Tetesan air membasahi pipi yang percuma untuk ditahan, tidak ada lagi yang perlu disembunyikan. Bahkan setelah semua usaha untuk dapat mempertahankan hubungan yang sudah penuh dengan duri, bodoh, karena duri itu hanya melukai.
"Tidak apa-apa aku akan bertanggung jawab"
Seharusnya kata itu tidak dipercaya. Bangaimana mungkin dia yang telah merampas sesuatu bisa bersikap seperti pahlawan, dia adalah pencuri. Hanya karena kata Cinta ? Kuserahkan segalanya.
Saat pintu kamar kos itu dikunci tanpa sedikitpun curiga, akhirnya hancur sudah segalanya. Bahkan sekuat tenaga Aku untuk mempertahankannya, hasilnya percuma bagaimana seorang perempuan mengalahkan tenaga seorang laki-laki.
Dengan pelukan hangat Ia mencoba menenangkan, kecupan ringan dikepala juga Ia berikan. Lembut sekali, seolah yang terjadi adalah kesalahan. Tubuh juga gemetar mengingat wajah kedua orang tua saat memberi izin untuk berangkat tadi.
Bahkan kedua orang tuaku juga percaya kalau dia adalah lelaki yang baik, kalian salah Ibu... Ayah... Dia cuma penipu yang pintar bersandiwara.
"Kenapa dia sesak nafas begini ?" Ayah bertanya saat melihat kondisiku yang rapi tapi, dengan napas yang sesak. Tubuhku juga bergetar mengingat pengalaman pertama yang tidak pernah kuduga.
"Asmanya kambuh pak, ini sudah saya belikan obatnya." Ucapnya yang membuat tenang Ayahku.
Hatiku hancur saat melihat wajah lelah ayah yang menungguku pulang sedari tadi, bangaimana aku bisa mengatakan padanya kalau Anak yang Ia jaga selama lebih dari 20 tahun sudah ternoda.
Mana sanggup aku menghancurkan hatinya, belum lagi Ibu yang sudah sering menanyakan kejelasan hubungan kami, berharap ikatan kami dapat sampai kepelaminan segera.
Kalaupun menikah bukanlah dengan cara yang seperti ini.
"Itu biasa kok, aku juga begitu sama pacarku."
"Iya, hampir semua teman sekampus kita udah jebol. Kau aja yang terlalu polos. Lagian pacarmu mau tanggung jawabkan ?"
Aku hanya mengangguk saat curhat pada teman kampusku mengenai pengalaman yang baru saja menimpaku. Tapi, untunglah Dia memang ingin bertanggung jawab pikirku.
Hingga sebuah postingan di sosial medianya mengangetkan ku. Foto lamaran hanya saja dengan gadis yang berbeda. Hancur, masa depanku sudah hancur berantakan.
Kukejar meskipun dia sekarang sedang ada diluar kota tempat orang tuanya berada. Untunglah aku mengenal adiknya, yang dengan senang hati memberikan alamat rumahnya. Setidaknya masih ada harapan untuk bisa meminta pertanggung jawabannya.
Saat sampai kujelaskan pada keluarga besarnya, adiknya menenangkan ku, Ibunya juga berjanji akan meminta anaknya bertanggung jawab, hanya Ayahnya yang diam menunduk sepertinya kecewa dengan kelakuan anaknya.
"Ibu udah nanya tapi, dia gak mau. Tapi akan Ibu paksa. Biar gimanapun dia yang salah, atau enggak kamu nginap aja disini, karena disini tidak boleh ada cewek yang nginap dirumah laki-laki pasti langsung dinikahkan."
Aku tidak bisa menerimanya, biar bagaimanapun keluargaku adalah keluarga besar dinikahkan paksa pasti mencoreng nama baik. Kami bisa mengatur tanggal yang baik mengingat kondisiku yang tidak sedang mengandung.
"Yang, apa maksudnya ini. Kau... Kau... Udah janji mau tanggung jawab... kenapa Kau ?" Tanyaku saat sudah bertemu dengan laki-laki yang masih aku cintai.
"Hah... Cuma karena satu kali hubungan badan harus tanggung jawab ? Kalau begitu pelacur sudah nikah puluhan kali dong." Jawabnya santai.
Mataku terbelalak hatiku tidak bisa dijelaskan sakitnya, bagaimana bisa pengalaman pertamaku disamakan dengan wanita yang menjajakan tubuhnya dengan imbalan uang.
Kenapa dia bisa berubah sebejat ini atau memang aku yang sudah tertipu sama topeng sempurnanya.
"Kau... Kau tau sendiri... Aku masih perawan saat itu, kau cowok pertamaku." Ucapku lirih, sudah jelas air mataku tumpah. Hatiku sangat sakit, kenapa aku harus bertemu bahkan berpacaran sama laki-laki ini.
"Yakin, setelahku gak ada lagi ? Lagian Kau gak hamil, aku jelas udah ngasih obat pencengah kehamilan."
"Jadi aku harus hamil dulu ? Atau yang mau kau nikahi itu lagi hamil makanya kau nikahi dia ?" Tuduhku langsung.
PLAK
"Dia bukan cewek murahan seperti kau, Kau bahkan lebih rendah dari pelacur yang mau nyerahin badan tanpa dibayar. Pokoknya aku gak mau punya Istri seperti Kau. Jangan hubungi Aku lagi, keluargaku juga setuju. Mereka bilang kau itu bukan perempuan baik." Lanjutnya yang membuatku semakin tidak percaya bukankah keluarganya menyambutku dengan baik sebelumnya.
"Tapi, Keluargamu sendiri yang mau nikahkan kita." Bantahku bisa jadi Dia berbohong lagi.
"Kau percaya, jelas mereka pura-pura menerimamu. Bisa malu kami jika sampai tetangga dengar Kau yang histeris nanti."
Aku terjatuh berlutut menangis menyesali kebodohanku, bahkan saat Ia pergi menjauh mungkin kembali kerumahnya. Aku langsung menghubungi Adiknya, mencari kebenaran ucapannya.
"Dek, Abangmu gak mau tanggung jawab dia-"
"Kau jangan jelek-jelekin Abangku lagi, Jelas kau yang terlalu murahan. Aku kenal baik Abangku dia itu orang yang bertanggung jawab, jelas kau yang salah disini. Pokoknya jangan berani datang kesini, Abang sudah dapat gadis baik-baik."
Panggilan itu langsung ditutup, Aku hanya bisa menangis. Mengapa nasibku begitu buruk, Hubungan Kami baik-baik saja awalnya. Ia dulu meminta izin jika ingin menyentuhku, lalu setelah lama hubungan Kami meningkat dimulai dari cium kening lalu bibir, dan sekali perbuatan terlarang yang sangat aku sesali.
Dan semuanya hancur, hanya satu yang kusyukuri bahwa tidak ada janin yang terbentuk dari hubungan sialan itu, kalau tidak entah dosa apa lagi yang akan kulakukan.
Bersama dengan matahari yang tenggelam kini hanya kegelapan yang menemaniku bersama dengan penyesalan.
Cinta tak selalu tentang bahagia dan aku terlambat memahaminya.
Yang kupercaya sebagai Cinta selama ini hanyalah sebuah Celaka.
💔
Ka Sula