"Skat mat! yey... aku menang lagi!" teriak seorang anak perempuan yang mempunyai rambut pendek dengar gembira ia bermain catur dengan sang ayah.
"Padahal ayah sudah belajar dari kesalahan ayah, tetap saja kamu yang menang" guma seorang pria itu yang hanya menghela nafasnya saja.
Nama anak perempuan itu Qiara biasanya ia serut dipanggil oleh semua orang ara berumur 17 tahun, seorang anak yang sangat ceria, tetapi ia tidak terlalu berteman dengan semua orang. Bukan hanya itu saja kesukaan nya kepada permainan catur membuat nya hampir setiap hari memainkan nya.
Sang ayah yang seorang pencipta robot dan juga suka bermain catur bersama anak nya itu, hampir 50x sang ayah selalu kalah dalam permainan, dan sering kali robot buatan nya dipakai untuk membantu Ara.
"Hah... aku bosan jika ayah terus menerus kalah... jadi gak asik mainya kalo gini mah" guma Ara yang seperti nya menyindir diri nya.
"Halah... kamu juga kan yang terlalu jago" balas sang ayah yang tidak mau kalah darinya, Ara yang sedari tadi cemberut kini ia mempunyai sebuah ide.
"Ayah! aku tahu gimana caranya aku bisa dapat lawan yang sangat-sangat jago dari aku!" teriak Ara dengan wajahnya yang terukir ada hal sesuatu yang diinginkan nya.
"Kalo misalnya ada sesuatu yang di inginkan bilang aja, gak usah pake basa basi segala, kamu pikir ayah gak tahu..." ucap sang ayah sembari membereskan catur-caturnya itu.
"Gini nih! aku punya ide gimana kalo ayah bikinin aku robot yang bisa bermain catur, tapi dengan teknologi yang sangat canggih banget!" teriak Ara seperti anak kecil, berteriak-teriak di tengah malam.
"He! kamu pikir ayah sempet buat itu!? ayah juga puya pekerjaan lain" ucap nya dengan kerutan yang ada diwajahnya itu.
"Ya kalo gitu, beli aja!? lagi pula kita juga gak pernah beli atau buat robot manusia kan!? dan kalo ayah beli, ayah juga bisa belajar cara buat nya juga" ucap Ara yang seperti nya ingin membuat sang ayah mewujudkan keinginan nya.
"Ya udah, nanti ayah akan coba pesan, kalo gak ada robot anak kecil juga gak apa-apa ya" ucap nya yang beranjak pergi ke ruang lab nya lagi untuk meneruskan pekerjaan nya.
Setelah pembicaraan itu selesai Ara memutuskan untuk tidur di kamar nya, karena besok adalah hari sabtu, dimana semua siswa dihari itu tidak masuk.
Cetakkk
Kreekkkkk
Brakkk
"Ayah! kalo ayah buka pintu tuh jangan kasar-kasar amat sih!" teriak Ara yang masih tertidur diranjang kasur nya itu dengan mata yang masih tertutup.
"Aku bukan ayah mu" ucap seseorang yang mencoba membangunkan Ara, Ara pun hanya tersenyum lalu ia tidak memperdulikan perkataan nya itu.
"Ayo cepat bangun Qiara!" teriak seseorang lagi tetapi kali ini ia langsung saja menjewer telinganya dengan kencang.
"Argh! sakit ayah!" teriak Ara yang dengan cepat menatap ke arah orang itu.
"Argh! siapa kamu! kenapa kamu ada di sini! apa jangan-jangan kau alien ya! sini majulah aku punya bantal guling untuk mu! hehehe" ucap Ara dengan wajahnya paniknya, tetapi ia masih sempat-sempatnya mngancam orang itu dengan bantal guling.
Brakkk
Seketika bantal guling yang dipegang oleh Ara langsung dilempar nya dengan kencang, tatapan nya begitu dingin tetapi tidak berekspresi, bantal guling itu juga langsung robek begitu saja.
"Argh! tidak! bantal guling ku!" teriak Ara yang langsung berjalan mendekati bantal guling nya itu, yang kini sudah menjadi sebuah kapas yang berserakan.
"Kau! cik! sebenarnya ku siapa ha! kenapa kau masuk ke kamar ku begitu saja lalu membuat bantal guling ku rusak!" teriak Ara, suaranya bergema-gema, robot itu mendekati Ara.
"Aku Lyan, dan kau pasti Qiara iya kan!?" ucap nya dengan wajah datarnya, tetapi Ara menganggukan kepala seperti anak kecil.
"Ayah mu meminta ku untuk membangunkan anak nya yang bernama Qiara" ucap nya dengan jelas, Ara yang wajahnya masih kesal seketika ia terdiam.
"Maksudnya ayah ku yang minta membangun ku!?" tanya Ara balik, Lyan menggunakan kepalanya.
Brakkkkk
"Ayah!" teriak Ara yang tiba-tiba saja membuka pintu lab nya itu, seketika sang ayah dibuat kejut oleh nya.
"Wah anak ayah sudah bangun rupanya ya" ucap nya yang seolah-olah tidak terjadi apa-apa, tiba-tiba Liyan berada di belakang Ara.
"Oh iya Ara bagaimana dengan robot yang ayah barusan beli!? tidak ada kecacatan kan!?" ucap nya dengan santai lagi, sembari memegang obeng di tangan nya itu.
"Dia robot yang aku minta tadi malam!?" tanya balik Ara, sang ayah mengangguk kepalanya, lalu tiba-tiba saja Ara sudah berada di samping nya.
"Ayah... kau tahu kan... tadi barusan robot itu merusak bantal guling kesayangan ku! cik! memang dia robot cacat!" bisik Ara tepat di telinga ayah nya itu.
Seketika Liyan mendengar ucapan nya itu, ia tahu bahwa Ara mengatai dirinya sebagai robot cacat, ia hanya bisa terdiam lalu memasang wajah lesunya.
"Jika kalau aku cacat, kembalikan aku ketempat pabrik saja" ucap Liyan yang membuat Ara dan ayah nya itu terkejut mendengar nya.
"Tidak maksud ku tidak begitu Liyan"
"Memang aku ini cacat tuan, maafkan saya, saya memang berbeda dari robot lainnya, tolong bawa saya kembali" ucap mohon Liyan tetapi Ara yang mendengar nya seketika sedih.
Meskipun Liyan robot dan ia tidak bisa mengekspresikan wajah nya ia tahu persis bagaimana jika ia mempuyai perasaan, Liyan mengatakan hal itu dengan wajah nya seperti orang dingin.
"Hey! aku akan memberikan mu kesempatan jika kau bisa mengalahkan ku dalam bermain catur, bagaimana?" tanya Ara yang ingin menghibur Liyan meskipun dia robot.
Liyan menganggukan kepalanya, lalu Ara dan Liyan duduk di sebuah ruang makan, dan menyiapkan catur nya.
Sang ayah ingin ikut menonton, Ara dan Liyan sama sama serius memainkan catur itu, wajah menegangkan Ara baru pertama kali terlihat, karena selama ini setiap Ara bermain catur dengan orang lain, wajahnya tampak sangat santai.
"Skat mat aku menang bagaimana Qiara!?" ucap Liyan yang seperti nya sombong tetapi Ara bukannya malah sedih ia justru gembira.
"Wah! kau memang benar-benar bisa bermain catur! aku baru pertama kali dikalahkan oleh seseorang! dan itu kau!" teriak Ara, Liyan dan ayah nya hanya menatap satu sama lain.
"Jadi baru pertama kali kau kalah!?" tanya nya sekali lagi lalu Ara menganggukan kepalanya.
Lalu Liyan tersenyum ke arah nya, Ara yang melihat nya pun seketika terkejut melihat Liyan tersenyum, tampang wajahnya tiba-tiba saja berubah.
"Ini perasaan ku aja atau gimana ya!? dia robot tapi-tapi tampan!" ucap Ara dalam hatinya.
Keesokan harinya, tiba-tiba saja Liyan ada di kamar nya, untuk membangun nya, setiap hari berlalu mereka semakin lama semakin dekat, bukan hanya dekat tetapi terlihat seperti seorang pasangan tetapi sayang nya Liyan hanya sebuah robot, tidak lebih dari itu.
Kadang Ara berharap bahwa Liyan adalah seorang manusia yang memiliki perasaan "Liyan kamu suka sama seseorang gak!?" tanya Ara yang berada dikamar milik Liyan.
"Memang apa itu suka!? bagaimana cara mendapatkan nya!?" tanya Liyan yang masih tidak mengerti, sistem nya terus mencari apa itu suka yang dimaksud oleh Ara.
Ara tersenyum lalu ia mendekat kan wajahnya dengan cepat Liyan langsung mendapatkan informasi apa itu suka.
"Suka adalah orang yang kau sayang, rela melindungi dirinya, lalu kau bisa menemani nya seumur hidup seperti seorang suami dan istri!?" ucap Liyan dalam hati, tiba-tiba saja tanpa ia sadari Ara semakin lama semakin mendekati nya.
"Kau mau apa!?"
"Apa jangan-jangan dia!" ucap nya dalam hati lagi, Ara pun mendekati wajahnya dan menatap ke arah matanya. Dengan polos nya Liyan tidak mengindar.
Cuppppp
Seketika Liyan terkejut bahwa Ara hanya ingin mencium keningnya saja, tetap pikiran nya jauh melayang kemana-mana.
"Hah! kenapa kenapa kau! kukira kau ingin mencium ku di sini" ucap Liyan dengan jujur sembari menujukan mulut nya itu, Ara tertawa tetapi Liyan merasakan degupan yang begitu kencang.
"Purf! hahahaha" teriak Ara dengan kencang nya.
"Kenapa ada degupan kencang!? apakah bisa merasakan hal ini!? padahal aku hanya seorang robot yang tidak mempunyai perasaan!?" ucap Liyan dalam hatinya.
"Ara! aku-aku menyukai mu!" teriak Liyan dengan cepat Ara seketika itu juga terkejut wajahnya mereka lalu ia memutuskan untuk pergi dan kembali kekamar nya.
"Argh! gila! kenapa pas aku lagi ketawa dia ngucapin kata-mata hal itu sih!" ucap Ara dalam hati nya, ia seperti tidak bisa mengontrol dirinya sendiri, karena Liyan.