Rumah merah, rumah yang berada tepat di samping rumahku. Semua serba berwana merah, dari atap rumah, tembok rumah, pintu, jendela bahkan pagar rumah.
Rumah itu sangat mencolok di antara barisan rumah lainnya. Meski tidak ada yang menghuni, rumah itu terlihat terawat. Tidak ada daun yang jatuh ke halaman rumah. Bahkan angin bertiup kencang pun tidak bisa membuat daun jatuh ke halaman rumah itu.
Aneh, tapi nyata. Seakan akan rumah itu memiliki perisai yang tidak terlihat. Rumah itu tidak berpenghuni. Tapi setiap malam halloween tiba rumah itu selalu ramai. Seakan ada orang di dalamnya. Kami selalu bertanya tanya. Kapan penghuni rumah itu datang?, siapa penghuni rumah itu?, kenapa mereka datang saat malam halloween saja?. Namun semua pertanyaan itu terjawab ketika aku datang dan mengetuk pintu rumah itu.
Nama ku Mark. Aku anak berusia delapan tahun. Pada malam halloween aku dan teman – teman ku akan mengunjungi beberapa rumah rumah di sekitar kompleks dengan memakai kostum yang menyeramakan. Semua berkumpul di rumahku, karena rumahku menjadi titik awal perjalanan malam hallowen kami.
“Hai Mark. Apa kau sudah siap?.” Tanya Velma.
“Yah ... aku sangat siap. Mari kita mulai perjalan nya. Di mulai dari rumah merah.” Jawabku bersemangat.
“Rumah merah?.” Semua temanku berseru.
“Iya. Kalian takut?.”
“Tapi rumah itu tidak berpenghuni.” Ucap Jhony.
“Tidak berpenghuni?. Kalian lihat. Lampu rumah itu menyala terang. Bahkan terdengar suara musik dari dalam rumah. Bagaimana bisa tidak berpenghuni?.”
“Tetapi tidak ada seorang pun tau kapan penghuni itu datang.” Ucap Kevin.
“Hah ... Kalian penakut. Kita tidak akan tahu jawabannya jika kita tidak mencari tau.” Ucapku sinis.
Aku langsung berbalik badan dan berjalan menuju rumah merah dengan gagah berani, toh mana mungkin rumah tidak berpenghuni bisa menyalakan lampu dan memutar musik?.
Tidak perlu waktu lama, aku sudah berada di depan gerbang kayu berwana merah.
“Hmmm. Aku tidak pernah memperhatikan warna cat pagar ini. Kenapa warnanya bisa bagus seperti ini? Seperti baru saja di poles.” Gumamku.
Perlahan aku meletakkan tangganku di pagar kayu berwana merah itu.
“Mark.” Teriak Jhony.
“Apa?.” Jawabku sedikit terkejut.
“Jangan lakukan itu.” Lanjut Jhony.
“Hah. Kalian penakut.”
“Aku tidak.” Ucap Velma.
Perlahan Velma berjalan menghampiriku. Sama sepertiku, dia berjalan dengan berani tetapi anggun. Ketika Velma sudah berada di sampingku, dia langsung membalikan kan badan.
“Kalian tidak mau ikut?.” Tanya Velma kepada Jhony dan Kevin.
“Tunggu aku.” Jawab Kevin sambil berlari kecil ke arah kami.
“Jhony?.” Tanyaku.
“Tidak. Aku akan menunggu disini.”
“Ya sudah kami masuk duluan. Selamat tinggal Jhony.” Ucap Kevin.
Kami meninggalkan Jhony sendirian di depan halaman rumahku. Aku membuka pagar kayu berwana merah itu perlahan.
Kriieeeett
Suara pagar itu cukup memekik. Kami berjalan perlahan menuju pintu. Aneh, kami menginjak rumput di halaman rumah merah. Tetapi rasanya sedang berjalan di atas aspal.
“Rumputnya keren ya? Bisa serasa kayak berjalan di atas aspal.” Ucap Kevin.
“Keren kau bilang?.”
“Ini luar biasa.” Ucap Velma.
“Sudah kubilang kan. Ini tidak menyeramkan.” Ucapku.
Kami berhenti sejenak menoleh ke arah Jhony berniat untuk memberi kesempatan kepada Jhony untuk bergabung dengan kami. Kami menoleh bersamaan ke arah Jhony. Tetapi ternyata Jhony sudah tidak berdiri di sana.
“Jhony kemana?.” Tanya Velma.
“Entah. Dia lari cepat sekali.” Ucap Kevin.
“Ah sudah lah. Jhony memang penakut.” ucapku.
Kami melanjutkan perjalan menuju pintu utama rumah sederhana berwana merah itu.
Sampai akhirnya kami berdiri di depan pintu.
Tok tok tok
Ceklek, suara pintu di buka.
“Trick or treat?.” Ucap kami bersamaan.
Pintu perlahan terbuka, semakin lama semakin lebar hingga pada batas maksimalnya. Terlihat jelas isi rumah merah itu. Rumahnya terlihat sangat luas dan mewah. Semua di dominasi dengan warna merah. Kami terdiam sejenak mengagumi pemandangan tak biasa ini.
“Hallo. Apa ada orang di dalam?.” Ucapku sedikit berteriak.
Wusss angin hangat dan kencang berhembus seakan mendorong kami masuk kedalam. Kami pun terjerumus dan langsung masuk.
“Aw....” Rintih kami bersamaan.
Brak !!!
Pintu tiba – tiba tertutup dengan kencang.
Kami pun panik dan langsung berdiri menuju pintu berusaha untuk keluar. Kami mendobrak, mendorong dan berteriak meminta pertolongan. Namun semua usaha kami sia – sia.
“Tolong buka pintunya.” Teriak Velma.
“Siapa pun yang di luar. Tolong kami. Tolong!!!!.” Teriak Kevin.
Aku pun berusaha keras mengedor pintu nya. Tiba – tiba kami di kejutkan oleh suara wanita yang sangat lembut.
“Hai nak. Kalian tersesat?.” Ucap wanita yang berparas sangat cantik namun wajahnya penuh dengan darah yang sudah mengering.
“AAAAAAAAA.” Kami berteriak bersamaan.
“Trick or treat?.” Ucap wanita itu.
“Ini hanya lelucon.” Lanjutnya.
“OOO.” Ucap kami sambil bernafas lega.
Wanita itu tersenyum, tapi entah kenapa senyuman nya tidak menenangkan melainkan terlihat mengerikan. Seakan dia tersenyum dalam kesakitan. Aku meyadari ada yang aneh. Aku memperhatikan wanita itu dari ujung kepala hingga ujung kaki. Namun ternyata tidak ada yang aneh. Kaki nya juga menapak di atas lantai. Namun perasaanku mengatakan ada sesuatu yang janggal.
Tidak lama kemudian wanita itu mengarahkan kami ke ruangan lain. Dia bilang, dia ingin menjamu kami. Kevin dan Velma sedang sibuk berbincang dengan wanita misterius itu sambil berjalan ke ruangan lainnya. Sedangkan aku masih memperhatikan dengan seksama wanita ini dari belakang, sambil menyapu pandang ke seluruh penjuru rumah ini.
“Aneh, rumah ini terlihat sederhana dari luar. Tapi kenapa dalam nya sangat luas sekali?”. Gumamku.
Tiba – tiba mataku tertarik ke sebuah peti mati berwarna putihdi ujung ruangan ini. Peti itu sangat mencolok, karena berwana putih di antara banyak benda berwrna merah. Aku pun sangat penasaran dan menghampiri peti mati itu. Namun baru saja beberapa langkah. Wanita itu menepuk pundakku.
“Mau kemana?.” Ucapnya halus.
“Ke peti mati itu. Apa itu juga sebuah lelucon untuk malam halloween?.”
Wanita itu tersenyum dengan penuh arti. Senyumnya berbeda dari yang tadi. Ini terlihat lebih ramah dari sebelumnya.
“Kau akan mengetauinya nanti.” Ucapnya.
“Mari ke meja makan. Temanmu sudah menunggu.” Lanjutnya sambil mengarahkan pandanganku ke sana.
“Baiklah.”
Aku pun menurutinya dan berjalan berdampingan bersama wanita itu. Tetapi sebenarnya aku masih sangat penasaran dengan peti mati itu. Apakah itu hanya lelucon atau ada sesuatu yang lain?.
Akhirnya aku sampai di meja makan dan beranjak duduk. Baru saja aku duduk tiba – tiba lampu menjadi padam.
“Loh. Kenapa ini? Apakah ada pemandaman listrik?.” Ucap Kevin.
Seketika bulu kuduk kami berdiri, kami merasa merinding. Sekali lagi angin hangat berhembus sangat kecang.
“Kevin.” Terdengar jelas suara Velma ketakutan.
Reflek aku langsung berusaha mencari Velma, aku turun dari kursi dan lampu menyala kembali. Dan kami terkejut bukan main. Suasana rumah ini menjadi mencekam. Rumah ini sudah tidak seperti awal saat kami masuk tadi. Sekarang warna merah tidak mendominasi lagi, tetapi terdapat banyak bercak darah yang mengering di dinding, meja, kursi bahkan lantai.
“AAAAAAA.” Teriak Velma dan jatuh pingsan saking terkejutnya.
Aku dan Kevin berusaha membangunkan Velma dengan meneriaki namanya dan mengguncang tubuhnya.
“Velma bangun. Vel ... ayolah.” Ucapku.
“Velmaa.” Teriak Kevin.
Angin hangat kembali berhembus, menerbangkan banyak kertas putih yang entah dari mana asalnya ketas itu. Beberapa kertas terdapat tulisan berwarna merah darah. Aku megumpulkan beberapa kertas yang ada tulisannya. Sedangkan Kevin masih berusaha untuk membangunkan Velma.
“Tolong, peti mati, selamatkan aku, buka petinya, keluarkan, kubur." Ucapku sambil mengais beberapa kertas.
Aku pun menunjukkan semua kertas ini kepada Kevin. Kevin langsung merebut dan mebacanya satu persatu. Tiba – tiba aku teringat, jika aku tadi melihat peti mati sudut rumah.
“Kevin. Kita harus ....” ucapku terpotong karena melihat Kevin menangis.
“Kita sudah terkutuk, kita tidak bisa keluar, seharunya aku mendengarkan Jhony tadi.” Ucapnya sambil menangis.
“Hey. Jangan menangis.”
“Ini semua salah mu. Salahmu mau menjadi sok jagoan.”
“Apa?. Siapa suruh kau mengikutiku.”
Terjadi pertengkaran kecil diantara aku dan Kevin. Pertengkaran kecil hingga membangunkan Velma.
“Hey kalian hentikan.” Ucap Velma.
“Velma. Syukurlah.” Ucapku dan Kevin bersamaan.
“Cukup bertengkarnya, kita harus memecahkan misteri ini. Agar kita bisa pulang.”
Velma memang penakut, tapi dia wanita yang cerdas. Tanpa menjelaskan situasi saat ini dia sudah tau apa yang harus dia lakukan.
“Dimana ya peti matinya?.” Gumam Velma.
“Aku tau di sudut suatu ruangan. Ruangannya berbubah tak sama seperti pertama kali kita masuk. Yang aku ingat peti itu berada di sebelah lemari yang besar berpintu dua.” Ucapku.
“ayo kita cari.” Ucap Velma.
Kami pun mencarinya, mencari ke setiap sudut ruangan bersama sama. Kami tidak ingin berpencar. Kami memilih untuk bersama meski akan memakan waktu lama untuk mencarinya.
Sekitar dua puluh menit kemudian, kami menemukan ruangan yang terkuci.
“Ruangan ini terkunci. Mungkin peti itu ada di dalam.” Ucap Velma.
Dengan sigap aku dan Kevin mendobrak pintu itu dengan lima kali dobrakan dan akhirnya terbuka.
“Itu dia.” Ucap Kevin bersemangat.
Kami berlari kecil menuju peti itu. Kami berusaha membukanya, mencari benda tajam di sekitar ruangan itu. Hingga kami menemukan sebuah linggis. Secara bersamaan kami menancapkan ke salah satu sudut dan mencongkelnya. Dan yah berhasil terbuka sedikit serta bau busuk keluar dari dalam peti itu. Kami merasa sangat mual kami mencoba kembali mencongkel peti itu. Namun baunya yang menyengat membuat kami mabuk dan pingsan.
****
Aku membuka mataku perlahan, aku terkejut. Ternyata sudah berada di dalam kamarku.
“Apa ini mimpi?.” Ucapku.
Terdengar suara sangat berisik di samping rumahku. Aku berlari kecil menuju jendela untuk melihat apa yang terjadi.
Ternyata di sana sedang ada banyak orang dari ayahku, tetanggaku dan polisi.
“Apa yang terjadi?.” Gumamku.
“Kau sudah bangun Mark?.” Ucap Jhony cukup keras.
“Kau tau, tadi kau Velma dan Kevin tiba – tiba berlari langsung masuk ke rumah merah itu. Aku berkali – kali memanggil kalian. Dan aku hampir saja menyusul masuk kesana tapi, tiba – tiba lampu rumah itu padam. Aku langsung berlari menuju rumahmu dan memberitahukan semuanya ke orang tuamu. Setelah mereka masuk. Mereka melihat kalian tergeletak di lantai.”
“Lalu.” Ucapku penasaran.
“Yah. Mereka mengeluarkan kalian, kalian tergeletak di sebelah peti mati. Uhh mengerikan. Apa yang terjadi?.”
Aku pun menceritakan semuanya ke Jhony, dan dia pun terkejut hingga melongo. Di tengah – tengah cerita ada suara wanita itu lagi.
“Terimakasih. Trick or treat.” Suara wanita itu menggema di dalam kamarku.
Jhony yang mendengarnya langsung pingsan dan aku hanya tersenyum melihatnya.
“Kamu melewatkan petualangan yang hebat di malam halloween ini Jhony.” Ucapku.
****
Ternyata wanita itu meninggal tujuh tahun yang lalu, dia di bunuh oleh suaminya sendiri. Dia di bunuh tepat pada malam halloween. Dia tidak di kuburkan dengan layak, sehingga setiap malam halloween tiba dia meminta pertolongan dengan membuat rumahnya seakan berpenghuni dan berharap ada orang yang datang membantu nya.
Kenapa rumahnya berwana merah?. Bahkan tidak ada orang yang tahu kapan rumah itu berubah menjadi merah. Orang pikir, mereka hanya mengecat bagian luar rumah saja dalam waktu semalam.
Tetapi sebenarnya itu ulah si wanita misterius tadi, karena dia pikir dengan membuat rumahnya menarik, itu bisa menarik perhatian orang. Namun nyatanya dia membutuhkan waktu yang cukup lama. Sepuluh tahun lamanya untuk menarik perhatian orang agar di kuburkan dengan layak.