Perkenalkan namaku Stella, aku adalah anak yang memiliki sebuah sensivitas terhadap makhluk yang tak kasat mata, yang banyak orang bilang sebagai Indra keenam
Entah sejak kapan pastinya aku merasakan nya. Yang pasti aku sudah menemui banyak jenis makhluk tak kasat mata dari yang berwajah secantik bidadari, berwajah datar, bahkan sampai ada yang benar-benar berwajah hancur berbau anyir dan busuk, yang membuat ku tak sanggup menahan rasa mual.
Karena alasan satu hal dan lainnya, aku harus bersekolah di lain kota tanpa di dampingi oleh orangtua. Jadi kuputuskan aku harus menjadi kuat dan tangguh, kuputuskan pula aku harus berpura pura tak bisa melihat keberadaan mereka, agar mereka tak mengganggu aktivitasku.
Akhirnya tiba juga hari pertama di kostan yang akan kutinggali. Karena kemampuanku itu, aku bisa melihat gadis pucat pasi dengan satu mata yang berlubang dan mengeluarkan darah di pojokan dapur, dan pocong berbaju lusuh penuh tanah berwajah hitam di perkebunan pisang dekat tempatku sering menjemur pakaian.
Sebenarnya aku masih merasa takut ketika melihat mereka. terkadang pocong itu sengaja menampakkan dirinya tepat di depan wajah ku, sorot matanya begitu dingin dan tajam. Aku hanya bisa berpura pura tidak bisa melihat keberadaan nya, meskipun sesungguhnya ada rasa takut yang menyeruak. Berbeda dengan gadis pucat pasi yang ada di dapur, dia hanya berdiri diam menatap segala aktifitasku di dapur.
Di dalam kamarku pun ada sosok berwajah tampan. Seperti nya berdarah belanda, meski raut wajahnya pucat pasi namun masih memancarkan ketampanannya. Dia hanya duduk diam di pojokan belakang tv sambil melihat setiap gerak gerikku.
Hari demi hari berlalu, aku fokus belajar tanpa memperdulikan keberadaan mereka. Saat aku lelah belajar aku, mengisi kebosananku dengan mendengarkan lagu lagu K-Pop dari grup BTS. Karena terlalu sering mendengarkanya, akupun mulai mengidolakan mereka, aku mulai mengumpulkan album, marchendais, bahkan poster idola baruku itu.
Saat aku hendak memasang poster di dinding kamar, aku tak menyangka sosok yang biasa nya hanya duduk diam di belakang tv itu mulai mendekatiku dan berdiri di belakangku. Mengawasi semua yang aku lakukan terhadap poster tersebut sambil bergumam.
"Enak ya zaman sekarang, cowok ganteng banyak di sukai wanita, berbeda dengan zamanku dulu."
Aku tertegun sejenak, kemudian aku melanjutkan aktingku dengan berpura pura tak mengerti apapun. Sejak saat itu sosok yang biasa nya hanya duduk diam, kini mulai berpindah-pindah tempat meskipun hanya sebatas di ruang kamarku. Suatu hari di saat aku sedang mengerjakan tugas sekolah dia berdiri di belakangku sambil mengoreksi pekerjaanku.
"Itu yang nomor tiga harus nya ga kaya gitu. Nomor tujuh, sembilan dan nomor sepuluh kamu juga salah menghitungnya."
Awalnya aku mengabaikannya, tapi lama kelamaan aku menjadi begitu penasaran. Pada akhirnya aku mulai menghitung kembali setiap nomor yang dia koreksi, dan ternyata memang salah. Kini setiap kali aku mengerjakan tugas sekolah, dia berdiri di belakangku sambil mengoreksi dan membimbingku mengerjakan soal demi soal. Hingga terbesit di pikiranku...
"Boleh kali ya berteman dengannya, toh dia tidak mengganggu, dia baik dan sering membantuku mengerjakan tugas."
Hingga pada akhirnya akupun memberanikan diri.
"Aku liat kamu kok," ucapku dengan tetap menatap lembar tugas sekolahku.
"Hah... apa?"
"Iya, aku lihat kamu, aku mendengarkan setiap yang kamu ucapkan, bahkan sejak pertama kali aku datang ke tempat ini."
Kini aku memutar tubuhku agar aku bisa menatap nya. Hal yang tidak pernah kuduga sebelumnya, aku melihat bola matanya mulai berkaca-kaca.
"Jadi selama ini kamu bisa melihatku??"
Ku anggukan kepalaku untuk meyakinkannya.
Kini wajah sendu itu mulai menunduk dan menangis, dia mengatakan kalo dirinya begitu terharu karena aku bisa melihatnya. S
ejak saat itu, kami pun mulai menjadi lebih akrab. Kami lebih sering menghabiskan waktu dengan nonton tv bersama, baca buku, mendengar lagu bahkan kini dia mulai tidur satu ranjang bersamaku. Setiap hari yang kami lalui penuh dengan tawa dan kegembiraan.
Sejak saat itu juga, berita tentangku yang bisa berkomunikasi dengan makhluk astral pun di dengar oleh para makhluk astral yang berada di sekitar kostku. Bahkan gadis yang selalu di dapur kini mulai menghadapkan wajahnya ke tembok, karena malu padaku dengan kondisi wajahnya yang rusak. Tidak jarang pula makhluk astral yang berada di sekitar kost dengan sengaja mendatangiku untuk berbicara denganku. Akantetapi karena pelindungan dari Benntle mereka pun mulai pergi dengan sendirinya.
Mahkluk astral tampan yang kini menjadi sahabatku bernama Benntle.
Pernah di suatu malam mbak kunti yang ada di depan rumah kostku terus menangis. Akantetapi Benntle memintanya untuk berhenti dari tangisnya, karena bisa mengganggu waktu istirahatku.
Hingga di suatu malam, Benntle mengungkapkan isi hatinya bahwa dia menyukaiku. Akupun tak menampik bahwa aku menyukainya. Ya.. aku juga jatuh cinta degan pria tampan yang sangat peduli padaku, bahkan aku mengabaikan kenyataan bahwa kami berbeda alam. Mulai malam itu kami adalah sepasang kekasih.
Hari demi hari yang kami lalui sama seperti sepasang kekasih pada umumnya, kami semakin dekat untuk saling bermanja satu dengan lainnya. Dia mengantarku bersekolah di pagi hari hingga ke gerbang kostku dan melambaikan tangannya padaku, dia juga menunggu kepulanganku di gerbang yang sama.
Hari berganti minggu bulan bahkan tahun hingga tiba waktunya aku lulus dari sekolah, dan harus kembali ke kota asalku. Dengan berat hati ku ungkapkan bahwa aku harus pulang.
"Bolehkah aku ikut pulang bersama mu?" suaranya terdengar begitu parau.
"Izinkanlah aku untuk terus bersamamu, aku ingin selalu menjagamu."
Tak terasa bulir-bulir bening pun mulai jatuh dari kedua sudut mataku. Kami pun saling berpelukan dan tersedu. Dari awal sebenarnya aku mengerti bahwa cinta ini memang terlalu sulit untuk kami saling memiliki.
Setelah kelulusan, aku pulang ke kostanku dan berpamitan dengan Benntle untuk mengunjungi rumah sahabatku Rina, sebelum aku kembali ke kota asalku.
Rina adalah sahabat baikku yang selalu mendengar kan semua ceritaku, bahkan tentang cerita cintaku dengan Benntle, makhluk tak kasat mata yang berstatus sebagai kekasihku.
Sebelum sampai ke rumah Rina kami singgah di sebuah masjid untuk melaksanakan sholat ashar. Setelah membaca salam aku mundur beberapa langkah dari tempatku duduk sebelumnya. Sekilas aku melirik pada pria paruh baya berbaju koko dengan wajah yang teduh, sedang menatapku.
"Dik.. bolehkah mengganggu waktunya sebentar?" Sapanya dengan ramah.
"Iya pak.. ada apa ya!"
"Apa adik sedang dalam masalah? Bapak melihat aura wajah adik ini kok sangat gelap."
"Maksudnya pak?" tanyaku keheranan.
"Sepertinya adik ini sedang dalam pengaruh jin."
Aku begitu tercengang mendengar kalimat terakhir yang di ucapkan bapak tersebut, hingga akhirnya akupun menceritakan semua yangku alami.
"Maaf ya dik .. kalo adik berkenan apa mau bapak bantu menutup mata batinnya, agar tidak bisa berhubungan lagi dengan jin tersebut, bapak khawatir dik, kalo akhirnya jin tersebut mengajakmu untuk pergi ke dunianya."
Aku yang begitu sadar akan perbedaan dimensi antara aku dan Benntle pun akhirnya menyetujui rukyah yang di tawarkan bapak didepanku setelah melewati banyak pertimbangan. Karena proses rukyah tersebut memakan banyak waktu, kuputuskan untuk menginap di rumah Rina dan pulang ke kostan pada hari berikutnya.
Kenyataan yang pahit menghantamku, aku kembali ke kamar kostku tanpa melihat sosok yang selama ini mengisi hatiku dengan banyak kehangatan. Ku rapikan satu demi satu baju di lemari dengan air mata yang seakan tak pernah habisnya mengalir
Sakit itulah yang kurasakan saat itu di dadaku. Aku patah hati .. patah hati terdalam yang pernah kurasakan.
Selang beberapa tahun berlalu. Hari ini aku ada reuni dengan teman-teman satu universitasku. Saat berbincang dengan Deva temanku, dia bilang ....
"Stella, maaf ya, boleh aku bertanya?"
"Hmm, kenapa?"
"Siapa pria yang dari tadi berada di belakang mu?"
"Apa dia tampan bermata biru dan kulit yang pucat?" tanyaku pada Deva dan dia pun tak segan untuk menganggukan kepalanya.
"Namanya Benntle, dia memang selalu ada di sisiku untuk menjagaku," jawabku bangga karena Benntle menepati janjinya untuk selalu bersamaku.