Rindu dan Laras adalah teman satu sekolah, termasuk dengan Davin, dan bahkan mereka pun satu kelas.
Mereka bertiga berteman sejak kelas 2 SMA dan belakangan Laras baru mengetahui bahwa Rindu dan Davin telah jadian satu Minggu yang lalu.
Rindu anak yang sangat cantik sekali , mempunyai wajah imut , mempunyai bola mata yang indah , berambut panjang, meski agak sedikit tomboi.
Berbanding terbalik dengan Laras, dia anak remaja tanggung yang sama cantik nya dengan Rindu. Bermata sipit, berambut pendek dan sedikit pendiam.
Davin Termasuk anak yang baik berperawakan tinggi, badan berisi, dan termasuk anak yang gaul disekolah.
Awalnya Rindu dan Davin hanya berteman biasa saja , karena mereka sering pulang sekolah bareng karena satu arah.
Dengan seringnya mereka berdua mengobrol dan davin sering mengantarkan pulang rindu, akhirnya tumbuhlah benih-benih suka pada mereka.
Padahal Laras pun menaruh hati juga pada Davin namun ia enggan mengatakan nya pada siapapun termasuk pada rindu.
Pagi itu saat Laras baru masuk kekelas , ternyata disana sudah ada rindu yang sedang senyum -senyum sendiri dan terlihat aura diwajahnya begitu gembira, seakan memendam perasaan bahagia.
"Pagi Laras". Sapa rindu.
"Pagi rindu". Sambil senyum yang terpaksa.
"Tumben kamu sudah nyampe sekolah, bukan jadwal piket mu kan hari ini?".
Laras langsung mengecek jadwal piket yang tertempel didinding pada hari itu.
"Rupanya kamu sedang bahagia ya Rin". Tanya nya berlanjut.
"Aku senang sekali hari ini, kamu tau tidak? kemarin.. pulang sekolah Davin mengantarku pulang lagi dan kamu tau...Davin mengatakan kalau dia suka padaku". Sambil menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya.
"Terus ..". Tanya Laras dengan penasaran.
"Davin nembak aku la, kami jadian kemarin". dengan begitu senangnya menceritakan hal itu pada Laras.
"Waah berita bagus itu, selamat ya Rin ". Laras pun ikut merasa gembira dihadapan rindu,
Padahal sejak pertama dia mengenal Davin Laras sudah menaruh hati pada Davin.
Namun perasaan itu harus ia patahkan karena Davin memilih rindu ketimbang dirinya.
Tak berapa lama Davin pun datang dan langsung duduk di kursi nya yang berada disamping bersebrangan dengan rindu.
Dan dilihat nya rindu dan Davin saling bertatapan satu sama lain sambil melemparkan senyum bergantian.
Laras yang duduk dibelakang rindu semakin tidak nyaman dengan pemandangan yang ia lihat didepan nya.
Laras pun agak kesal namun dia tidak bisa berbuat apapun karena Davin hanya menganggap dirinya sebagai teman biasa.
Saat istirahat tiba Davin menghampiri meja rindu, dia pun duduk disebelah kursi rindu dan mereka pun berbincang sambil tertawa senang.
Laras yang menyaksikan itu pun hanya pura-pura tidak memperdulikan apa yang sedang mereka bicarakan.
lalu Davin menyapanya
"La kamu sedang apa siih, seperti nya sedang serius sekali".
"Mm nggak aku tidak sedang apa-apa". Dengan gugup Laras terkaget dengan suara Davin yang menyapanya.
"Kamu mau ikut kami tidak ke kantin?". Ajak Davin.
"iya la , yuuk kita ke kantin barengan?". Rindu pun mengajak Laras untuk ikut mereka.
"Oh.. kalian duluan saja nanti aku menyusul". Jawabnya dengan gugup.
"Ya sudah kami duluan ya ke kantin". Ucap Davin.
Laras pun mengangguk.
Di hati Laras merasakan rasa iri pada rindu. Namun Laras pun menyadari bahwa dia sendiri yang tak pernah mau berusaha mendapatkan perhatian Davin.
Laras pun menyusul mereka kekantin namun Laras berbelok ke kantin sekolah yang satunya lagi, bukan kantin yang dituju Davin dan rindu.
Setelah membeli beberapa cemilan dan minuman Laras pun kembali kekelas. Dan memakan cemilan yang dia beli tadi
Tak lama dia pun melihat rindu dan Davin sedang ngobrol di teras ruangan kelas mereka, sambil tertawa-tawa.
Hati laras semakin terbakar akan pemandangan didepannya itu.
Laras pun meluapkan kekesalan nya dengan merobek kertas yang ada dihadapannya itu.
Tak lama bel pun berbunyi. Tanda bahwa istirahat telah usai.
Laras pun melihat kearah mereka berdua terus berpandangan dan Laras pun dibuat tidak nyaman dengan itu.
Laras pun meminta ijin pada guru pelajaran bahwa dia ijin untuk ke UKS karena ingin meminta obat karena kepalanya sedikit pusing. Dan guru pun mengijinkan nya.
Laras pun ke ruang UKS untuk menenangkan hatinya yang kurang baik hari itu.
Rindu yang merasa khawatir dengan Laras pun memutuskan untuk menyusul nya ke UKS. Karena rindu salah satu anggota tim PMR disekolah ya.
Dan tak lama rindu pun menyusul Laras ke ruang UKS untuk melihat keadaan Laras.
Didapatinya laras sedang berbaring di ranjang yang berada diruang UKS tersebut.
"La kamu butuh obat apa , sudah ambil belum dari kotak P3K".
Laras pun menggelengkan kepalanya.
Rindu pun mengambilkan obat pereda sakit untuk Laras dan mengambilkan minumnya sekalian.
Ternyata Davin pun menyusul ke ruang UKS. Karena ada salah satu guru meminta Davin memanggil Rindu untuk keruangan guru tersebut.
Rindu pun menghadap guru yang dimaksud Davin.
Davin pun berduaan di dalam UKS bersama Laras, hati Laras pun berdegup kencang sekali dan dia pun salah tingkah dibuatnya.
"La kamu tidak apa-apa kan?". Tanya Davin.
Davin pun menatap mata Laras, dan Davin pun merasa bahwa beberapa kali Laras selalu menghindar darinya
"Kamu kenapa sih la , dari kemarin kamu selalu menghindar dariku, apa karena aku jadian dengan Rindu?".
Laras pun enggan menjawab pertanyaan Davin.
Padahal Davin pun merasa bahwa Laras pun menyukainya, namun Davin tak pernah peka pada Laras.
"Kalo boleh aku jujur aku suka sama kamu Vin, tapi setelah aku mendengar kamu jadian dengan rindu , aku mengalah demi sahabatku. Kamu janji ya jangan menyakiti hati rindu, aku tidak apa-apa. Asalkan kamu bahagia aku pun ikut senang".
"Maafkan aku ya, aku lebih memilih rindu dari pada kamu". Setelah mengatakan itu ,Davin pun pergi dari ruang UKS.
Hati Laras begitu sakit mendengar pengakuan Davin. namun Laras tidak bisa berbuat apa pun.
'Tidak selamanya mencintai berarti harus memilikinya.'
Laras pun harus merelakan Davin untuk sahabatnya. Laras tidak ingin melihat rindu bersedih, karena itulah salah satu keinginan Rindu yang sempat ia utarakan pada Laras.
Dengan berbagai cara Laras juga yang mendekatkan mereka, namun ketika mendengar mereka jadian ,Laras sendiri yang sakit hati.