Mata indah itu menelisik jauh kedalam cermin besar di depanya, kini wajahnya yang penuh dengan riasan dan gaun putih yang ia kenakan sangat ingin membuat dirinya menangis. Pernikahan adalah suatu hal yang sangat diimpikan oleh semua gadis tidak terkecuali dirinya. Tetapi yang ia impikan bukanlah pernikahan paksa seperti sekarang ini, sebuah pernikahan dengan seseorang yang bahkan baru saja ia kenal.
Amoura Cathrione seorang anak gadis dari saudagar kaya Jonshon Chatrione harus menuruti apa yang ayahnya kehendaki. Menikah dengan seorang jenderal besar dari kekaisaran Chaernafon. Orang itu adalah Albert Geomateo, lelaki kekar yang merintis karinya dari nol sehingga sekarang menjadi jenderal besar di istana.
Semua orang mengagumi Albert, sudah berusia 35 tahun tetapi garis wajahnya masih bisa dibilang tampan. Namanya bahkan juga selalu bersih dari pemberitaan negatif. Sedangkan dirinya sedari dulu belum pernah menikah karena sibuk dengan pengabdian nya terhadap Chaernanfon Empire.
Awalnya Amoura memang sudah menolak mentah-mentah pinangan dari Albert dengan alasan usianya terpaut 12 tahun dengan Albert. Tetapi ayah dan ibunya terus saja meyakinkan Amoura jika Albert adalah yang terbaik untuknya. Mereka mengatakan jika cinta akan datang tanpa harus ditunggu, cinta pasti juga akan datang nantinya. Tadinya Amoura pasrah karena ia sadar juga jika Lelaki yang selama ini menghiasi harinya tidak mungkin ia miliki.
Namun, semalam pandangan Amoura terhadap Albert berubah total, ia sudah tau bagaimana kebusukan Albert. Lelaki itu memiliki nafsu yang sangat tinggi, semalam Amoura bahkan hampir saja dilecehkan jika ia tidak melukai tangan Albert dengan garpu makan. Hal itu masih saja terngiang di kepala Amoura, ia tidak bisa membayangkan jika Memiliki suami seorang cabul seperti itu.
"Hallo Sayang!" sebuah suara maskulin itu mengalun menggelitiki telinga Amoura.
Amoura mengepalkan tanganya untuk meredam emosi nya, ia tidak akan rela menjadi wanita milik Albert. Membayangkan tubuhnya digerayangi oleh Albert, dengan senyum aneh yang sangat ia benci tidak akan pernah bisa. Dirinya a tidak akan bisa membayangkan hal itu.
"Kau sangat cantik baby," satu tangan Albert menyapu pelan dagu runcing Amoura, gadis itu menepis lengan Albert karena risih dengan kelakuan lelaki itu.
"Tidak perlu sungkan!"
Tangan Albert bergerak untuk mengengam lengan Amoura, didekatkanya tubuh gadis itu. Tetapi Amoura menolak dan berusaha melepaskan tanganya, sepertinya itu sia sia karena semakin ingin lepas Albert justru semakin mempererat gengamannya. Matanya menelisik mencari celah agar dia bisa kabur. Saat Albert mendekatkan wajahnya, dia menggigit lengan Albert dengan kuat hingga membuat lelaki itu mengumpat.
"Jangan membuatku marah dihari pernikahan kita!" ucapan itu disertai urat yang mulai menonjol.
"Aku tidak sudi menikah denganmu!"
Albert terkekeh, gadis ini menurutnya sangatlah aneh. Diluar sana banyak sekali wanita yang memujanya, berharap dijadikan pendamping. Banyak juga wanita malam yang benar benar jatuh cinta denganya, padahal baru saja sekali melakukan hubungan. Bahkan keluar dari mulut mereka sendiri jika mereka sangat ingin kembali mendesahkan nama Albert dimalam hari, melihat kembali kejantanan sang jenderal perang di atas ranjang.
Jadi apakah Albert bukankah orang baik, seperti apa yang telihat? Tentu saja bukan!
Selama ini Albert selalu diam-diam saat bersenang-senang dengan wanita, bukan hanya karena peraturan kerajaan tetapi ia juga sangat menjaga namanya dari hal-hal buruk, padahal sebenarnya memang buruk. Ia membungkus rapi semua kelakuanya dengan apik, tidak ingin namanya jatuh sedikitpun.
"Kau tidak sudi, disaat banyak wanita mengantri untuk menjadi milikku?"
"Ku yakin mereka semua akan pergi saat tahu seperti apa kau yang sebenarnya!"
Albert mengepalkan tanganya, gadis di depanya ini mampu menyulut emosi. Tetapi ia mencoba menghembuskan nafasnya pelan meredam didihan di kepalanya. Ia harus tenang sekarang katrna gadis seperti ini tentu saja lebih menarik.
Dirinya memilih seorang Amoura Cathrione karena gadis itu merupakan salah satu gadis tercantik di Zetobia yaitu ibu kota dari Chaernanfon. Kencantikanya santer dibicarakan, bahkan melebihi Putri Natania.
"Akan ku janjikan nanti malam kau akan mendesahkan namaku dengan nikmat Amoura!" ucapnya disertai smirik.
"Aku tidak akan sudi!"
"Benarkah? Lihat saja nanti!"
Albert bergegas meninggalkan kamar itu, ia tidak ingin di hari pernikahanya harus terpancing amarah karena calon istrinya itu. Ia sudah tidak sabar untuk merasakan tubuh Amoura yang sangat indah itu, penasaran saja bagaimana juga rasanya mencecap tubuh gadis itu.
Amoura menghela nafas panjang, ia benar benar tidak ingin menikah dengan lelaki itu. Ia paling benci dengan lelaki cabul dan sekali benci kepada seseorang tidak mungkin akan merubah pandanganya secepat itu.
"Marilah sayang," sepeninggalan Albert munculah sesosok wanita cantik dari balik pintu.
"Ibu aku tidak ingin menikah!"
Amoura menatap dalam wajah yang mulai dihiasi kerutan halus itu, berharap ibunya bisa mengerti perasaanya.
"Marilah sayang, semua sudah menunggu bahkan ada beberapa tamu dari kerajaan yang datang."
Nyatanya tatapan melasnya itu tidak menggerakan hati ibunya sedikitpun, "Ibu–"
Kekecewaan benar-benar memenuhi hati Amoura, Ia pikir selama ini ibunya lah orang yang benar benar mengerti dirinya tapi nyatanya tidak juga. Ibunya itu sama sekali tidak mau tahu bagaimana perasaan putrinya ini.
"Sayang, Albert adalah yang terbaik untukmu."
Lagi dan lagi kalimat itu selalu ibunya layangkan, bahkan membuat Amoura jengah.
"Tidak ibu!"
"Kau masih menunggu Luois?"
Tidak sepatah katapun keluar, nyatanya Amoura sudah tidak ingin mengantungkan harapannya padanya. Jaraknya sudah terlalu jauh dengan Luois dan sudah sejak lama dia memupuskan semua harapannya pada Luois.
"Kau tidak bisa mengharapkan Luois lagi, Nak! Kalian tidak akan pernah bisa bersama."
Amoura memejam, mengatur nafas agar kembali normal. Tidak apa sedikit mengalah, siapa tahu nanti ada sedikit celah untuk dirinya menghindari acara ini.
***
Dekorasi penuh bunga di depan rumah besar itu, kelambu-kelambu yang bergoyang menandakan jika angin di pagi ini lumayan kencang. Kereta kuda berjejer rapi di depan pintu masuk, sedangkan orang-orang sudah ramai berdiri di tempat mereka menunggu janji suci yang akan diucapkan kedua mempelai.
Pernikahan adalah acara sakral, dimana janji itu diucapkan oleh kedua orang yang nantinya akan hidup bersama sampai hari tua, meniti rumah tangga dengan segala rintangannya. Namun, jika dari awal saja rasa benci sudah dan ada, berapa lama rumah tangga itu akan bertahan?
Dengan digandeng ayahnya yang sedari tadi sudah menunggu di depan pintu, Amoura dengan malas melangkahkan kakinya. Senyuman sama sekali tidak terpantri di wajahnya, hanya wajah kesal yang dia tampakkan. Amoura memutar bola matanya malas melihat senyuman menggelikan dari Albert, entah mengapa dia mereasa risih dengan apa yang ia lihat.
Bisiskan-bisikan mulai terdengar mengema menjadikan tempat itu ramai layaknya pasar, entah berkata tentang kecantikan Amoura atau keserasian antara Amoura dan Albert. Tapi mereka semua tidak tahu jika hati Amoura meronta-ronta untuk sekarang juga menghentikan acara ini.
Tidak begitu lama Amoura sudah berdiri di atas altar, berdiri berhadapan dengan wajah menjengkelkan Albert. Pendeta mulai membacakan ikrar pernikahan. Mata Albert tidak berhenti memperhatikan Amoura, senyum menggelikan juga dia tampakkan.
"Albert Geomateo bersediakah kau menerima Amoura Catrione dalam keadaan apapun baik susah maupun senang baik sehat maupun sakit, hidup bersama sampai maut memisahkan?"
"Ya saya bersedia!" jawab Albert tanpa ragu sedikitpun.
Amoura tidak menyimak apa yang dikatakan pendeta di tengah mereka, matanya justru lebih tertarik pada seekor kuda di depan gerbang. Kuda itu berada tidak jauh dari altar mungkin jika ia bisa lari sedikit lebih cepat ia bisa menaiki kuda tersebut, lalu mengendarai untuk pergi sejauh-jauhnya dari tempat ini.
Setidaknya itulah sebuah rencana yang kini berada di kepalanya.
"Amoura Cathrione bersediakah kau menerima Albert Geomateo dalam keadaan apapun baik susah maupun senang baik sehat maupun sakit, hidup bersama sampai maut memisahkan?"
Bukanya menjawab Amoura justru bersiap untuk lari, melepaskan sepatu hak tinggu di balik gaun panjang yang dia kenakan. Dengan perlahan ia sudah bisa mengenyahkannya dan membuat kakinya telanjang.
Walau sempat ragu tetapi Amoura langsung saja berlari secepat mungkin meninggalkan altar, tidak peduli lagi tatapan semua orang yang kini terarah kebingungan padanya.
Semua orang seakan membatu melihat apa yang Amoura lakukan, mereka masih tidak paham dengan perbuatan gadis itu. Hingga saat gadis itu menaiki kuda yang entah milik siapa lalu menarik kekang kuda, semuanya baru sadar apa yang gadis itu lakukan.
Albert yang pertama menyadari gadis itu akan kabur, dengan cekatan ia langsung saja berlari dan juga turut menyuruh anak buahnya untuk mengejar Amoura.
Ayah Amoura mengangga dengan apa yang purtinya lakukan, pikiran tuannya sulit mencerna apa yang terjadi. Ia sangat malu melihat hal itu, putrinya yang ia banggakan justru kabur di hari pernikahanya.
"Kejar dia!" Barulah setelah kalimat perintah dari ibu Amoura itu membuat Jonshon tersadar. Segera dia ikut mengejar Amoura bersama rombongan Albert.
Ditempatnya Amoura terus saja melajukan kudanya dengan kecepatan tinggi. Ia memang tidak terlalu mahir naik kuda tetapi sebisa mungkin membuat kudanya tetap berjalan dengan baik dan tidak mengamuk. Sesekali melihat ke belakang dan berubah panik saat rombongan Albert dan ayahnya sudah dekat dengan dirinya. Ia tidak menyangka jika mereka juga tak kalah cepat.
Aksinya berhenti saat Amoura sampai di perbatasan hutan Celonova. Hutan gelap yang menjadi batas Chaernanfon dengan kerajaan Zesha, yaitu kerajaan kegelapan. Tempat itu adalah tempat para iblis tinggal.
Caernanfon dan Zesha sudah memiliki perjanjian untuk tidak mengusik satu sama lain, itu adalah perjanjian seribu tahun lalu. Sehingga rakyat Chaernanfon pun tidak tahu seperti apa mahluk yang mendiami wilayah kegelapan. Hanya sekedar mendengar dari mulut ke mulut yang kebenarannya tidak pasti.
Tidak ada rakyat Chaernanfon yang berani masuk ke wilayah kegelapan bahkan hanya masuk ke hutan Celonova saja tidak berani, karena setiap orang yang masuk tidak akan pernah kembali. Kabarnya mereka dimakan mahluk hitam besar yang sangat menyeramkan, tapi tidak ada yang pernah tahu juga kejadian yang sebenarnya setelah mereka memasuki hutan gelap itu.
"Kembalilah Amoura untuk apa lagi kau pergi!" itu suara Ayahnya.
Mata Amoura membola saat melihat rombongan itu sudah sepuluh meter di belakangnya.
"Jangan mendekat atau aku akan masuk!" ancamnya.
"Jangan lakukan itu anak kurang ajar!" Ayahnya kini terlihat marah, wajahnya memerah juga urat-urat di lehernya yang menonjol.
"Tidak usah memperpanjang waktu, kembali ke pernikahan kita aku akan memaafkanmu!" itu bujukan dari Albert.
Kabur dari pernikahannya ini cukup mencoreng wajah Albert, dia adalah jenderal kerajaan yang terhormat tapi dihari pernikahannya calon istrinya juga kabur. Bayangkan saja berapa banyak orang yang akan membicarakan kejadian ini.
Amoura menggelengkan kepalanya, menurutnya menikah dengan Albert bukanlah sesuatu yang baik. Sekalipun cinta datangnya belakangan tetapi ia yakin tidak akan pernah bisa mencintai Albert bahkan melihat pria cabul itu pun sudah memuakan.
Namun yang sekarang menjadi masalah adalah di depanya hanya ada hutan Celonova. Jika ia masuk tidak tahu apa yang akan terjadi, bisa saja ia mati dengan mahluk yang santer dikatakan itu.
"Marilah, kita kembali kau akan mati jika masuk kesana!"
"Aku tidak ingin menikah ayah!"
"Amoura!" ucapan itu kini naik satu oktaf.
"Tidak bisakah ayah memikirkan kebahagiaanku? Aku satu-satunya putri ayah dan ayah tidak mau mengabulkan keinginanku? Kau mengorbakan kebahagiaanku hanya untuk mendapat nama melalui dia!" Amoura menunjuk Albert dengan jari telunjuknya.
Sedangakan wajah datar lelaki itu sudahlah dipenuhi amarah. Mengapa untuk merasakan tubuh gadis itu memerlukan proses sepanjang ini. Ia harus berjuang mendapatkan Amoura untuk kepuasan birahinya. Ia pikir dengan menjadikan Amoura parner sex nya ia tidak akan perlu lagi meminta wanita lain menjadi pemuas nafsunya. Namun, rupanya serumit ini mendapatkan gadis itu.
"Ayah mau kan membatalkan pernikahan ini?"
"Apa yang kau katakan! Sudah cepatlah!" Albert berusaha membujuk Amoura.
"Aku tidak sudi menikah denganmu!"
Amoura melihat ayahnya, dan ayahnya juga terlihat bimbang.
"Marilah, Nak! Para tamu sudah menunggu."
"Tidak akan pernah!"
Karena geram Albert turun dari kudanya hendak mengahampiri Amoura, ditariknya tangan gadis itu agar bersedia turun dari kudanya, tetapi perbuatan itu justru membuat Amoura panik. Gadis itu menarik kekang kudangnya melewati pembatas kayu melaju kencang menuju hutan.
"AMOURA!"
Teriakan menggema keluar dari bibir Jonson dan Albert bersamaan begitu tubuh Amoura menghilang dibalik gelapnya hutan. Mereka tidak percaya dengan yang Amoura lakukan. Hanya bisa saling tatap melihat kegilaan Amoura. Menyusul pun tidak berani dan juga mitos hutan itu membuat nyali mereka menciut. Akan percuma juga jika disusul yang ada mereka akan sama-sama mati di dalam hutan.
Lalu bagaimana nasib Amoura?