Hubbu lillah
Terarah dalam waktu ke waktu. Aku menggenggam sebuah tangan yang telah lama menghangatkan kalbuku. Menyakinkan dirinya Setiap langkahku bahwa dia adalah rasa bahagia yang ditanyakan untukku oleh Tuhan. Tuhan yang maha adil dalam segalanya. Aku bersyukur pada semua yang Ia berikan kepadaku. Di luar itu, aku tak Akan mengharapkan apapun lagi. Namun, takdir merenggut dan menghianati diriku kembali. Ketika ku dengar dia Mengucap seulas kata Maaf kepadaku
"aira.. Maafkan aku".
"untuk apa kau meminta Maaf kepadaku ham? Ada apa ham? Kamu baik-baik saja Bukan?".
"ini untukmu ra.. Minggu depan aku akan menikah, ku harap kau bisa datang".
"Jadi ini alasanmu memutuskan untuk break?".
"Bukan ra, visi dan misi kita sudah berbeda. Aku pun tak dapat menunggu lagi".
"baiklah kalo itu mah kamu, Semoga kamu bahagia dengan pilihanmu ham".
"Tentu ra, ku harap kau juga ra".
"Dan satu lagi pesanku untukmu ham.. ".
"apa ra? ".
"Setelah aku datang pada pernikahanmu ku harap kita tak akan bertemu lagi".
"Tapi ra kenapa..? ".
"Kau tak perlu tau itu".
Aku ingin melupakan semua rasa yang pernah terjadi diantara kita ham. Aku pun ingin menghapus semua jejak yang ada hingga semua tak akan lagi membuatku memikirkanmu. Semua yang pernah ada. Tuhan Kenapa Ini harus terjadi untukku hiks.
5 tahun menjalin kasih baik suka maupun duka tapi kenapa karena adanya perbedaan tujuan hidup kau pergi dariku. Semudah inikah kau tak ingin bersabar untuk masa depan kita? Dan Sesulit inikah semua harus ku lepas?
Entah kapan ku dapat melepaskan semua rasaku untukmu. Entah kapan ku dapat melewatinya. Entah kapan aku bisa hidup kembali tanpa adanya dirimu dan entah kapan aku bisa menahan Ini semua
"baiklah ra jika itu maumu, aku pamit Assalamualaikum".
"waalaikumsalam".
Malam itu semua pecah tanpa ada yang tersisa. Hanya deru malam silir semilir menemaniku. Semua air mata menetes tiada henti. Hati yang bergejolak benci akan diriku sendiri.
Dahulu ketika dia memutuskan untuk break dalam waktu yang lama ,sebelum itu dia mengajakku pada hubungan yang halal. Aku bingung apa yang harus ku putuskan hingga bibir ini berkata tidak. Dan itulah Dia memutuskan break.
Ku pikir dia hanya lelah sedikit dengan semua yang terjadi. Hingga amma ku membantu diriku mengambil keputusan untuk diriku
"Ndukk.. Jika laki-laki sudah mengajakmu ke dalam sebuah hubungan yang halal itu tandanya dia begitu serius untukmu.. Dia ingin membahagiakanmu, lantas apa lagi yang masih kamu tunggu? Toh keliatannya Wirya udah mapan dan mungkin dia jodohmu nduk".
"Tapi amma.. Aku tak ingin terburu-buru. Aku ingin membangun masa depanku, jalanku masih luas amma dan ini belum waktuku membangun sebuah rumah tangga. Aira ingin membahagiakan amma".
"Jangan pikirkan amma, amma sudah bahagia dengan kebahagiaan yang akan kamu bangun nanti bersama wirya".
"Tapi ammaa.. ".
"Jangan jadikan keputusanmu menjadi penyesalanmu nanti karena kesempatan tak akan datang dua kali".
"amma.. Hmm".
"Nanti ketika dia menemuimu katakan jika kamu siap ya nduk, berjanjilah pada amma".
"baiklah jika itu keinginan amma.. ".
"Semoga kamu dan wirya selalu bahagia dan langgeng nduk".
Semua sudah berakhir amma.. aira harus gimana hikss..
Drrtt..
Abi calling..
"Hallo assalamualaikum bi..".
"Waalaikumsalam.. nduk kamu dimana? ".
"ini aira mau pulang, abi mau aira belikan sesuatu? ".
"Tidak nduk... cepatlah kembali, amma nduk..".
"Ada apa dengan amma bi? ".
"Amma mu telah kembali ke rahmatullah nduk ".
" Abi yang bener .. jangan bercanda bi".
"Iya nduk.. abi tidak bercanda.., cepat pulang dan Hati-Hati nduk".
Kenapa semua harus terjadi kepadaku ya robb?? setelah masalah ini kenapa ku harus kehilangan amma yang sangat ku sayangii.
Aku tak kuat lagi menahan semua ini. Aku harus kembali ke rumah secepatnya!
Aku pun berlari dengan cepat dan tak peduli lalu lalang manusia dan jalan. Hingga aku tak sadar sebuah mobil menghantam tubuhku
Ckittt.. Bruak..
Malam itu semua tampak gelap dengan pandanganku yang semakin memudar. Darah di kepalaku bercucuran membasahi keningku. Sekilas orang-orang ramai mendekatiku hingga aku tak sadarkan diri.
Seketika ku liat seseorang memanggilku. sontak ku melihat amma dan menghampirinya. Memeluknya dengan hangat
"Aira.. sayangnya amma.. ".
"amma.. amma masih hidup bukan? amma hiks.. kenapa semua terjadi pada aira hiks".
"sabarlah sayang.. Tuhan selalu tau yang terbaik buat airanya amma".
"Amma akan kembali bukan? aku tak butuh siapapun selain amma.. ".
"maaf sayang.. amma tak bisa, amma disini ingin berpamitan kepadamu sayang".
"amma jangan tinggalkan aira hiks.. ".
"Ingat pesan amma : apapun masalah yang terjadi padamu jangan menyerah dan bersedih, dan jadilah aira yang kuat dalam segala hal. Amma percaya akan ada kebahagiaan yang akan datang kepada aira. Jangan pernah menunda sebuah hal kembali sayang karena amma ingin melihat aira bahagia".
"Amma.. ".
"Kembali kesana sayang.. amma pamit".
Deg..
"amma.. ".
Seketika ku terbuka dan menatap sekelilingku. Seorang lelaki berpeci hitam yang tak ku kenal melihatku dan menghampiri ku
"alhamdulillah akhirnya kamu sadar.. apakah kamu baik-baik saja?".
"iya.. ".
"Apakah kamu butuh sesuatu? ".
"Tidak.. abiku dimana? ".
"Sebentar akan ku panggilkan ".
Ia berlalu pergi keluar tuk memanggilkan abiku. Seketika aku melihat abiku yang memasuki kamarku. Memelukku dengan erat sembari terisak.
"nduk kamu gak apa-apa kan? ada yang sakit? ".
"tidak abi.. amma aira hiks.. ".
"sabar nduk.. semua sudah suratan takdir dari sang kuasa nduk.. ".
"Iya abi hiks.. ".
Malam itu abi menemani ku dan menyuapiku hingga ia tertidur di sampingku sedangkan pemuda itu tetap duduk di sofa samping kananku. Ia yang tersadar abiku tertidur di sampingku pun membangunkan pelan
"Abah rustam.. mari tidur disini".
"eh.. iya nak yusuf.. Aira tidurlah.. ".
"iya abi.. ".
Abi berpindah dan tertidur dengan pulas di sofa samping kananku. Ia pun duduk menggantikan tempat yang disinggahi abiku sembari bertanya kepadaku.
"kamu tak tidur? ".
"Tidak.. ".
"apa kamu butuh sesuatu? ".
"Tidak..".
"Maafkan aku yang menabrakmu malam itu".
"iya".balasku cuek
"Aku janji akan menemanimu hingga kamu pulih".
"Tak usah.. ada abiku yang selalu menemaniku".
"Setidaknya biarkan aku menebus segala kesalahanku. Apapun hal yang kau pinta akan ku turuti".
"Terserahmu.. bisakah kau ambilkan kerudungku!".
"Tentu.. sebentar".
pemuda itu mengambilkan kerudung milikku. Kemudian ia duduk di samping ku. Tanpa sedikitpun berbicara kepadaku.
"Aira.. ".
"Iya..?".
"Bolehkah ku meminangmu? ".