Namaku Delina. Aku adalah seorang introvert. Ketika aku menyukai seseorang, aku hanya bisa menatapnya dari jauh.
Ini mengenai cinta pertamaku. Kisah nyata yang terjadi tepat di tahun 2010 silam. Aku masih kelas satu SMA kala itu. Begitu pun dia. Sebut saja nama lelaki tersebut adalah Fajar.
Jantungku tidak pernah berhenti berdebar saat memikirkannya. Apalagi saat melihat Fajar muncul di hadapan. Ia adalah tipe lelaki yang pintar, tampan, tubuh tinggi semampai. Hal yang paling kusuka dari seorang Fajar adalah lesung pipitnya.
Tidak banyak kejadian istimewa yang terjadi di antaraku dan Fajar. Itulah yang membuatku menyesal sampai sekarang. Andai dulu aku berani mengungkapkan perasaan atau sekedar mengajak Fajar bicara, mungkin rasa memiliki bisa kurasakan.
Aku hanya beberapa kali sempat bertukar pandang dengan Fajar. Entah kenapa aku merasa tatapan Fajar sangat berbeda. Aku bisa merasakan kalau dia juga menyukaiku. Terutama ketika dia datang ke kelasku. Dia berjongkok di hadapanku dan menatapku secara blak-blakkan di tengah orang banyak.
Kala itu aku berpikir kalau Fajar menyukaiku. Aku juga sempat berpikir kalau dia hanya mempermainkanku. Tapi bagaimana mungkin? Tidak ada orang yang tahu perasaanku selain diriku sendiri.
Jujur saja, sampai sekarang apa yang dilakukan Fajar saat itu masih menjadi misteri untukku. Aku tidak bisa menyimpulkan tanpa adanya kejelasan. Aku hanya bisa menjadikan hal itu sebagai momen paling mendebarkan namun romantis.
Fajar, kau memang seperti namamu. Bak mentari yang menyinari kehidupan masa sekolahku. Saat masih SMA, hal paling menyenangkan bagiku adalah melihatmu. Aku selalu dirundung rasa antusias sekaligus gugup walau hanya sekedar lewat di depan kelasmu.
Pernah suatu kali aku dan Fajar bersalaman. Aku senang bisa merasakan tangannya yang bidang itu. Dia terlihat gugup saat bersalaman denganku. Begitu pun aku. Salaman yang terjadi di antara kami adalah sentuhan pertama dan terakhir. Miris memang kisah cinta pertamaku. Tidak ada yang namanya menyatakan dan dinyatakan.
Sekarang Fajar sudah menikah. Hal serupa juga terjadi kepadaku. Kami punya kehidupan masing-masing.
Aku sangat iri dengan orang yang bisa memiliki cinta pertamanya. Mungkin mereka yang merasakan itu sangat bahagia selama sepanjang hidupnya.