Ting.
Kurasakan hawa panas disekitar wajahku. Kuyakin semburat merah muda kini sudah menghiasi pipiku yang chubby.
“Akhirnya, pesan yang kunanti tiba juga.” Aku bahkan sampai bersenandung saking bahagianya.
“Ya Tuhan, mimpi apa aku semalam?” gumamku.
Ting.
Ponselku kembali berbunyi tanda ada pesan yang meminta untuk segera dibalas.
“Bagaimana ini?” Kini aku berjalan mondar-mandir. Berhenti di depan jendela besar ruang perpustakaan untuk memandangi pantulan diriku di sana.
“Kenapa harus hari ini sih?” Sekarang aku malah menggerutu.
Semua aksiku itu menjadi tontonan menarik sahabatku, Alea.
“Ekheemm… Princess Barbie Annelise,” seru Alea.
Kuhentikan langkahku dan melirik pada Alea. “Apaan sih!” Gerutuku.
Bukannya tak bersyukur, tapi aku sungguh tak menyukai namaku. Sebenarnya yang salah bukan nama itu, nama itu sangat indah. Bahkan terlampau indah untukku. Yang salah di sini adalah ibu.
‘Hanya karena menjadi penggemar serial Barbie, Ibu tak harus memberiku nama salah satu tokoh favoritnya. Harusnya ibu melihat bagaimana sosok putrinya yang bagai langit dan bumi dengan sosok panutannya,’ pikirku.
“Berhenti panggil aku dengan nama itu!” Ucapku kesal.
“Nama cantik gitu kok disia-siain,” balas Alea tak mau kalah.
Meskipun aku dan Alea sering berdebat, namun kami saling menyayangi. Persahabatan kami sudah terjalin selama 6 tahun lamanya. Sejak awal masuk Sekolah Menengah Pertama hingga kini, kami berdua akan segera meninggalkan bangku Sekolah Menengah Atas.
“Lagaian lu itu kenapa sih?” tanya Alea penasaran.
Karena masih kesal pada Alea, aku tak menjawabnya. Kutunjukkan saja pesan yang sejak tadi membuatku risau.
“What? Demi apa?!” Alea memekik heboh. Segera aku membekap mulut gadis tomboy kesayanganku itu.
“Akhirnya, sebentar lagi cinta pertama lu akan kesampean,” ucap Alea. “Selamat, ya… aku turut senang sebagai sahabatmu.”
Aku menghirup oksigen sebanyak-banyaknya dan mengembuskannya perlahan. Alea bisa menangkap kesedihan dari wajahku yang tertekuk.
“Ada apa? Kan seharusnya lu senang. Secara cowok yang lu suka, yang katanya adalah cinta pertamamu, sekarang ngajak lu ketemuan karena ingin membicarakan hal yang penting.” Ucap Alea.
“Apa lagi coba kalau bukan untuk nembak lu?” Imbuhnya percaya diri.
“Nah itu masalahnya,” keluhku. “Lu pikir Bang Reno bakal mau sama Barbie jadi-jadian macam gue gini?”
“Lah, kan selama ini kalian udah deket banget, wajarlah kalau sekarang Bang Reno itu mau menyatakan perasaannya,” ucap Alea ingin mematahkan sikap insecure yang menjadi kelemahan utamaku.
“Deket karena dia gak tau aku yang sebenarnya siapa,” ucapku. Napasku serasa tercekat di tenggorokan saat mengatakan fakta yang selama 3 bulan ini selalu coba kuabaikan.
Fakta bahwa Bang Reno selama ini bertukar pesan bersama gadis bernama Anne, bukan Barbie.
Fakta bahwa Bang Reno selama ini sering mengobrol hingga lupa waktu, tertawa, dan bercanda di telepon bersama gadis bernama Anne, bukan Barbie.
Dan terakhir, fakta jika Bang Reno ingin bertemu dengan gadis lembut dan penuh perhatian, yang membuat harinya berwarna, bernama Anne. Dan bukan Barbie.
“Apa bedanya sih!” Alea beranjak dari tempatnya.
Gadis itu berdiri di hadapanku dengan berkacak pinggang. “Anne itu Barbie. Barbie itu Anne. Titik,” ucapnya.
“Lagian kenapa sih lu gak percaya diri?” Tanya Alea. Dari caranya berbicara aku tahu jika dia mulai kesal padaku.
“Karena gue gak secantik Barbie!”
Balasku memekik dan berlari meninggalkan Alea. Saat berlari kurasakan panas disekitar mataku. Dan hanya dalam hitungan detik, air mata sudah mengalir dari sana dan membasahi pipiku.
……
Bagaimanapun usahaku untuk menghindar, hari yang tak pernah kunantikan akhirnya tiba. Sebulan sebelum ujian kelulusan Sekolah Menengah Atas adalah waktu yang kutetapkan untuk memenuhi permintaan bertemu dari Bang Reno.
Terhitung sudah 4 bulan kami berdua terus bertukar pesan. Dari yang awalnya biasa saja. Hingga sekarang pesan kami semakin intens. Bahkan Bang Reno sering memanggilku dengan sebutan ‘sayang’ saat di telepon atau di pesan yang ia kirimkan.
Dengan penampilan seadanya yaitu kemeja dan celana denim kebesaran juga sepatu sneakers, aku sudah siap untuk bertemu abang pujaan hati.
Sengaja aku datang terlambat, berharap Bang Reno bosan dan akhirnya membatalkan janji temu kami. Sayangnya, itu hanya harapanku saja.
Saat pertama kali membuka pintu kafe, aku langsung bisa melihat sosok Bang Reno yang tampak begitu bersinar di mataku. Tatapan mataku kupastikan kini berbinar, sebab kilauan dari ketampanan pria itu sangat menyilaukan.
Dengan ragu aku menghampiri meja Bang Reno. “So-sore Bang,” ucapku.
Bang Reno mengernyitkan keningnya. “Sore,” jawabnya singkat.
“Maaf sudah membuat Bang Reno menunggu lama.”
“Hah? Maksudmu? Gue tuh di sini nungguin gebetan gue, namanya Anne.” Jelas Bang Reno.
“Lu… adik kelas gue dulu kan? si Barbie jadi-jadian itu, bener kan?” Cecar Bang Reno.
Aku mengangguk, meski rasanya ingin menangis. Yang Bang Reno ingat hanyalah hal yang buruk saja dari tentangku.
“Terus, ngapain lu di sini? Pergi sono!”
“Kita kan janjian bertemu, Bang. Aku Anne, yang selama ini bertukar pesan dengan Abang.” Jelasku.
“Apa? Si*l! Jadi selama ini lu ngerjain gue?” Bang Reno tampak sangat marah.
Ia berdiri dari tempat duduknya. Seluruh perhatian pengunjung kafe kini tertuju pada kami. Sementara aku hanya bisa menunduk karena malu juga takut.
“Asal lu tahu, gue memang tak pernah berharap Anne adalah wanita yang sangat cantik, tapi aku juga tak pernah berpikir jika Anne itu adalah Barbie jadi-jadian seperti lu!”
Bang Reno terlihat sangat marah. Pria itu bahkan membuang sebuket bunga mawar yang ia bawa ke tempat sampah.
Hari itu menjadi hari paling bersejarah dalam hidupku. Hari di mana aku ditolak dan dipermalukan oleh cinta pertamaku yang telah layu sebelum berkembang.
Hatiku sakit, dadaku terasa sesak namun aku tahu jika ini adalah konsekuensi atas apa yang telah menjadi pilihanku.
Waktu terus berlalu, kupikir akan sulit bagiku untuk melangkah maju dengan trauma yang kualami setelah dipermalukan di depan umum oleh Bang Reno.
Namun waktu seakan tak peduli, ia terus melangkah maju. Hingga kini 8 tahun telah berlalu. Aku sudah benar-benar sembuh dari traumaku.
Aku akhirnya bisa menerima apa adanya diriku, dan rupanya aku tak seburuk yang kupikirkan selama ini. Setelah aku bisa menghargai apa yang kupunya, banyak dari mereka yang akhirnya berbalik memujiku.
Barbie jadi-jadian ini juga telah bertemu dengan pangerannya, bernama Ken. Kami pasangan yang sangat serasi, meski Ken-ku tak setampan tokoh Ken dalam serial Barbie.
Jika suatu saat aku sempat bertemu dengan Bang Reno, aku ingin mengucapkan terima kasih yang belum sempat terucap. Terima kasih karena kehadirannya, aku akhirnya merasakan yang disebut dengan cinta pertama.
Meski cinta pertama itu tak menjadi cinta terakhir dalam hidupku, namun cinta pertama dan semua kepedihannya menuntunku untuk mencapai hidupku yang lebih bahagia saat ini.
Terima kasih, cinta pertamaku…
END