Namanya Rianti, dia seorang gadis biasa yang telah berusia 25 tahun. Kegiatan sehari-harinya bekerja sebagai karyawan biasa di kantor media cetak daerah. Gajinya tidak besar, apalagi itu dihitung tergantung performa dari berita yang bisa ia terbitkan per bulan. Beruntungnya, dia memiliki pemasukan yang lumayan besar untuk ukuran seorang gadis lajang yang menghidupi diri sendiri.
Sekilas tidak ada yang aneh dengannya. Wajahnya tidak secantik itu, namun juga tidak bisa dikatakan gadis yang jelek. Biasa-biasa saja, sama seperti kehidupannya.
"Ria, gimana? Udah dapat fotonya?!" tanya seorang rekan kerjanya yang pria datang menghampiri.
Ria mengangguk. Mengangkat kameranya di depan dada. Bibirnya tersenyum dengan manis, menapakkan deretan gigi putihnya yang bersih.
"Setelah ini kita kemana?" Ria balik bertanya.
"Mungkin ke puncak. Katanya di sana ada gala dinner yang akan digelar bersama beberapa petinggi media yang bergabung."
"Semuanya ikut?" Pria itu mengusap kepala Rianti gemas. Dia tidak menjawab, hanya mengangguk, lalu menggandeng tangan gadis itu untuk masuk ke mobil.
Hari ini Rianti mendapatkan kesempatan untuk mengambil gambar bersama Sofian. Akhir-akhir ini, ada sebuah tempat viral di tengah pulau Samosir. Mereka diutus oleh atasan untuk ikut meliput kegiatan pembukaan tempat wisata itu.
"Kalo aku gak salah ingat. Dulu kamu pernah cerita pernah ke sini? Gimana? Suasananya ada yang berubah enggak?" tanya Vian seraya memasang sabung pengaman.
Rianti ikut memasang sabung pengaman juga. Setelah itu, ia lebih memilih melihat-lihat foto yang berhasil ia abadikan. Kepalanya sedikit miring ketika mendapatkan pertanyaan yang membuatnya bingung.
"Emang iya?" tanyanya bingung.
Vian hanya mengangguk. "Haa... Aku tidak mengingatnya."
"Tidak masalah. Lagipula itu tidak terlalu penting untuk diingat," ucap Vian menenangkan Rianti.
Pria itu mulai menyetir mobil, meninggalkan area pelabuhan untuk menuju puncak yang Vian maksud. Di perjalanan, Rianti hanya menoleh menyusuri pemandangan sepanjang perjalanan. Sesekali ia akan memotret jika melihat pemandangan yang cukup bagus.
Tidak butuh waktu lama untuk tiba di lokasi yang Vian maksud. Rianti turun dengan mengalungkan kamera di leher. Ia juga menyandang tas ranselnya di bahu, kemudian mengikuti langkah Vian.
"Ini puncaknya?" Rianti menatap tempat itu heran. Hanya ada satu bangunan yang berfungsi sebagai restoran. Melihat ke arah berlawanan, matanya dimanjakan dengan birunya danau Toba yang luas.
Di sana juga disediakan sebuah tempat untuk bermain dan mengambil foto untuk par pengunjung. Sepertinya ini juga sebuah tempat wisata, namun tidak terlalu terkenal seperti yang mereka kunjungi sebelumnya.
"Iya, puncak itu nama restonya. Kenapa? Mau ambil gambar dulu?"
Rianti memperhatikan jam yang melingkar apik ditangannya. Masih pukul dua siang, sedangkan acaranya adalah makan malam.
"Di dalam ada tempat istirahat?" Rianti bertanya.
"Ada, ini resto ini juga berfungsi sebagai hotel. Kita udah disediain tempat untuk istirahat."
Rianti melepaskan tas ranselnya. Mengambil ponsel dan juga beberapa uang cash. Kemudian menyerahkan ransel itu pada Vian.
"Titip. Aku mau keliling, siapa tahu aku dapat foto yang bagus. Lumayan untuk dijual ke shutterstock," ucap Rianti jenaka.
"Hati-hati, aku istirahat duluan. Cape banget nyetir semalaman kemarin."
Rianti melangkahkan kaki. Ia ingin masuk ke taman bermain itu, dan harus membayar beberapa nominal untuk bisa masuk. Tak masalah, tujuannya juga disini mencari foto-foto bagus yang bisa menghasilkan uang.
Foto demi foto ia jepret. Beberapa orang ia foto secara candit dan tidak memperlihatkan wajah pengunjung. Menit demi menit berlalu, jam berganti, hingga senja mulai terlihat.
Rianti memilih untuk duduk di hamparan rumput. Masih asik bermain dengan kameranya. Sampai matanya mendapatkan satu objek yang cukup menarik perhatiannya.
Seorang pria duduk sendirian di sebuah rumah pohon dengan membawa sebuah bingkai foto. Sesekali pria itu akan berbicara sendirian, membuat hati kecilnya menjadi bertanya-tanya. Siapa temannya bicara?
Dengan membulatkan tekad dan penuh keberanian. Rianti mendekati pria tersebut. Tiba di bawah rumah pohon, ia mendongak, dan sedikit terkejut ketika melihat pria itu ternyata menangis.
"Ouh, hai..." sapa Rianti melambaikan tangan dari bawah. "Boleh aku ikut naik, keliatannya senjanya lebih bagus dilihat dari atas sana."
Pria itu tampak terkejut melihat sosok Rianti. Bibirnya sedikit bergetar, dengan air mata yang semakin deras.
"Astaga, aku tidak berniat mengganggu mu. Maafkan aku, silahkan nikmati waktumu. Aku pergi --"
"Jangan!" pria itu sedikit berteriak. Membuat beberapa orang melihat aneh pada Rianti. "Naik saja, tidak apa-apa. Maaf, aku sedikit terbawa suasana."
"Ouh, oke. Terimakasih." Rianti lantas naik ke atas rumah pohon. Satu persatu anakan tangga ia lalui, hingga tiba di atas dan mendudukkan dirinya di samping sang pria.
"Namaku Rianti, Rianti Anandita. Namamu?" Tangan Rianti terulur. Menunggu pria itu menjabat tangannya meskipun dengan sedikit gemetaran.
"Namaku Satria, Satria Tanjung."
Rianti hanya mengangguk. Suasana menjadi sedikit canggung. Pria itu meletakkan bingkai foto yang ia bawa dengan keadaan tertutup. Dia jadi tidak bisa melihat siapa gerangan orang yang pria ini tangisi. Ibunya, ayahnya, keluarganya yang lain, atau mungkin malah kekasihnya?
"Apa yang kamu lakukan di sini?" tanya pria itu bertanya dengan nada bergetar yang berusaha senormal mungkin.
"Aku? Ahh... aku hanya bekerja. Kau tahu tempat wisata baru yang viral itu?" Pria itu mengangguk, menjawab pertanyaan Rianti. "Aku meliputnya."
"Jadi sekarang kamu sudah menjadi jurnalis?" Rianti mengerutkan keningnya. Kenapa ia merasa pertanyaan Satria agak aneh. Namun, meskipun begitu ia tetap menjawabnya.
"Bukan jurnalis juga. Cuman penulis berita biasa. Yah, sedikit menghasilkan dari bekerja main-main hehehe..."
"Aku tahu, semua perempuan memang senang bekerja sambil bermain." Tuturnya ikut terkekeh.
Satria mengusap wajahnya dengan kedua telapak tangannya. Mengguyar rambutnya kebelakang dengan telapak tangan. Kemudian menatap lekat wajah Rianti.
"Berapa lama di sini?"
"Maksudmu Medan?" Satria mengangguk. "Mungkin hanya tiga hari. Setelah ini kami ada rencana mau ke pekan baru. Pekerjaanku tahun ini semuanya full tempat wisata." imbuh Rianti.
"Kamu sendiri orang asli sini?" Satria lagi-lagi mengangguk. "Emm... maaf kurang sopan. Tapi tadi kulihat kamu menangis, kenapa?"
Hembusan napas panjang terdengar. Satria menatap lurus ke danau Toba. Bibirnya tersenyum manis, lalu kembali air matanya menetes.
"Setiap tanggal ini, aku selalu kesini. Menggantikan kekasihku untuk membawa adiknya melihat birunya danau Toba. Dia sangat menyukainya, tempat favoritnya di sini. Dia bilang, melihat senja dengan warna biru danau Toba adalah impiannya."
Rianti meneguk ludah keluh. Sepertinya dia telah salah bicara. "Tapi, ini akan menjadi kali terakhir ku untuk menggantikannya melihat Danau Toba."
"Kenapa?" Rianti bertanya dengan penuh penasaran.
"Karena seminggu lagi aku akan menikah. Aku harus tetap melanjutkan hidupku, kan. Benar, kan Rianti. Sudah lima tahun berlalu, aku menyerah menunggunya. Untuk mengejarnya pun aku tidak memiliki keberanian lagi. Di sudah mendapatkan pria yang jauh lebih baik." papar Satria menatap manik mata Rianti dalam.
"Apa maksudmu kekasihmu itu sudah menikah?" Satria menggeleng, menyangkal ucapan Rianti. "Lalu, kenapa? Satria aku tidak mengerti cinta, karena aku tidak pernah merasakannya. Tapi sahabatku pernah bilang, jangan pernah membohongi diri sendiri. Apa yang ingin kamu raih harus diperjuangkan."
"Benarkah? Tapi dia sendiri yang memaksaku untuk menjauhinya."
"Mungkin dia memiliki alasan lain. Maybe... Sudahlah jangan bersedih. Ngomong-ngomong, selamat untuk pernikahanmu." Satria menggeleng pelan. Ia tiba-tiba menggenggam erat tangan Rianti, membuat gadis itu sedikit tersentak.
Beberapa kenangan memaksa untuk masuk. Kepalanya tiba-tiba terasa sakit. Hidungnya mengeluarkan darah, dia mimisan.
"Rianti!" panik Satria mengusap darah itu dengan kaos miliknya.
"Aku tidak apa-apa. Sepertinya aku mengingat sesuatu, ash... aku tidak bisa mengingatnya." desis Rianti meringis.
Satria terus menahan hidup Rianti dengan kaosnya. Air matanya kembali menetes. Membuat Rianti bingung, ada apa dengan Satria. Apa dia memang tipikal pria yang cengeng.
"Rianti...!" Suara teriakan seseorang terdengar. Ria menatap aneh sosok yang memanggilnya.
Pria itu naik ke atas. Lalu menyerahkan note yang seharusnya selalu ia bawa. "Kau melupakan ini. Lihat? Aku temannya, Bima. Vian. Kau ingat?" Vian menunjukkan sebuah foto di dalam note book itu. Rianti mengangguk mengerti.
Vian menuntun Rianti untuk turun. Setelah dibawah, pria itu melepaskan kemejanya. Lalu diberikan pada Rianti, "Tutup hidungmu dengan ini."
"Bima menelpon ku tadi. Dia bilang kau tidak mengangkat panggilannya. Aku mencemaskan mu!"
Rianti mendelik tidak suka pada Vian. "Aku bukan anak kecil, Vian. Tolonglah!"
"Aku tahu. Kau ingin berpamitan dengan temanmu terlebih dahulu." Vian bertanya seraya melirik pada Satria sesaat.
"Teman? Jangan mengejekku. Aku sudah tidak memiliki teman selain kamu dan Bima." Rianti meninggalkan tempat itu dengan kesal. Air matanya menetes tiba-tiba, seiring jantungnya yang terasa berhenti berdetak, dan berdenyut sesak.
Ada apa dengannya? Apa dia baru saja melakukan sesuatu?
Dari atas rumah pohon. Satria kembali menangis dengan sesegukan. Pria itu menutup mulutnya sendiri untuk menghalau suaranya agar tidak terdengar orang lain.
Ia menggenggam erat foto ditangannya. Foto mesra dirinya bersama seorang gadis manis yang menggenggam pigura foto seorang laki-laki remaja.
"Rianti..." desis Satria tak bisa menahan laju sesak jantungnya.
Lima tahun yang lalu. Rianti berkenalan melalui sosial media aplikasi dating dengan Satria. Mereka saling mengenal satu sama lain, keluarga saling berkenalan. Rianti begitu disambut baik oleh keluarganya, begitupun sebaliknya.
Ketika ibunya meninggal. Itu adalah pertemuan pertama antara Rianti dan Satria. Gadis itu nekat melewati dua propinsi demi menemani Satria. Satu bulan penuh ia berada di rumah satria. Membantu kakaknya, adiknya, bahkan ayahnya yang saat itu tengah sakit bersamaan. Itu adalah awal dari kisah mereka.
Sampai petaka itu datang. Rianti menghilang, gadis itu hanya mengirimkan pesan permintaan mengakhiri hubungan secara sepihak. Cintanya hilang, cinta pertama yang baru saja ia rasakan ternyata semenyakitkan itu.
Seolah takdir tidak mengizinkannya bahagia sendiri. Seorang pria bernama Bima datang. Pria itu meminta Satria untuk memaafkan apa yang dilakukan oleh Rianti. Bima menunjukkan riwayat penyakit yang diderita oleh Rianti.
Sejenis Alzheimer tipe langkah. Dimana dia akan mulai akan melupakan orang dan kembali seperti anak kecil yang harus selalu diingatkan akan semua hal. Tiga tahun berlalu, Rianti masih bertahan hidup atas kerja keras Bima dan keluarganya. Namun, itu hanya tinggal seonggok raga tanpa ingatan permanen. Dan kemungkinan besar, ia akan meninggal dunia dalam waktu dua atau tiga tahun ke depan.
"Maafkan aku, kali ini aku benar-benar harus melepaskan mu..." lirih Satria lalu membakar foto terakhir yang dia punya bersama dengan Rianti.
Biarlah kisah ini menjadi cerita untuknya nanti. Mungkin, ini adalah jalan terbaik untuknya dan juga Rianti.