"Hahahahah, mati lo!" terdengar suara seseorang yang telah menginjak seorang siswi di koridor sekolah.
"Kumohon hentikan" siswi itu terisak dan bercucuran darah dari mulutnya.
Kringggg~~~
Bel masuk sekolah pun berbunyi.
"Anjir, dah masuk" pembully itu menggerutu dan melambung kan tendangan terakhirnya diperut siswi itu, "gua tunggu lo di atap habis pulang sekolah, atau lo akan mati ditangan gua" lanjut nya dengan tatapan sinis sebelum pergi dari sana.
Inilah aku, seorang siswi yang selalu mendapat cacian dan pukulan yang setiap hari mengusap kulitku. Salam kenal ya, aku Sylvia. Murid baru yang mungkin akan selalu tersiksa di sini. Kuharap perkenalan diriku sudah cukup. Balik lagi ke cerita~~.
Aku yang telah menghabiskan cukup banyak darah berusaha berdiri dan masuk ke kelas sambil memegang perut yang sudah agak mati rasa.
Saat aku membuka pintu kelas, seorang guru terlihat didepan sambil membawa daftar hadir. "Siapa?" tanya guru yang jutek itu sambil memandangiku. Aku yang masih merasa sakit itupun menjawab seadanya dan melangkah menuju kursi dan duduk disana.
Bel istirahat pun terdengar di telinga. Lagi-lagi aku hanya mengambil bekal di dalam tas dan kemudian mencari tempat sepi di atap. Sebenarnya aku merasa kesepian, tapi aku merasa aku tak pantas mendapat teman. Untung saja para pembully itu tidak datang.
"Sylvia ya?" tiba-tiba terdengar suara siswi dan dia duduk disebelahku.
Aku yang kaget refleks mengangguk dan menoleh menatap siswi yang sudah duduk disebelahku.
"Salam kenal, aku Sonika" siswi itu tersenyum dan mengulurkan tangannya.
"Salam kenal juga" aku membalas uluran tangan itu dan hanya mengangguk.
"Orang lain enak ya, bisa berbaur walau bukan di habitatnya" Sonika berkata sambil memandang langit biru yang indah.
"Memang kamu gak ada teman? Bukannya kamu gampang bergaul? " aku mulai memberanikan diri untuk membuka suara.
"Aku ada sih, tapi ternyata temanku berkhianat makanya aku datang ke sini" Sonika terlihat agak mendung wajahnya. "Btw, kenapa kamu bersekolah disini? " Sonika terlihat menghindari topik itu.
"Di kampung halaman ku terlihat membosankan , makanya aku pindah sendian ke sini" ucapku agak lirih.
"Hebat ya kamu bisa jalan-jalan sendiri" Mata Sonika terlihat berbinar. "Tapi, kataku, kalau kamu pergi ke sini, sebaiknya kamu sekali-kali pulang ke rumah mu" Lanjut nya sambil memandang ku.
Sonika memang terlihat baik, tapi aku malu jika bertanya dia mau menjadi temanku atau tidak.
"Btw, kamu bisa loh berteman sama aku" Ujarnya seperti tahu apa yang aku pikirkan.
"Oh, i........iya" Aku sedikit terkejut dan menjawabnya dengan terbata-bata.
"Ya udah, aku masuk kelas dulu ya" Sonika berdiri dan berjalan sambil melambaikan tangan.
Sesudah Sonika tidak terlihat lagi, bel tanda istirahat berakhir pun berbunyi. Aku yang tersadar pun langsung berdiri dan berjalan ke kelas sambil agak terlihat lesu. Oh iya, aku belum ngasih tau ke kalian kalau aku sekelas sama para pembully yang tadi pagi. Aku memang sekelas dengan mereka, dan mereka selalu menjahili ku di kelas.
Pelajaran pun dimulai, dan kejahilan mereka pun juga dimulai. Apakah aku tersiksa di kelas ini? Ya, tentu saja aku tersiksa. Apalagi aku duduk paling depan, jadi sekalinya aku melawan pasti akan kena tegur oleh guru. Kalau kalian nanya kenapa gurunya tidak menegur pembully ku, karna guru itu takut akan di pecat karna salah satu dari mereka adalah anak kepala sekolah.
Yang pasti, tidak ada seorang pun yang mampu melawan dia. Kalau pun ada yang dia bully, tidak akan ada orang yang akan membantu si korban. Jika ada yang membantu, dia akan menanggung akibat nya.
Proses belajar pun terus berlanjut. Sampai bel pulang berbunyi. Aku yang teringat mempunyai janji hanya menarik nafas dalam dan mengambil langkah untuk ke atap.
"Hai loser~" Sebuah suara menyambutku saat aku tiba. "Btw gimana nih sama Sonika?" Terdengar dari nadanya dia mengejek ku.
Aku yang tak tahu harus berkata apa hanya diam saja.
"Heh, harusnya lo gak usah temenan sama Sinika, lo tu jelek sedangkan dia cantik" salah satu temannya juga menambahkan dan tertawa.
"Pulang aja lah lo sana, lama-lama muak gua liat lo" sahut temannya yang lain.
Aku hanya mengangguk kemudian meninggalkan tempat itu.
"Bye, loser" dari kejauhan, aku masih mendengar sahutan mereka.
Sesampainya aku dirumah, aku membereskan semuanya dan duduk dipojok kamar sambil ngomong sendiri. Memang, aku agak culun, tapi bukan berarti aku pantas dibully. Jika tentang Sonika, aku akan berusaha untuk menjauhinya.
Besoknya, aku di sambut oleh para pembully itu, tapi kini mereka membawa Sonika, ntah kenapa.
"Woy, kata Sonika dia gak percaya kalau lo benci dia, katanya dia mau ngedenger langsung dari lo sendiri" salah satunya mendorong Sonika maju kedepan.
Aku yang terkejut mundur sedikit dan agak menyadari maksud mereka. Cuman ngomong kan, aku seperti nya bisa.
"SONIKA, AKU BENCI SAMA KAMU" aku berusaha untuk berteriak dan berjalan masuk ke kelas.
"Tuh kan, apa gua bilang dia benci sama lo" ujar salah satu dari mereka sambil mendorong bahu Sonika.
Sonika yang masih syok hanya mengangguk.
"Mau jadi bagian geng kita gak? " sahut yang lain. "Seru loh, kita bisa bersenang-senang bahkan semua orang berpihak ke kita" sambungnya lagi.
Sonika yang merasa putus asa pun mengangguk.
Besoknya, saat aku berjalan ke kelas, Sonika menghadangku dan mendorong ku. Setelah itu, muncul pembully yang lain dari belakang Sonika. Dan terjadilah hal serupa dengan yang kutulis di halaman pertama. Semua orang bahkan hanya lewat saja, bahkan ada beberapa murid yang saling berbisik tentang ku.
"𝘚𝘦𝘣𝘢𝘪𝘬𝘯𝘺𝘢 𝘢𝘬𝘶 𝘱𝘶𝘭𝘢𝘯𝘨 𝘬𝘦 𝘬𝘢𝘮𝘱𝘶𝘯𝘨 𝘩𝘢𝘭𝘢𝘮𝘢𝘯 𝘴𝘦𝘱𝘶𝘭𝘢𝘯𝘨 𝘴𝘦𝘬𝘰𝘭𝘢𝘩 𝘯𝘢𝘯𝘵𝘪" batinku sebelum tendangan yang lain mendarat di perutku. Apakah aku menikmati ini? Sekali lagi kujawab, tentu saja tidak, tapi aku sudah terbiasa seperti ini. Seharian itu aku menahan untuk tidak lelah dengan perlakuan mereka.
Sepulang sekolah, aku bersiap untuk pulang ke rumah ku yang sesungguhnya. Sambil menunggu mobil yang mengantarkurku, aku sekali lagi merapikan perabotan rumah itu. Akhirnya, setelah sekian lama aku bisa mengunjungi orang tua ku.
𝘛𝘪𝘵𝘵𝘵𝘵𝘵𝘵𝘵~
Akhirnya, mobil jemputan ku sudah sampai. Aku keluar dari rumah dan sekali lagi melambai ke rumah ku.
"Sesuai lokasi ya, ke pulau Monka" ucap si supir setelah aku duduk di bangku belakang.
Aku hanya mengangguk, dan mobil pun berjalan. Di perjalanan, aku dan supir berbincang sedikit. Butuh waktu 4 jam untuk sampai ke pulau ku. Tapi dengan perbincangan kami dan aku yang kadang tertidur tidak merasakan perjalanan ini.
Aku akhirnya terbangun karena suara si supir. Sesampainya aku disana, aku turun dan berterima kasih. Tak lupa juga aku membaywr biaya nya.
"Aku pulang, rumah ku" ucapku sambil memandang takjub.
Aku mulai mengambil langkah masuk dan membuka pintu nya, terlihat rumahku yang sudah usang tak terawat lagi. Aku tersenyum kecil sambil membenahi peralatannya.
Setelah selesai, aku duduk di kursi ruang tengah sambil memandang foto keluarga ku. Aku sedikit menitikkan sedikit air mata, dengan berat hati menuju dapur untuk menyiapkan makanan dan memakannya sendirian dalam sunyi.
Sesudah makan, aku keluar rumah untuk menuju ke tempat sunyi nan gelap. Saat itu jam 21.00,dan aku sendirian saat itu. Merinding memang, tapi tidak baik kalau tidak mengunjungi orang tua ku setelah aku pulang.
"Ma, pa aku pulang" aku terduduk di depan dua batu nisan. "Maaf ya baru sekarang aku mengunjungi kalian, karena kemarin menempuh pendidikan" lanjut ku.
Aku membersihkan kedua makam itu, sambil membersihkan, aku menggumam "kalian gak perlu khawatir kok, aku bahagia punya banyak temen disekolah" ucapku sambil menyiramkan air.
"Segitu dulu ya ma, pa aku izin pulang" aku berdiri dan melambaikan tangan. Sambil berjalan aku menangis, padahal aku bahagia bertemu mereka.
Sesampainya aku dirumah, aku terduduk di pojok ruangan sampai tertidur .
Baru inget, aku belum menceritakan kisah tragis yang terjadi pada keluarga ku. Dulu, kami adalah keluarga harmonis, tapi na'asnya saat umurku 16 tahun rumahku kedatangan perampok yang ingin mengambil hartaku. Namun, karna orang tua ku terus melawan akhirnya mereka terbunuh.