Hari Sabtu, tanggal muda, jangan kata istri, pacar juga gak punya kalau sudah begini ini enaknya plesiran kemana ya? Seorang lelaki paruh baya berkata kepada dirinya, pagi itu, di depan cermin, sambil menyisir rambut yang tinggal seuprit, Darman bin Darmin, namanya."Iya cari pacar geblek untuk dijadikan calon babu, eh, calon babu, calon bini." Suara sahutan terdengar kencang, sontak Darman kaget, lebih-lebih batang hidung si pemilik suara juga kagak nampang.
"Siapa loe!?Pagi-pagi buta udah mau bikin perkara sama gue! Loe pikir gue takut!?"Gertak Darman berkacak pinggang."Giliran loe ntar malam! Di situ gue baru takut!" Darman celingak-celinguk.
"Pagi buta kepala loe melocot! Gue di bawah!" Sahut suara tersebut. "Di bawah mana? Bawah tanah?" Darman masih juga celingakan.
"Loe kata bunker apa!? Di bawah ranjang loe!" Sahut suara itu lagi. Darman pun meresponi, ia berjongkok, kepalanya ia telengkan ke kiri. "Be, ngapain!?"
"Cari bini baru!? Tahu cari batu akik yang dilempar emak loe kemarin." Orang yang berada di bawah ranjang keluar dengan muka yang ditemploki sarang laba-laba. "Jorok amat loe! Segala bawa kolong loe isinya sarang laba-laba semua. Tuh, tisue-tisue juga pada berserakan, loe punya kerjaan apa emang!?"
"Kerjain prakaryanya si Jamil, Be." Darman kagok."Prakarya kepala loe! Loe pikir gue gak pernah muda apa! Jangan dibiasain, dosa! Lihat tuh rambut loe pada tipis gak jelas kayak gitu!" Babe menuding-nuding kepala Darman. Darman sewot, itu telunjuk ia tepis."Babe sok tahu,"
"Sok tahu, sok tahu. Kemana ya si Jamilah!?" Babe balik celingukan ke lantai.
"Segala batu dikasih nama waras, Be." Darman terkikik. Ganti Babe yang sewot. "Itu batu kesayangan, Be."
"Lagian Babe segala batu disayang-sayang," ledek Darman. Babe berkacak pinggang. "Lah batu gue sayang kagak nuntut. Emak loe gue sayang, segala permintaannya bejibun noh.Tuh, tugu Monas kalau dijual dia bakal minta dibeliin tuh."
"Emang uang dibawa mati, Be!?" Darman masih juga meledek. "Suka-suka gue! Uang-uang gue apa urusan sama loe!" Babe tambah panas, gak sampai hitungan detik bakal meleduk nih orang.
"Ibadah, Be. Amal. Ingat umur, Be. " Eh, Si Darman makin-makin, pake khotbah lagi, dikata Jumaat-an apa. "Lah anak setan sok ceramahi gue, loe. Loe tuh yang mesti ingat umur mau sampai kapan loe setia ngejomblo kayak gini. Normal loe!?" Tinggal menghitung mundur nih naga-naganya.
"Iya, normal, Be. Lah buktinya itu tissue." ucap Darman santai. Babe pun nyembur."Dengkul loe tuh lama-lama kopong tahu gak loe."
"Gibah aja, Babe." Darman menggeleng-geleng geli. Babe makin tambah panas. "Mulut loe tuh Gibah! Dikasih tahu ortu ada aja omongan loe! Man, masak loe kalah sama Babe Jaing. Lah, dia aja udah mau dua sementara loe,"
"Alah bilang aja Babe pengen, iyakan." Darman makin-makin meledeknya. "Sembarangan bacot loe," Itu sandal jepit hampir melayang kepala."Mpok Zaitun tuh nyari Babe."
Strategi Darman membuahkan hasil. Babe tersipu-sipu. "Masak? Kapan?"
"Tuh benarkan gue! Nyak, Babe selingkuh, Nyak." Darman teriak kesetanan. "Mulut loe setan!" Babe bergerak cepat menutup mulut Darman. Dari arah dapur seorang perempuan paruh baya datang menghampiri. Berkata sambil lalu: "Emangnya tuh tugu pahlawan masih kuat berdiri."
"Jangan kata berdiri, nanjak juga masih oke!" kata Babe sambil bermain mata.
"Lah buktinya kemarin udah dipegang-pegang juga masih tepar." kata si perempuan paruh baya sinis. "Lah cuma dipegang-pegang sih dielus-elus dong, Honey." Timpal Babe berlagak player.
"Ini ngomong apaan si Be, Nyak." Darman berlagak risih ia buru-buru beringsut keluar kamar. "Makanya loe nikah. Umur loe tuh tambah tahun tambah berkurang. Ntar, anak loe masih butuh duit loe kagak bisa nyari." Ucap Nyak menepuk pundak Darman.
"Lah duit Engkongnya ini bejibun." sahut Darman santai.
"Apa loe kata!?" Yang diomongin karuan judek.
"Diamini, jangan loe jadi marah." Nyak menenangkan.
"Lah bukan perkara amin gak amin ini duit, duit gue. Apa urusannya coba!? Tahu gue, loe doain gue cepat mati gitu!?" Dadanya Babe kembang kempis.
"Lah kan masuk surga, Be." Ucap Darman sambil berjalan ke luar. Babe teriak. "Loe duluan sana. Gue kasih persekot loe!"
"Mau kemana loe, Man." Tanya Nyak.
"Lah katanya disuruh kawin." Sahut Darman.
"Nikah bego!" Ralat Nyak.
"Terserahlah yang penting asoy geboy bukan begitu, Be." Darman bermain mata dengan Babenya.
"Tumben waras loe!" Ucap Babe.
"Mpok Zaitun boleh juga tuh, Nyak." Darman melirik Nyak. Nyak sewot. "Ihhh macam kagak ada yang lain aja. Mau-mauan loe bekas si tua bangkotan."
Si Babe matanya membelalak, mulutnya mangap kayak ikan beletok.
"Udah ah. Darman jalan dulu." Darman pamit. Darman salim ke kedua orangtuanya. "Awas loe kalau pulang kagak bawa calon mantu. Nyak pecat loe jadi anak." Ancam Nyak.
"Siiip...." Seru Darman melangkah ringan meninggalkan rumah.
Ternyata oh ternyata si Darman plesirannya bukan ke mall atau ke pantai atau ke tempat-tempat nongkrong yang banyak kaum hawanya tetapi ke toko barang bekas. Mau apa coba dia ke sana!? Bukannya dapat calon bini paling-paling yang ia dapat iya CD film b*kep, itu juga bajakan.
"Cari apa Mas?"
"Cari cewek, Pak."
"Banyak. Tuh." Si pemilik toko menunjuk ke arah manekin yang ngejogrok di sudut -sudut. "Terserah mau ngelamar yang mana." Kekeh si pemilik toko.
"Yang desahannya maknyus, Pak." Ucap Darman bercanda. Candaan pun gayung bersambut. "Yang galak kagak suka!?"
"Banyak di rumah. Ada si Blacky. Ada si Bruno. Ada..." Sahut Darman tertawa.
"Yang demplon suka!?" Si pemilik toko membelalakkan matanya. Darman berlagak penasaran. "Ada emang!?"
"Lah itu gerabah peninggalan jaman Ming." kekeh si pemilik toko. "Iya, Mingkem." timpal Darman ikutan tertawa.
"Man ini ada barang bagus buat loe." sekali ini si pemilik toko terlihat serius itu nampak dari mimik mukanya. "Lampu Aladin."
"Aladin apa Alkalin!?" Darman masih aja bercandaan. "Ini beneran, Man. Lampu Aladin. Ada jinnya."
"Jin apa Ijin." Darman tetap bercanda.
"Gue serius ini." Seru si pemilik toko. "Seratus persen. Kalau bohong uang kembali. Hitam diatas putih kalau loe gak percaya."
"Masak,"
"Garansi nama baik keluarga gue, dari kakek moyang gue sampai ke anak cucu gue."
"Serius loe!?"
"Dua rius!"
"Terus kenapa loe jual!?"
"Gue butuh duit Nyak gue sakit."
"Lah kan loe tinggal minta sama tuh jin!?"
"Anjay loe dia itu jin bukan Tuyul."
"Kan bisa minta kesembuhan!?"
"Dia itu jin bukan Tuhan!"
"Iya minta obat gitu,"
"Dia itu jin bukan apoteker!"
"Iya paling gak diperiksa gitu,"
"Dia itu jin, Man. Bukan dokter!"
"Terus kegunaan dia itu apa!?"
"Dia bisa ngasih loe cewek."
"Dia itu jin bukan germo!"
Si pemilik toko sekonyong-konyong ngakak.
"Bercanda gak kira-kira loe."
"Lah kalau yang ini beneran dia bisa ngasih loe cewek. Gak percaya?! Lihat tuh!" Si pemilik toko menunjuk ke satu arah. Di sana terlihat seorang wanita yang sedang merapikan barang dagangan.
"Luar negri noh."
"Calon gue."
"Kenal dimana?"
"Dari si Jin gimana sih loe,"
"Becanda gak kira-kira. Cewek bahenol kayak begitu keluar dari dalam lampu beginian."
"Kalau loe gak percaya tanya!? Yasmine kemari." Si pemilik toko memanggil. Yang dipanggil berjalan menghampiri. "Ada yang bisa saya kasih buntu?"
"Kasih buntu!?"
"Maksud saya kasih buntut."
"Kasih buntut? Mau dong!"
"Kasih bantu. Yang benar itu kasih bantu." Si pemilik toko buru-buru melarat sementara Darman sudah pada nafsuan.
Si cewek bahenol mengangguk. "Oh iya kasih bantu."
"Bilang kamu asalnya dari mana?" Pinta si pemilik toko pada si cewek bahenol. "Asal? Atau Pasal?" Si cewek bahenol terlihat bingung. "Kamu datang dari mana?" Darman mencoba membantu. "Dari sana terus ke mari." Si cewek bahenol menunjuk ke arah awalnya tadi.
Si pemilik toko menuding-nuding lampu Aladin yang ada di tangannya. "Oh, iya. Saya, Yasmine keluar dari lampu itu." Yasmine si cewek bahenol menunjuk ke lampu yang ada di tangan si pemilik toko. Darman membelalak. "Iya, saya ada asal dari situ." Ucap Yasmine lagi.
"Beneran ini," Darman masih ragu.
"Beneran," ucap si pemilik toko girang.
"Iya, saya ada asal dari situ." tunjuk Yasmine.
"Loe jual berapa?" Darman menunjuk-nunjuk ke si cewek bahenol. Si cewek bahenol kaget bukan kepalang. Si Pemilik toko mendengus. "Sorry dia kagak dijual."
"Maksud gue lampunya." Ralat Darman.
"Buat loe gue kasih harga banting, seratus lima puluh juta." Ucap si pemilik toko bersemangat.
"Waras loe!?" Darman kaget.
"Iya udah gue diskon lima puluh juta." Ralat si pemilik toko.
"Sehat loe!?" Darman menjengkit.
"Gue turunin lagi penghabisan sepuluh juta." Ucap si pemilik toko.
"Mending gue ke Puncak." Darman berucap sinis.
"Terakhir satu setengah juta." Si pemilik toko menarik nafas.
"Lima ratus ribu gue ambil." Ucap Darman sekenanya.
"Bungkus dah!" Si pemilik toko menyerahkan lampu Aladin itu ke tangan Darman. Darman meraih lampu tersebut dengan girang yang bukan kepalang.
Kenapa Darman bisa segirang itu?
Pertama, Iya tentu saja karena piktor-piktor yang sekarang sedang menari-nari di otaknya yang cuma segede jengkol itu.
Kedua, karena Darman merasa, kalau untuk kesekian kali ia berhasil memenangkan transaksi jual beli dengan si pemilik toko. Dalam benaknya Darman bergumam." Sampai lebaran nyemot loe gak bakal menang dari gue!"
Darman menganvaskan si pemilik toko dengan harga jauh di bawah kewajaran, setidaknya itu menurut Darman.
Tapi bagaimana menurut Si pemilik toko?
Sehabis Darman keluar dan menutup pintu toko, gantian si pemilik toko berucap sinis: "Sampai cecak bertelur dinosaurus tuh jin juga kagak bakal nongol, geblek!"
Tak berpanjang-panjang omongan, tak ucap salam ke eNyak-Babe yang lagi nongkrong di muka tivi menonton sinetron kesayangan, "Tukang Bubur Naik Ranjang Lagi, seri ke 10001"(-bayangin aja episodenya sudah sepanjang itu bisa ditebakkan berapa kali tuh tukang bubur naik ranjang- kisut, kisut dah tuh onderdil!) Darman masuk kamar, pintu pun pintu kena kunci dari dalam.
Tak pelak hal tersebut menimbulkan keheranan pada ibu-bapak, tapi cuma sejenak, berhubung di tivi lagi menyajikan adegan panas level 100, yang ada mereka pun cuek-bebek dengan lagak anak semata wayang.( lah gimana nggak panas balsem segede gambrong ditaruh ke badan, mateng-mateng deh tuh tukang bubur!?)
Darman membuka bungkusan. Lampu Aladin ia perhatikan beberapa jenak, ia telisik kanan-kiri muka belakang. Darman manggut-manggut sesudahnya. "Akhirnya gue bisa punya bini yang gue idam-idamkan! Tamara Bleszynski. Dian Sastro. Maudy Ayunda. Anya Dwinov. Siapa lagi yah...? Ah, Mpok Atiek! Mpok Atiek!? Ihhh gak banget...!" Darman geleng-geleng kepala.
Lampu Aladin kena usap-usap. Kena usap-usap tiga kali. Tapi ditunggu punya tunggu tuh, jin juga kagak nongol. Jangan kata jin, asapnya juga kagak nongol.
Diulang lagi. Tapi hasilnya masih begitu-begitu juga.
Sampai pentungan ronda di pos hansip berdentang dua belas kali, pertanda hari telah jauh malam, Darman masih juga mengusap-usap itu lampu Aladin. Sampai-sampai ia lupa makan, lupa mandi, lupa Eek, lupa...
Yang pasti Darman lupa segala-galanya-mendekati crazy bisa jadi! Putus asa, pasti?! Tapi keburu kantuk sudah tak tertahankan, Darman pun lebih memilih untuk menarik selimut.
Namun sebelum memejamkan mata, melalui jendela kamar yang terbuka, dengan geram dan sumpah serapah yang bukan kepalang banyaknya, Darman pun melemparkan lampu Aladin tersebut. Dilemparkan sejauh-jauhnya bisa jadi tuh lampu Aladin mendaratnya di kutub Utara.
Dengan kesal Darman pun memejamkan mata.
Berselang semenit kemudian sekepulan asap keluar dari corong lampu. Dan tak berapa lama kemudian, sesosok tubuh yang tinggi dan besar berpenampilan ala-ala kerajaan tiba-tiba nongol bersama kepul asap lebih besar, sambil tertawa ngakak sengakak-ngakaknya. "Hahahaha.... "
Sesosok tubuh yang tinggi dan besar itu tak ada lain adalah si Jin lampu tersebut. Ternyata itu bukan isapan jempol belaka!"
Berharap ada yang merespon, si Jin pun tertawa lagi, tertawa dengan lebih kencang, lebih kuat, lebih hebat, pokoknya lebih segala-galanya...
Sunyi senyap seperti di kuburan...
Ya, Allah tolong Baim ya, Allah... Si jin berucap pasrah!