"Kamu kerja apa sih? Jam segini belum juga kembali?"
Mika menggerutu lewat panggilan selular. Di seberang jaringan, tanpa ia ketahui bahwa Vando, suaminya sedang berpagut mesra dengan wanita kemayu bernama Irana di bawah selimut pada sebuah hotel. Tangan Vando sedang memainkan sesuatu di dada wanita itu.
"Lho? Bukannya kamu juga selalu sibuk dengan pekerjaanmu? Apa kamu lupa, aku lah yang selalu menunggu di rumah sendirian."
"Tumben sekali jam segini kamu sudah pulang dari tugasmu itu?" Vando mengecup bibir Inara, dan wanita itu semakin berpagut manja menciumi dada Vando, membuat pria itu sedikit melenguh.
Telinga Mika yang cukup sensitif, mendengar suara halus yang biasa ia dengar bila berdua di kamar dengan suami. "Kamu lagi apa dan bersama siapa?"
"Aku lagi lembur di kantor nih, bareng lainnya. Biasanya, kamu tidak pernah di rumah jam segini? Jadinya, aku putuskan untuk mengambil lembur." Vando menahan geli, karena Inara telah membelai bagian sensitifnya.
Mika masih mengerutkan keningnya mencoba kembali memasang indera pendengarannya dengan baik.
"Oke, Sayang? Aku kerja dulu ya? Kamu tidur duluan aja."
"Tapi aku—"
Panggilan telah hening, Mika menarik ponsel yang tadinya menempel pada telinga. Dia tertegun menahan gejolak di dada.
Ternyata, suaminya lebih memilih pekerjaan dibanding dirinya. Memang benar adanya bahwa Mika jarang sekali duduk manis di rumah.
IPTU Fumika Fatiha, adalah salah satu tim penyidik di kepolisian negara. Dia resmi menjadi polisi wanita, tingkat perwira, usai menamatkan Akademi Polisi, dua tahun lalu. Saat ini, ia berusia 24 tahun.
Semenjak SMA, ia telah dijodohkan dengan pria pilihan sang ayah, bernama Delvando Argianda, berusia lima tahun lebih tua darinya.
Mika, seorang gadis tomboy yang tidak pernah memiliki kekasih, bersedia begitu saja menerima perjodohan tersebut.
Ditambah lagi, Vando memiliki wajah menawan memiliki perawakan tenang, mampu menggetarkan gadis tomboy bernama Mika ini, hingga ia benar-benar jatuh cinta.
Hingga beberapa waktu ke depan, Mika meminta izin kepada sang atasan agar jadwalnya dikosongkan. Semenjak siang, Mika sengaja melakukan perawatan SPA demi memberikan kejutan kepada suaminya.
Namun, apa yang ia dapatkan? Hanya sebuah kekecewaan, karena suaminya tak kunjung kembali.
"Apa karena aku terlalu sibuk, hingga membuat Bang Vando, jauh berubah?" desisnya memandangi diri dalam pantulan cermin.
Malam ini, ia terlihat sangat cantik dibalut lingerie yang begitu menggairahkan. "Malam ini harus berhasil!"
Hingga detik ini, Mika masih belum tersentuh meskipun usia pernikahannya telah satu bulan lamanya.
Usai resmi menikah, Mika selalu mendapat panggilan tugas oleh Komandan Arjun. Mika adalah kepercayaannya dalam mengungkap kasus yang sulit.
Setiap Mika dan Vando ready memulai pertempuran di atas ranjang, ponsel sang penyidik ini mulai berdering.
Awalnya Vando, sang suami memahami apa yang terjadi, mengingat istrinya adalah seorang detektif kepolisian yang sangat hebat. Namun, lama-kelamaan, Vando mulai kesal dan merasa bahwa pernikahan ini adalah sebuah kesalahan.
Irana, sahabat Mika adalah rekan kerja Vando pada sebuah perusahaan swasta. Ia memandangi raut lesu pada wajah suami sahabatnya ini.
"Kenapa, Bang?"
Irana menyentuh tangan Vando dan membelainya dengan lembut. Vando menatap panjang pada jemari lentik, putih, dan mulus itu. Pemandangan ini sungguh berbeda dengan tangan milik istrinya yang terlihat lebih gelap.
Vando menatap Irana yang tak hentinya memberikan senyum manisnya. Vando yang selama ini cuek, kini mulai membandingkan perbedaan mencolok antara Mika dan Irana.
Irana, adalah gadis kantoran dengan rambut panjang lurus, tergerai dengan indah. Tubuhnya tidak terlalu tinggi, tetapi kulitnya sungguh sangat terawat, seperti susu dan sangat mulus. Mata Vando beralih naik pada dua tonjolan di balik blouse yang ia kenakan, begitu penuh berisi, dan menggemaskan.
Sementara, berbanding Mika, memiliki tubuh kurus, tinggi semampai, kulit sedikit coklat karena selalu menantang matahari di saat bertugas. Rambut Mika tidam seindah geraian rambut Irana.
'Hmm, rambutnya begitu wangi,' Vando terus membandingkan dengan istrinya, begitu jauh berbeda.
"Aku baru sadar kamu memiliki sesuatu yang hmm ...." Vando menahan ucapannya karena takut salah berucap kepada sahabat istrinya.
"Kenapa? Punya istri Abang nggak kayak punyaku?" Irana membusungkan dada dan menggoyangkannya beberapa kali.
Vando membuang muka, diam-diam menelan salivanya. Irana tersenyum karena menangkap jelas di depan matanya.
Vando mulai merasa gelisah, ada hasrat yang membuncah. Hasrat yang tak pernah tersalur meskipun ia telah menikah.
"Kenapa, Bang? Masa penganten baru sepet begitu?"
Vando menatap Irana kembali, matanya sayu turun ke bagian dada Irana. Vando membuang muka pura-pura sibuk dengan komputer yang ada.
"Abang butuh teman bicara? Nanti aku temeni ya? Biasanya, Mika pulang kerja jam berapa?"
Vando menggelengkan kepala. "Kesibukannya melebihi kesibukanku. Kadang pulang tengah malam, kadang hampir pagi, kadang tak pulang."
"Waaah, gimana mainnya dong kalau kayak gitu?"
Vando menghela napas panjang. Dia memilih melanjutkan pekerjaan.
"Jangan bilang kalian belum—" Irana menutup mulutnya melihat wajah Vando yang memelas.
"Jadi beneran belum?"
"Hmmmmm ...." gumam Vando.
"Aaah, masa kalah sama aku— ups ..."
Vando meluruskan tatapannya kepada Irana. "Baik lah, nanti kita bicara saat pulang."
Irana mengulas senyum menggodanya dan bangkit berdiri sejenak di belakang Vando. Setelah itu ia mengusap dada Vando, hingga membuat jantung Vando berdetak tak menentu.
Saat jam kantor usai, Vando membawa Irana ke sebuah diskotik. Mereka sengaja memesan ruang VVIP dan menikmati musik berdua.
"Dia selalu saja sibuk, pekerjaannya lebih penting dibanding aku suaminya," kesahnya sembari menikmati wiski yang dipesan.
Irana kembali mengulas senyuman menggoda kepada suami sahabatnya itu. Ia bergerak pelan membuka dua kancing atas blouse. Netra Vando pun terfokus pada belahan yang tampak cantik,putih, dan mulus itu.
"Sampai ini kalian udah?" tanya Irana masih dengan senyum manisnya.
"Udah, aku sudah menikmatinya hingga puas." Tangan Vando bergerak dengan sendirinya mengusap belahan indah itu, yang berawal pelan dan makin lama meremasnya gemas.
"Tapi itu adeknya Abang udah masuk ke punya dia?" Irana sedikit mendesah karena sentuhan liar itu.
Vando menggeleng dan membuka kancing baju Irana semakin ke bawah. Netra itu terpukau akan keindahan yang tadinya tersembunyi.
Lalu ia teringat akan pintu ruangan yang belum terkunci. Vando bangkit dan menguncinya dengan cepat.
"Aku mau diapain, Bang? Kok pintunya dikunci?" goda Irana. Vando langsung membenamkan wajahnya pada dua benda kenyal tersebut. Malam itu adalah malam yang tak terlupakan bagi pria yang harusnya melakukannya dengan Mika. Namun, apa daya. Ia lebih dahulu berlabuh pada sahabat istrinya.
Semenjak itu lah, pernikahan yang masih berusia dua minggu ternoda oleh pengkhianatan yang dilakukan oleh Vando tanpa sepengetahuan Mika yang selalu dan selalu sibuk.
Hasrat terhadap Mika pun mulai menghilang, Mika menyadarinya. Semakin hari, Vando semakin dingin. Ia tak pernah lagi bersikap mesra.
Hari ini Mika memberanikan diri meminta jadwal malamnya dikosongkan hingga tujuh hari ke depan. Dia ingin meleburkan diri seutuhnya kepada sang suami.
Namun, Mika ketiduran karena lelah menunggu. Saat pagi hari, ia pun terbangun. Vando, suaminya telah tidur di dalam selimut, membiarkan dirinya yang sepanjang malam dengan lingerie yang sangat terbuka, tanpa disentuh sama sekali.
Ternyata, aku malah diangguri seperti ini. Baik lah ... jika itu maumu. Kita akan coba lihat nanti.