"Dasar anak setan!" maki anak-anak sambil melempar botol plastik, batu kerikil, bahkan ada yang sengaja mendekatiku sambil mengotori seragam dengan tanah yang tadi dipegangnya. Sambil berusaha menahan tangis karena tak berdaya lagi melawan mereka, aku mendekati nenek yang menjemputku. Sudah ke-40 kali mereka memanggilku "anak setan". Meskipun bukan hanya 40 hari lalu mereka mengejek, aku belum pernah mendapatkan panggilan separah "anak setan". Biasanya, mereka hanya memanggilku "jelek" karena wajahku yang dari lahir tidak secantik mereka ataupun rambutku yang tidak seindah rambut lurus mereka yang tampak rapi. Kadang juga ada yang memanggilku "bodoh" karena tidak pandai dalam matematika, bahasa Inggris, seni musik, kerajinan tangan, maupun olahraga. Bahkan, guru-guru pengampu mata pelajaran itu juga tak jarang memarahiku karena kebodohanku.
Aku melihat nenek yang menjemputku dengan mata berkaca-kaca. Tangannya yang keriput berusaha membersihkan tubuhku dari ulah teman-teman tadi. "Sudah yuk, kita pulang. Nanti nenek bersihkan seragamnya di rumah. Besok dipakai lagi, kan?" ujar nenek menegarkanku. Aku pun mengangguk setelah beliau mengakhiri kalimat terakhirnya.
“Mengapa aku tidak lahir sebagai anak cantik, Nek?” tanyaku ketika di tengah perjalanan.
“Siapa bilang, Ni? Kamu cantik, kok,” bantah Nenek.
“Tapi mereka bilang aku anak setan, Nek. Yani ngga tau salah apa. Yang salah Bapak sama Ibu, tapi malah Yani yang kena,” keluhku lagi.
Setelah kami sampai di halaman rumah, ibuku yang menanti di depan pintu mengeluhkan seragamku yang tak lagi bersih seperti tadi pagi. Ibu juga menanyakan alasan seragamku menjadi kotor, tetapi sepertinya, karena ini sudah ke-40 kali, beliau tidak lagi sehisteris dulu. "Ya sudah. Nanti tolong bantu bersihkan seragam Yani ya, Bu," ucapnya seraya menyuruhku masuk.
"Lepas dulu seragamnya, habis itu cuci tangan, terus langsung makan, ya. Ibu masak sayur lodeh," lanjut Ibu.
Aku bergegas melakukan semua yang diperintahkan. Setidaknya, Ibu menyiapkan makanan kesukaanku yang menyambut ketika pulang sekolah. Setelah piringku penuh dengan nasi dan lauk, Nenek melintasi meja makan hendak mencuci seragamku yang kotor. Biasanya, beliau menggunakan bahan tertentu yang membuat pakaian cepat bersih dengan tetap mempertahankan warnanya. Namun, aku baru akan diberitahu nama bahan itu ketika sudah berusia sepuluh tahun kelak.
Selesai makan dan mencuci piring, aku melihat seragamku yang telah dicuci digantung di jemuran. Nenek baru akan ke kamarnya untuk beristirahat ketika bunyi ketukan pintu terdengar. Aku bergegas mendahului beliau untuk membuka pintu.
"Yaniii!" sapa seorang perempuan berjilbab yang wajahnya cukup kukenal. "Mbah Yem ada?" lanjutnya.
"Ada. Baru saja selesai mencuci, Mbak," jawabku.
"Siapa, Ni?" sahut Nenek menghampiri. Namun, raut wajahnya berubah seketika menjadi sumringah melihat kedatangan perempuan yang ternyata tidak datang sendirian itu. Beliau bahkan mempersilakan mereka masuk dan duduk bersila di atas tikar seadanya.
"Sebelumnya, maaf jika mengganggu, Mbah Yem, Yani. Kebetulan kami sedang ada kegiatan mengajar di sini. Sekalian ada teman kami, namanya Angela dan Galang, yang mau wawancara dengan keluarganya Mbah Yem," tutur perwakilan dari mereka.
"Yaaa … dengan senang hati, kami menerima Mbak Hilda sebagai tamu. Apalagi, Mbak Hilda sudah lama bertetangga dengan kami. Soalnya, Mbak Hilda kan aslinya warga sini sebelum kuliah," jawab Nenek.
Mereka menjawab serentak, "terima kasih, Mbah Yem." Setelahnya, mereka tampak lega, mungkin karena urusannya terselesaikan satu lagi.
"Oh iya, nanti jam tiga, Yani ikut saja ya ke pondokan. Kita akan belajar bersama," ajak Mbak Hilda.
Napasku tercekat mendengarnya. "Yani mau, tapi …"
"Kenapa? Malu?" Mbak Hilda menanyakan kelanjutan kalimatku.
"Masih mending kalau malu," balasku terisak. "Yani takut, Mbak. Takut diledek sama teman-teman. Soalnya, Yani dipanggil 'anak setan'," lanjutku.
Mereka hening seketika. Raut wajah sumringah kini berubah, justru mengisyaratkan iba. Beberapa detik kemudian, seorang perempuan pun angkat bicara, "Mbak Angela antar, mau tidak?"
Aku pun mengangguk. "Asal jangan bohong sama Yani, Mbak."
"Oke, Yani. Nanti kita berangkat bareng, ya," balas Mbak Angela santai. Seakan-akan, menepati janji itu bukan hal yang sulit baginya.
"Waduh, terima kasih, Mbak Angela, kalau tidak keberatan mengantarkan Yani," ucap Nenek.
"Tidak usah sungkan, Mbah Yem," balas Mbak Angela dengan ramah.
Untunglah, Mbak Angela menepati janjinya. Jam tiga kurang sepuluh menit, ia telah menantiku di depan rumah. Usai memastikan bahwa aku sudah siap, ia segera menggandeng tanganku. Tidak lupa berpamitan dengan orang-orang di rumah.
“Mbak Angela cantik, ya. Badannya tinggi. Rambutnya lurus,” ucapku mengisi keheningan dalam perjalanan.
“Eh? Gitu, ya? Terima kasih, Yani. Kamu juga cantik. Imut, lucu,” balasnya.
Padahal, harusnya aku senang mendengar ucapannya. Namun, aku malah ingin menangis sedih setelah ia berkata seperti itu. “Yang benar, Mbak? Bukan mau meledek, kan?” tanyaku mulai terisak.
“Iya, Yani. Mbak Angela pengin bisa punya adik yang seperti Yani. Biar bisa diajak main, diantar ke sekolah, diajari pelajaran sekolah,” jawab Mbak Angela meyakinkan. Tanpa terasa, pondokan tempat kegiatan berlangsung telah di depan mata. “Nah, nanti Yani ikut main ya, sama teman-teman lainnya.”
Aku segera duduk bersila di lantai yang tersedia. Anak-anak seumuranku mulai berdatangan memenuhi ruangan yang ada. Beberapa dari mereka menatapku sinis, tetapi akhirnya mau duduk di samping kiri dan kananku juga setelah para mahasiswa mengatakan bahwa mereka tidak akan diperbolehkan pulang bila tidak segera duduk. Selang beberapa menit, kegiatan pun dimulai dengan dua orang mahasiswi yang berdiri di depan kami.
“Perkenalkan, nama saya Hilda,” ucap Mbak Hilda. Disambut dengan perkenalan dari Mbak Angela. “Panggil saja Ela,” ujarnya.
Seorang bocah seumuranku yang mengenakan kaos biru pun menimpali, “Angel saja, Mbak. Soalnya Mbak Angela cantik banget kayak bidadari–eh, malaikat.”
“Iya, malaikat kematian,” balas anak lainnya yang menggendong ransel kecil berwarna turangga. Tawa anak-anak lainnya memenuhi seisi ruangan, kecuali aku.
Mbak Hilda pun kembali mengambil alih perhatian. “Oke, teman-teman, hari ini kita main mini game dulu, ya. Sekarang, coba masing-masing berpasangan!” perintahnya. Pandangannya tidak lepas dari anak-anak di hadapannya, untuk memastikan yang diperintah memahami perintah.
Tanpa kusadari, anak-anak di sekitarku tidak ada yang memilihku sebagai teman sekelompok mereka. Anak yang duduk sendiri di belakang diajak berpasangan, sedangkan aku tidak. Beberapa dari mereka berbisik-bisik membicarakanku yang merupakan anak dari pasangan penentang pembangunan theme park yang dapat meningkatkan pendapatan dari wisata. Sebagian lagi menyuruh pasangannya agar tidak sampai satu kelompok denganku, sebab aku adalah “anak setan” yang bersekolah di sekolah yang sama dengan mereka.
“Yani belum dapat teman, ya?” tanya Mbak Hilda.
Aku tersenyum dan menjawabnya, “sudah biasa, Mbak Hilda.” Namun, air muka Mbak Hilda berubah menjadi cemas. Tangan kanannya pun melambai ke arah luar, memanggil seorang lelaki. Ketika lelaki itu berjalan, anak-anak perempuan langsung menggumamkan kekaguman mereka dengan wajahnya yang tampan.
“Yani, berpasangan sama Mas Daniel, ya,” ucap pria yang ternyata bernama Mas Daniel itu.
“Aku mau sama Mas Daniel aja! Biar Widya yang sama Yani aja, Mas,” pinta seorang gadis berbaju ungu.
“Kenapa mau sama Mas Daniel?” tanya Mbak Hilda. “Aslinya, dia itu cuek, lo,” lanjutnya.
“Waaahhh!!! Mbak Hilda cemburu, nih? Cieee. Mas Daniel pacarnya Mbak Hilda, ya?” goda anak laki-laki. Tanpa mengangguk ataupun menggeleng, wajah Mbak Hilda tersipu dan masih diam saja. Bahkan, menyuruh Mbak Angela untuk memberikan instruksi permainannya.
“Mas Daniel sama Yani, sedangkan yang lainnya tetap dengan pasangan masing-masing, ya,” tegas Mbak Angela. Gadis berbaju ungu memanyunkan bibirnya, tetapi tidak membantah. “Selanjutnya, kita main ‘Aku Mengenalmu Sebagai ….’ Nah, tahu cara mainnya, nggak? Jelaskan siapa yang ada di samping kalian. Namanya, rumahnya, hobinya, sampai makanan kesukaan. Paham?”
Perintah yang segera dipahami oleh anak-anak pun akhirnya mengubah suasana menjadi lebih kondusif. Mbak Angela memberikan waktu dua menit pada kami untuk saling berkenalan dengan pasangan masing-masing. Tidak lupa juga memberikan contoh pada kami dengan mengenalkan Mbak Hilda.
Dua menit telah berlalu, permainan pun dimulai dari gadis berbaju ungu. "Perkenalkan, ini tetangga saya namanya Widya. Dia tinggal di Jalan Singkong, Desa Langgitasari. Hobinya menyanyi. Lalu, Widya suka makan nasi goreng," ucapnya disambut dengan tepuk tangan.
Widya pun tidak kalah lancar dalam memperkenalkan gadis yang tadi memperkenalkan dirinya. "Aku mengenalnya sebagai tetangga, namanya Mita. Sama, tinggal di Jalan Singkong, Desa Langgitasari, tapi rumahnya dari rumahku jarak tiga rumah. Hobinya … menonton video lagu Korea. Terus … ah, makanan kesukaannya puding stroberi."
Sebagian dari mereka ada yang masih malu-malu dan kurang lancar dalam memperkenalkan diri, tetapi akhirnya menyelesaikan permainan itu. Tibalah giliranku dan Mas Daniel, yang paling terakhir. Berkali-kali kutelan ludah karena takut tidak dapat menyelesaikan permainan ini sebaik Mas Daniel, yang tentu saja lebih berpengalaman dibandingkan aku.
"Halo, teman-teman," sapa Mas Daniel.
Anak-anak perempuan bersemangat membalas sapaannya, "Halo juga, Mas Daniel!"
"Oke, di sini ada temanku, yang namanya Yani. Yani ini tinggal di Jalan Pepaya, Desa Langgitasari. Hobinya adalah membaca. Lalu, Yani suka makan sayur lodeh," tuturnya.
"Ih, anak setan suka makan sayur lodeh," cibir seorang anak perempuan.
"Eh, berarti, Mas Daniel temannya anak setan, dong. Idih, ganteng begitu temannya anak setan," sindir perempuan di sampingnya.
"Hus! Bukan anak setan. Yani ini teman kalian. Sama-sama hidup di bumi," tegur Mas Daniel.
"Tetap saja anak setan, Maaasss," bantah anak perempuan tadi. "Orang tuanya saja berpikiran terbelakang. Disuruh tanda tangan buat pembangunan taman bermain malah nggak mau. Padahal bisa dapat uang ratusan juta. Neneknya juga tukang sihir, Mas. Makanya masih hidup," bebernya.
Keheningan menghampiri kami semua. Mbak Hilda dan Mbak Angela menundukkan kepala dan memejamkan matanya seakan tidak tahu harus berbuat apa. Mas Daniel menghela napas. Akhirnya, aku angkat bicara dan meneruskan permainan yang kepalang tanggung.
"Halo, teman-teman. Aku berpasangan dengan Mas Daniel. Mas Daniel ini orang yang ganteng. Dia berasal dari Pulau S, lalu di sini merantau, tinggal di Kabupaten B. Hobinya adalah menonton siaran VTuber. Kalau makanan kesukaannya, semua yang dimasak sama Mbak Hilda," jelasku memecah keheningan.
"Yaaah …. Sudah punya pacar," keluh gadis berbaju ungu.
"Betul ternyata, Mbak Hilda pacaran sama Mas Daniel," timpal anak lelaki berbaju biru. Semua anak pun berbarengan menyoraki mereka. Hanya Mbak Angela yang tersenyum tipis menatap anak-anak sambil melipat tangannya di dada.
"Eh, kita harus tos dulu sama Yani. Gara-gara dia kan, tebakan kita kalau Mas Daniel pacarnya Mbak Hilda," ujar seorang anak laki-laki.
"Betul juga," sahut lainnya. Mereka pun berbarengan menghampiriku dan mengajak tangan kami bertepuk.
Anak laki-laki terakhir yang menghampiriku pun berkata, "habis ini kamu ngga usah takut dipanggil anak setan lagi, Yan. Kalau ada yang bilang begitu, suruh lawan aku. Aku sudah sabuk hitam karate."
Mendengar kalimat itu, aku tertegun. Betapa mudahnya mereka menganggap diriku "teman" hanya karena "taruhan" atau tebak-tebakan. Entah ucapannya dapat dipegang atau akan berubah lagi, setidaknya mampu mengalihkan kesedihanku akibat penentangan pembangunan theme park yang dilakukan orang tuaku. Walaupun, tentu saja, aku belum ada niatan untuk memaafkan maupun melupakan ucapan mereka padaku. Sebab, aku juga ingin menghukum mereka di "neraka" kelak, yang hukumannya lebih menyakitkan daripada permainan di theme park.