Darah segar mengucur deras dari tubuh seekor kucing. Hewan itu meregang nyawa dengan sangat mengenaskan. Seorang gadis kecil berdiri sambil tersenyum puas melihat pemandangan mengerikan itu. Tangan kanannya memegang pisau yang berlumuran darah. Dia mengangkat kucing yang sudah menjadi bangkai, kemudian memeras darah yang masih terus mengalir.
“Warna yang cantik.”
Gumam gadis kecil berambut panjang. Dia mengambil selembar kertas dan mulai memainkan kuas yang di celupkan ke dalam mangkuk berisi darah segar. Matanya berbinar-binar setelah menyelesaikan lukisannya. Dari balik pintu, ibu dari gadis itu menyaksikan apa yang dilakukan putrinya. Dia menutup mulutnya menahan tangis.
***
“Non Sila, bajunya sudah siap di kamar.”
Perempuan cantik itu hanya mengangguk dan tersenyum lembut kepada asistennya. Dia adalah seorang pelukis terkenal dengan lukisan yang penuh misteri.
Gadis kecil itu sudah menjelma menjadi perempuan cantik dengan banyak pesona. Sifatnya yang ramah membuat tak seorangpun mengira, di dalam tubuhnya hidup seorang monster.
Namanya Sila, dia tinggal dengan ibunya yang struk. Sila sangat menyayangi ibunya. Dia tidak pernah segan-segan melukai orang yang menyakiti ibunya, meskipun ayah kandungnya sendiri.
***
“Mas, kenapa kau tega menghianatiku. Kamu jahat mas!”
“Tutup mulutmu perempuan tak berguna! Kamu bukan lagi istriku! Kita cerai! Urus saja anak monstermu itu, dia bukan anakku!”
Laki-laki itu bergegas pergi tanpa memedulikan perempuan yang terus memegang kakinya. Dengan penuh amarah, laki-laki itu menendang istrinya sampai terpental mengenai dinding. Kejadian itu disaksikan oleh putri semata wayang mereka yang daritadi berada di situ. Wajah gadis kecil itu memerah. Matanya melotot, tangannya mengepal. Dia segera berlari dengan pisau di tangannya, kemudian langsung menghunus tepat di jantung ayahnya. Laki-laki itu langsung limbung ke tanah, dia tidak percaya, anaknya sendiri yang akan mengakhiri hidupnya.
Istrinya menjerit histeris melihat putrinya melakukan sesuatu di luar dugaan. Selama ini, perempuan itu sudah tahu anaknya adalah psikopat, tetapi tidak pernah menyangka dia akan tega membunuh ayahnya sendiri. Ada rasa takut menjalar dalam tubuh perempuan cantik itu.
“Ibu...aku akan melindungi ibu, dari siapapun yang berusaha menyakiti ibu.”
Wajah gadis kecil bernama Sila berubah drastis dalam hitungan detik. Dia terlihat sadis saat menghabisi ayahnya, tetapi menjadi lembut dan penuh kasih sesaat setelah itu.
Jantung perempuan itu berdegup kencang, kakinya lunglai, pandangannya kabur. Pelukan anak gadisnya tidak bisa menenangkan hati yang sesak. Tiba-tiba tubuhnya limbung ke lantai.
***
“Ibu...Sila pergi dulu ya. Bik sumi akan menemani ibu di rumah. Hari ini menjadi sejarah untuk Sila. Akhirnya, Sila bisa mengadakan pameran lukisan sendiri bu. Doakan semuanya lancar ya Bu.”
Sila mengecup kening ibunya dengan lembut. Bu Retno hanya diam tanpa ada respon apa-apa. Jiwanya terguncang, setelah tragedi pembunuhan suaminya.
Para tamu sudah mulai mendatangi gedung pameran lukisan. Sila berdiri di tengah ruangan, sambil menyapa beberapa tamu dengan ramah. Sesekali dia menjelaskan lukisan-lukisannya yang bertema horor. Semua pengunjung dibuat berdecak kagum dengan lukisan Sila yang terlihat nyata.
Saat Sila sedang sibuk menggelar pameran, bik Sumi sedang menemani ibunya berkeliling taman, di area rumah Sila yang luas. Baru kali ini Sila mengizinkan bik Sumi berkeliling rumah. Selama satu tahun berkerja, tak pernah sekalipun dia di izinkan melihat-lihat sekeliling rumah.
“Mumpung tidak ada non Sila, aku ingin melihat ke belakang rumah” bisik bik Sumi dalam hati.
Sambil mendorong kursi roda Bu Retno, bik Sumi mulai melangkahkan kakinya ke belakang rumah. Di pojok kawasan itu ada sebuah gudang. Hatinya yang daritadi di selimuti rasa penasaran, memberanikan diri melangkahkan kaki ke sana.
Saat berada di depan gudang, bik Sumi langsung medekati jendela. Bu Retno tiba-tiba sedikit berteriak, seolah-olah meminta bik Sumi untuk kembali. Bik Sumi menenangkan Bu Retno.
“Bu, jangan khawatir, saya tidak masuk, kan pintunya dikunci non Sila. Saya hanya ingin mengintip. Saya penasaran bu.”
Bu Retno memegang tangan bik Sumi, mencoba menahan niat perempuan paruh baya itu. Tetapi, bik Sumi sudah terlanjur penasaran.
Bik Sumi mengelilingi gudang. Mencari celah agar dia bisa melihat apa yang ada di dalam. Jendela kayu tertutup rapat sehingga orang dari luar tidak bisa melihat apapun di dalamnya. Tetapi, bik Sumi tidak menyerah, dia terus mencari celah. Saat dia menempelkan mata ke jendela, ada embusan angin yang membawa bau anyir dan busuk.
“Sepeti bau bangkai, tapi bukan bangkai tikus” gumam Bik Sumi dalam hati.
Bik Sumi semakin penasaran. Saat dia memutar ke belakang gudang, ternyata ada ventilasi di sana. Dia mencari tempat untuk mencapai ventilasi itu.
Setelah berhasil, betapa terkejutnya bik Sumi. Bulu kuduknya langsung berdiri, melihat isi di dalam gudang. Ada beberapa mayat yang di gantung di ruangan. Darah berceceran dimana-mana. Ada juga beberapa timba berisi darah pekat. Hal yang paling membuatnya terbelalak adalah, mayat sahabatnya Santi dan pamannya Bakri. Mereka dulu pernah bekerja di rumah itu juga, tetapi menghilang secara misterius. Namun, Sila mengatakan bahwa mereka berdua pergi setelah mencuri perhiasannya.
Dengan berurai air mata dan sekujur tubuh yang bergetar, bik Sumi segera pergi dari tempat itu dan membawa Bu Retno yang terus meremas-remas ujung bajunya.
Beruntung bik Sumi sudah berada di dapur saat Sila datang. Dengan wajah pucat dan lemas, bik Sumi meminta izin kepada Sila untuk keluar rumah dengan alasan ingin berobat. Sila tidak menyadari bahwa bik Sumi sudah mengetahui siapa sebenarnya dia. Karena kondisi bik Sumi yang terlihat seperti orang sakit, jadi Sila percaya dan mengizinkan bik Sumi pergi.
Bik Sumi segera memesan taxi dan menuju kantor polisi. Dia menceritakan semua yang dia lihat. Polisi segera menuju ke rumah Sila dan melakukan penggeledahan. Mereka menemukan bukti-bukti kekejaman pelukis terkenal itu. Sila tampak sangat marah, dia berusaha menyakiti bik Sumi, tetapi polisi segera mengamankannya.
Saat di interogasi, Sila hanya menyeringai dan mengatakan akan membunuh polisi itu. Kemudian pihak kepolisian mendatangkan seorang psikolog.
Psikolog mulai bertanya kepada Sila pelan-pelan. Akhirnya Sila mengakui semua perbuatannya. Mulai dari dia membunuh ayahnya, dan para pekerja yang tinggal di rumahnya. Darah para korban dijadikan bahan untuk warna lukisan. Dia melakukannya karena mereka bersikap tidak baik kepada ibunya.
Akhirnya Sila dihukum seumur hidup, dengan dimasukkan penjara rumah sakit jiwa.
Sebagai seorang ibu, bu Retno tidak bisa berbuat apa-apa, dia hanya terus meneteskan air mata setiap memandangi foto Sila. Dia pasrahkan jalan hidupnya dan Sila kepada Allah. Doa selalu terucap dalam hatinya, semoga putri cantiknya bisa berkumpul kembali dengannya dalam kondisi yang berbeda.
Tamat
Nanga Pinoh, 20 Juni 2020