Niko dan keempat kawannya belum beranjak dari kelas meski bel pulang telah lama berdentang. Minggu ini hujan rajin sekali mengunjungi bumi.
Bagi mereka yang kebagian sekolah sore tentu saja sangat terganggu. Mereka jadi sering pulang malam. Masih mending kalau perut bisa diajak kompromi, cuaca dingin menambah lapar. Sementara makanan di kantin Pak Darmo sudah habis. Apes.
Anak putih abu-abu yang tak sabar menanti telah kabur sejak tadi. Lusi pun sudah pergi hujan-hujanan kalau tidak kasihan pada Dini. Dia baru bangun sakit. Andai nekat menerobos hujan sampai ke jalan di depan sana, dia bisa masuk rumah sakit lagi.
"Kenapa?" tanya Niko pada Kiki yang sejak tadi tak terdengar suaranya. "Kedinginan?"
"Kau tahu ini malam Jumat Kliwon...," desis Kiki hampir tidak terdengar.
"Pacarmu apel malam ini?"
"Aku teringat pada kuburan yang digali tadi." Mata Kiki bersorot ngeri. "Kerangka terakhir belum dikebumikan karena keburu hujan."
Tadi siang beberapa kuburan dibongkar karena lokasinya terkena pembangunan gedung baru. Mereka sempat melihat tengkorak terakhir yang bentuknya sangat menyeramkan dimasukkan ke dalam peti mati, dan disemayamkan di gudang karena tidak keburu dimakamkan. Hiii, bagaimana kalau di malam keramat ini tiba-tiba dia bangun?
"Jangan bikin hatiku keder, Ki," tegur Lusi. "Tidak ada omongan lain apa?"
"Kamu sih tidak perlu takut, Lus," sambar Rudi, satu-satunya anak yang tidak terpengaruh oleh cerita itu. "Kan sudah biasa melihat hantu? Setiap kali bercermin!"
"Sialan!"
"Cuma kuburan tua kok." Dini menimpali, padahal diam-diam tubuhnya merinding. "Rohnya sudah naik Apollo lagi kali!"
"Kalian belum dengar cerita Bu Lastri?" Kiki memandang teman-temannya.
Tentu saja semua warga sekolah sudah tahu kenapa guru itu sampai pindah ngontrak. Dia tidak tahan tinggal di samping kantor. Hampir tiap malam diteror suara-suara aneh waktu ada rencana kuburan akan dipindahkan, tapi cuma sedikit yang percaya.
"Alah, perempuan emang penakut!" potong Rudi. "Buktinya Pak Marto tenang-tenang saja, padahal dia persis tinggal di seberang makam."
"Jangan-jangan Pak Marto yang menakut-nakuti," cetus Dini curiga. "Dia sudah lama menduda dan Bu Lastri adalah janda yang baru keluar dari termos! Lagi panas-panasnya!"
"Biar Bu Lastri ketakutan, lalu minta perlindungan sama Pak Marto, begitu?" ceplos Lusi. "Masuk akal juga. Lagian setan takut lihat mukanya. Pak Marto kan orangnya serem."
Rudi mencemooh, "Masa hantu pilih kasih? Cemen betul takut sama orang jelek."
"Denger-denger yang ada di dalam gudang itu korban tabrak lari," gumam Dini menambah kecut mereka. "Mati hamil."
"Sudah tahu matinya serem, kenapa dikubur di situ ya?" ujar Niko.
"Buat nakut-nakutin anak yang nunggak bayar les kali."
Serentak mereka menutup mulut. Pak Darmo muncul di pintu kelas. Wajahnya sangat kaku dan pucat, mirip mayat berjalan.
"Kalian belum pulang?" tanya Pak Darmo dingin.
Entah kenapa, dia tak pernah bersikap hangat kepada siapapun. Kepala sekolah sampai menyindir untuk sering-sering berada di depan kompor supaya wajah bekunya mencair.
"Nunggu reda, Pak Dar," jawab Rudi. "Kami lupa bawa payung."
"Kunci pintunya tinggalkan saja," kata Niko. "Kalau kami pulang, diantarkan nanti."
Tanpa banyak bicara, Pak Darmo menaruh kunci di atas meja dan pergi lagi.
***
Malam turun perlahan. Hujan belum ada tanda-tanda berhenti, malah semakin deras. Mereka mulai gelisah. Duh, bisa-bisa menginap di kelas.
Kiki tak habis-habisnya mengeluh. Kalau pulang telat begini, ingin sekali-sekali dijemput papanya. Tapi dia lebih sayang pada uang dibanding anaknya!
Mereka terpekik. Lampu tiba-tiba padam. Ruangan gelap gulita seketika.
"Aneh," cetus Lusi tak habis heran. "Tidak ada petir listrik mati."
"Alah, kamu!" sergah Rudi. "Di tempatku, nggak hujan nggak apa listrik sering mati! Biar ada kerjaan kali!"
"Tapi itu...." Dini menunjuk ke cahaya neon yang amat redup terbungkus hujan. "Rumah paling dekat dengan sekolah, tidak mati."
"Lain gardu."
"Eh, Rud, coba cari korek api di laci meja guru," pinta Niko. "Biasanya geretan Pak Agus suka ketinggalan di situ."
Belum sempat Rudi melangkah, dari belakang sekolah terdengar lolongan anjing, demikian menyeramkan membelah gemuruhnya hujan.
Tak urung bulu kuduk mereka berdiri. Rudi pun sampai terdiam sesaat. Tidak biasanya anjing melolong dalam derasnya hujan. Lagi pula, seingatnya di sekitar sekolah tak ada penduduk yang memelihara anjing.
"Mungkin dia terjatuh ke liang kubur." Rudi mencoba menenangkan kawan-kawannya. "Tadi para penggali kubur belum sempat menguruknya."
Akan tetapi, sekali lagi Rudi tidak jadi bangkit dari kursinya. Di atas genting, riuh bergelimpangan suara benda berjatuhan, seperti kerikil bertaburan.
"Nik...." Dini mencekal lengannya erat-erat. Lusi dan Kiki berpelukan dengan ketakutan.
"Ada-ada saja." Rudi geleng-geleng kepala. "Cuma orang gila berani iseng di hujan lebat begini."
"Bukan orang gila," bergetar suara Kiki. "Kau tak pernah dengar, kalau kemunculan makhluk halus sering ditandai dengan kejadian yang aneh-aneh?"
"Cerita itu adanya di negeri dongeng!"
Hilang gemerisik kerikil, suasana sunyi beberapa kejap. Hanya gemuruh hujan menggema. Namun Kiki yakin ada peristiwa lain menyusul. Dan mendadak tubuhnya menegang. Dari ruang sebelah, dari balik dinding yang disandarinya, lapat-lapat bunyi engsel karatan menusuk ngilu telinganya, seperti ada benda terbuka secara perlahan-lahan.
"Peti mati...," desis Lusi dengan jantung berlompatan. Kalau ruangan terang, pasti terlihat wajahnya sudah mirip kapas, pucat tak berdarah. "Dia bangkit."
"Aku tidak percaya tengkorak bisa bangun," bantah Rudi separuh penasaran. "Mayat saja pergi ke kuburan harus digotong."
Niko tersenyum kecut. "Mungkin dia ingin kenalan sama kita."
"Mendingan kunci pintu deh, Rud," pinta Dini tercekat.
Sambil meraba-raba, Rudi berjalan ke muka kelas. Dikuncinya pintu. Tetapi baru juga dia akan membalikkan badannya kembali, sudah dikejutkan oleh suara benda yang diseret perlahan-lahan.
"Dia menyeret peti mati," bisik Kiki seraya menahan nafas.
"Dia menuju ke mari...!"
"Ah, pokoknya tidak ada setan di sekolah kita!" bantah Rudi tidak percaya. "Lagian ngapain hujan-hujan begini gentayangan? Nggak ada kerjaan!"
Rudi tak menghiraukan kegaduhan mereka. Terus terang yang ditakutinya cuma satu, orang mau berbuat jahat. Siapa tahu sebelum membobol brankas sekolah, dia menteror mereka dulu.
Lambat-lambat Rudi melangkah ke meja guru. Dia hendak mencari korek api. Setidaknya, kalau ada cahaya, mereka tahu apa yang sebenarnya terjadi.
Rudi sedang menggeledah laci waktu kilat menyambar menerangi sekitar. Teman-temannya menjerit histeris.
"Ada apa?!" tanya Rudi kaget.
Lusi menjawab dengan tergagap, "Ada...ada...tengkorak kepala di meja dekat pintu."
"Rud!" teriak Niko. "Tadi kamu kunci nggak pintunya?"
"Dikunci."
"Kok terbuka?!"
Rudi terhenyak heran. Tidak mungkin. Dia sudah menggerak-gerakkan gagang kunci untuk memastikan. Bagaimana sekarang bisa terbuka?
Rudi tak sempat berpikir panjang. Ada bau yang amat aneh menyergap hidungnya. Dia memekik tertahan.
"Rud?!" seru Niko terkejut. "Kamu kenapa?"
Tak ada jawaban.
"Rudi?!!"
Sepi.
"Kenapa dia?" tanya Dini antara cemas dan takut.
"Ada yang tidak beres di sini!"
Niko membanting sebuah kursi dengan keras. Diambilnya beberapa potong pecahan kayunya.
"Kalian diam di sini. Jika ada yang mencurigakan, pukul saja pakai kayu ini."
Hati-hati Niko bergerak ke depan kelas. Tangannya menggenggam potongan kayu kuat-kuat. Telinganya dipasang tajam-tajam.
Niko tersentak. Persis di ujung meja paling depan, kakinya menyentuh sesuatu. Sebuah kesadaran melecut pikirannya.
"Rudi!" pekik Niko. "Kau kenapa?!"
Dengan diliputi perasaan kaget, Niko menyambar tubuhnya. Ah, jantungnya masih berdetak. Dia cuma pingsan. Tapi kenapa jadi begini?
Diam-diam Niko merasa ciut. Keringat dingin meleleh di keningnya. Siapapun adanya makhluk itu pasti sudah terbiasa dalam gelap. Mungkinkah...hantu?
Niko menarik nafas mengumpulkan sisa-sisa keberaniannya. Dengan penuh waspada diayunkan langkahnya ke meja guru. Bukan mustahil dia bersembunyi di balik lemari, dan tengah mengincarnya.
Tetapi sial, Niko tak menemukan apa-apa di laci. Kosong. Dan seruan Lusi hampir membuat jantungnya lepas:
"Nik!"
"Aku di meja guru!" jawab Niko. "Bikin kaget saja!"
"Dini.... Dini tidak ada!"
"Waspada saja kalian! Aku segera ke sana!"
Ketika Niko memutar tubuhnya, kakinya menginjak benda yang dicarinya. Hm, rupanya Rudi sudah mengambilnya, tapi keburu tak sadarkan diri.
Cahaya geretan tak dapat menjangkau ke mana-mana. Apinya sangat kecil. Tapi cukup untuk menuntun langkah Niko menghampiri mereka.
Kedua gadis itu terbelalak lebar-lebar. Dini tergolek di bangkunya. Bagaimana mungkin hal ini terjadi sementara mereka tak mendengar sepotong keluhan apapun?
Makhluk itu demikian lihai, pikir Niko kecut. Dia dapat melumpuhkan Rudi dan Dini dalam sekejap mata, tanpa meninggalkan memar atau luka apapun.
"Kita cari bantuan ke rumah Pak Darmo," kata Kiki separuh menangis. "Aku bisa mati berdiri kalau begini."
"Keluarkan semua buku," perintah Niko. "Kita jadikan obor."
Mereka segera mengeluarkan isi tas. Lembaran-lembaran kertas dipilin membentuk obor. Sebagian dibakar di atas meja. Seluruh ruangan jadi jelas kelihatan.
"Nik...." Leher Lusi serasa tercekik. Matanya tak berkedip memandang ke arah pintu.
Niko menoleh. Tak urung dia pun kaget. Di ambang pintu, peti mati bersandar dalam posisi berdiri! Bagaimana mereka bisa keluar dari ruangan neraka ini? Tidak mungkin berteriak-teriak. Pita suara sampai rusak pun hanya akan didengar oleh derasnya hujan.
"Kalian ikuti saja aku." Akhirnya Niko nekat melangkah. "Peti jelek itu urusanku."
"Rudi dan Dini bagaimana?" tanya Lusi.
"Yang penting cari pertolongan dulu."
Tiba di dekat pintu, Niko melayangkan tendangan sekuat tenaga. Peti mati roboh dengan posisi lubangnya di atas. Niko terbelalak lebar. Isinya bukan tengkorak, tapi tubuh Rudi! Bagaimana dia bisa berada di situ?
Belum hilang terkejutnya, tawa seorang perempuan sudah membahana merobek udara, demikian menyeramkan.
"Jangan panik!" Niko berteriak kepada mereka yang menjerit-jerit. "Tenang! Tenang! Pertahankan obor agar tetap menyala!"
"Nik! Awas!!" jerit mereka.
Niko tidak sempat berbuat apa-apa. Sebuah tangan yang bentuknya amat mengerikan telah menyambar tubuh dan membekapnya. Lalu semuanya menjadi gelap. Lusi dan Kiki jatuh pingsan ketakutan.
***
Tentu saja sekolah gempar ketika menemukan tubuh mereka tergeletak pingsan. Lebih-lebih waktu mendengar kisahnya dan menjumpai tengkorak tidak berada di tempatnya, tapi tergolek di samping kuburan!
"Mungkin dia tidak rela dipindahkan," komentar Bu Lastri. "Dia ingin memberi peringatan dengan peristiwa ini."
"Jika kita tetap bertahan, tidak mustahil terjadi petaka yang lebih buruk lagi," timpal guru lain.
Kepala sekolah tak dapat menolak desakan mereka. Daripada murid-muridnya ketakutan, tidak tenang belajar, dia terpaksa mengajukan usulan pada ketua yayasan untuk tidak mengganggu kuburan itu. Cukup membangun dua lokal saja....