Bianca Lakesha namanya. Seorang gadis yang berumur tujuh belas tahun yang duduk di bangku SMA swasta di ibu kota, Bianca tinggal bersama neneknya. Bianca termasuk anak yang rajin, manis, gembira, malu-malu kucing, ramah, pintar, mudah bergaul dengan orang lain dan juga Bianca termasuk tipe gadis yang soft.
Hingga suatu ketika Bianca bergabung dengan salah satu organisasi sekolah yakni OSIS, di OSIS Bianca menjabat sebagai wakil OSIS. Sedangkan yang menjabat sebagai ketua OSIS yakni, seorang kakak kelas yang memiliki paras yang tampan dan rupawan tidak ayal para gadis sering mendekatinya. Ketua OSIS itu bernama Baskara, orangnya pinter tapi sikapnya dingin mengalahkan dingin kutub Utara.
Bel istirahat berbunyi dan handphone Bianca juga ikut berbunyi, karena ada panggilan masuk. Saat Bianca melihat siapa nama kontak yang menghubunginya lewat sambungan telepon. Ternyata yang menelepon dirinya adalah Baskara.
Dengan cepat Bianca mengangkat telepon "Hallo kak ke–" belum selesai Bianca bertanya ada apa Baskara menelepon dirinya, Baskara langsung nyeroscos seperti truk yang remnya blong. "Sekarang kamu ke ruang OSIS. Pokoknya sekarang, gak mau tau alasan apapun itu. Aku tunggu kamu di ruang OSIS!!" tintah Baskara setelah itu Baskara mematikan telponnya secara serentak.
Bianca tau cacing yang ada di perutnya sedang bergoyang saat ini, karena tidak mendapatkan makanan. Tapi di sisi lain ia tidak mau membuat Baskara marah karena ia datang terlambat, alhasil Bianca bergegas pergi ke ruang OSIS. Sesampainya di ruang OSIS, Bianca disambut oleh wajah dingin dan menyeramkan dari Baskara. Bianca yang sampai di ruang OSIS dengan nafas yang terengah-engah, karena jarak antara kelas Bianca dengan ruang OSIS cukup jauh alhasil Bianca harus berlari menuju ke ruang OSIS.
"Kamu telat dua detik," ujar Baskara.
Bianca hanya tertunduk lesu, pelipisnya yang basah dipenuhi oleh keringat. Bianca berusaha mengatur nafasnya agar tidak terengah-engah.
Baskara menyodorkan sebotol air mineral kepada Bianca "Nih minum dulu," ucap Baskara dingin. Tanpa berpikir apapun, Bianca tanpa ragu menerima pemberian sebotol air dari Baskara. Bianca meminumnya secara perlahan agar tidak tersedak. "Makasi air mineralnya kak Baskara. Oh ya, ngomong-ngomong kenapa kakak panggil aku Dateng ke sini?" tanya Bianca. Baskara merogoh saku bajunya dan memberikan sebuah flashdisk kepada Bianca "Di flashdisk ini ada data OSIS yang harus kamu selesaikan. Pokoknya hari ini sudah harus selesai titik gak pakek koma!!" sentak Baskara. Bianca yang mendengar hal itu bergumam dalam hatinya 'Kenapa harus selesai hari ini? Why today? Fix sih ini, harus lembur lagi di sekolah.'
Bianca mengangguk dan menerima pemberian flashdisk dari Bianca "Baik. Akan aku selesaikan hari ini juga di lab komputer." Saat Bianca ingin pergi perut Bianca berbunyi dan itu mematik perhatian Baskara "Ikut Aku," Bianca hanya menjawabnya dengan anggukan. Bianca mengikuti langkah Baskara dari belakang seperti seekor anak bebek yang sedang mengikuti langkah induknya. Bianca berpikir keras kemana Baskara akan membawanya. Di sepanjang lorong sekolah semua pasang mata tertuju melihat Baskara dan Bianca yang sedang berjalan berdua. Karena hal itu membuat Bianca malu alhasil ia berjalan dengan kepala tertunduk. Hingga Baskara menghentikan langkahnya, Bianca yang sedari tadi berjalan dengan kepala tertunduk tidak sengaja menabrak punggung Baskara.
"Aduh!" lirih Bianca dengan suara kecil seraya memegang dahinya yang kejedot punggung Baskara yang keras seperti batu. Perlahan Bianca mengangkat kepalanya, ternyata Baskara mengajaknya ke kantin sekolah. Baskara berbalik dan menatap Bianca "Sekarang kamu duduk di sana. Tunggu aku jangan kemana-mana!!" ucap Baskara seraya menunjuk sebuah tempat duduk yang berada di pojok kanan kantin. Bianca hanya mengangguk menerima perintah dari Baskara. Kemudian Bianca menuju meja yang ditunjuk oleh Baskara dan duduk diam di sana.
Beberapa menit Bianca menunggu, akhirnya Baskara datang membawa nampan yang berisikan makanan dan minuman. Baskara menaruh nampan di atas meja dan duduk bersama Bianca "Nih, aku beliin kamu mie ayamnya mang Ujang. Sekarang kamu makan, habis makan langsung ke lab komputer sekolah dan kerjakan tugas yang aku kasi," ucap Baskara. Bianca yang hanya menjawabnya dengan anggukan, segera memakan mie ayamnya. Sontak hal itu mematik perhatian seluruh siswa yang ada di kantin saat itu. Semua mata tertuju kepada mereka berdua. Bianca mulai merasa tidak nyaman karena di tatap oleh seluruh siswa/siswi yang ada di kantin. Baskara yang tau Bianca merasa tidak nyaman mulai membuka suara "Mending kalian semua fokus ke makanan kalian masing-masing. Daripada kalian ngeliatin kita berdua di sini. Waktu 30 menit istirahat kalian bakalan terbuang sia-sia," komentar Baskara dengan suara yang keras.
Mendengar hal itu, sontak seluruh siswa/siswi yang ada di kantin kembali ke makanan mereka masing-masing. Bianca melahap mie ayamnya dengan perasaan yang sedikit lega. Di saat Bianca sibuk memakan mie ayamnya, Baskara hanya menatap Bianca yang sedang makan.
"Kakak gak makan?" tanya Bianca.
" Gak. Udah kenyang," jawab Baskara ketus.
Bianca sebenarnya tau kalau Baskara sedang lapar. Bianca menyodorkan setengah mangkuk mie ayam yang sudah ia makan tadi "Kak Baskara gak boleh gak makan siang, nanti kena maag. Ini, makan mie ayamku. Ya, walaupun itu hanya setengah mangkuk." Bianca bangkit dari duduknya "Kalau kakak gak mau makan bekas ku. Ini uang untuk membeli mie ayam. Dan makasi karena sudah membelikanku mie ayam. Aku pergi dulu ke lab kom," ucap Bianca seraya meletakkan selembar uang di atas meja. Kemudahan ia pergi meninggalkan Baskara sendiri di meja kantin.
Saat Bianca sudah pergi meninggalkan Baskara sendirian di meja kantin. Senyuman terukir di wajah tampan Baskara. Baskara berdehem seraya mengambil uang yang ada di atas meja "Gadis yang unik," guman Baskara kemuadian pergi meninggalkan kantin dan menyusul Bianca ke lab komputer.
Saat sampai di ruang lab komputer sekolah. Baskara melihat Bianca yang sedang sibuk mengetik di keyboard komputer. Kemudian Baskara menghampiri Bianca dan duduk di samping Bianca sambil memerhatikan gadis itu, yang sedang sibuk dengan komputer.
Beberapa menit berlalu. Baskara mulai bosan. Alhasil Baskara yang dicap sebagai kulkal berjalan, memulai percakapan di antara dirinya dan Bianca.
"Bianca," panggil Baskara.
" Ya kak? Kakak gak balik ke kelas? Kan udah jam pelajaran," tanya Bianca tanpa memalingkan wajahnya dari layar komputer.
"Nggak. Lagi pengen bolos kelas matematika. Ngomong-ngomong kamu kok pakek kacamata? Kamu minus? Dan juga kok kamu tau ini aku?" tanya Baskara
Bianca melihat Baskara sekilas, kemudian kembali menatap layar komputer. Jadi 70% fokus menyelesaikan tugas yang diberikan oleh Baskara, 30% terhadap sekitarnya.
"Aku gak minus. Ini itu kaca mata anti radiasi, yang aku beli di toko optik yang tidak jauh dari sini. Dan juga kenapa aku tau yang dateng ke sini itu kak Baskara. Aku tau dari bau parfum sama langkah kaki kakak," jelas Bianca.
Beberapa menit kemudian. Bianca yang tadinya fokus menatap layar komputer. Tiba-tiba menggebrak meja dan berdiri sambil memegangi kepalanya. Baskara yang sedari tadi memerhatikan Bianca tiba-tiba terkejut karena suara gebrakan meja.
"Sialan! Padahal tadi udah selesai." Bianca mengacak rambut dengan rasa frustrasi. Karena dokumen yang baru saja ia selesaikan dan ingin di pindahkan ke flashdisk milik Baskara. Namun saat Bianca ingin memindahkan file ke flashdisk, tiba-tiba komputer yang ia pakai eror alhasil file yang ingin ia pindahkan lenyap begitu saja
Baskara yang melihat Bianca yang sedang frustasi tiba-tiba tertawa terbahak-bahak. Ya. Seorang Baskara yang di cap sebagai orang yang cuek, dingin dan galak tiba-tiba saja tertawa karena melihat Bianca frustasi. Bianca yang melihat Baskara tertawa puas mulai menatap Baskara. 'kak Bakara kalau tertawa tenyata ganteng juga," batin Bianca.
"Bianca kalau frustasi imut banget. Hahaha," ledek Baskara seraya tertawa puas.
Bianca yang mendengar lontaran kata 'imut' dari mulut Baskara. Berhasil membuat pipi gadis itu menjadi merah merona seperti buah tomat, jantungnya berdetak tidak seperti bisanya. Bianca menatap Baskara yang masih tertawa puas. Baskara yang menyadari perkataanya tadi kemudian berhenti tertawa dan menatap balik ke arah Bianca. Pandangan mereka saling bertemu.
Suasana menjadi hening. Hanya terdengar jam dinding yang bersuara di tengah keheningan. Hanya ada Baskara dan Bianca di ruang lab komputer. Mereka berdua saling menatap satu sama lain.
Baskara yang mulanya duduk kemudian berdiri melangkah mendekati Bianca. Saat merasa dirinya sudah dekat dengan Bianca. Baskara mendekatkan wajahnya ke wajah Bianca. Bianca bisa mencium jelas wangi wajah Baskara yang seperti wangi matcha.
"Kamu itu cantik. Kalau memakai kaca mata," Bisik Baskara.
"Kakak juga ganteng. Kalau senyum. Tapi lebih ganteng kalau tertawa, seperti tadi," Bisik balik Bianca.
Baskara yang mendengar hal itu. Membuat perasaan Baskara tidak karuan. Jantungnya berdetak tidak seperti biasanya. Ini pertama kalinya saat ada seseorang memuji ketampanan Baskara, jantungnya tidak aman. Selama ini banyak yang memuji ketampanan Baskara namun dirinya hanya biasa-biasa saja.
Masih di posisi yang sama yakni saling tatap menatap. Tiba-tiba bel pulang sekolah berbunyi sangat nyaring. Dan itu membuat Bianca terkejut "Sudah waktunya pulang sekolah," gumam Bianca. Kemudian Bianca mencabut flashdisk dari komputer dan bergegas pergi dari ruang lab komputer, Meninggalkan Baskara sendirian di sana.
Saat Bianca sudah pergi meninggalkan Baskara sendirian di ruang lab komputer. Baskara tiba-tiba tersenyum "Sepertinya aku mulai menyukaimu. Bianca Lakesha."
Bagaiman kelanjutan rasa cinta yang dialami oleh Baskara?
Akankah Baskara mengungkapkan perasaannya kepada Bianca?
Tidak ada yang tau, termasuk pembaca dan author. Bagaimana rencana Baskara selanjutnya.
Hanya Tuhan yang tau…rencana Baskara selanjutnya untuk mendapatkan hati Bianca.
Bersambung…