Sambil bernyanyi riang, kelima pencinta alam musiman itu beriringan menelusuri jalan setapak yang mendaki. Udara sejuk pegunungan membuat mereka tidak lelah meski telah menempuh perjalanan cukup jauh.
"Ah, bosan nyanyi Naik-naik ke Puncak Gunung melulu," kata Alfa. "Naik-naik ke tiang gantungan kek."
"Habis nyanyi apa lagi?" toleh Tito. "Lagu metal? Bisa teler penghuni gunung!"
"Kamu sih sok alim." Luki menepuk bahu Job dengan tongkat kayu. "Coba kalau cewek boleh ikut. Nggak bakalan kita kayak orang patah hati begini. Nyanyi-nyanyi tak karuan."
"Aku tahu kualitasmu," dengus Job. "Jangankan lihat cewek cakep, lihat kebo pakai bedak saja gatal. Aku tak mau mereka kena musibah."
Jack yang menjadi pembuka jalan tidak menghiraukan kerusuhan di belakangnya. Dia asyik bersiul.
"Nah, di sini saja kita mendirikan tenda," cetus Jack ketika sampai di dataran rumput yang cukup luas. "Lokasinya bagus."
"Lihat dulu rombongan Mapala tadi," protes Alfa. "Kalau mereka terus ke atas, kita ikut."
"Alah, buat apa sampai puncak juga?" sambar Tito. "Nggak bakalan dapat medali!"
Luki dan Job juga sependapat. Kalau bergabung dengan rombongan mahasiswa, kurang seru. Mereka putih abu-abu. Kena bully bisa.
Terpaksa Alfa ikut berhenti. Perasaannya agak lain ketika melihat ke dalam hutan di belakang padang rumput. Suasananya begitu gelap, diselimuti kabut, seolah menyimpan misteri.
"Kenapa?" tanya Jack yang mulai sibuk memasang tenda. "Mau kemping di hutan larangan?"
"Hutan larangan...?" desis Alfa tertahan. Tiba-tiba saja bulu kuduknya meremang.
"Alah, jangan percaya sama takhayul," tukas Luki. "Hutan mana kenal undang-undang? Pakai ada larangan segala!"
***
Lolongan serigala di kejauhan membangunkan tidur Alfa. Matanya menyapu sekeliling. Teman-temannya tampak tergolek pulas, seakan tak terusik oleh dengung nyamuk dan dinginnya malam. Dia sudah mengenakan pakaian dua lapis saja tidak kuat menahan sentuhan angin yang amat menusuk.
Lolongan serigala kembali mengoyak kesunyian. Suaranya begitu menyayat bagai seruling kematian. Membangkitkan perasaan ngeri di hatinya. Apalagi ketika tahu datangnya dari arah hutan larangan.
Diam-diam tubuh Alfa merinding. Dia pernah mendengar dari orang kampung, kalau serigala melolong panjang, biasanya melihat makhluk halus gentayangan. Hiii.
Alfa segera menarik selimut ke atas untuk menutupi wajahnya. Tapi kemudian perlahan-lahan diturunkan kembali. Dia mendengar langkah-langkah halus mendekati tenda. Gerakannya demikian ganjil.
Takut-takut Alfa berpaling. Dan tubuhnya seketika menegang. Melalui temaram sinar rembulan, tampak sesosok bayang-bayang hitam berdiri di depan tenda!
Alfa menjerit sampai teman-temannya terbangun.
"Ada apa sih?" gerutu Tito kesal. "Nyensor mimpi orang saja!"
"Aku lihat ada yang berdiri di luar." Wajah Alfa pucat pasi. "Tinggi besar. Jangan-jangan penunggu hutan larangan."
"Dasar penakut," sergah Luki. "Setan mana sudi keluyuran tengah malam buta begini? Mereka pasti kedinginan!"
"Sumpah."
"Ayo kita buktikan!" Dengan geram Luki menarik tangannya ke luar tenda. Dia menyorotkan senter ke segenap penjuru. "Mana? Nggak ada, kan?"
Alfa terdiam bingung. Jelas-jelas tadi bukan halusinasi. Ke mana perginya makhluk itu? Tidak mungkin lenyap begitu saja! Atau bisa menghilang?
"Tadi dia berada di sini," cetus Alfa tercekat.
"Ah, paling-paling orang hutan! Biasa lihat orang ganteng di sekelilingmu sih! Sekalinya lihat makhluk jelek, ketakutan!"
Alfa melihat seperti ada keanehan di hutan larangan. Terus terang dia tidak percaya dengan cerita takhayul. Tapi bukan berarti di sana tak ada makhluk halusnya.
Tapi kata guru agama, setan berjalan tidak menginjak tanah, mengambang. Lalu makhluk apa tadi? Kalau orang hutan, pasti langkahnya berat mendebam bumi!
"Sudah jangan dipelototi terus," tegur Luki. "Ntar ngompol lagi ketakutan."
"Aku betul-betul melihat ada bayangan."
"Alah, sudah deh! Begini saja, aku tidur di pinggir. Kamu boleh ngumpet di ketekku!"
Luki benar-benar membuktikan ucapannya. Dia tidur di sisi tenda, membiarkan tubuhnya tertusuk angin dingin yang masuk lewat celah pintu.
Tapi Alfa tetap gelisah. Dengkur mereka sampai sudah bersahut-sahutan, dia belum dapat memejamkan matanya juga. Pikirannya terus diburu hal-hal yang menakutkan.
Suasana malam betul-betul sunyi. Angin bersemilir bisu. Kesunyian itu terasa amat lain di hatinya, seperti bukan kesunyian biasa.
Dalam keheningan yang menegangkan itu, tiba-tiba berkumandang ledakan tawa Luki. Mereka terbangun dengan kaget. Alfa sampai mengkeret di balik selimut.
Tawa Luki begitu asing. Bergema. Mereka saling pandang dengan curiga. Jangan-jangan Luki kemasukan roh jahat!
"Nyebut, Luk," desis Jack tercekat. "Ingat Mama Papa di rumah."
"Hmm, jangan takut...!" Suara Luki terdengar aneh. "Mbah datang ke mari tidak bermaksud jahat. Mbah cuma minta kopi. Di hutan larangan, Mbah tidak kebagian sesajen."
"Lekas bikinin, Al," perintah Jack gugup.
"Bagus! Bagus! Mbah suka kalau dia yang bikin. Wajahnya imut-imut, pasti pintar bikin kopi."
Tentu saja Alfa kalang kabut. Tapi demi keselamatan temannya, dia terpaksa melangkah ke luar tenda menyalakan tungku. Tak berapa lama muncul lagi dengan segelas kopi.
Kopi panas itu langsung direguk oleh Luki. Kemudian tawanya membahana kembali. Tapi sekarang tawa Luki asli. Mereka jadi tersadar. Luki telah mengibuli mereka!
"Sialan," geram Jack gemas. "Jadi kamu cuma pura-pura kesurupan karena kepingin ngopi?"
"Kapan lagi aku bisa ngerjain anak mami?" kilah Luki tertawa-tawa.
Alfa tak mampu untuk marah. Wajahnya masih pias. Tadi dia sempat melihat sosok bayang-bayang hitam berkelebat masuk ke hutan larangan. Mungkinkah dia tinggal di sana?
Tiba-tiba bunyi guntur menggelegar. Pedang langit saling menikam membelah kegelapan malam. Hujan turun sangat lebat. Angin menderu-deru mempermainkan tenda.
Jack segera tahu apa yang terjadi. Hujan badai tengah melanda.
"Lekas pakai jas hujan!" serunya panik. "Kita cari tempat aman!"
Belum juga mereka sempat berbuat apa-apa, tenda sudah terkoyak diterjang angin. Mereka cepat berlari menuju ke hutan larangan. Lokasi yang paling aman dari serangan badai ganas itu.
Dengan berbekal senter mereka memasuki hutan angker itu, dan berhenti di tempat yang cukup terlindung.
Sambil melepas lelah, Jack menyorotkan senter ke sekeliling. Pemandangan yang terlihat hanyalah pohon-pohon liar mengerikan. Akarnya berongga-rongga tampak menyeramkan. Luki yang terkenal paling berani pun terdiam kecut melihatnya.
Alfa diam-diam menyesal pergi liburan ke gunung ini. Kalau tahu bakal sengsara begini, mendingan ikut Mami Papi ke Sidney.
Bulu roma Alfa berdiri. Dia teringat pada bayang-bayang hitam itu. Bersembunyi di mana gerangan? Atau tengah mengintipnya saat ini?
"Bau bunga kenanga," cetus Luki sambil mengarahkan sinar senter ke pepohonan. "Tapi aneh di sekitar sini tak ada pohonnya."
Baunya makin lama makin santer. Makin menyayat. Mereka jadi tegang. Bau ini bukan disemilirkan oleh angin. Ada makhluk yang membawanya.
"Hati-hati," bisik Jack dengan firasat tidak enak. "Dia menuju ke sini."
Sambil merapat ke akar pohon, mereka menanti dengan dada berdebar-debar. Tapi karena gelap gulita, mereka tidak bisa melihat apa-apa. Hanya wangi kenanga menyelimuti udara demikian sangit.
Alfa mengeluarkan keringat dingin. Dia tahu bayang-bayang hitam itu berada di sekitar mereka. Dia dapat merasakan kehadirannya. Bukan mustahil bahaya tengah mengancam! Dan Alfa menjerit!
"Ada apa?" Luki menoleh terkejut.
"Ada yang mencekik leherku...!"
Serentak Luki menghidupkan senter.
"Huh, dasar cowok lima puluh persen!" makinya. "Cuma ranting kayu kok."
Tapi Luki tak habis pikir bagaimana ranting bercabang itu bisa jatuh sedemikian rupa di bahu temannya. Sementara bau kenanga mulai menghilang.
"Kita pergi dari sini," desis Alfa putus nyalinya. "Aku tidak tahan."
"Kita makin sengsara kalau di luar sana," tukas Job. "Sanggup menghadapi hujan badai?"
Tito sudah hendak turut menasehati ketika tiba-tiba kakinya menginjak sesuatu. Refleks dia melompat dengan kaget. Tapi terlambat....
"Aduh!" pekik Tito kesakitan. "Kakiku dipatuk ular!"
Jack yang berdiri paling dekat segera menghampiri. Dengan cahaya senter, diperiksanya kaki Tito. Tampak kaos kakinya berlubang kemerahan.
"Dibawa pil anti bisanya?" tanya Jack.
"Ketinggalan di ranselku." Tito meringis menahan sakit.
"Biar aku ambil sama Job," kata Luki sambil membuang ular yang telah dibunuhnya. "Kalian tunggu di sini."
Tapi sampai pegal mereka menunggu, Luki dan Job belum kembali juga. Mereka jadi cemas. Ada apa dengan kedua temannya? Mengapa begitu lama?
Satu menit. Dua menit. Mereka masih bersabar. Tapi setelah jarum jam bergeser lagi, mereka memutuskan untuk menyusul.
Jack membantu Tito melangkah, sementara Alfa berjalan di depan memegang senter. Cahayanya berpendar menerobos lorong semak belukar yang diselimuti daun busuk.
Wajah Alfa tampak demikian ciut. Dia merasa seperti ada yang mengikuti di balik pepohonan. Tapi berkali-kali dia menengok ke belakang tidak menemukan apa-apa.
"Pacarmu ketinggalan?" tegur Jack. "Perhatikan jalan di depan. Jangan sampai lengah."
Alfa belum sempat menjawab apa-apa ketika tubuhnya tiba-tiba terperosok ke dalam lubang yang tersembunyi. Untung dasarnya tanah lembek. Dia terdampar tanpa cidera.
Masih diliputi perasaan kaget, Alfa mengangkat wajahnya mengikuti cahaya senter. Lubang ini tidak terlalu dalam, hanya beberapa meter. Tapi bagaimana dia memanjatnya?
"Lemparkan senter!" teriak Jack tak kalah paniknya. "Aku akan cari tali!"
"Tinggalkan saja aku!" Alfa melemparkan senter sekuat tenaga. "Urus dulu si Tito!"
"Gila! Kamu ingin terkubur hidup-hidup di situ?"
"Jangan membantah! Turuti perintahku!"
Jack jadi serba salah. Sekilas diperhatikannya wajah Tito. Belum ada perubahan, masih bisa bertahan. Tapi entah untuk berapa lama.
Dengan ragu Jack berteriak ke dalam lubang gelap, "Kamu berani di sini sendiri?"
Tentu saja Alfa ketakutan setengah mati. Tapi dia tak mau mengorbankan nyawa temannya karena sepenggal rasa takut.
"Pokoknya cepat temui mereka!" seru Alfa mendesak. "Sebelum bisa ular menyerang jantung si Tito!"
Sepeninggal mereka, Alfa bersandar lemah ke dinding tanah yang berlumut. Dia sudah nekat. Apapun yang terjadi, dia akan bertahan di sini, dengan harapan mereka selamat keluar hutan. Kalau tidak, berarti dia juga mati tersekap di dalam lubang ini.
Melalui kesunyian yang mencekam, sayup-sayup Alfa mendengar ada langkah kaki menginjak daun-daun kering. Mendekat ke arahnya. Siapa dia?
"Luki?! Job?!" Alfa coba berteriak.
Sunyi. Tak ada sahutan. Hanya suara langkah yang makin jelas. Tapi tak ada berkas cahaya sedikitpun, seperti berjalan dalam gelap.
Mendadak wajah Alfa memucat. Jangan-jangan makhluk yang membuntutinya tadi. Bayang-bayang hitam.
Bunyi itu berhenti tepat di bibir lubang. Peluh dingin membasahi tubuh Alfa. Sekarang makhluk itu pasti sedang memandang ke bawah, memperhatikannya. Mungkinkah lubang ini tempat tinggalnya?
Alfa sadar jiwanya dalam bahaya. Dicobanya meraba-raba sekeliling mencari sesuatu yang mungkin bisa dimanfaatkan. Tapi tanah. Tanah melulu.
Udara mendadak terasa agak pengap. Seperti ada yang menuruni lubang perlahan-lahan. Jantung Alfa berdetak kencang. Tubuhnya bergetar ketakutan....
***
Teriakan-teriakan mereka memanggil namanya lapat-lapat menyentuh kesadaran Alfa. Dia terhenyak heran ketika menemukan dirinya berada di dekat reruntuhan tenda. Hari sudah pagi. Hei, mengapa dia ada di sini?
Alfa mencoba mengumpulkan segenap ingatannya. Dia yakin tidak bermimpi. Tadi malam, dia tergeletak pingsan di dalam lubang. Menanti datangnya maut. Sekarang tahu-tahu sudah terbaring di sini.
Masih dalam keadaan bingung, Alfa menoleh ke arah munculnya keempat kawannya. Mereka tampak sehat-sehat. Tito pun sudah bisa berjalan sendiri. Tapi siapa yang telah menyelamatkannya?