Kita pernah berjanji akan seperti mentari yang setia menyinari bumi, pernah berjanji akan menemani merpati untuk setia sepenuh hati.
tapi itu dulu, sebelum angkuh dan jumawa membuatmu buta. Sebelum masa laluku kamu anggap nista.
"Jadilah yang terbaik untukku, setia padaku, agar kamu pantas untukku." Katamu kala itu.
Aku yang buta karena cinta, selalu mengalah meski ucapanmu menusuk jiwa.
"Bila aku tak boleh berteman dengan pria, kenapa kamu begitu akrab dengan banyak wanita?" Tanyaku dengan urai air mata.
Kamu ingat apa jawabanmu?
"Mereka berbeda denganmu, mereka bisa menjaga dirinya jauh lebih baik dari kamu."
Tanpa kamu tahu, aku masih seperti yang kamu mau.
Aku bertahan, karena aku yakin cinta butuh pengorbanan. Aku berkorban meninggalkan duniaku, demi masuk ke dalam duniamu.
Sahabat, teman sepermainan, semua aku tinggalkan demi dunia asing yang kamu tawarkan. Aku datang, dengan segala kebodohanku mencoba menjadi seperti inginmu.
Tidak perduli, seberapa luka hatiku menjadi objek komedi, kamu tetap tertawa melihat teman-temanmu bahagia.
Tapi Tuhan maha baik.
Tak selamanya mataku tertutup harapan palsu. Ketika dia hadir mengisi kehampaan dan kekosongan hati, aku mulai mengerti cinta itu saling memberi. Cinta itu saling memahami, cinta itu saling mengisi.
Bila bersamamu aku merasa sendiri, bersamanya aku merasa dihargai. Bukan keindahan dunia yang mampu ia beri, tapi penerimaan yang tidak bisa kamu pahami.
Masa lalu bukanlah musuhku, tapi teman yang menemani langkahku hingga kini.
"Semudah itu kamu melupakanku" Ucapmu kala takdir tanpa sengaja mempertemukan kita.
Aku tertawa sinis.
"Maaf, bagian mana dari dirimu yang harus aku kenang? Janji yang tidak pernah kau tepati? Atau luka dan air mata yang tidak pernah kamu obati?"
Dia merangkul ku, menjadi penyangga untuk ragaku yang tak berdaya. Disaat kamu hanya mampu diam tanpa kata, dia disini menjagaku agar tak lagi tersakiti.