Selama bertahun-tahun aku mengalami gangguan tidur yang serius, tidur larut malam. Namun meski begitu lama kelamaan sudah menjadi kebiasaan.
Hari ini aku terbangun, aku membuka jendela kamar, kulihat matahari mulai terbit menandakan hari mulai pagi. Dan yah.. lagi-lagi aku dibangunkan oleh suara pertengkaran Ayah dan Ibu. Setiap hari selalu kudengar teriakan mereka bertengkar. Tapi aku tidak terlalu peduli karena itu urusan mereka. Lebih baik aku berangkat sekolah.
Di sekolah aku selalu menjadi bahan penindasan teman-temanku. Setiap hari mereka selalu mengeluarkan perkataan yang menusuk hati. Karena aku hanya seorang introvert pengecut yang bisa diperintah seperti babu. Kesepian, sejujurnya aku ingin hidup bahagia.
*KRINGG* Akhirnya bel sekolah berbunyi, para siswa diperbolehkan pulang.
Sesampainya di rumah aku membuka pintu. Seperti biasa aku menghela nafas panjang, dan ya lagi-lagi rumah itu kosong. Kedua orang tuaku sibuk bekerja. Itulah penyebab utama mengapa diriku menjadi introvert, tidak ada yang mengajarkanku cara berinteraksi dengan benar.
Aku langsung pergi ke kamar dan mulai mengambil silet yang ada di meja belajarku, dan mulai mengiris pergelangan tanganku yang memang sudah penuh dengan bekas luka. Aku telah membuat dua goresan lagi di tanganku. Sungguh, ini menyenangkan.
Hari demi hari berlalu tanpa ada hal baru, aku menjalani hidup seperti biasanya.
Aku melihat kalender, aku sadar hari ini ulang tahunku. Hari yang datang setahun sekali. Aku tidak peduli dengan ulang tahun karena aku selalu mengingat kenangan buruk saat aku berulang tahun. Sudahlah lupakan itu, saatnya berangkat sekolah.
Aku menjalankan hari ini seperti biasa tidak ada yang spesial.
*KRINGG* Bel pertanda pulang sekolah menggema di seluruh ruangan, semua siswa berhamburan keluar.
Sesampainya di rumah aku membuka pintu. Saat aku hendak melangkah ke dalam, aku sangat terkejut melihat Ibu menangis terduduk dilantai. Lantas aku langsung membawa tubuh ibuku dalam dekapanku, memeluknya dengan begitu erat.
Setelah itu aku menengok dan mengerutkan dahi ke arah ayah.
Aku merasakan perasaan aneh ketika melihat ayah bersama dengan seorang wanita yang terlihat seumuran dengan ayah, dan juga, kehadiran seorang anak laki-laki yang terlihat lebih muda dariku.
"Luana." Ayah memanggilku dengan nada dingin dan ekspresi wajah yang juga datar.
"Mereka siapa, Yah?" tanyaku dengan lirih.
"Kenalkan, ini Mamah kedua kamu Mamah Serli dan ini Reza saudara kamu."
Aku membeliakkan mataku kaget.
"Maksudnya apa, Yah? Mamah Serli? Reza? Mereka, mereka bukan Ibu dan saudara Luana!" Bentak ku dengan nafas terengah-engah.
"Diam! terima tidak terima, Mamah Serli dan Reza adalah mamah dan saudara kamu."
Aku menatap Ayah dengan tatapan kecewa bercampur dengan emosi.
Ibu langsung melangkahkan kakinya ke atas. Menuju kamar yang mungkin bisa melampiaskan amarahnya.
Ibu pasti menderita, Ibu harus menanggung sakit batin bahwa Ayah selingkuh.
Segera aku pun bangkit berdiri dan langsung berlari ke kamarku.
Di dalam kamar aku menangis dalam diam.
"Aku Benci! Aku benci berada di situasi dimana aku tak bisa mengendalikan semuanya." teriakku kesal.
Entah kenapa aku tidak bisa menahan tangisku. Hari ini adalah hari ulang tahun terburuk dalam hidupku.
Setelah puas menangis aku pun tertidur lelap.
Aku terbangun tengah malam, dan segera menuju cermin.
"Lihat dia yang ada di cermin. Wajahnya kusut dan mata sembab serta hidung merah sehabis menangis. Menyedihkan." Ucapku menahan tangis.
Semangat hidupku menghilang. Bunuh diri menjadi kata nomor satu yang ada dipikiranku sekarang. Aku Lelah! Sangat. Aku lelah harus pura-pura tegar.
Aku berjalan mendekati laci meja yang berisi obat-obatan. Aku mengambil 10 tablet Paracetamol dan 5 tablet pereda nyeri dan meminumnya sekaligus.
Aku sangat kesepian. Aku harap mereka merusak organ dalam ku dan membunuhku, tetapi itu tidak terjadi.
Akhirnya aku memutuskan untuk mengambil silet, dan seperti biasa aku mulai mengiris pergelangan tanganku. Aku tersenyum senang walau air mataku mengalir dengan deras, aku merasa lega sekali, emosi yang ada di dalam diriku perlahan menghilang bersama goresan luka yang telah ku buat.
Matahari mulai menyapa dari ufuk timur, meninggalkan malam untuk menyambut indahnya pagi. Aku perlahan membuka mataku saat sinar matahari masuk melalui celah-celah jendela. Hari ini masih terasa sama seperti kemarin, suram. Tidak ada kegembiraan atau keceriaan di wajahku, kecuali senyum yang dipaksakan.
Hari ini adalah hari Sabtu, dan kebetulan aku libur sekolah hari ini.
Hari ini perutku sangat lapar dan kepalaku pusing karena terlalu banyak menangis.
Aku bergegas ke dapur untuk membuat sandwich. Di dapur aku kebetulan melihat 'Slow Poison', aku langsung mengambilnya dan membawanya ke kamar.
Aku memegang 'Slow Poison' itu dengan hati-hati.
"Tuhan.. biarkan aku istirahat. Aku ingin mengakhiri semuanya. Biarkan aku tenang tanpa lagi merasakan pedihnya kehidupan." Ucapku yang masih menatap Racun itu sekali lagi sebelum meminumnya.
Setelah itu aku segera meminumnya. "Glek"
Deg!...seketika dadaku seakan ditimpa sesuatu.
Dadaku sesak dan nafasku terengah-engah. Tubuhku mulai kejang. Keringat bermunculan dan mulutku berbusa. Aku mulai melemah dan tergeletak.
Terdengar seseorang membuka pintu dari luar. Oh.. bodohnya aku lupa mengunci pintu kamar. Seseorang membuka pintu kamarku perlahan dan syukurlah itu Ibu. Setidaknya aku bisa melihatnya sebelum aku mati.
Ibu menatapku, ia berteriak histeris dan berlari ke arahku, ia menangis ketakutan.
Aku masih bisa bernafas namun nafasku lemah, hingga aku kehilangan kesadaran.
"Luana,,," sebuah suara mendesah lirih di telingaku.
Aku terlalu lelah untuk menanggapi suara itu, tapi suara itu kembali muncul.
"Luana,, bangun nak"
Tak lama kemudian, aku merasakan sebuah tangan membelai rambut dan pipiku. Membuat ku langsung membuka mata. Saat terbangun aku sudah terbaring tidak berdaya. Aku sudah berada di rumah sakit.
Saat aku membuka mataku, mata kami bertemu. Dan saat itu juga Ibu menangis, seketika Ibu langsung memelukku saat tahu aku sudah sadar.
"Syukurlahh!! Syukurlah kau sudah sadar Luana!! Ucap Ibu dengan air mata yang terus mengalir.
"Tuhan menyanyangiku, Tuhan hanya ingin aku hidup lebih kuat lagi. Terimakasih Tuhan, engkau memberikan aku kesempatan hidup, aku bertekad tidak akan menyia-nyiakan anugerah yang engkau berikan." Ucapku dalam hati dengan wajah terharu.
Tak lama setelah itu Dokter memberikan ku obat cair untuk melawan racun.
Hari ini aku belajar untuk menerima takdir, Terkadang kita memang sulit menerima takdir yang menimpa kita, apalagi jika takdir itu berupa kesulitan atau kegagalan. Sesuatu yang tidak kita harapkan terjadi pada diri kita. Awalnya aku pikir Tuhan itu kejam, ternyata Dia hanya terlalu sayang padaku. Masih banyak jalan yang perlu dilalui, banyak rasa yang belum aku kenal dan, hal-hal yang melatih diriku untuk menjadi kuat. Tuhan lebih tahu, dan aku yakin didepan nanti semua rasa tak menyenangkan ini akan berganti dengan rasa syukur tak terukur.
- TAMAT -