Aku berjalan menuju halaman rumah-rumah yang sunyi. Aku terus berjalan, hingga kutemukan patung sepeda-sepedaan di tengah taman. Ada seorang gadis berbaju merah muda mengintip dari balik rerimbunan daun. Aku pun menghampirinya. Lantas, ia berhenti di salah satu sudut taman. Kami berpandang-pandangan sebelum aku tahu ia benar-benar hilang. Bolak-balik aku mencoba untuk mencarinya. Sebelum aku benar-benar menemukannya, dering jam weker cukup mengejutkanku. Cahaya matahari sudah menerobos masuk jendela kamarku. Dan aroma roti bakar bercampur kopi hitam mulai menusuk hidungku.
***
Sejenak ku pandangi layar komputer di depan meja kerjaku. Lalu ku bangkitkan semangat untuk meludes habis pekerjaan yang menumpuk di depan mata. Namun, hanya suara tak tik tak tik dari hasil cumbuan jari-jemari dengan keyboard yang tak menuai hasil. Semua kosong melompong. Rupanya sudah pukul 16.00 Wib. Waktu yang selalu aku nanti. Tapi, kali ini berbeda. Rasanya enggan untuk beranjak dari kursi yang mulai membuatku nyaman ini. Aaagh. Lenguhku. Aku pun menuju kamar mandi untuk mencuci muka sebelum memutuskan untuk pulang, barangkali dapat menghapus rasa yang berkecamuk dalam pikiranku. Sejenak ku pandangi sendiri wajah yang mulai kusut di depan kaca.
***
Aku tersenyum sambil mengayunkan langkah untuk kembali pulang. Angin dingin yang menerpa, membuat tulang-tulang di sekujur tubuhku bergertak. Kumasukkan kedua telapak tangan ke dalam saku jaket, mencoba memerangi rasa dingin yang terasa begitu menyiksa. Wangi aroma kopi hitam yang diseduh menyambutku ketika Gea membukakan pintu. Wangi yang kelak akan kurindui ketika aku telah kembali ke kota kelahiranku. Tapi wajah ayu di hadapanku ini, akankah kurindui juga? Ada yang berdegup keras di dalam dada, namun ku usahakan untuk menepisnya. Jangan, Daniel, sergah hati kecilku, jangan biarkan hatimu terbagi. Ingatlah Riska, dia tengah menunggu kepulanganmu dengan segenap cintanya.
"Sudah pulang, Mas?" tanya Gea dengan senyum manja.
"Iya." jawab Daniel singkat.
“Ini kopinya Mas, lekaslah diminum selagi hangat. Mas pasti capek seharian bekerja, kan?" ucap Gea menyodorkan segelas kopi hitam kesukaan Daniel.
"Hm." jawab Daniel seolah mengiyakan apa pun perkataan Gea.
"Air hangatnya juga sudah ku siapkan. Mandilah terlebih dulu lalu kita makan malam bersama.”
Makan malam kali ini begitu romantis. Seolah Gea telah mempersiapkan segalanya. Semangkuk tumis brokoli dan cumi pedas kesukaanku. Oh alangkah beruntungnya aku memiliki wanita sepertinya. Yang dengan telaten dan sabar merawatku di sini. Tapi, tiba-tiba pikiranku buyar. Kembali Riska hadir dalam benakku.
"Oh, ya, tadi pagi ada tukang pos yang menitipkan ini untuk Mas, mungkin dari isteri Mas. Bacalah nanti ketika telah kau habiskan makananmu itu."
Ku pandangi lagi wanita di depanku ini. Alangkah sempurna setiap goresan wajahnya. Parasnya yang anggun, kulitnya yang bersih. Dan begitu elok kelakuannya. Siapapun yang memiliki wanita sepertinya pastilah beruntung laki-laki itu.
***
Ku ambil sepucuk surat berbalut kertas merah muda dari sakuku. Ku pandangi kertas merah muda ini. Baunya sama dan tentulah surat ini dari orang yang sama. Ku buka perlahan kertas yang ada di genggamanku. Seolah-olah takut merusak apa yang ada di dalamnya.
Teruntuk: Mas Daniel
Di manapun kamu berada
Bagaimana kabarmu di sana, Mas? Aku tau engkau pasti baik-baik saja. Aku tak akan menyuruhmu untuk lekas pulang. Karna ku tau keringat yang mengalir itu selalu untukku. Selalu ku doakan agar menjadi ridho illahi untuk kita. Tenang saja Mas, uang bulanan yang kau kirimkan untukku selalu dapat kusisihkan untuk tabungan kita kelak.
Aku di sini selalu menunggumu, Mas.
Dari istrimu,
Riska
Krek! Pintu kamar terbuka. Buru-buru ku masukan dalam laci kertas merah muda yang semula ku genggam. Gea muncul dari balik pintu dengan senyum merekah yang selalu menghiasi wajahnya.
"Kenapa, Mas? Tak usah khawatir, aku sudah paham semua. Jadi kamu tak perlu risau." ucap Gea.
"Tidak ada apa-apa, sayang. Sini duduklah di sebelahku."
“Mas, engkau tentulah tau betapa aku sangat mencintaimu. Semua yang ku punya telah ku berikan untukmu."
"Iya, sayang. Begitu pula denganku. Engkau adalah wanita terindah yang pernah ku milikki. Tiada selain dirimu."
"Tapi, Mas.."
"Sstt.. sudah jangan diteruskan lagi. Berbaringlah, engkau pasti lelah telah menyiapkan segalanya untukku. Tidurlah."
"Iya, mas." jawab Gea patuh.
Kulihat wanita di sampingku ini sudah tertidur pulas. Kubelai wajahnya dengan lembut. Kukecup keningnya agar mimpi-mimpi indah selalu menghiasi tidurnya. Kunyalakan lampu tidur di samping ranjang. Kembali raut wajah Riska terbayang. Betapa sampai hati aku menyakiti wanita sepertinya. Tapi apa yang bisa kuberikan padanya. Pengkhianatan seperti ini? Oh.. Tuhan, maafkan aku. Apa yang harus ku perbuat? Berat rasanya meninggalkan Gea yang mampu membuat hariku menjadi lebih berwarna. Namun, apa aku akan terus menjadi lelaki pecundang dengan menduakan cinta Riska?
***
Mentari pagi memancarkan keelokan warnanya, memberikan sumber kehidupan bagi siapa saja yang membutuhkannya. Entah mengapa hari itu berbeda dari hari biasanya. Ayam jago berkokok lebih keras. Langit nampak lebih berseri dari biasanya. Dedaunan beradu sapa seolah memberikan kabar gembira. Hiruk pikuk kota menjeritkan kebahagiannya kembali yang telah hilang di telan rembulan malam tadi. Kini, alam pun serasa lebih bersahabat. Merpati akhirnya membawa tangkai zaitun simbol kedamaian hati.
Aku pun beranjak dari tempat tidur dan bergegas untuk mandi. Berbagai masakan dan tak lupa secangkir kopi hitam sudah tersaji di meja. Kupandangi seluruh ruangan. Namun tak kulihat sesosok wanita yang selalu menyapaku ketika aku bangun. Di mana Gea? Tlah kucari wanita itu di setiap sudut rumah. Nafasku mulai terengah-engah. Keringat mulai bercucuran. Kusandarkan tubuhku di depan meja makan yang sesak dengan asap kopi yang berhembus. Lalu ku temukan sepucuk pesan di dekat kopi itu.
Aku pergi, pulang dan kembalilah bersamanya.
Gea.