang kau cintai itu. Bola matanya yang hijau itu sudah kutelan. Sangat enak."
Kilat kemarahan terlihat jelas menyala di mata Jay. Dia mengarahkan pistol di tangannya dan dengan tangisan penyesalan ia menembak dirinya sendiri. Ia mati bunuh diri. DOR DOR DOR! Kini satu persatu bagian-bagian tubuh Jay juga ikut terpisah.