" Atika, tunggu..! " kata Ismi yang berlari mengejar Atika yang sudah hampir sampai di gerbang sekolah.
Atika menoleh kebelakang dan menghentikan langkahnya saat melihat Ismi dan Silvi yang berlari mengejarnya.
" Darimana saja sih kalian, aku cariin dikelas tidak ada. " kata Atika ketika kedua temannya sudah berada didepannya.
" Kami dari toilet, tadi saat jam pelajaran berakhir kami sudah tidak tahan pingin pipis, makanya buru-buru ke toilet dan ninggalin kamu. " kata Ismi dengan nafas yang ngos-ngosan karena mengejar Atika.
" Pantas tadi aku celingukan di kantin tapi tidak ada, aku pikir kalian kelaparan karena saat istirahat kalian tidak sempat jajan karena harus mengerjakan tugas kalian yang belum selesai. "
Kata Atika yang mengatakan jika ia tadi mencari kedua temannya itu.
Setelah nafas keduanya mulai normal, mereka melanjutkan perjalanan untuk pulang.
Karena rumah mereka hanya berjarak tidak sampai satu kilo dari rumah, mereka lebih memilih jalan kaki saat pergi dan pulang sekolah.
Memakan waktu hampir dua puluh menit jika mereka berjalan kaki, tapi mereka menikmati perjalanan mereka karena banyak teman yang lain juga berjalan kaki, kecuali jika hujan.
Silvi yang rajin membawa payung lipat mulai membuka payungnya, dia berjalan bersama Ismi, sementara Atika tidak mau mengenakan payung.
Ribet, itu kata-kata Atika ketika ditanya mengapa ia tidak mau memakai payung.
Atika lebih suka mengenakan topi, rambutnya yang panjang daan diikat ekor kuda dimasukkan kedalam lubang untuk mengatur ukuran topi di bagian belakang.
Kata Atika lebih simpel mengenakan topi, tidak perlu dipegang dan tidak takut terbang karena rambutnya sudah dimasukkan kebagian lubang ukuran topi, jadi jika ada angin atau mobil kencang yang lewat, topi nya tidak akan terbang atau jatuh karena akan tersangkut di rambutnya.
Sementara Ismi dan Silvi bergantian memegang payung yang mereka pakai.
" Atika, kamu jadi ga ngajarin aku pencak silat? Aku juga pengen bisa bela diri. " kata Ismi pada Atika.
" Aku ga bisa bela diri, Ismi, aku belajar sudah lama banget, saat masih SD, dan sekarang tidak pernah latihan lagi.
Jika kamu ingin belajar bela diri, silat aja di perguruan atau ikut ekskul disekolah. " kata Atika pada Ismi yang menyarankan untuk belajar bela diri di sebuah perguruan atau ikut kegiatan ekstrakurikuler disekolah.
" Pelit banget sih Tik, ga mau ngajarin temen sendiri. " kata Ismi kesal.
Mendengar gerutuan Ismi, Atika hanya diam saja, percuma dia meladeni Ismi.
Bukan kali ini saja Ismi minta diajari ilmu bela diri, sudah beberapa kali.
Sejak Ismi melihat Atika menghajar kakak kelas mereka yang akan melecehkan Atika dibelakang perpustakaan yang sepi, membuat Ismi kagum pada Atika.
Dia tidak menyangka jika Atika bisa bela diri.
Atika memiliki wajah yang manis, saat dia tersenyum akan terlihat dua lesung pipi dikedua belah pipinya.
Atika gadis yang tomboy, teman perempuannya yang dekat dengannya hanya Ismi dan Silvi, kebanyakan temannya laki-laki.
Bukan tidak ada teman perempuan yang dekat dengan Atika, tapi mereka hanya teman biasa saja, tidak seakrab dengan Ismi dan Silvi
Menurut Atika, punya banyak temen perempuan itu ribet, suka banyak cerita yang macam-macam, apalagi yang suka berdandan, seringkali menceritakan tentang gaya berdandan nya saat ke sekolah.
Dalam hal pelajaran, Atika termasuk gadis yang pintar, ia selalu masuk tiga besar di kelas setiap pembagian raport.
Sejak kejadian Atika menghajar kakak kelasnya, Atika mendapatkan gelar baru disekolah mereka, gelar yang diberikan oleh kakak kelas yang melihat temannya dihajar oleh Atika.
Atika mendapatkan gelar cewek "KEMEJA" singkatan dari KEren MEnarik dan JAgoan.
Memang banyak kakak kelas maupun teman dari kelas lain yang menyukai Atika karena dia gadis yang manis dan ramah.
Suka membantu temannya yang kesulitan saat mengerjakan tugas.
Ia juga sering berbagi uang jajan dengan teman yang tidak membawa uang jajan.
Atika tidak pernah menanggapi setiap lelaki yang menyukainya karena ia tidak ingin berpacaran hingga ia tamat sekolah.
Ia punya slogan LUPUS, Lupakan Urusan Pacar Utamakan Sekolah.
Sebenarnya, semasa SMP Atika pernah
menyukai Arman, teman sekelasnya waktu kelas satu dan kelas dua.
Arman yang berkulit hitam manis dan berambut ikal juga sama seperti Atika, dia sangat ramah dan suka menggoda Atika.
Arman suka melihat Atika yang jutek kalau Arman menggodanya dengan mengatakan Atika gadis tomboy.
" Hai tomboy, ke perpustakaan yuk, ambil buku untuk pelajaran nanti. "
Ajak Arman pada Atika.
Mereka memang sering mengambil buku paket di perpustakaan untuk dibagikan di kelas, dan setelah pelajaran selesai akan dikembalikan ke perpustakaan.
Tanpa menjawab perkataan Arman, Atika langsung ngeloyor keluar kelas menuju perpustakaan.
Melihat Atika yang pergi begitu saja, Arman mengikutinya dari belakang.
" Tika, Tik! Tunggu dong, masa aku yang ngajak malah aku yang ditinggalkan. "
Omel Arman pada Atika.
Tapi Atika tidak perduli dan ia tetep melanjutkan langkahnya menuju perpustakaan.
" Tika, kamu marah, ya? " tanya Arman yang menghadang jalan Atika.
Atika cuek aja dan menghindari Arman yang berdiri dihadapannya.
" Tika maaf ya, aku ga bakal panggil kamu tomboy lagi deh, aku janji. " kata Arman yang sudah mensejajarkan langkahnya dengan langkah Atika.
" Aih.. Susah banget sih Tik minta maaf sama kamu, masa kamu ga mau maafin aku, teman kamu yang paling ganteng dan pintar ini.. "
Arman masih berusaha membujuk Atika agar mau berbicara kepadanya.
Di depan perpustakaan, Arman bertemu dengan Intan, anak baru pindahan dari Medan. Intan mudah sekali tertawa, terkadang hal yang dianggap Atika biasa saja bisa membuat Intan tertawa.
Melihat wajah Arman yang kusut, membuat Intan tertawa dan bertanya.
" Man, kenapa wajahmu kusut seperti baju yang belum disetrika? " tanya Intan sambil tertawa.
" Atika marah sama aku, Tan.. Dia ga mau ngomong sama aku. " jawab Arman yang mengadu pada Intan.
" Memangnya kenapa Atika bisa marah sama kamu? " tanya Intan yang iba saat mendengar suara Arman yang terdengar sedih.
" Aku memanggilnya dengan panggilan tomboy. " jawab Arman.
" Kamu sih, suka banget godain Atika. Sudah biarin aja, ntar juga Tika maafin kamu. " kata Intan yang mencoba menghibur Arman.
Intan tahu jika Atika tidak benar-benar marah pada Arman.
Walaupun terlihat tomboy, Atika merupakan gadis yang lembut dan penyayang, jadi tidak mungkin ia marah pada Arman hanya karena Arman memanggilnya tomboy.
Pasti Atika sedang menggoda balik Arman.
Sebenarnya Atika memang tidak marah pada Arman, ia hanya menggoda Arman karena ia merasa senang jika Arman merasa bersalah dan berusaha meminta maaf padanya.
Atika merasa bahagia jika ia sering berinteraksi dengan Arman walaupun harus berpura-pura marah.
Hubungan Atika dan Arman memang akrab tapi hanya sebatas teman yang kadang saling menggoda.
Entah mengapa Arman sangat suka menggoda Atika, sangat senang saat melihat bibir Atika yang mengerucut karena kesel kepadanya.
Jika sudah demikian, Arman bukannya minta maaf lebih meledek Atika dengan mengatai jika bibirnya seperti pantat ayam yang bergerak-gerak.
Setelah itu mereka akan tertawa karena Atika mengatakan jika Arman suka mesum karena sering melihat pantat ayam.
Begitu lah kisah Atika dan Arman saat SMP, berteman akrab karena sering saling meledek.
Kasihan, cinta monyet yang Atika rasakan pada Arman tidak pernah diketahui oleh Arman hingga mereka tamat SMP karena Atika pintar menyimpan perasaannya.
Dan Arman hanya mengetahui jika Atika hanya menganggapnya sebatas teman yang suka saling meledek dan bercanda.