Bukan... Bukan ilusi yg membutakan hati, lantas menutup diri tapi misteri yang memberi energi disetiap jentik jari yang menari akan hausnya jati diri...
Siapa aku ini?...hingga tak tau diri untuk meminta semua dilindungi dari disetiap jerit hati...
Iya... Lirih hati ini menjerit meminta tolong pada setiap hati yang murni...
Meminta agar diri ditopang oleh tameng suri yang suci,Memohon agar semua cepat pergi dan lari,jangan lagi datang karna diri ini tak ingin lagi dicari,tapi apa daya misteri selalu melilit diri dengan gigih berani sehingga tak kan lagi bisa lari dari api yg mengelilingi jalan untuk lari...
Jangan mencoba lari... Karna semakin aku berlari semakin dekat misteri menghampiri....
1malam saja tapi berasa tanpa akhir yang pasti...
Saat itu aku merasa ada yang aneh ketika meraba dinding, dinding itu terasa dingin sekali.
Tiba-tiba terdengar suara "kreeek" yang kedua kali.
"teh, kok bi mimin lama sih. Ika takut"
"sabar, sebentar lagi juga pulang. " jawabku berusaha menenangkan.
ckiiiiiiiit....
Terdengar suara decitan pintu. Aku pun spontan berhenti melangkah. Hanya tinggal sepuluh langkah untuk sampai kamar. Ku coba diam dan mendengarkan dengan seksama darimana sumber suaranya. Kondisi rumah sudah mulai gelap total karena hampir semua lilin padam. Hanya tinggal tersisa lilin diruang tamu dan kamar yang masih menyala.
"ka, tunggu sebentar ya. Teteh mau ambil lilin diruang tamu."
"ah teteh jangan tinggalin ika, takut teh gelap." adikku pun akhirnya menangis.
"sssst... Jangan nangis, tunggu sebentar, gak lama kok, kan biar terang. Ika diem aja disini senderan tembok."
Adikku pun akhirnya pasrah mengiyakan sembari masih menahan tangis karena takut.
Perlahan aku berjalan dengan meraba dinding kembali, sekarang dinding ini rasanya menjadi hangat, tidak sedingin dinding ruang tengah.
Tiba-tiba saja terdengar suara "praaaaang" suara itu jelas sekali berasal dari ruang tengah.
"teteeeeh..... " teriak adikku.
Aku pun bergegas mengambil lilin yang ada diruang tamu.
"kaaa... Ika dimana? " sambil berjalan perlahan agar lilin itu tidak padam tertiup angin.
Ika masih tidak menjawab.
"ka.... Dimana? " tanyaku sekali lagi
Begitu sampai diruang tengah, aku terkejut melihat adikku sedang berdiri terdiam berada ditengah ruangan, kepalanya menunduk lemas. Spontan aku jalan mendekat dengan tubuh yang gemetar menahan takut dan kaget.
"ka, ka. "sambil kugoyangkan tubuhnya namun ika tetap diam.
"ka, ika kenapa? " aku mulai panik. Airmata seketika turun tak tertahankan.
Gubraaak.
Sekali lagi ak mendengar suara dentuman yang sangat keras, dan aku rasa kali ini suara itu berasal dari arah dapur.
"siapa disitu?" Teriakku dengan nada panik.
Sekali lagi aku berusaha menggoyang-goyangkan tubuh adikku. Kemudian aku tuntun perlahan menuju kursi yang berada diruang tengah. Tubuhnya sangat kaku dan dingin.
"ka, ika jawab teteh. Jangan diem aja. Maafin teteh tadi ninggalin ika."
Kulihat botol air minum yang tadi dibawa adikku terjatuh, lalu aku berdiri untuk mengambilnya.
sleeeeebbb....
Tiba-tiba tubuhku seperti tertabrak oleh sesuatu. Spontan aku menoleh ke belakang.
"aaaarrrrggghhhhh..... " dengan suara sedikit parau aku berusaha berteriak semampuku.
Aku terpaku duduk dilantai tanpa bisa bergerak, tubuhku lemas tak berdaya. Airmataku menetes deras, menangis tanpa bisa bersuara. Rasanya mulut ini menjadi rapat seperti dilem.
Kulihat sosok bayangan hitam besar sedang berjalan disebelah adikku, berjalan atau entah melayang, dari kursi ke dinding, kemudian mendekat kelantai tempatku duduk.
Tubuhku semakin kaku. Aku tak bisa bergerak. Kulihat adikku yang terkulai lemas dikursi. Dan aku tidak bisa berbuat apa-apa. Hanya bisa meneteskan airmata dan berteriak dalam hati. Lilin yang kubawa sudah hampir padam.
Bayangan hitam itu terus saja mendekat, bergerak semakin cepat. Kucoba memejamkam mata, tapi aku penasaran. Bayangan itu berhenti tepat disamping kananku. Hanya berjarak dua jengkal. Aku bergetar ketakutan.
"Kreeeeek... Cekleekk.. "
Kudengar suara pintu terbuka dari ruang tamu. "Praaaaannng... " Suara benda jatuh.
"Neng... Neng.. " suara bi mimin memanggilku.
Aku masih tidak bisa bicara. Aku menjawab dalam hati. Berharap bi mimin segera menemukanku dan adikku.
"astagfirullah... Neng, neng kenapa? " suara bi mimin nampak panik.
Tak lama tangisku pun pecah, aku peluk bi mimin dengan erat. Aku menangis sejadi-jadinya. Lalu aku menunjuk bayangan hitam yang sedang berdiri disampingku.
"apa neng, apa? Mana ika"
Aku hanya bisa menangis. Tak sanggup bicara.
Kemudian bi mimin menoleh ke arah kursi dan melihat ika yang sekarang posisinya sedang berbaring. Bi mimin pun bergegas memeriksa keadaan ika.
"ikaaaa.. Neng ika tidur? " tanya bi mimin sembari mendekati ika.
"astagfirullah... Neng.. " suara bibi bertambah panik.
"ika panas neng fia."
Aku berusaha bangun, dengan tubuh yang masih gemetar. Kulihat bayangan hitam itu menjauh, merapat ke dinding ke arah dapur.
Perlahan aku dekati ika dan bi mimin.
Praaaaang..
Terdengar suara benda terjatuh lagi dari arah dapur.
aku tak bisa lagi bersuara, hanya duduk diam terpaku disamping adikku yang lemah tak berdaya meringkuk menahan panas tubuhnya.
lampu dirumah pun tak kunjung menyala, entah sudah berapa lama kamiterdiam diruang tengah yang begitudingin menusuk jantung,hingga nafas pun terasa sesak.
"neng,tidurnya dikamar aja ya, kasian ika panas banget badannya" seru bibi sambil membopong adikku menuju kamar, aku pun mengikuti disamping sambil memegang baju bibi dengan sangat erat.
setibanya dikamar adikku tiba-tiba saja berteriak kencang dan menangis,tapi matanya masih saja tertutup rapat dan tanpa air mata yang mengalir dipipinya, aku melihat sesosok bayangan hitam lagi di pojok kamar besar dan tampak jelas denga mata yang menyala, tak ada kata dan perlawanan dari tubuhku bahkan bibi karena sekwtika suara dentuman keras menyambar dari ruang depan dan semua nya buyar, aku pun tak sadarkan diri.
ketika pagi menampakkan cahayanya dijendela, aku membuka mataku mencoba bangkit dan melihat adikku yang masih saja terbaring lemas dengan demamnya.
aku mencoba melangkah keluar melihat isi rumah dan semua terlihat normal hanya 1 bingkai lukisan jatuh yang pecah berhamburan yang sedang dirapihkan bibi.
aku mencoba berjalan ke sisi ruang ruang lain mencoba mencari apa yang terjadi tadi malam tapi tak terjawab,hanya menyisakan tanya mengapa bingkai trjatuh dan mengapa ada noda hitam panjang di lantai depan?...
sampai hari ini pun masih belum menwmukan jawabannya.
####