"Aku kuliah dulu ya Sayang. Kamu Jangan macem-macem di sana." ucapku kepada Angga di jalur telepon. Kekasihku yang tak pernah aku lihat wajahnya. Kekasih yang aku bohongi setiap hari. Kenapa? Karena aku sama sekali tidak pernah berkuliah.
"Iya, kamu juga. Jangan macem-macem di sana. Anak politeknik banyak cowoknya. " ucapnya sedikit mengintimidasi.
"Tenang ya, aku gak bakalan tergoda kok!" ucapku terus berbohong. Gimana tergoda, orangnya aja cuma sibuk sendiri.
"Ya udah, kamu hati-hati. Dah Ayang." ucapnya dengan penuh mesra membuat hatiku berbunga-bunga.
Aku tatap ponsel monoponik milikku ini. Hanya ini yang bisa dibelikan ibuku semenjak SMA. Dimana yang lain telah memiliki ponsel pintar, sementara aku hanya memakai ponsel odong-odong.
Dengan segera, aku bersiap-siap ke suatu tempat. Sebuah tempat aku bekerja sebagai pengasuh anak. Aku bekerja sebagai pengasuh ini baru sekitar satu minggu. Sedangkan pacaran dengan Angga, sudah sekitar enam bulan semenjak aku masih kelas dua belas SMA.
Angga adalah cowok yang aku kenal hanya lewat ponsel ini. Aku tak tahu wajahnya. Setiap tengok fesbuk-nya, dia tak pernah memosting foto tentang dirinya. Bisa dibilang, dia sangat curang. Dia tahu wajahku, sedangkan aku tak tahu akan wajah dia. Aku suka posting foto-fotoku di laman sosial media itu. Sementara dia, tak pernah sama sekali.
Katanya, dia memiliki wajah yang sangat jelek. Jika difoto, hasilnya malah semakin jelek. Katanya lagi, dia takut jika lihat wajahnya, aku akan langsung memustuskannya. Cih ... dia anggap aku gadis apa ya? Suka melihat tampang? hmmm ... sebenanrnya iya sih. Tapi kalau aku sudah cinta, aku akan tetap cinta kan.
Aku terburu-buru menuju rumah majikan. Seorang hot duda yang ditinggal mati oleh istrinya. Sehingga aku ditugaskan untuk menjaga anaknya. Anaknya sangat nakal dan menyebalkan. Tapi aku harus bertahan, agar aku bisa merasakan bagaimana enaknya punya penghasilan sendiri.
Sesaat sampai di rumahnya, aku dapati pak boss masih bertelanjang dada menyuapi anaknya yang baru berusia tiga tahun. Aku terbiasa memanggilnya Om Bayu. Pagi-pagi disuguhi oleh roti sobek itu membuat mataku terasa ternodai.
Ingat Yuvi, kamu sudah memiliki Angga. Tetapi, Angga itu tidak kamu kenal. Di depan mata, ada roti sobek berkeliaran menggodamu. Aiiisshh ... mataku ... mataku ... aku cinta sama Angga pokoknya.
"Om, biar aku yang nyuapin Ciko. Om Bayu udah boleh berangkat kerja." ucapku sambil merebut piring yang berisi nasi dengan lauk ayam goreng.
"Oh, ya udah. Saya siap-siap dulu." ucapnya santai tanpa memedulikan aku yang telah gelagapan tercekat karena melihat apa yang dipamerkannya pada mataku yang masih polos ini.
Tanpa pikir panjang, aku segera menyuapkan Ciko, si ganteng yang nakalnya minta ampun dengan makanan yang sudah disiapkan oleh Daddy-nya. Lalu, ponselku masuk sebuah pesan.
[Sayang, ingat ... kamu selalu jaga hati untukku ya. Jangan selingkuh!]
Sebuah pesan yang datang dari seorang yang tak kulihat sama sekali. Pesan dari cowok bernama Angga yang setiap waktu aku ingat di dalam hati.
[Iya cayank ... tak akan ada yang bisa rebut hatiku dari kamu ... percaya lah cayank ... :*]000
Setelah pesan dikirim, aku lanjutkan menyuapi 'si bandel' ini. Dia mengajakku keluar masuk rumah untuk sekedar mengajaknya makan. Ujung-ujungnya, karena aku bosan, aku jepit anak usia tiga tahun ini di antara kedua kakiku. Dengan begitu dia bisa makan, duduk dengan tenang.
Seharian diajaknya main gulat. Aiihh ... aku terus-terusan jadi korban gulat. Tidak hanya itu, aku juga dijadikan samsak. Sarana latihan tinju yang tak bisa membalas tinjunya.
Akhirnya sore pun datang juga. Om Bayu pulang dari kantornya. Aku segera bersiap untuk kembali ke rumah. Panggilan dari Angga pun masuk. Dia rajin sekali menelepon. Katanya nggak ada orang lain yang akan dia telepon selain aku.
"Halooo Sayang ...," ucapku menjawab panggilannya.
"Halooo Cinta. Udah pulang kuliahnya belom?" ucapnya di seberang.
"Yuvi, saya membelikan martabak untuk kamu. Jangan lupa dibawa pulang ya?" Tiba-tiba, Om Bayu menyerobot berbicara.
Aaaaiiiiissss ... kacau ... mana Angga menunjukan tanda-tanda tipe cowok jelous tingkat dewa lagi.
"Siapa itu? Kamu lagi sama cowok lain?" tanyanya dengan nada dingin.
"Hanya sekedar temen kuliah kok Sayang. Kami lagi siap-siap untuk balik ke rumah."
"Pppfffttt ...." Tampak Om Bayu menahan tawanya mendengar ucapanku yang tak tahu malu.
"Oooh ... ya udah. Kamu hati-hati ya? Kalau udah selesai, misscall aku. Akan langsung aku telepon." ucapnya.
"Oke Sayang. Love you!"
"Love you too."
"Aziiee ... ada anak kuliahan ngasuh anak di kampus." canda Om Bayu.
"Abis Om ... Pacarku itu anak kuliahan. Jadi dari dulu nyuruh aku kuliah di Bandung melulu. Padahal keuangan keluargaku tidak mencukupi. Aku ikut tes untuk kampus negeri kota ini, malah nggak ada yang lolos. Emang dasar otakku aja yang bego ya Om. Hanya saja aku malu Om, ngaku kalau aku nggak kuliah."
"Lhoh? Kok gitu?" Alisnya naik karena heran.
"Soalnya dia kayaknya pinter banget. Aku suka sama cowok pinter Om."
"Ekheeemm ... saya dulu juga termasuk mahasiswa yang lulus dengan predikat coumload lho?"
"Waaahh ... aku kurang paham itu Om. Oh ya Om ... udah mau malam. Aku pulang dulu ya?"
"Ini ... Bawa pulang!" Menyerahkan dua kotak martabak untukku.
"Waaah ... asiiik ... makasi ya Om!" Tanpa pikir panjang aku membawa pulang martabak-martabak itu. Untuk aku berikan kepada keluargaku.
"Yuvi, Kamu tunangan dengan dia?" tanya Om Bayu.
Aku bingun dengan apa yang dia maksudkan. Lalu dia menunjuk jarinya sendiri. Aku baru ngeh maksudnya ada cincin di jemari manisku. "Oooh, ini cincin dari pacarku itu Om. Bagus ngga Om?" Kembali aku lihat cincin pemberian pria yang aku cinta ini.
"Kapan tunangannya?"
"Ooh, enggak ... dia hanya mengirimnya dari Bandung. Aku tinggal makai aja. Soalnya cincinnya cantik banget." Aku buka cincin tersebut, lalu aku pamerkan ada nama kami berdua dan tanggal jadian kami terukir di bagian dalamnya.
"Kami saja tidak pernah bertemu lho Om?" Kembali ponselku bergetar. Masih datang dari orang yang aku cinta.
"Halo Sayang, udah sampai di rumah belom?"
"Waduh Ga, aku masih di kampus ni. Belum sampai lima menit yang lalu nelpon kok udah sampai aja?"
"Jadi belum pulang? Kamu lagi pacaran dengan cowo yang lain ya? Kenapa lama?" Suara Angga mulai terdengar ketus.
"Lhoh, kok marah sih Sayang?"
"Pulang dulu sanah! Lama amat? Jangan-jangan kamu selingkuh?"
"Kok malah marah sih? Aku ini bukan orang yang suka selingkuh ah. Biasanya cowok yang hobi selingkuh tuh." Aku ngga rela dituduh selingkuh. Udah cinta mati kayak gini juga, malah dibilang selingkuh.
"Enak aja nuduh-nuduh! Dah, kamu pulang dulu!" Lalu tak terdengar lagi suara dari panggilan seberang.
"Kenapa tiba-tiba berantem?" tanya Om Bayu kepadaku.
"Tauk ni Om ... masa aku dituduh selingkuh? Dekat dengan cowok lain saja aku tak pernah. Soalnya aku ini pemalu. Selalu takut dengan cowok yang baru aku kenal."
"Pemalu?" tanyanya tak percaya. Lalu dia tertawa ngakak.
"Iya, aku ini aslinya pemalu."
"Aaah, pemalunya aja pandai berbohong. Gimana bukan pemalunya?" candanya. "Wajar dia cemburuan. Takut pacar cantiknya diembat orang."
"Hah, kami saja belum pernah ketemu kok Om. Kami hanya pacaran online, istilah kerennya saat ini pacaran virtual." Aku ayunkan ponselku ke dia. Ponsel tanpa kamera yang kecil sekali. Hanya itu yang bisa diberi orang tuaku. Makanya aku ingin bekerja, siapa tau bisa beli ponsel bagus.
"Kamu udah lihat orangnya? Ganteng nggak dia?"
Aku hanya menggeleng. "Nggak tau Om. Aku sama sekali belum pernah lihat wajahnya."
"Kenapa kamu terlihat sangat mencintai dia?" tanyanya lagi dengan kepo.
"Iya Om. Aku cinta banget sama dia. Dia perhatian sekali padaku. Aku yang jarang dapat perhatian dari cowok, ya langsung jatuh cinta." Aku lihat jam di dinding rumah ini. Kami keasikan ngobrol. Dia enak diajak bicara.
"Aduh Om, aku terlambat pulang!"
Dengan buru-buru aku kembali ke rumah, menunggu angkot yang semakin gelap, semakin susah didapat. Akhirnya dapat setelah setengah jam menunggu. Kembali ponsel miniku bergetar.
"Halo, udah sampai?"
"Belum."
"Kenapa lama amat?"
"Susah nyari angkot!"
"Kamu bener-bener selingkuh?"
"Terserah kamu mau bilang apa!" Akhirnya aku tutup panggilannya dengan perasaan kesal. Bukannya khawatir pacar telat dapat angkot, malah dituduh macam-macam. Kezel ....
Sampai di rumah, aku berikan martabak yang dibelikan Om Bayu tadi. Aku segera mandi dan sholat magrib. Setelah itu aku cek ponsel, ternyata sudah banyak sekali panggilan dari Angga, pacar yang tak aku kenal sama sekali.
Aku kirim sebuah pesan:
[Maaf Sayang, aku baru selesai mandi.]
Lalu masuk lagi panggilan dari dia. "Kamu beneran selingkuh ya?" tanyanya dengan ketus dari ujung jaringan.
"Kamu kenapa nuduh-nuduh mulu sih?"
"Jangan mengalihkan pembicaraan!"
"Buat apa aku selingkuh? Aku tu cintanya sama kamu!"
"Bohong!"
"Ya sudah lah! Kalau kamu curiga-curiga mulu kayak gini mending kita putus aja deh! Kamu membuatku bosan! Kita gak cocok jalin hubungan LDR ini!" ucapku marah, menutup panggilan lalu ponsel itu aku lempar.
Ponselku kembali bergetar, tetapi tidak aku jawab. Entah berapa kali panggilan itu datang, aku tinggalkan. Mau mencari makan dulu. Dalam perasaan dongkol, aku menjadi tak selera. Segera aku lihat history panggilan. Ada puluhan panggilan tak terjawab. Beberapa pesan datang darinya.
[Maaf sayang. Aku hanya khawatir kamu bermain di belakangku.]
[Aku sangat mencintaimu.]
[Angkat panggilanku.]
[Angkat!]
[Masih belum diangkat?]
[Ya udah lah, terserah! Kita putus!]
Saat dia yang mengatakan itu, hatiku terasa kacau dengan seketika. Aku sangat cinta padanya. Dia pria yang aku kategorikan sebagai cinta pertamaku. Aku coba melakukan misscall beberapa kali. Namun, dia benar-benar tidak meneleponku kembali.
Hari ini adalah hari perjuangan pertama seleksi bersama masuk perguruan tinggi secara online. Meskipun online, tetap harus ke kampus yang menjadi panitia pelaksana seleksi ini. Hari ini tepat delapan bulan perpisahanku dengan Angga. Saat itu, aku benar-benar putus dan menjelang ujian masuk perguruan tinggi ini, aku harus berhenti bekerja dari Om Bayu yang selalu baik padaku. Tidak akan ada lagi pemandangan melihat roti sobek secara tidak sengaja. It's oke lah ... dari pada aku jadi gadis mesum melulu ke depannya.
Pertama kali aku dihadapkan oleh jejeran komputer yang sangat banyak, dengan jumlah peserta seleksi yang banyak juga.
Dan tes pertama dimulai, kukerjakan dengan penuh antusias. Berharap hasilnya sangat maksimal. Namun hal yang tidak terduga pun terjadi. Tiba-tiba seluruh komputer di ruangan kami tes mati, listrik mati.
"Aaaaarghhh..."
"Waduuuuhhh... kenapa ini?"
"Anjaaaaiii... aku hampir selesai..."
"Aku udah selesai, tapi belum diklik 'selesai-nya'..."
Sontak suasana ruangan yang tadi panas meski difasilitasi AC, menjadi semakin panas karena mati lampu. Hampir seluruh peserta panik karena kejadian ini, tak terkecuali aku. Aku yang tinggal klik selesai, jadi batal gara-gara mati lampu tadi.
Tak lama kemudian, listrik, lampu, perangkat komputer dan AC menyala kembali. Tapi sama sekali perasaan kami tidak lega. Karen kami semua harus mengulang lagi dari awal, meskipun waktunya tidak ditambah.
Kembali ku konsentrasi membaca soal-soal tersebut, Waaaahh.. soalnya sama. Insya Allah aku masih ingat jawabannya. Dengan cepat kubaca soal sedikit, lalu klik jawaban. Begitulah seterusnya, tak sampai lima menit aku berhasil menyelesaikannya dan langsung klik tombol 'selesai' takut kejadian tadi terulang kembali.
Dengan duduk dengan tenang, kuperhatikan peserta lain yang juga segera menyelesaikan tes mereka, mungkin dengan perasaan yang sama denganku, takut mati listrik lagi.
Waktu dinyatakan habis oleh timer yang terus berjalan di masing-masing perangkat komputer kami.
"Bagi peserta yang telah selesai, diharapkan keluar ruangan dengan tertib..." ujar pengawas seleksi kami tadi.
Kulihat wajah peserta tes, rata-rata sangat kusut, ada beberapa yang tenang seperti aku. Aku segera mengontak Felli dengan telepon jadulku. Kami berada di ruangan dan gedung yang berbeda. Akhirnya aku memutuskan untuk menghampiri Felli.
Sampai di tempat Felli menunggu, tampak wajahnya yang sangat kusut. Ternyata kejadian mati lampu tadi bukan hanya ruangan aku saja yang mengalaminya. Sepertinya seluruh lokasi di kampus ini mengalami gangguan yang sama.
"Huuuhh.. sebel... gara-gara mati lampu tadi konsentrasi ku buyar. Bayangkan aku memulai semua lagi dari awaaall... aaarrrgghhtt..." ucapnya gemas..
"Bukankah tadi soalnya sama Fel?"
"Iya sama... masalahnya tadi itu aku masih belum selesai. Gara-gara terlalu konsen mencari jawaban yang kurasa cukup sulit. eeehh tahu-tahu nya waktu mau habis aja, dan gilanya listrik pakai padam segala..."
"Iya siiih... tadi nyebelin banget. Ada-ada aja masalahnya," jawabku.
"Tapi kok kamu tenang-tenang aja?" celetuk Felli.
"Lalu kamu maunya aku kayak apa?"
"Yaaa ikut-ikutan heboh juga kek, ikut ngeluh kek, ikut marah-marah sama panitia juga kek..."
"Wkwkwkwk... emangnya aku kelihatan gak marah gitu?"
"Enggak..kamu terlihat santai aja kayaknya..."
"Tadi aku juga panik kok, tapi syukurnya aku tadi sempat menyelesaikan semua. Jadi pas listrik nyala lagi, aku hanya tinggal menjawab ulang aja..."
"Waaahhh... kamu curang... kenapa kamu bisa selesai?"
"Soalnya tadi aku jawabnya yang mudah aja dulu, yang susah-susah aku cari terakhir, kalau gak bisa lagi, aku main cap cip cup kembang kuncup, atau aku kosongkan aja... dari pada nilainya malah minus kalau dijawab semua, tapi salah kan?"
"Iiihhh... Aaaaaaarrrggghhhtt..." Felli hanya mengerang gemas.. "Rasanya mau meremas komputer itu sampai lecek... sebel banget, sumpaaahh..."
"Sabar...sabar.. kan masih ada hari esok untuk dua tes lagi. Sapa tahu kamu malah memimpin di materi esok..."
"Iya... mudah-mudahan..."
Lalu kami pulang ke rumah masing-masing dan belajar untuk materi esoknya.
***
Usai kepanikan yang kami berdua alami, kami mencari Chesi yang berbeda lokasi tes dengan kami. Bertemu di jalan dan jidatnya penuh kerutan karena mumet dengan tes yang tadi dilaksanakannya.
"Susah banget... Ahh.. pusing...." keluhnya memijit-mijit kepalanya.
"Jangan terlalu dipikirkan, nanti malah stress...," tuturku berusaha menenangkannya.
"Kamu iya lah merasa tenang, kali ini keberuntungan lagi berpihak padamu...," celetuk Felli..
"Yeee... aku diam aja deh..no comment..." mereka lagi sensi ni.. takut kena semprot lagi..
"Huuuh..."
Keesokan harinya, aku terlambat datang ke lokasi ujian. Hal ini disebabkan karena tidur udah menjelang pagi demi belajar materi saintek. Aku yang memiliki otak pas-pasan ini tidak sanggup mengulang materi untuk kemampuan sains yang teramat memusingkan.
Belajar Sistem Kebut Semalam, membuatku bangun kesiangan. Aaaaarrrrggghhht... mati aku.. .mati aku..mati aku... sungguh sangat-sangat panik. Bersyukur ayah mau mengantarku ke lokasi tes. Jadi sampai di lokasi, saat semua telah duduk di dalam ruang ujian.
Layar komputer sudah terpampang soal sainstek, mencoba mencari-cari jawaban dengan lembar buram yang disediakan, malah ngga ada ketemu jawaban yang cocok. Aaaarrrgghh.. Sepertinya aku memang tak akan pernah kembali membahas soal matematika lagi nantinya.
Daaahh..matematika...melambaikan tangan ke kamera, menyerah..menyerah...Dengan klik tanda selesai, meski masih banyak yang kosong. Aku sudah sangat pasraaah.. hancur-hancuran deh di kemampuan sainstek ini.
Kunikmati istirahat dengan sakit kepala yang luar biasa, sudah lama sekali tak menyentuh hitungan. Rasanya seperti ketemu mantan, rasanya sangat menyakitkan, pusing luar biasa. Sebentar lagi akan dilanjutkan dengan materi soshum, entah apa lagi yang akan terjadi dengan isi kepalaku.. apakah akan meledak?"
"Yuvi... Yuvi..." seseorang membuyarkan lamunanku. Kulihat, dia adalah Zaki. Iya.. Itu Zaki, mantan pacar sebagai pelarian perasaanku dari Harry. Seorang brondong yang kuterima-terima saja. Walau sebenarnya kami seusia.
Kenapa malah ketemu dia? batinku udah mumet duluan sebelum mulai ujian yang berikutnya.
"Kamu mau ikut seleksi masuk perguruan tinggi juga Ki?" tanyanya.. Aku hanya mengangguk, canggung. Orang yang kuputuskan secara sepihak juga.
"Mau ambil jurusan apa?" tanyanya lagi.
"Aku hanya coba-coba kok Zaki. Mau coba Kesehatan Masyarakat, tapi kayaknya itu tak mungkin. Tadi sainstek kacau banget..."
"Iya.. bener banget . susah..sumpah..." tambah Zaki. "Haaah.. aku juga gak yakin nanti bisa lulus di Teknik Sipil.. Lalu jurusan apa lagi?" dia seperti menginvestigasi.
"Aku ambil campuran Zaki, jadi dua lagi aku ambil Ilmu Hukum, dan satu lagi Pendidikan Bahasa..."
"Waaahh... kamu suka sekali nulis kan? Mau jadi guru kan?" dia seperti sangat memahami ku. Ya, aku pernah cerita siih.
"Yaaa.. yang mana aja.. yang penting lulus dulu.. Selanjutnya nanti ikut sesuai yang mana diterima aja. Kalau lulus di guru aku jadi guru, kalau lulus di hukum ya nanti lihat aja bisa kerja apa nanti."
"Aku doakan kamu meraih yang terbaik ya..." doanya padaku dengan wajah yang tulus.
"Semoga kamu juga lulus di teknik sipil ya.. aku doakan juga.."
"Makasih Vi.. Hmmm.. sekarang kamu sudah punya pacar lagi belom?"
"Oooh.. enggak.. sejak kita putus aku fokus belajar untuk persiapan SBM ini aja. Kamu gimana?"
"Aku juga nggak pernah pacaran lagi.. soalnya .. soalnya..aku masih..."