Andini, begitu nama yang diberikan oleh ayah dan ibuku. Nama yang sederhana, sesederhana arti nama yang disematkan oleh kedua orang tuaku.
Andini, anak dari Yadi dan Tini.
Hmm.. sederhana itu arti namaku bagi kedua orang tuaku.
Saat aku mencari arti namaku di link pencarian, ternyata arti namaku sangat bagus, yaitu taat, patuh, penurut dan setia.
Semoga doa yang tersemat dari nama yang diberikan oleh orang tuaku menjadi doa terbaik bagi kehidupanku.
Mungkin orang tuaku tidak pernah tahu arti nama yang mereka berikan padaku, tapi dengan nama itu membuktikan suatu doa indah yang mereka berikan padaku.
Ayah...
Sosok ayah bagiku sangat berarti dalam hidupku.
Walau hanya bekerja sebagai seorang kuli bangunan dan terkadang jadi tukang kebun dirumah teman ayah yang menjadi seorang kepala proyek, tapi perhatian dan kasih sayang ayah pada kami ke empat anaknya sangat membuat kami bahagia.
Ditengah keterbatasan ekonomi, ayah selalu berusaha untuk membahagiakan kami, memenuhi kebutuhan kami sesuai dengan kemampuannya.
ibu..
Bagiku ibu seorang wanita tangguh yang selalu setia menemani ayah walaupun harus hidup seadanya.
Untuk membantu ekonomi keluarga, ibu membantu mencari rejeki dengan menjadi buruh cuci.
Ibu mencuci pakaian tetangga yang membutuhkan tenaga ibu.
Aku anak ke tiga dari empat bersaudara, kedua kakakku laki-laki dan adikku perempuan.
Kami saling menyayangi satu sama lain.
Ayah meninggal saat aku baru masuk bangku SMP dan kedua kakakku duduk di bangku SMA.
Ayah meninggal karena sakit, dan kepergian ayah menjadi pukulan tersendiri bagi kami.
Beruntung kedua kakakku bisa menyelesaikan sekolah SMA nya, lalu membantu ibu bekerja apa saja untuk memenuhi kebutuhan kami.
Sejak ayah tiada, ibu juga sering sakit-sakitan, mungkin karena berat ditinggal oleh ayah untuk selamanya.
Akhirnya dengan keterbatasan ekonomi aku bisa menyelesaikan sekolah SMP ku, walau ibu dan kedua kakakku meminta untuk melanjutkan ke SMA, aku menolak karena tidak ingin menjadi beban bagi mereka, masih ada adik perempuanku yang harus mereka biayai.
" Dini, tolong bantu ibu ya, untuk mengangkat pakaian kotor ini ke sumur, ibu mau mencucinya. "
pinta ibu yang membawa cucian kotor milik tetangga.
" Baik bu, biar Dini yang bawa ke sumur. "
Kata Dini sambil membawa ember berisi pakaian kotor milik tetangga.
Dini membawa pakaian kotor itu ke sumur yang ada dibelakang rumah, jika dicuci di kamar mandi terlalu sempit dan tidak bisa dikerjakan berdua.
Dini yang sering membantu ibu mencuci pakaian-pakaian itu, karena Dini tidak tega melihat ibu yang sudah sering sakit-sakitan.
Dini dan kakaknya sudah melarang ibu untuk mencuci, tapi ibu berkata bahwa ibu masih mampu melakukannya.
Suatu malam, sehabis magrib kami berkumpul diruang tengah, ruangan yang menjadi tempat berkumpul sekaligus menjadi ruang tamu.
" Bu, lebih baik ibu berhenti bekerja mencuci pakaian para tetangga.
Ibu sudah sering digunakan, biarlah Aria dan Andi yang mencari nafkah buat keluarga kita juga buat biaya sekolah Arini. "
Kata mas Ariadi kakak tertua Andini.
" Iya bu, Andi dan mas Aria sepakat untuk membuatkan ibu warung yang menjual nasi uduk didepan rumah kita. "
Mas Andi kakak kedua Andini menimpali kata-kata mas Aria.
" Uang dari mana nak? untuk membuat warung nasi uduk perlu modal, ibu tidak punya uang untuk modalnya, nak. "
Kata ibu kepada kedua anak lelakinya.
" Aria ada sedikit simpanan yang bisa Aria gunakan untuk membuat meja dan kursi sebagai tempat duduk jika ada yang mau makan ditempat.
Kita buat yang sederhana aja bu. "
Kata Aria yang menyanggupi untuk membantu membuat meja dengan kursi dari kayu.
" Andi juga punya sedikit modal untuk ibu membeli bahan untuk memasak nasi uduk. "
Mas Andi juga mau membantu untuk modal jualan ibu.
" Nak, kalian berdua laki-laki, suatu hari kalian harus menikah dan menikah itu perlu biaya.
Simpan saja uang tabungan kalian untuk kebutuhan kalian nanti. "
Kata ibu yang menolak di modali oleh kedua anaknya.
" Kami masih bisa berusaha bu, yang penting ibu tidak bekerja mencuci pakaian lagi.
Nanti Andini bisa membantu ibu memasak dan berjualan nasi uduk.
Nanti kita mulai jualan sedikit dulu, untuk mencari pelanggan. Jika tetangga sudah tahu, pasti dagangan ibu akan semakin ramai. "
Mas Aria memberi semangat agar ibu mau berjualan nasi uduk.
Setelah pembicaraan malam itu, mas Aria mulai merealisasikan keinginannya untuk membuka warung nasi uduk buat ibu.
Mas Aria membawa bahan bangunan yang sudah tidak terpakai untuk membuat meja dan kursi kayu.
Mas Andi juga membelikan ibu termos untuk tempat nasi uduk, juga perlengkapan lain seperti kertas nasi, karet dan plastik.
Semua bahan dikumpulkan hingga lengkap untuk modal ibu berjualan.
Dari sanalah awal ibu dan aku berjualan nasi uduk.
Alhamdulillah, banyak yang menyukai nasi uduk buatan ibu.
Kata langganan ibu, rasanya enak dan pas di lidah.
Aku, ibu dan kedua kakakku merasa bersyukur dengan jalan rejeki yang Allah beri.
Suatu hari, ada seorang pria yang membeli nasi uduk ibu.
Aku dan ibu belum pernah melihatnya datang ke warung ibu untuk membeli nasi uduk.
* Bu, nasi uduknya satu, makan disini ya? "
Pintanya pada ibu.
" Baik mas, silakan duduk dulu, saya siap nasinya. "
kata ibu pada si pelanggan baru.
" Nasinya pake telor sama sambel ga mas? "
tanya ibu lagi.
" Iya bu, pake aja. "
jawab laki-laki itu sambil duduk dibangku yang disediakan.
Ibu menaruh nasi uduk di piring bersama dengan bihun goreng, orek tempe dan sambal telur.
Kerupuk ada di toples diatas meja.
" Din, tolong antar nasi uduk ini untuk pelanggan yang duduk di depan. " pinta ibu pada Andini yang baru datang dari dapur membawa gorengan panas.
" Iya bu, sini Dini antarkan. " kata Dini sambil mengambil nasi uduk yang sudah disiapkan oleh ibu
Dini pun mengantar nasi uduk itu pada pelanggan yang sudah menunggu.
" Ini mas nasi uduknya. " kata Dini yang menaruh piring nasi itu dihadapan pelanggan barunya.
Dini mendekatkan kerupuk, tisu juga sendok dan garpu kedepan lelaki itu, juga menuangkan segelas air putih.
" Silahkan, mas! " kata Dini setelah menyiapkan semuanya.
Dini kembali mendekati ibu untuk mengambil gorengan yang tadi ia taruh dimeja dekat ibu, lalu Dini membawa kemeja depan.
Gorengan yang dijual Dini juga banyak disukai, selain rasanya enak, harganya juga murah.
Lelaki itu menatap Dini saat Dini berjalan menghampiri ibu.
" Bu, Dini mau mencuci pakaian dulu ya? kalau nanti ramai yang beli, panggil Dini aja.
Mumpung belum ramai Dini urus pekerjaan rumah dulu. "
Dini pamit pada ibu untuk mencuci karena di warung ibu belum banyak pembeli.
" Iya, pergilah, biar ibu yang jaga di warung. " jawab ibu pada Dini.
Dini pun masuk kedalam rumah untuk mencuci pakaian mereka.
Dini harus bisa mengatur waktu untuk mengurusi pekerjaan rumah juga membantu ibu jualan.
Dini tidak mau jika ibu harus kelelahan dan kembali sakit,. biarlah ia yang mengerjakan semua pekerjaan rumah.
Saat pulang sekolah, Arini juga suka membantu mengangkat dan melipat jemuran serta mencuci piring.
Kedua kakak Dini kerja pagi dan pulang sore, mereka bekerja di sebuah ruko yang sedang dibangun tidak jauh dari sekolah Arini.
Tak terasa pelanggan baru ibu Dini jadi sering mampir membeli sarapan di warung ibu,. hal ini lama kelamaan membuat mereka menjadi akrab.
Rupanya, dia seorang manager Bank yang ditugaskan dari kota untuk menjadi manager di Bank yang ada di kota tempat Dini tinggal.
Dini dan keluarganya tinggal di kota kecil yang masih belum begitu ramai.
Beruntung mereka memiliki tempat tinggal sendiri sehingga tidak pusing memikirkan uang kontrakan rumah.
Karena hampir setiap hari ke warung ibu, Dini jadi kenal dengan manager Bank yang bernama Sunny Adrian.
Di bilang, jika sehari-hari dia di panggil Adri.
Adri berusia sekitar 30 tahunan, dan memang Adri masih terbilang muda.
Karena sering ke warung, Adri jadi akrab dengan ibu, juga dengan Dini.
Sesekali jika hari libur, kadang Adri juga mengobrol dengan kedua kakak Dini.
Karena sering bertemu, ada suatu perasaan tersendiri yang Dini rasakan pada Adri.
Saat itu, Dini baru berusia 20 tahun.
Dini merasa jika ia mengagumi sikap Adri yang ramah dan mudah bergaul.
Adri berteman baik dengan kedua kakak Dini, bahkan terkadang mereka bermain bola bersama dilapangan dekat sekolah Arin.
Semakin hari, Andini semakin mengagumi Adrian.
Tapi Andini sadar diri, ia tahu jika dirinya hanya anak dari keluarga yang biasa-biasa saja, apa lagi Andini hanya sebatas sekolah SMP.
Dini hanya menyimpan perasaannya pada Adrian, Andini tidak mau jika dirinya seperti pungguk yang merindukan bulan.
Tapi rupanya, apa yang Dini rasakan sama dengan apa yang Adrian rasakan.
Adrian mengagumi Andini yang ramah dan suka tersenyum.
Dini gadis yang rajin dan sangat menyayangi ibunya, itu yang Adrian lihat dari Andini.
Hingga suatu hari Adrian menyatakan perasaannya pada Dini.
Sore itu, mereka sedang melihat kedua kakak Dini yang sedang bermain bola.
Adrian dan Dini duduk di tepi lapangan dengan beralaskan sandal yang Andini pakai.
" Dini, mas boleh ngomong sesuatu pada Dini? " tanya Adrian serius pada Dini yang duduk di sampingnya.
Dini duduk sambil mencabuti rumput yang ada didepannya karena ia merasa gugup harus duduk berdua dengan Adrian.
" Mas mau ngomong apa? " tanya Dini yang masih memperhatikan kedua kakaknya yang sedang mengejar bola.
" Din, sebenarnya mas merasa kagum sama Dini.
Mas suka sama sikap Dini yang ramah dan murah senyum. "
Adrian terdiam sejenak, memperhatikan ekspresi wajah Dini saat ia. mengatakan jika ia mengagumi Dini.
Tapi Dini hanya diam saja, tidak menanggapi kata-kata Adrian.
" Din, sejujurnya mas katakan jika mas suka pada Dini, mas mencintai Dini. "
Adrian menatap wajah. Dini yang kini terlihat. menunduk.
" Apa tidak salah mas mengatakan hal itu pada Dini? Mas sadar kan dengan apa yang mas katakan? " Dini bertanya pada Adrian tentang perasaannya pada Dini.
" Mas serius kalau mas suka pada Dini. " jawab Adrian pasti.
" Mas, Dini ini cuma gadis biasa, dari keluarga yang sangat sederhana, dan Dini hanya tamat SMP.
Kita jauh berbeda mas. Mas pasti berasal dari kelurga yang berada, disini saja mas punya jabatan tinggi di Bank, sementara Dini hanya anak seorang penjual nasi uduk. "
Dini menolak dengan halus pernyataan cinta dari Adrian.
Dini sadar Dini, bahwa dia hanya anak seorang janda yang tidak berpunya, pendidikannya saja hanya sebatas tamat SMP, sangat berbeda jauh dengan Adrian yang punya jabatan dan pasti dari keluarga terpandang.
" Mas tidak menilai sesuatu dari materi, Din, karena mas sudah punya semua itu.
Mas melihat ketulusan dari keluarga Dini, kalian keluarga sederhana yang saling menyayangi.
Orang tua mas juga pasti bisa menerima Dini dengan baik. "
Adrian mencoba memberi penegerian pada Dini, bahwa ia tidak membedakan status diantara mereka.
Dini tidak bisa membohongi dirinya sendiri jika ia memang jatuh cinta pada Adrian, tapi Dini tidak mau memupuk mimpi terlalu tinggi dengan berharap lebih pada Adrian.
" Sudahlah mas, lebih baik mas cari perempuan yang sepadan sama mas, Dini tidak ingin jika nanti mas kecewa pada Dini.
Dini sadar dengan keadaan keluarga Dini yang tidak sepadan dengan keluarga mas. "
Dengan susah payah, Adrian meyakinkan Dini bahwa ia tulus mencintai Dini.
" Kita jalani dulu ya, kalau Dini tidak nyaman, kita bisa tetap berteman. "
Kata Adrian yang terus meyakinkannya Dini.
" Baiklah mas, kita coba jalani saja. "
Kata Dini pada akhirnya.
Sejak hari itu, hubungan Dini dan Adrian semakin akrab, begitupun dengan keluarga Dini yang sudah akrab dengan Adrian.
Beberapa bulan berjalan, Adrian berniat untuk melamar Dini karena sudah merasa yakin bahwa dia merasa cocok dengan Dini.
Malam itu, Adrian mengajak Dini untuk pergi jalan berdua, kebetulan saat itu malam minggu.
Setelah berpamitan pada ibu dan kedua kakak Dini, mereka pergi dengan mengendarai mobil milik Adrian.
Adrian mengajak Dini makan sate yang dijual dipinggir jalan.
Bukan Adrian tidak mau mengajak Dini ketempat yang lebih mewah, tapi Dini menolak karena Dini merasa malu dan tidak pantas, apalagi dengan pakaian sederhana yang dikenakannya.
Hanya gamis biasa dan jilbab yang sudah lama Dini beli.
Adrian menuruti keinginan Dini karena tidak mau jika Dini merasa malu dan tidak nyaman.
Setelah makan sate, mereka pergi ke alun-alun yang sedang ada pasar malam.
Adrian mengajak Dini duduk di sebuah pohon bunga air mancur dan terdapat bangku sebagai tempat duduk.
Adrian mengeluarkan sebuah cincin yang sangat cantik yang terbuat dari emas putih.
" Din, terimalah cincin ini sebagai bentuk lamaran mas pada Dini, nanti mas dan keluarga mas. akan datang ke rumah Dini untuk melamar Dini secara resmi. "
Adrian memberi sebuah cincin pada Dini sebagai bentuk lamaran pada Dini.
" Apa ini tidak berlebihan mas? Apa tidak nanti sekalian mas lamaran pada keluarga Dini baru mas berikan cincin ini? " tanya Dini heran sambil menatap cincin cantik itu.
Bersambung...