Aliya Musyi adalah nona kaya yang hidup serba kecukupan. Dia dilindungi dengan baik oleh keluarganya yang sangat mencintainya. Meski terkadang, perlindungan itu sangat mengganggu pergerakan Aliya karena para penjaga selalu memperhatikan gerak gerik Aliya; siapa yang bertemu dengannya atau meneleponnya. Sangat merepotkan, bukan?
Itu sebabnya Aliya sering sekali melarikan diri dari penjagaan ketat itu. Lubang pernafasannya seperti dikunci rapat-rapat ketika bersama para penjaga.
Suatu kali saat Aliya pergi ke taman, Aliya pura-pura lelah dan dia menyuruh para penjaga membeli air minum. Tentu saja para penjaga paham maksud dari permintaan nona mudanya ini.
"Kami tahu yang nona muda inginkan. Nona mau lari 'kan?" Sudah bukan rahasia umum lagi bagi tiga penjaga yang selalu setia menjaga Aliya kalau gadis muda berusia 23 tahun itu suka melarikan diri dari pemantauan mereka.
"Tidak … aku tidak ingin lari. Aku hanya haus. Dan, apa kalian tahu, badan kalian itu bauuuu sekali! Aku perlu oksigen atau aku akan mati karena kalian selalu ada di sekelilingku!" jawab Aliya seraya menutup lubang hidungnya yang menandakan kalau ia merasa tidak enak mencium aroma tubuh para penjaganya itu.
Para penjaga segera tersenyum malu. "Kami tidak sempat mandi, nona. Tuan besar sendiri yang minta sewaktu matahari bahkan belum naik kalau nona muda ingin keluar untuk jalan-jalan," jelas sang penjaga sangat jujur.
"Maka dari itu, aku mau kalian mandi dan belikan air minum untukku. Aku janji hanya duduk di sini dan tidak akan kemana-mana."
Dan untuk sekian kalinya, tiga penjaga selalu berhasil dibodohi Aliya dengan otak cerdiknya. Aliya pergi dari sana tak lama setelah tiga penjaga beranjak dari posisi penjagaannya.
Aliya berjalan santai di sekeliling taman, melihat banyak orang yang sedang bersantai di taman itu. Aliya merenggangkan tangannya. "Hah! Akhirnya aku berhasil lagi membodohi tiga penjaga bodoh itu. Senang rasanya hanya ada aku tanpa penjaga aneh itu di kiri kanan dan belakangku! Entah kenapa lah Ayah dan Ibu selalu melarangku pergi ke luar sendirian. Padahal aku sudah dewasa dan seharusnya udah bisa kenal laki-laki bahkan menikah dan buat anak!" Aliya menyayangkan nasipnya yang selalu terkekang oleh peraturan orangtuanya yang aneh-aneh.
Bruk.
Tubuh Aliya terjatuh karena menabrak seseorang bertubuh kecil karena bersungut-sungut. "Aduuuhh, sakit," Aliya mengelus lututnya yang lecet dan terasa perih.
"Huaaaa Mamaaaa…" Tiba-tiba terdengar suara anak menangis membuat Aliya melihat ke depan. Ternyata ada seorang anak perempuan berambut pendek bergelombang. Kening anak itu merah membuat Aliya segera meraih kepala anak itu dan meniupnya.
"Maaf ya dek. Kakak ga sengaja menabrak kamu, jangan menangis ya." Aliya tidak ingin tangisan anak itu semakin menjadi, hingga para penjaga Aliya menyusul kemari dan malah membawa Aliya pulang ke rumah.
"Mamaaaa." Anak perempuan ini terus memanggil mamanya membuat Aliya kesal. Semua mata menuju padanya.
"Dek, jagalah anaknya. Jangan buat nangis terus."
Aliya tersenyum kecut. 'Kapan aku punya anak?' tanya Aliya dalam hati.
"Tapi dia bukan–"
"Mamaaaa."
Aliya berusaha menjelaskan kalau anak itu bukan anaknya. Namun gadis kecil lucu nan menggemaskan ini, tidak memberinya kesempatan!
Akhirnya dengan menahan emosi, Aliya menggendong anak itu dan membawanya entah kemana. Aliya bersendung untuk menenangkan hati dan pikirannya supaya tetap waras dan menjauhkan pikiran negatif, kalau ia akan membuang anak tak bersalah ini ke emperan di sudut taman!
Tidak disangka anak perempuan di gendongannya menikmati suara merdu Aliya. "Suara Mama bagus," pujinya.
"Eh …" Aliya bingung. Aliya ingat suaranya tidak pernah sebagus kakaknya yang merupakan seorang aktris ternama. Suara Aliya selalu diejek hingga Aliya undur diri dari percobaan dunia tarik suara.
Namun di telinga anak ini, suara Aliya dipuji bagus. Akhirnya Aliya yang tidak mau ambil pusing pun langsung mengatakan, "Terimakasih."
"Siapa nama kamu, dek?" tanya Aliya memposisikan akan berusia kisaran 5 tahun itu menghadap padanya.
"Nama aku, Dea, Mama. Masa Mama lupa?"
'Aku bukan Mama atau orang terdekatmu, Dea. Tentu saja aku tidak tahu siapa namamu!' Huh, lagi-lagi Dea membuat Aliya kesal.
"Di mana Papa atau keluarga kamu. Biar Tante bawa kamu pulang, siapa tahu kamu tersesat," ucap Aliya. 'Dari pada sifat menyebalkannya membuatku mati berdiri di sini!' Aliya menggerutu dalam hati.
"Papa di belakang Mama." Dea menunjuk ke arah Aliya membuat Aliya mengerutkan kening. "Di belakang aku?"
Aliya berbalik. Dia terkejut karena ada seorang pria bertubuh besar berdiri tepat di belakangnya. Pria itu membawa tiga gelas susu hangat yang dibungkus plastik.
"Hallo Dea. Kamu isengin perempuan lain lagi, ya?" suara berat itu tampak ramah pada Dea yang adalah anaknya. Namun entah mengapa Aliya seperti mengenalnya tapi tidak ingat sama sekali.
"Papa!!!" Teriakan anak ini hampir saja membuat telinga Aliya budek. Bisa-bisanya Dea melompat dari pelukannya ke pelukan sang Papa.
"Hem. Mulai lagi aktraksinya yaaa," kata pria itu pada anaknya.
Aliya yang melihat Dea sudah bersama Papanya pun pergi karena merasa tidak dibutuhkan lagi.
"Hem, maaf." Suara Ayah Dea seketika menghentikan Aliya. Aliya merasa Papa Dea memanggilnya. "Iya, ada apa?" tanya Aliya perlahan mendekat.
"Kamu mau susu hangat ini? Aku baru saja di taman ini tapi Dea sudah hilang. Tau-taunya Dea sudah lengket sama kamu. Sorry ya, Dea memang suka mengagetkanku perempuan muda biar jadi Mamanya. Apalagi yang statusnya jomblo."
Aliya tidak tahu apakah Papa Dea ini mengejek statusnya yang jomblo karatan karena Ayahnya sendiri melarangnya berdekatan dengan pria manapun seumur hidupnya, atau hanya bertujuan untuk bercanda.
"Oh, berarti bukan hanya aku korbannya, ya?" tanya Aliya lega. Aliya kira dia benar-benar menjadi Mama untuk Dea. Apalagi dengan tipe anak seperti Dea yang cukup membuatnya olahraga jantung dan emosi. Kalau Papanya Dea yang tampan sih, boleh sajaaa; ups, keceplosan.
"Iy–" Papa Dea mau menjawab, justru dihentikan anaknya. "Mana ada ya, Papa! Mama Aliya itu mama Aku titik! Papa sendiri ya bilaaa–ng." Papa Dea menutup mulut Dea entah karena alasan apa. Aliya hanya tersenyum tipis karena kelihatan sekali, bukan hanya Aliya yang setres melihat tingkah super aktif Dea.
"Dia pintar bicara, ya." Aliya membuka percakapan karena sempat saja keduanya penuh dengan suasana hening.
"Hem. Iya. Dia benar-benar mirip Mamany yang sudah–"
"Sudah apa?" Aliya penasaran. "Sudah meninggal, gitu?" lanjut Aliya. "Aku turut prihatin ya."
"Buk-bukan. Mamanya Aliya masih hidup. Dia masih sehat sampai sekarang, dia cantik dan menyayangi aku dan Dea. Hanya saja dia memilih pergi karena ada satu dan lain hal. Tapi dia tidak serta-merta memutuskannya untuk kepentingan dirinya sendiri, keluarganya yang memaksa kami berpisah." Papanya Dea menceritakan sepenggal masalalunya yang terdengar menyedihkan.
"Turut prihatin mendengarnya," ucap Aliya.
Papanya Dea hanya mengangguk. "Tapi kalau kamu mau datang atau sekedar melihat wajah Mamanya Aliya yang merupakan asal mula Dea memiliki sifat yang ya, kamu tahu lah."
"Mungkin kapan-kapan aku bisa hadir," jawab Aliya singkat padat dan jelas untuk menolak. Kan aneh juga seorang pria dan wanita berada di sebuah rumah padahal mereka tidak memiliki hubungan apapun selain tak sengaja bertemu. Meski adanya anak perempuan di antara mereka, tetap saja pikiran buruk orang-orang akan tetap ada.
"Hem, baiklah. Kebetulan matahari sudah mulai meninggi. Dea perlu mandi dan aku ada rapat pagi ini. Apa kamu mau susu hangatnya?" untuk kedua kali Papanya Dea menawarkan susu hangat yang dibelinya karena melihat Dea bersama perempuan lain.
"Terimakasih. Aku suka sekali susu hangat." Aliya menerima susu hangat itu. Mereka berpisah karena Aliya yang ingin jalan-jalan sendiri.
Namun seketika mata Aliya membulat lebar karena Aliya melihat tiga penjaganya berjarak seratus meter ada di depannya.
Aliya berlari ke arah pria itu dan berusaha meminta pertolongan dengan meraih jaket cokelat yqng yang dipakainya.
Sayangnya kaki Aliya tersandung batu sebesar telapak tangan yang tertanam setengahnya di tanah.
"Aaa …" Aliya berteriak karena panik akan terjatuh. Namun Ayahnya Dea yang sigap langsung menarik tangan Aliya dan menariknya ke dekatnya supaya Aliya tidak jatuh.
"Kamu kenapa lari-lari? Ada yang mengejar?" tanya Papanya Dea.
Aliya mengangguk tanpa bicara karena nafasnya yang belum terkontrol.
"Mama. Dea mau Mama gendong." Aliya malah berbicara hal di luar percakapan.
Aliya langsung menarik Dea ke pelukannya.
"Coba cerita, apa yang terjadi?" tanya Papanya Dea penasaran apa yang terjadi pada Aliya. Mereka sama-sama berjalan, namun Aliya lebih panik.
"A-aku dikejar, tapi bukan berarti aku penjahat. Aku Aliya Musyi, putri satu-satunya yang belum menikah meski usiaku sudah 23 tahun. Ayahku terlalu mengekangku untuk tetap di rumah kami. Dan bisa kemari pun, karena aku memohon-mohon pada ayah supaya bisa keluar jalan-jalan. Aku punya tiga penjaga yang selalu setia berada di kiri kanan dan belakangku. Mereka senang kutipu karena aku bosan dikekang seperti ini. Entah karena apa orangtuaku mengekangku dan memperlakukanku seperti boneka."
Papanya Dea mengangguk serta berkata, "Turut prihatin ya."
"Makasih. Tapi aku mau lepas dari kurungan Ayahku. Aku tahu kamu pria baik, aku harap kamu bisa membawaku ke rumahmu. Aku akan bayar berapa! saja supaya aku tidak bertemu ayah. Pasti keluargaku menghukumku karena lari dari pemantauan tiga penjaga sialan itu," pinta Aliya dengan sangat berharap, ayah Dea bisa menurutinya.
"Ayolah, Papa. Dea janji akan jadi anak baik, Dea hanya mau main sama Mama. Itu saja," Dea malah memohon supaya sang Papa mengizinkannya bermain dengan Aliya yang selalu dipanggilnya dengan sebutan Mama itu.
"Oke. Papa turuti!"
Seketika Dea bahagia dan mereka masuk ke dalam mobil Papanya Dea di parkiran. Aliya senang karena merasa hidupnya akan selamat karena bantuan papanya Dea dan Dea, si anak menyebalkan itu.
Namun Dea tetaplah Dea. Aliya selalu diperintah melayani Dea seperti memandikannya, memasak dan bermain dengan Aliya, seharian!
Aliya lelah, tapi lama kelamaan lucu juga melihat sikap Dea. Apalagi dengan cerita Papanya Dea yang mengatakan kalau Dea sudah ditinggal dari kecil oleh sang Mama asli karena satu dan lain hal. Pantas saja Dea terlihat sangat menikmati kebersamaan mereka.
Saat sore setelah masak bersama Dea yang justru lebih banyak mengganggu daripada membantu, Dea ingin mandi. Namun Dea yang sepertinya berusaha masuk ke suatu kamar langsung dihentikan Aliya.
"Kamar siapa ini? Kenapa kamu mau masuk? Bukannya kamarmu ada di sebelah sana, Dea?" Aliya bertanya secara beruntun.
Dea hanya menghela nafas. "Dea mau tunjukkin sesuatu sama Mama," kata Dea lemah.
Aliya mengerutkan kening. Kemudian dia membuka pintu itu dengan mudah karena Aliya memiliki tubuh lebih tinggi dari Dea dan pintu ini tidak dikunci. Dea hanya kalah di bagian tinggi saja.
"Kamar siapa ini, Dea?" tanya Aliya setelah melihat Dea masuk ke kamar itu. "Kita tidak boleh memasuki kamar orang lain loh," ucap Aliya memperingatkan.
"Ini kamar Papa, Mama. Aliya hanya mau memperkenalkannya saja," jawab Dea.
Aliya mengangguk paham.
"Kata Papa, ini tempat tidur Papa dan Mama Dea waktu Dea masih bayi. Dan Dea diletakkan di tengah-tengah mereka. Bahkan sampai sekarang, kalau Papa dan Dea rindu sama Mama, kita sering tidur di sini dan peluk baju peninggalan Mama." Anak berusia 5 tahun nan pandai bicara itu memperkenalkan kasur single yang terletak di samping ranjang king size.
"Kenapa bukan kasur besar ini saja, Dea? Apa dulu, Papa kamu tidak sekaya sekarang?" tanya Aliya bingung.
"Bisa dibilang gitu sih, Ma. Papa dulunya orang miskin yang menikah sama Mama yang merupakan anak orang kaya. Kata Papa, Papa dan Mama nikah lari dan lahirlah Dea. Tapi nenek dan kakek dari Mama malah ngambil Mama sebelum Dea besar."
"Cerita ini …" Seketika potongan ingatan asing secara acak muncul dalam kepala Aliya. Hal ini seketika membuat Aliya merasa kepalanya sakit. "Akh … kepalaku," Aliya berusaha memegang apapun yang dapat menahannya supaya tidak jatuh.
"Ma? Mama kenapa?" tanya Dea panik.
Akhirnya karena merasa tidak bisa menyentuh apapun sebagai penopang, Aliya memegang bahu Dea. "Tolong baringkan Tante di tempat tidur yang mana saja. Kepala Tante sakit sekali, Dea."
Dea mulai menuntun Aliya tidur di kasur single yang ada di sebelah ranjang besar itu. Dea memeluk Aliya dan berusaha menenangkannya. "Kepala Mama sakit ya? Kata Papa kalau kepala sakit, tidur aja," ucap anak polos itu.
Aliya hanya terdiam, ia tidak banyak bicara karena untuk pertama kali kepalanya seperti dipukul sekeras mungkin dari dalam.
Beberapa menit setelahnya terdengar suara klakson mobil, yang membuat Dea perlahan bangun dan meninggalkan Aliya dengan kalimat, "Dea tinggal sebentar ya, Ma. Dea mau ketemu papa dan lapor kalau kepala Mama sakit."
Dea turun dari lantai kedua dengan berlari menuju basement. Papa Dea baru keluar dari mobil langsung disambut dengan Dea yang tampak panik dan peluh menetes dari pelipisnya.
"Kamu kenapa, sayang?" tanya Dirga, papa Dea terkejut.
Dea mulai menceritakan apa yang terjadi. Dirga segera pergi ke kamarnya dan melihat apa yang sudah terjadi pada Aliya.
"Kepala kamu sakit ya? Ayo minum obat pereda sakit kepala ini."
Seraya Dirga mengambil obat pereda sakit kepala, Dea disuruh mengambil air putih di luar sudut kamar Dirga.
Saat Aliya disuruh makan obat, Dea memberi Aliya minum. Setengah jam kemudian, kepala Aliya mulai membaik.
"Makasih ya sudah meredakan sakit kepalaku. Aku tidak tahu deh mau balas budinya dengan cara apa." Aliya senang karena jika bukan karena bantuan Papanya Dea, maka mungkin Aliya sudah pingsan karena potongan ingatan asing itu terus-menerus mengganggunya.
"Ma, lihat deh ini." Dea memberi foto yang dipajang di atas nakas untuk dilihat Aliya.
"Foto ini … Kenapa ada aku di sana?" tanya Aliya bingung.
Foto itu berisi sebuah keluarga yang tampak sangat mesra. Ada seorang pria yang mirip dengan Dirga papanya Dea, kemudian Dea yang masih bayi dan seorang wanita cantik dan lebih muda yang mirip dengan Aliya.
"Apa kamu sudah lupa dengan semua ini?" tanya Dirga yang semakin membuat Aliya bingung.
"Maksudnya?"
Dirga mulai bercerita, kalau di masa lalu tepatnya lima tahun yang lalu, Dirga adalah lelaki miskin yang sangat mencintai Aliya.
Aliya juga mencintai Dirga dan mereka menikah secara diam-diam karena orangtua Aliya tidak menyetujui pernikahan antara pemuda miskin dan nona kaya.
Dari pernikahan itu, lahirlah Dea. Aliya dan Dirga hidup dalam kemiskinan. Meski begitu Aliya bahagia bersama Dirga.
Namun belum lama Dea lahir, orangtua Aliya memaksa Aliya pulang ke rumah dan meninggalkan keluarga kecil mereka yang bahagia.
"Lalu kenapa aku bisa melupakan semua ini?" tanya Aliya ragu.
"Kamu kecelakaan saat dibawa ke rumah orangtuamu dengan perantara tiga penjagamu yang masih setia menemaniku hingga sekarang," jawab Dirga menahan rasa sedih yang mendalam.
"Lalu kenapa kamu tidak mengambilku kembali?" Aliya benar-benar tidak tahu mau percaya atau tidak dengan cerita ini. Bukan karena ia ragu dengan kebenarannya. Tapi karena di usianya yang baru menginjak 23 tahun ia sudah memiliki anak berusia 5 tahun.
"Dan apa benar aku punya anak di usia 17 tahun?" tanya Aliya takjup.
"Aku mengenalmu sejak usiamu baru 4 tahun. Saat itu usiaku 10 tahun dan aku menemanimu sebagai teman karena rumah majikan Ibuku dekat dengan rumah keluargamu. Kita saling menyukai sampai aku menginginkan kamu, Aliya Musyi menjadi istriku. Tapi sampai sekaya apapun aku sekarang, keluargamu tetap tidak menyukaiku; bahkan mereka memberitakan rumor kalau Dea bukan anak kita berdua. Mengganggap Dea sebagai cucu mereka saja mereka tidak sudi," jelas Dirga seraya menyeka air matanya.