"Jangan menyerah pada keadaan atau pun kenyataan. Sebab jika itu bukanlah sebuah takdir, kita masih dapat merubahnya. Yang harus kita lakukan hanyalah berjuang untuk menghadapinya dan menyelesaikannya."
"Aku teringat dengan sebuah ucapan yang merubah cara pandangku pada dunia saat ini, aku yang dulu tidaklah seperti ini. Saat itu aku beranggapan, apapun yang terjadi padaku itulah takdirku dan aku tidak akan merubahnya."
"Tapi, sekarang karena dirinya aku tidak akan pernah menyerah pada kenyataan itu. Karena aku tahu masih ada takdir yang dapat kita rubah jika kita terus berusaha."
"Ia datang padaku dengan senyum secerah mentari. Tapi, ternyata ada sebuah rahasia besar yang ia sembunyikan dibalik keceriaannya."
"Ia juga memberikanku begitu banyak motivasi dan dorongan. Lalu menyadarkanku bahwa anggapan yang aku terapkan adalah salah."
"Jika aku mengingatnya, aku benar-benar merindukannya. Semejak hari itu aku tidak pernah melihatnya lagi."
.
.
.
Aku ingin memliki teman tapi semenjak kejadian itu tidak ada lagi orang yang mau dekat denganku, begitu pun diriku aku juga takut untuk memiliki teman lagi.
Semua orang menyalahkanku dan aku pun juga menyalahkan diriku.
Aku tidak marah dijauhi, dibenci dan dituduh pembawa sial.
Aku... Menerimanya...
.
.
.
Seorang gadis dengan wajah tertunduk melewati seorang pria yang tampaknya ingin bertanya padanya. Tapi, gadis itu tidak mengindahkannya sama sekali. Bahkan mendengarnya pun tidak.
Di kelasnya pun ia juga duduk di pojokan paling belakang kelas dan bahkan ia tidak memiliki teman sebangku sama sekali.
Namanya adalah Arisa Putri, ia biasa di panggil Putri. Namun, ada juga yang memelesetkan namanya menjadi 'Putri kegelapan' karena orang-orang menganggapnya pembawa sial.
Namun, dibalik tatapan gelap orang-orang padanya, ada seorang gadis yang terus menatap ke arahnya. Nama gadis itu adalah Mira, gadis itu menatap Putri bukan dengan tatapan kebencian tapi tatapan yang menginginkan persahabatan dengan gadis itu. Tapi, ditatapannya itu ada juga raut kesedihan yang terpancar.
Kemudian Mira membalikkan pandangannya saat ada beberapa orang temannya yang menyapanya. Tapi, dilihat dari perilakunya ia tampak kecewa dengan dirinya sendiri.
.
.
.
Tidak terasa jam pelajaran pun dimulai. Seorang guru memasuki kelas itu dengan seorang murid laki-laki.
"Anak-anak, hari ini kita kedatangan teman baru. Kamu silahkan perkenalkan namamu," suruh guru itu.
"Halo teman-teman! Perkenalkan namaku Rendika, kalian bisa memanggilku Dika. Salam kenal!" ucapnya sambil tersenyum.
Kemudian ada murid yang tampaknya ingin bertanya, tapi sang guru sekaligus wali kelas di kelas itu langsung memotongnya.
"Acara tanya jawabnya, kalian bisa mulai saat istirahat nanti. Sekarang waktunya untuk memulai pelajaran," kata sang guru dan membuat murid itu kecewa. Pasalnya niatnya untuk bertanya hanya untuk memotong jam pelajaran semata.
"Dika sekarang kamu bisa duduk, di meja kosong di belakang," kata sang guru dan sebenarnya itu membuat Putri kaget karena satu-satu meja kosong adalah di sampingnya.
Tanpa menolak ataupun bertanya ia langsung pergi duduk di kursi itu, pria itu tampak begitu bersemangat.
Putri saat ini salah tingkah, ini pertama kalinya ia duduk dengan seorang pria. Dika mendudukan dirinya tanpa ragu di samping gadis itu. Walaupun ia sempat mendengar perkataan tidak mengenakkan dari murid di kelas itu saat menuju mejanya.
.
.
.
"Anak baru itu duduk dengan gadis itu, bisa-bisa dia kena sial,". Maksudnya apa. Batin Dika bertanya.
Kemudian ia menatap gadis itu yang saat ini tampak tertunduk dalam. Wajahnya tidak begitu terlihat karena rambutnya menutup sebagian wajahnya. Kemudian Dika menatap ke arah depan lagi, sambil sedikit tersenyum. Tidak ada perbincangan di antara mereka sampai jam pelajaran selesai.
.
.
.
"Hei," sapa Dika kepada Putri gadis itu menatap Dika ragu-ragu.
"Kenalin namaku Dika," Dika mengeluarkan senyum sejuta wattnya dirinya tampak begitu cerah dan bersemangat dan membuat Putri sangat senang. Sudah lama tidak ada orang yang tersenyum di kelas itu kepadanya.
"Na-namaku Putri, Arisa Putri." ucapnya gugup.
"Kamu maukan jadi temanku?" tanya Dika.
Saat itu juga Putri teringat masa lalunya dan langsung berdiri kaget.
"Maaf," ucapnya tertunduk hendak menangis, kemudian berlalu pergi.
"He-hei!!" ketika ingin mengejar Putri ia keburu dipanggil oleh orang-orang di kelas itu.
"Dika! Ayo main bareng kami," ajak teman-temannya. Kemudian Dika berpikir sejenak. Kemudian ia tersenyum.
"Ummm, ayo!!" kemudian ia langsung pergi mendatangi teman-teman barunya.
"Wah Dika, ternyata kamu cukup ganteng juga yah," kata teman barunya blak-blakan.
Dika hanya menaggapinya sambil tertawa dan menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
Saat mereka di perjalanan menuju lapangan pun, banyak mata yang menatap kehadiran Dika terutama para gadis rata-rata dari mereka tampaknya langsung tertarik sekali melihat Dika.
"Dika sebaiknya kamu gak usah deket-deket lagi deh sama dia," kata salah satu temannya.
"Siapa?" tanya Dika bingung.
"Putri, gadis yang duduk di sampingmu. Kami siap kok nyediain tempat duduk baru buat kamu," kata mereka.
"Kenapa?" kata Dika tertunduk seperti memendam sesuatu.
"Gadis itu pembawa sial,"
"Aku gak mau ngejauhin dia, kalau pun suatu saat aku kenapa-napa itu bukan salah dia, itu berarti salah diriku sendiri." kata Dika sambil tersenyum.
.
.
Saat ini Dika memperlihatkan keahliannya dalam bermain bola basket. Bahkan orang-orangpun terpungkau saat melihatnya.
Brukk! Tiba-tiba Dika tergeletak tidak sadarkan diri.
"Dika! Dika!" semua orang heboh dan kaget melihat Dika pingsan.
.
.
.
"Kalian tau gak, gara-gara anak baru cowok itu dekat-dekat sama Putri, tau kan kalian sama gadis itu," kata penggosip-penggosip di sekolah itu dan teman-temannya mengangguk.
"Hari ini dia kena sial, masa pas keren-kerennya dia main basket. Tiba-tiba jatuh pingsan, kan aneh." saat itu Putri tidak sengaja mendengar percakapan itu dan langsung berlari pergi menuju UKS.
.
.
.
Di UKS ...
Dika mulai sadarkan diri, teman-temannya merasa lega akhirnya pria itu sadar. Merasa tidak enak hati pada teman-temannya ia menyuruh mereka sebaiknya kembali ke kelas dan temannya pun menuruti permintaannya.
Kemudian ia membangunkan dirinya yang masih cukup lemah. Dadanya terasa berdenyut sakit. Lalu ia mengambil sesuatu di saku celananya. Tampaknya itu sebuah obat. Kemudian ia meminumnya.
Tiba-tiba, Putri muncul di depan pintu UKS sekolah itu. Dika tampak terkejut.
Tetapi kemudian ia mengeluarkan senyum terbaiknya kepada gadis itu.
Terlihat mata gadis itu mulai berkaca-kaca lalu ia tertunduk.
"Maaf Dika, aku-aku gak bisa jadi temanmu. Karena aku hanya akan merepotkan dirimu, maaf." kata Putri kemudian berlalu pergi meninggalkan sang pria yang tampaknya kebingungan. Kemudian ia tertunduk lalu tersenyum.
"Seharusnya kalau kau memang tidak ingin menjadi temanku, kau mengatakannya dengan lantang dan harus mendongakkan kepalamu." gumam Dika.
"Aku tidak akan menyerah padamu, karena kamu itu kesepian meskipun dirimu berusaha tegar. Lagipula kamu tidak merepotkanku." gumam Dika berbicara sendiri.
.
.
.
...
Semenjak kejadian itu, Putri menjauhi Dika. Bahkan gadis itu tidak berani menatap mata pria itu dan langsung berlalu pergi.
Dika selalu berusaha mencari cara agar bisa dekat dengan gadis itu, tapi apa boleh buat setiap dia mencoba mengajak gadis itu berbincang gadis itu selalu menghindarinya dan ia sendiri pun kewalahan menghadapi teman-temannya yang terus mengajaknya bersama.
.
.
.
Sampailah saat itu tiba, saat dimana ia membulatkan tekadnya untuk mengajak gadis itu bicara.
Saat itu jam pulang sekolah, teman-temannya mengajaknya pulang bersama tetapi ia menolaknya dan bilang ia memiliki urusan.
Saat ini ia tengah mengejar Putri.
"Ternyata langkahnya cepat juga," katanya terengah-engah.
"Put-Putri tunggu!" teriak Dika.
Kemudian gadis itu membalikkan dirinya merasa terpanggil tetapi setelah menyadari yang memanggilnya adalah Dika ia pun mulai mempercepat langkahnya lagi.
Saat ini Dika meraih tangan Putri sehingga langkah gadis itu terhenti.
"Put kamu marah sama aku? Kalau kamu marah aku minta maaf," kata Dika membuat gadis itu bergetar. Dika kebingungan.
Kemudian ia melihat air mata gadis itu menetes.
"KAN SUDAH KUBILANG JANGAN DEKAT-DEKAT DENGANKU! AKU GAK MAU JADI TEMAN KAMU!" teriak Putri tapi dengan wajah tertunduk dan badan yang bergetar.
Kemudian Dika memegang kedua bahu Putri. "Put tatap aku," kata Dika tetapi gadis itu tidak berani menatap mata sang pria.
"Kalau kamu memang gak mau aku jadi teman kamu, kamu harus bilang dengan menatap wajahku." kata Dika.
Putri pun mendongak dengan wajah yang sembab.
"Ak-aku-aku... Hiks!" kemudian ia tertunduk dan menangis lagi.
"Dika, ini juga demi kebaikan kamu. Aku ini pembawa sial dan hanya menyusahkan dirimu sebaiknya kamu jauh-jauh dariku," kata Putri sesenggukan.
"Kau bilang dirimu pembawa sial, tentu bukan. Semua orang pernah melakukan kesalahan bukan berarti mereka pembawa sial," kata Dika menjelaskan.
"Tapi waktu itu kau pingsan karena dekat denganku," kata Putri masih sesenggukan.
"Put, itu bukan salahmu. Aku memang kurang sehat waktu itu tapi memaksakan diri untuk bermain. Jadi itu bukan salahmu tapi salahku sendiri." kata Dika menjelaskan dan Putri mulai berani menatap wajah pria itu. Kemudian ia melihat wajah pria yang saat ini tengah tersenyum cerah kearahnya tapi ia bingung kenapa mata pria itu terlihat sendu.
Dika mengambil sapu tangan dari sakunya dan menyeka air mata Putri dengan lembut, gadis itu sebenarnya tersipu malu dibuatnya.
"Kau mau kan jadi temanku!" katanya.
"Kuharap kau tidak perlu memperdulikan kata orang-orang di sekitarmu. Ini kehidupanmu, bukan kehidupan mereka." kata Dika tersenyum ke arah Putri lagi.
"Ak-aku mau jadi temanmu, kamu juga teman pertamaku setelah sekian lama." kata Putri ia tidak ragu. Sebenarnya ia memang ingin berteman dengan pria itu sejak lama, sejak saat pria itu mengajaknya untuk berteman. Tapi karena saat itu ia masih ragu, ia pun meninggalkan Dika.
Kemudian mereka pun pulang bersama. "Dika apa yang membuatmu ingin berteman denganku?" tanya Putri malu-malu, bagaimana tidak selama ini tidak ada pria yang pernah dekat dengannya. Dan Dika adalah orang pertama.
"Tapi, tidak di jawab juga tidak apa-apa kok," Putri saat ini mengatakannya dengan tersenyum, senyum bahkan tidak pernah dilihat oleh orang-orang. Dika saat ini takjub dibuatnya di mata Dika gadis itu terlihat begitu manis ketika tersenyum.
"Entah mengapa kau itu bagiku adalah orang yang spesial," kata Dika berucap begitu saja.
"Eh?!" Putri terkejut salah tingkah, ia merasa seperti ada ribuan kupu-kupu yang berterbangan di perutnya.
Sedangkan Dika ia tidak kalah terkejutnya dengan ucapannya sendiri, ia membuang pandangannya ke arah lain. Dadanya terasa berdebar.
Apakah aku akan kambuh disini, tapi kenapa rasanya menyenangkan. Batin Dika kaget dengan perasaanya sendiri.
.
.
.
Hari demi hari pun terlewati Dika terkadang selalu ada di samping Putri, sehingga tidak ada gadis-gadis yang berani mencaci-maki dirinya.
...
Sampai suatu ketika Dika jatuh sakit dan tidak masuk sekolah beberapa hari.
"Heh, Putri sebaiknya kamu itu gak usah dekat-dekat lagi deh sama Dika. Kamu lihatkan, sekarang dia sakit dan gak masuk sekolah! Gara-gara siapa coba? Itu semua gara-gara kamu tau!" kata Resti membully Putri sambil mendorong Putri kasar bersama teman-temannya ia pun berlalu pergi meninggalkan Putri yang tertunduk diam.
Yah dia Resti, gadis yang paling sering membully Putri ketimbang yang lain. Bisa dibilang dialah yang menyebarkan gosip Putri itu pembawa sial.
Mira menatap tajam Resti saat ia dan gengnya melalui dirinya, tapi gadis itu tidak memperdulikannya dan lebih memilih untuk membuang mukanya ke arah lain.
Putri yang tengah tertunduk meninggalkan tempat itu dan berlalu pergi, tampaknya Mira ingin menyapanya tetapi ia tidak berani dan hanya bisa menatap kepergian gadis itu dengan tatapan sendu.
Maafin aku Nadra, aku masih belum berani buat menyapa Putri, aku masih belum berani. Batin Mira ia kemudian tertunduk merasa bersalah akan dirinya yang terlalu penakut.
.
.
.
Keesokan harinya...
Kali ini Resti benar-benar keterlaluan, ia membully Putri habis-habisan. Dan terakhir ia pun mengungkit-ungkit soal Nadra.
Nadra adalah kakak tiri Resti yang meninggal satu tahun lalu karena menyelamatkan Putri dari kecelakaan. Dan hal inilah yang menyebabkan Putri dibuli. Karena dekat dengannya Nadra meninggal, hal ini membuat Putri begitu terpukul. Bagaimana tidak Nadra adalah sahabat dekat Putri bahkan seperti saudara dan yang benar-benar membuat ia sakit hati karena ia tertuduh sebagai pembunuh Nadra, ia tidak mungkin melakukan hal tersebut pada sahabatnya. Putri sudah tidak tahan lagi karena hal itu.
.
.
.
Di belakang sekolah setelah kejadian pembulian itu Putri ingin mengakhiri hidupnya.
"Dra, mungkin sebaiknya aku nyusul kamu. Gak ada gunanya lagi aku bertahan." Saat ini Putri berniat mengakhiri hidupnya tetapi Dika datang dan langsung mencekal tangannya.
Dika mendengar semua ucapan orang-orang yang membuli Putri, tetapi ia begitu terkejut ketika gadis itu ingin mengakhiri hidupnya.
"Put, itu bukan salahmu. Hidup dan mati itu sudah diatur oleh Tuhan. Kita hanya dapat menjalaninya, kamu gak bisa nyalahin diri kamu sendiri." Putri pun terkejut mendengar ucapan Dika.
"Aku khilaf, Dik. Hiks! Aku tahu salah-aku salah. Seharusnya aku gak kayak gini. Aku benar-benar khilaf." Putri menangis sesenggukan kemudian pria itu memeluk Putri erat.
Hangat, itulah yang Putri rasakan ia begitu bersyukur karena ada pria itu disisinya.
"Kamu jangan begitu lagi Put, hidup itu cuma sekali dan gak ada lagi yang kedua," kata Dika berucap.
"Ia aku tau Dik, aku tau. Makasih Dik karena kamu sudah mau di sampingku saat aku kayak gini. Makasih." kata Putri tambah mengeratkan pelukannya.
Kemudian Dika membuat Putri menatap dirinya.
Dika menyapu air mata Putri sembari tersenyum.
"Put, jangan nangis lagi. Kita ini gak boleh menyerah pada kenyataan meskipun terkadang rasanya pahit tapi itu semua pasti ada hikmahnya." perkataan Dika yang benar-benar membuat Putri tersentuh.
.
.
.
Dika membawa Putri kembali ke kelas sambil menggandeng tangannya. Gadis itu tersipu malu dibuatnya. Namun tidak disangka oleh Dika, Putri membalas genggaman tanga Dika dan membuat pria itu kaget sekaligus senang.
"Dika kamu masih aja dekat sama dia!" tunjuk Resti tepat di depan wajah Putri.
"Tau gak dia itu pembawa sial!" ungkap Resti kesal tampaknya ia cemburu melihat Putri yang begitu dekat dengan Dika.
Putri tertunduk dan genggaman tangannya pada Dika melemah tetapi Dika malah mengeratkan genggamannya. Seolah-olah ada kekuatan yang mengalir ke tubuh Putri, gadis itu pun kembali berani mendongakkan wajahnya menatap Dika.
Semua orang di kelas itu mulai berkumpul mendengar keributan yang terjadi. Gosip pun mulai bertebaran.
"Ini pendapatku pada kalian semua, terutama untuk kamu Resti, kamu mungkin seenak saja menuduh orang sembarangan," kata Dika belum selesai dengan ucapannya.
"Kalian itu seharusnya gak menyalahkan orang lain kayak gini, seolah-olah kalian itu gak pernah salah. Apakah kalian itu pernah berpikir kalian itu sama saja, sama-sama memiliki kesalahan yang kalian lupakan karena terlalu sibuk menyalahkan orang lain. Sampai-sampai kalian lupa kalau kalian juga punya kesalahan yang mungkin lebih dari orang yang kalian salahkan." kata-kata Dika membuat orang-orang terdiam memikirkan kesalahan mereka masing-masing.
"Dika, memang kamu tahu ap..."
"CUKUP SUDAH!" teriak seorang siswi memotong kata-kata Resti dan membuat seluruh orang menatap kearahnya. Dia adalah Mira.
"Resti kamu sudah keterlaluan. Bener apa katamu Dik, sebenernya disini ada seseorang yang lupa dengan kesalahannya sendiri lalu menyalahkan orang lain seenaknya." kata Mira kesal.
"Selama ini dia yang salah atas kematian Nadra namun menyalahkan orang lain!" kata Mira menunjuk ke arah Resti dan membuat orang-orang bertanya-tanya.
"Apa maksud kamu jelas-jelas dia yang salah, kamu nuduh aku. Aku ini saudaranya. Kamu mau belain si pembawa sial ini," kata Resti tidak kalah pedasnya.
"Memang kamu saudara Nadra yang merupakan sahabat Putri, tapi sebenernya kamu itu bencikan sama Nadra? Kamu pikir aku gak tau hah!" kata Mira kesal, semua orang terkejut. Gadis seperti Mira yang terkenal pendiam dan pemalu hari ini menampilkan ekspresi marahnya.
"Apa yang kamu katakan itu gak bener, walaupun dia saudari tiriku aku sangat sayang sama dia," kata Resti berkaca-kaca. Entah itu perasaan sesungguhnya atau hanya akting belaka.
"Apanya yang sayang, kamu itu selalu menyakiti perasaan Nadra, bahkan kamu ngelakuin hal yang sama seperti yang kamu lakukan sama Nadra ke Putri. Kalau kalian mau bukti, nih buktinya. Bukti dari semua keburukan Resti." Resti tidak percaya akan hal itu bagaimana ia sempat mengabadikan foto bahkan video ia menyiksa Nadra.
"Gambar dan Video ini sebenernya sesuatu hal yang gak sengaja aku dapatkan, karena aku heran mengapa di badan Nadra terkadang ada bekas lebam. Sebenarnya aku membuat bukti ini kalau dia udah bener-bener keterlaluan terhadap Nadra. Nadra memang kakak tirinya, dan pasti orang-orang menganggap Restilah yang kalah dengan Nadra. Tapi sebenernya kebalikannya, Nadralah yang mengalah pada Resti."
"Sampailah saat dimana kecelakaan naas itu terjadi, kebetulan Putrilah yang berada di sampingnya saat itu dan saat Putri hampir tertabrak mobil Nadra rela mengorbankan nyawanya untuk Putri, bukan berarti Putri pembawa sialkan. Jelas Nadra akan melakukan hal itu, ia sudah jelas merasa gak pantas untuk hidup lagi, ia begitu terpuruk. Siapa yang bakalan sanggup diperlakukan oleh keluarganya seperti itu. Gak bakalan ada yang sanggup," kata Mira menjelaskan.
"Tapi yang aku heran kenapa Resti menyalakan Putri, apa karena Putri sahabat Nadra atau karena ia melimpahkan kesalahannya." semua orang langsung tercengang mendengar penyataan Mira.
Was!
Wes!
Wos!
Gosip sudah tidak terelakan lagi semua orang pun menyalakan Resti. Teman-teman di kelas Putri satu persatu meminta maaf pada Putri atas penilaian yang salah terhadap Putri.
Putri menangis haru, ia tidak menyangka hari ini akan terjadi. Hari dimana ia di terima kembali oleh teman-temannya.
"Umm, aku gak pernah marah sama kalian seharusnya aku yang minta maaf," katanya menjelaskan semua orang pun tersenyum melihat ketulusan Putri.
.
.
.
Saat ini Putri dan Mira berada di belakang kelas mereka.
"Put maaf selama ini aku diam dan gak pernah menjelaskan semuanya padamu. Aku tau semuanya, tapi baru hari ini aku berani ngomong dan ngejelasin semuanya, maaf. Kalau kamu marah sama aku gak papa wajar kamu marah," kata Mira tertunduk.
"Aku gak marah, wajar saja kamu bersikap kayak gitu. Aku paham perasaanmu. Kamu juga terpukul. Seharusnya aku berterimakasih padamu. Atas semuanya. Makasih Mira," kata Putri tersenyum ke arah Mira gadis itu tersenyum sambil mengangguk.
"Nadra dan aku dulu teman kerja paru waktu, kami dekat. Selama ini aku juga ingin dekat sama kamu tapi aku bingung harus bilang apa. Tapi karena Dika akhirnya hari ini aku bisa mengungkapkan semuanya. Put, sekarang aku mau jadi temanmu, bukan karena menggantikan sahabat kita Nadra tapi aku tulus mau jadi teman kamu," kata Mira.
"Selama ini ia sangat ingin ngebuat kita bisa deket kaya gini, tapi tujuannya gak kesampean sampai akhir hayatnya. Oh ya, apa kamu mau jadi temanku?" tanya Mira lagi.
Kemudian Putri memeluk Mira erat "Aku-aku mau jadi temanmu. Aku tahu selama ini kau selalu menatapku dengan tatapan yang berbeda. Kamu gak menatapku dengan tatapan yang menandakan kebencian terhadapku. Selama ini aku selalu menunggu saat-saat ini saat dimana aku bisa memelukmu dan berteman denganmu, maafkan aku yang pura-pura tidak tau," kata Putri dan Mira membalas pelukannya ia bahagia akhirnya mendapatkan seorang teman.
.
.
Akhirnya semuapun kembali seperti semula, Putri sudah tidak di abaikan lagi dan malah teman-teman sekelasnya merasa di untungkan berteman dengan Putri karena gadis itu cukup pintar dalam hal pelajaran.
Sejak hari itu Resti pindah sekolah dan membuktikan bahwa gadis itu benar bersalah. Semua kembali seperti setahun yang lalu semua berbaur dan berkumpul bersama.
Mira, Putri dan Dika sedang berbincang-bincang.
"Dik makasih yah atas semuanya, seandainya gak ada kamu mungkin kejadiannya gak bakalan kayak gini," kata Putri, Dika pun tersenyum.
"Put, sebenernya aku gak ngebantu banyak. Ini semuakan atas keberanian Miraa menjelaskan semuanya." jelas Dika.
"Tapi tetap aja Dik, aku berani ngomong karena ucapanmu," kata Mira menjelaskan. Pria itu hanya tertawa garing tetap merasa dirinya tidak melakukan apapun.
"Oh iya Dik, kapan kamu nembak Putri?" pertanyaan Mira yang nyaris membuat kedua sejoli itu hampir tersedak air liurnya sendiri.
"Hahaha, kamu ada-ada aja Ra." Putri tertawa garing sembari menghilangkan kecanggungan yang terjadi, padahal saat itu Putri juga berharap Dika menyatakan perasaannya.
"Belum saatnya, karena sekarang aku masih takut kalau hal itu bakalan nyakitin perasaan Putri." jelas Dika ramah, namun saat ini ada raut kelelahan di wajahnya, saat ini matanya terlihat sayu dan wajahnya pucat.
"Dik kamu kenapa? Kamu sakit?" tanya Putri khawatir baru menyadari wajah Dika yang pucat karena terlalu asik berbincang.
"Gak papa kok kamu gak usah khawatir sama aku. Mungkin cuma kecapean." kata Dika berusaha tersenyum.
"Uhuk! Uhuk!" Dika terbatuk-batuk kemudian ada darah yang keluar dari mulutnya wajahnya tambah pucat kemudian ia memegang dadanya tampak kesakitan.
"Dika! Kamu kenapa Dik?" Putri mulai menangis, semua orang mulai riuh melihat keadaan Dika, ada yang langsung berlari untuk memanggil guru ke kantor.
"Put, kamu jangan nangis. Jangan buang air matamu untuk hal yang gak berguna, air matamu itu berharga bagiku," kata Dika melemah.
"Hiks! Gimana aku gak nangis, kamu kenapa?" tanya Putri sedangkan pria itu hanya menggeleng sambil tersenyum.
"Putri mulai sekarang kamu jangan pernah menyerah pada keadaan ataupun kenyataan, sebab jikalau itu bukanlah sebuah takdir kita masih dapat merubahnya. Yang harus kita lakukan hanyalah berjuang untuk menghadapinya dan menyelesaikamnya. Karena aku sendiri tidak akan menyerah pada ini semua." ucapnya sesaat setelah mungucapkan kata-kata itu ia pun akhirnya kehilangan kesadarannya.
"Dika!" suara samar teriakan Putri, dan merupakan suara terakhir yang di dengar oleh Dika.
.
.
.
Akhirnya akupun tahu apa yang ia sembunyikan saat itu, ia sakit tapi masih bisa tersenyum bahkan secerah itu. Seandainya aku tahu dia sedang sakit parah mungkin aku akan selalu menyemangatinya dan bukan malah merepotkannya dan membuatnya terus-terusan mengkhawatirkan diriku bahkan disaat-saat terakhirnya ia masih sempat memikirkanku.
Tapi wajah kuatnya itu benar-benar membuatku tidak menyadarinya, wajah dengan senyuman secerah mentari yang memberi ku kahangatan dan merubahku menjadi lebih kuat.
Di depan matahari terbenam ini menjadi saksi bisuku akan perasaanku padanya yang bahkan tak tersampaikan. Aku mencintainya, sungguh sangat mencintainya, Dika. Harapanku kau ada disini. Kemudian ia memeluk lututnya dan menelungkupkan wajahnya di lututnya.
.
.
.
Tiba-tiba ada seseorang yang berdiri dihadapan Putri.
"Putri," kata seorang pria dihadapan gadis itu. Gadis itu mendongak menyipitkan matanya karena terhalau cahaya matahari sore.
"Dika," kata Putri kaget air matanya mulai mengalir tidak percaya apa yang dia lihat dan berharap itu bukanlah mimpi. Dan ternyata itu benar bukan mimpi.
"Dika, aku rindu kamu." lirihnya.
"Aku juga Putri, sangat-sangat merindukanmu." Dika merentangkan tangannya, agar Putri memeluknya. Dengan sigap Putri langsung melompat dan jatuh ke dalam pelukan pria itu.
"Dika jangan tinggalkan aku lagi," pinta Putri.
"Mulai sekarang aku akan berada disisimu, jadi jangan bersedih dan menangis lagi karena air matamu itu mahal bagiku." jelas Dika mengusap air mata Putri.
"Ya aku gak akan nangis lagi, lihat aku tersenyum sekarang. Cis!" Putri tersenyum lebar.
.
.
.
"Oh ya, bagaimana kamu bisa sembuh?" tanya Putri.
"Jadi kamu gak suka aku sembuh?" goda Dika.
"Eh?! Bu-bukan begitu," Putri melambai-lambaikan tangannya tidak bermaksud berkata begitu dan malah sekarang merasa bersalah karena bertanya seperti itu.
Dika tersenyum. "Sudah kubilang aku tidak akan menyerah pada kenyataan yang bukan takdirku." kata Dika.
"Dika, penjelasanmu gak jelas." protes Putri tersenyum menanggapinya.
"Ada seseorang yang rela mendonorkan jantungnya untukku, aku tidak tahu siapa yang pasti dia orang baik. Aku ingin sekali berterimaksih padanya. Karena telah rela membagikan kehidupannya pada orang lain sepertiku," jelas Dika.
"Putri," panggil Dika
"Umm," jawab Putri menatap wajah Dika.
"Aku mencintaimu," kata Dika terus-terang.
"Ak-aku juga," jawab Dira malu-malu.
Ditengah matahari terbenam sebuah hubungan pun akhirnya terjalin.
.
.
.
"Saat ini aku begitu bahagia seolah-olah aku terbang pada tempat tertinggi di dunia. Walaupun jika jatuh rasanya sakit, aku akan jalani sesuai alur yang di tulis oleh takdir." ~Putri~
"Aku tidak akan menyerah pada keadaan yang bukan takdirku, karena kamulah takdirku." ~Dika~
.
..
...
....
.....
~~~End~~~
*Happy Ending😘*
Semoga kalian suka..
.
.
.
Ini ceritu udah lama sebenernya. Untuk teman saya, saya ucapkan terimakasih untuk request nama tokohnya...
Sampai jumpa lagi di cerita saya yang lainnya...🙋🙋🙋